Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 207 - Fuyumi Litha vs Kitakaze Chiaki


__ADS_3

Gyuki membatin dalam hatinya. "Sepertinya Klan Fuyumi tahun ini memiliki generasi muda yang berbakat. Sebelumnya aku tidak pernah melihat mereka mengirim perwakilan pendekar muda laki-laki. Pendekar muda yang bernama Fuyumi Nagato ini sangat menarik perhatianku." Angin berhembus di sekitar Arena Lingkaran Harimau.


Litha dan Chiaki sangat terkejut mendengar nama mereka berdua dipanggil. Kedua gadis itu tidak menyangka mereka akan bertarung satu sama lain.


Di bangku penonton Klan Kitakaze terlihat Yuri dan Kenji tidak bertegur sapa. Tubuh Kenji dibalut dengan perban, pemuda itu duduk di samping Renji dan Ninjin.


"Kakak ... kasihan Kakak Kenji ditolak Kakak Yuri..." Chaika berbisik lirih di telinga Chaika.


"Huss ... jangan keras-keras ngomongnya." Chiaki memberi isyarat pada Chaika dengan jari telunjuknya yang dia tempelkan di bibirnya agar saudari kembarnya itu tetap diam.


Yuri terlihat bimbang, gadis itu terkadang melirik Kenji dan terkadang mengalihkan pandangannya menatap ke arah yang lain.


"Lihat, bahkan Kak Yuri sampai lupa tidak memberi kata-kata semangat pada kakak seperti biasanya." Chiaki berkata lirih pada Chaika. Kemudian gadis manis kembar itu tersenyum tipis. "Semangat diriku. Hari ini kamu akan melawan Litha." Chiaki berkata pada dirinya sendiri.


Chaika tertawa pelan melihat tingkah saudari kembarnya itu, tak lupa dia juga memberikan semangat kepada Chiaki.


"Semangat kak..." Chaika mengepalkan tangannya pada Chiaki.


Di bangku penonton Klan Fuyumi terlihat Litha sedang mengumpulkan kepercayaan dirinya melawan Chiaki.


"Dulu kalian berdua berjanji akan bertemu kembali setelah menjadi seorang pendekar. Dan sekarang kalian berdua bertemu. Jangan sampai kalah, Litha." Nagato melirik Litha. Tidak berapa lama gadis bermata sayu duduk disampingnya setelah Litha berdiri.


"Kakak Litha semangat! Hisui akan mendukung Kakak Litha!" Hisui terlihat sudah menyatu dengan pendekar dari Klan Fuyumi.


"Hisui! Kamu kenapa terlihat sangat menggemaskan!" Iris mencubit pipi Hisui dengan lembut, sedangkan matanya memejam terlihat kesal.


"Kakak Iris juga terlihat sangat cantik dan menggemaskan ketika dekat dengan Kakak Tampan..." Hisui tersipu malu dan salah tingkah karena mengira Iris memujinya.


Hika dan Tika menggelengkan kepala mereka berdua.


"Tika, Tika. Kenapa Hisui duduk bersama kita?" Hika menatap Tika dengan kedua bola matanya yang polos.


"Hika, coba perhatikan baik-baik. Hisui itu suka sama Nagato. Jadi Hisui duduk bersama kita agar lebih dekat sama Nagato." Tika memberi penjelasan dengan kedua tangannya yang menyilang di dadanya. Iris menatap tajam Tika yang terkesan menyebalkan itu.


"Dasar Tika. Jangan dengerin omongan saudari kembarmu, Hika." Iris menatap Tika yang tertawa cekikikan.


"Kalian semua terlalu lucu ketika sedang bersama Nagato." Tika membalas perkataan Iris sembari menutup mulutnya yang tertawa cekikikan dengan telapak tangannya.


Iris tidak membalas perkataan Tika lagi, kini gadis cantik itu memilih untuk memberi semangat kepada Litha.


"Chiaki adalah temanmu dan sekarang menjadi lawanmu. Aku tidak terlalu akrab dengan Chiaki, jadi aku akan mendukungmu Litha." Suara tawa lirih Litha terdengar. Iris juga malu karena tidak pandai mengucapkan kata-kata.


"Aku akan menunjukkan hasil latihanku pada Chiaki yang enerjik itu." Litha berjalan meninggalkan Iris dan yang lainnya. Gadis manis itu menghampiri Emi dan Shirayuki.


"Nenek Emi, Bibi Shirayuki, mohon doanya," ucap Litha dengan tulus kepada Emi dan Shirayuki.


"Ya, tenang saja, Nenek Emi akan selalu medoakan yang terbaik untuk kalian semua." Emi tersenyum lembut pada Litha.


"Sini bibi kecup dulu." Shirayuki memberi isyarat pada Litha agar mendekat. Dengan malu-malu Litha mendekatkan wajahnya kepada wajah Shirayuki. Sebuah kecupan hangat menempel di kening Litha dari bibir tipis Shirayuki dan itu membuat wajah Litha merah padam.


Setelah itu Litha berjalan meninggalkan bangku penonton yang ditempati Klan Fuyumi. Hati Litha merasa bahagia karena bagaimanapun dia sudah lama tidak merasakan kasih sayang orang tua.


Perhatian Shirayuki padanya membuat Litha merasa seperti merasakan kasih sayang seorang ibu.


Sesampainya di tengah lapangan Arena Lingkaran, terlihat Chiaki juga baru sampai disana sama seperti dirinya. Jantung Litha berdetak kencang bukan karena jatuh cinta, melainkan karena akan bertarung melawan Chiaki. Untuk menenangkan dirinya, Litha menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan secara perlahan.


"Chiaki, tidak kusangka kita akan menjadi lawan di babak 32 besar." Litha tersenyum lembut menatap Chiaki.


"Aku sendiri tidak menyangka, Litha." Chiaki membalas senyuman Litha. Gadis manis kembar itu memegang selendangnya. "Sesuai janji kita, aku telah berjuang semampuku begitu juga dengan Chaika. Aku tidak akan kalah darimu, Litha!"


"Aku juga tidak akan kalah darimu, Chiaki!" Litha membalas ucapan Chaiki dengan sengit.


Gyuki batuk pelan melihat kedua peserta di depannya sudah saling mengenal satu sama lain. "Uhuk! Kalian berdua ambil jarak. Karena kalian berdua terlihat tidak keberatan dengan keputusan hasil dari lawan pertandingan kalian, lebih baik kita mulai pertandingan kesembilan ini."


Litha dan Chaiki tertawa lirih karena mereka berdua mengabaikan Gyuki. Sesuai arahan dari Gyuki, kini kedua gadis itu mengambil jarak dan menunggu aba-aba mulainya pertandingan dari Gyuki.


"Pedang melawan selendang. Menarik, menarik." Gyuki berkata lirih. Perlahan dia menarik napas panjang dan menahannya selama delapan detik sebelum menghembuskannya.


"Pertandingan kesembilan babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi melawan Kitakaze Chiaki dari Klan Kitakaze..." Gyuki menahan perkataannya yang terdengar nyaring itu. "Dimulai!"


Penonton mulai bergemuruh kembali, Litha dan Chiaki langsung memulai serangan pembuka mereka tepat setelah Gyuki memulai aba-aba pertandingan.


Chiaki berlari menggunakan langkah angin untuk mendekati Litha. Dadanya mengembung, gadis manis kembar itu melancarkan serangan pertamanya kepada Litha.


"Hembusan Angin Tak Kasat Mata."


Chiaki menghembuskan udara berwarna hijau muda yang tajam itu ke arah Litha. Langkah kaki Chiaki berhenti dan mundur kembali ke belakang. Tangannya memegang selendangnya.


Mata Chiaki menatap tajam Litha yang sedang memegang pedangnya. Chiaki yang paling menyadari bagaimana perkembangan dirinya sendiri, kemampuannya adalah membuat musuh masuk ke dalam jangkauan serangan selendangnya.

__ADS_1


Litha menebasakan pedangnya dan memotong angin tajam tersebut, cipratan air membasahi wajah Litha karena pedangnya dilapisi air ketika memotong hembusan angin berwarna hijau muda yang dilesatkan oleh Chiaki.


"Pernapasan Sirih." Litha menairk napas panjang dan menyalurkannya pada seluruh tubuhnya.


Litha bergerak dengan langkah kakinya yang lembut, gerakannya melambat ketika merasa Chiaki menunggu dirinya memasuki area jangkauan selendang angin berwarna hijau muda yang melapisi tubuh Chiaki.


"Putaran Jarum Air!"


Litha meneriakkan nama teknik pedangnya dalam hati dan menyerang dari luar jangkauan serangan selendang Chiaki. Putaran tubuh Litha terlihat gemulai, tebasan pedanganya menciptakan lintasan air yang mengeluarkan ratusan jarum air padat yang melesat cepat ke arah Chiaki.


Serangan Litha dapat dimentahkan oleh Chiaki menggunakan selendang angin miliknya, pertahanan dari selendang angin yang berwarna hijau muda melindungi tubuh Chiaki dari serangan Litha.


"Sutra Hijau Ketenangan Muda!"


Chiaki tersenyum tipis ketika melihat ratusan jarum air yang dilestkan oleh Litha. "Serangan Litha sangat menakutkan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tubuhku jika terkena jarum air itu..." Chiaki berkata lirih.


Litha tersenyum tipis melihat serangannya dimentahkan oleh Chiaki. Dia menyadari selendang hijau muda yang menjadi senjata Chiaki bukanlah sebuah selendang sembarangan.


Litha kembali bergerak dan mengambil inisiatif untuk memasuki area serangan selendang Chiaki. Tepat setelah Litha memasuki jangkauan serangan selendang Chiaki, tubuhnya menjadi sasaran selendang hijau muda yang hendak melilit tubuhnya.


"Ketenangan Air Penyejuk Jiwa."


Litha bergerak dengan cepat menebasakan pedangnya ke arah Chiaki namun tiba-tiba Litha memperlambat tempo kecepatan langkah kakinya. Tebasan pedang Litha menciptakan sebuah ombak air yang mengalir dengan tenang di udara.


Chiaki memutarkan selendangnya untuk menahan serangan Litha. "Dekapan Angin Utara!" Ombak air membentur selendang hijau muda Chiaki.


Chiaki menarik selendangnya dan menciptakan pusaran angin yang membuat ombak air dari teknik pedang Litha mengarah ke atas.


"Pusaran Angin." Chiaki sekarang menarik kembali selendangnya dan mencoba untuk tetap tenang melihat Litha.


Ombak air berubah menjadi rintik-rintik hujan di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Chiaki melihat sesaat air yang turun dari atas, kemudian pandangan matanya kembali menatap Litha.


"Hmm ... seranganku kembali dimentahkan oleh selendangnya." Litha menggumam kecewa tetapi dirinya tidak menyangka Chiaki dapat menahan serangan baru dari teknik pedangnya.


Litha menebasakan pedanganya dari jauh untuk menggertak Chiaki. Tebasan Litha kembali ditepis selendang hijau muda milik Chiaki.


Litha dan Chiaki memutari satu sama lain sebelum melepaskan serangan mereka kembali, Chiaki melempar selendang hijau muda ke arah Litha.


"Pengikat Melilit Angin!"


Selendang hijau muda milik Chiaki melesat cepat ke arah Litha dan memutari tubuh Litha. Angin berhembus di sekitar Litha dengan kencang seiring berputarnya selendang Chiaki semakin cepat.


"Apa ini yang Nagato rasakan saat dia melakukan konsentrasi secara penuh?" Litha membatin dalam hatinya. Gadis manis itu sangat mengetahui dirinya dan Nagato yang memiliki banyak kesamaan.


"Mungkin aku akan meminta maaf pada Nagato karena tidak menceritakan masa laluku yang sesungguhnya..." Litha tersenyum tipis dan berkata lirih pada dirinya sendiri.


"Pusaran Air!"


Litha memutarkan tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya menciptakan pusaran air yang menyeret selendang beserta angin yang berhembus kencang itu.


Chiaki tersenyum tipis karena serangannya ditepis oleh Litha. Kini gadis manis kembar itu memutarkan selendangnya menciptakan pusaran angin.


Litha mundur dengan cepat ke belakang setelah melihat celah untuk keluar dari benturan serangan pusaran air dan pusaran angin.


Debu mulai menutupi area tengah lapangan ketika pusaran air teknik pedang Litha berbenturan dengan pusaran angin teknik selendang Chiaki.


Litha mencari celah untuk mendekati Chiaki. Debu yang menghalangi jarak pandangnya juga menjadi alasan mengapa Litha lebih menunggu benturan pusaran air dan pusaran angin menghilang.


Chiaki kembali melancarkan serangannya dari jauh, gadis manis kembar itu berlari mendekati Litha. Kini Chiaki mencoba hal yang baru untuk menggunakan teknik terkuat yang dia ciptakan dan pelajari selama beberapa tahun belakangan ini dari Selendang Angin.


Litha menaikkan alisnya melihat Chiaki yang mendekati dirinya, gadis manis itu berpikir jika Chiaki hendak melakukan serangan yang tidak terduga pada dirinya.


"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Biru."


Litha menarik napas panjang dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya. Gadis manis kembar itu menggenggam pedangnya dengan erat, matanya yang tajam memperhatikan pergerakan langkah kaki Chiaki.


Chiaki melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar, kemudian mengaliri Selendang Angin dengan tenaga dalam. Tangannya memegang Selendang Angin dengan sangat erat setelah itu dia mainkan selendangnya sebelum menyerang Litha.


Chiaki berhenti berlari dan melempar selendangnya ke arah Litha dengan kecepatan tinggi dan sekuat tenaganya.


"Sutra Halus Melilit Bisa."


Selendang Angin milik Chiaki terlihat mengejar tubuh Litha layaknya seekor ular yang mengejar mangsanya. Setiap Senjata Kuno memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Itu adalah hal yang umum terjadi di dunia ini. Kekuatan yang besar juga mendatangkan resiko yang besar.


Litha melebar matanya karena tidak menduga serangan Chiaki akan seperti ini. Selendang berwarna hijau muda itu terlihat seperti seekor ular yang bergerak di udara dan hendak melilit tubuhnya, Litha menebaskan pedanganya ke arah selendang Chiaki dari kejauhan.


"Jadi Chiaki telah mengaliri tenaga dalam ke selendangnya..." Litha membatin dalam hatinya setelah melihat tebasan air miliknya tidak berpengaruh sedikitpun pada selendang Chiaki.


Litha melangkah dengan langkah yang lembut dan gemulai, gadis manis itu menerima serangan Chiaki dengan permainan pedangnya. Terlihat di udara ada percikan air yang mengalir membentuk jalur melengkung dan bergelombang mengikuti setiap langkah kaki dan tebasan Litha.

__ADS_1


Ayunan pedanganya terus berbenturan dengan selendang Chiaki yang menjadi keras itu. Setiap selendang Chiaki berbenturan dengan tebasan pedang Litha maka hembusan angin terjadi.


"Tarian Peri Air."


Permainan pedang Litha memukau penonton yang melihatnya, permainan pedanganya terlihat sangat indah dipenuhi seni. Gadis manis itu terlihat sangat anggun ketika terus mengayunkan pedangnya.


Chiaki menyadari serangannya kali ini akan menjadi penentu, sehingga dia berniat membuat Litha dalam posisi bertahan terus-menerus hingga gadis manis yang menjadi lawannya itu kehabisan tenaga.


Litha tidak melihat ada celah sedikitpun bagi dirinya untuk keluar dari situasi yang tidak menguntungkannya. Napas Litha sedikit memburu, namun gadis manis itu terus mengolah pernapasan agar tidak terlalu terengah-rengah napasnya.


"Gelombang Air Menggerakkan Jiwa."


Putaran selendang Chiaki yang hampir melilit tubuh Litha langsung melebar ketika terkena tebasan pedang Litha. Sebuah tebasan pedang yang dilapisi air membentuk sebuah gelombang air yang mengalir di udara itu dapat menghalau lilitan selendang hijau muda Chiaki.


Litha berulang kali memutarkan tubuhnya dan menebasakan pedanganya lebih kuat dari tebasan sebelumnya, perlahan dia bisa melihat celah karena setiap terjadi benturan antara tebasan pedanganya dengan selendang Chiaki terjadi sebuah perbedaan besar kali ini.


Sekarang selendang Chiaki terlihat lebih lemah. Tebasan pedang Litha yang sekarang mampu membuat selendang Chiaki terpental, berbeda dengan sebelumnya yang dimana selendang Chiaki sangat kuat menahan tebasan pedang Litha, sekarang selendang Chiaki tidak mengeras sepenuhnya seperti sebelumnya.


Litha menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Chiaki. Langkah kakinya bergerak dengan cepat, serangan dari selendang Chiaki masih terus mencoba melilit tubuhnya, tetapi itu bukanlah penghalang bagi Litha.


"Mengalir Seperti Air."


Pergerakan langkah kaki Litha sangat lembut, gadis manis itu mengayunkan pedangnya dengan pasti. Setiap tebasannya mampu membuat selendang Chiaki menjauh dari dirinya, dan sekarang Litha sudah semakin dekat dengan Chiaki.


Sebuah teknik pedang milik Kakek Hyogoro sekarang sedang digunakan oleh Litha. Serangan tebasan pedangnya membentuk aliran air, dengan langkah kaki yang terus mengalir dan sulit dicerna, Litha berhasil mendaratkan tebasan ke arah Chiaki.


Tubuh Chiaki mundur beberapa langkah ke belakang, Selendang Angin melindungi tubuhnya hingga dirinya tidak terluka terlalu parah.


Litha kembali mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah Chiaki. Jalannya pertarungan berubah setelah aura tubuh Chiaki lebih lemah dari milik Litha.


Serangan beruntun dari Litha sulit ditangkis Chiaki. Pergerakan Litha tiba-tiba melambat, Litha memutarkan tubuhnya dengan cepat sambil mengayunkan pedangnya.


"Pusaran Air."


Chiaki tidak dapat mengelak lagi, gadis manis kembar itu berusaha memutarkan selendangnya, namun pusaran angin miliknya lebih kecil dari pusaran air milik Litha.


"Aura ... tubuhku ... benar-benar ... telah terkuras..." Litha dengan napas yang terengah-rengah berusaha untuk tetap berdiri menatap Chiaki.


Serangan teknik pedang pusaran air miliknya menyeret tubuh Chiaki. Tubuh teman sekaligus lawannya itu terseret ke atas, setelah pusaran air miliknya menghilang, tubuh Chiaki terhempas ke tanah.


Chiaki merapatkan giginya karena aura tubuh dan tenaga dalamnya tidak dapat lagi untuk membantunya memutarkan selendangnya. Namun ketika tubuhnya hampir menyentuh tanah, Selendang Angin miliknya melilit tubuhnya. Chiaki terjatuh tanpa terbentur tanah, tubuhnya melayang sejengkal dari tanah sebelum benar-benar menyentuh tanah.


Semua penonton terdiam selama beberapa detik, mereka semua baru saja melihat pertandingan yang sengit. Dan kekalahan Chiaki juga dibilang cukup membuat mereka berdecak kagum.


Gyuki mengangkat tangannya dan mengumumkan Litha sebagai pemanangnya.


"Pemenang pertandingan kesembilan babak 32 besar Turnamen Harimau Kai adalah Fuyumi Litha!" Tepuk tangan dari penonton menggema. Terlihat di lapangan Litha sedang berjalan menghampiri Chiaki.


"Selamat ... Litha..." Chiaki menangis tersedu-sedu. Tangannya menutup kedua matanya.


"Aku ... kalah..." Chiaki tersenyum namun air matanya terus menetes. "Kenapa kekalahan rasanya seperti ini..." Chiaki tertawa lirih namun justru tangisannya terdengar hampir pecah.


Litha memegang tangan Chiaki dan membawa temannya itu ke bangku penonton. Semua penonton memberi apresiasi kepada Litha dan Chiaki.


"Seranganmu itu hampir melukaiku, dasar Litha..." Chaiki tertawa lirih sambil menatap Litha dengan mata yang sembab.


"Kamu juga, selendangnya persis seperti ular. Bikin aku takut," balas Litha sambil tertawa lirih.


Litha dan Chiaki tertawa lepas setelah sampai di tribun penonton, setelah itu Chiaki memeluk tubuh Litha. "Selamat Litha."


"Chiaki itu anak yang riang, lain halnya dengan Chaika..." Litha tertawa lirih melihat Chiaki yang melepas pelukannya.


"Litha, nanti malam mau gak jalan-jalan keliling kota sama aku?" Chiaki tersenyum pada Litha sambil mundur beberapa langkah ke belakang.


Litha berpikir sejenak sebelum menerima ajakan Chiaki. "Sama siapa? Cuma kita berdua?"


"Aku ajak Kakak Yuri sama Chiaka. Kalau kamu ajak mereka..." Chiaki menunjuk Iris dan yang lainnya. Litha mengangguk pelan.


"Baiklah, nanti aku ajak mereka." Litha tersenyum pada Chiaki dan melambaikan tangannya. Chiaki membalas lambaian tangan Litha dan kembali ke bangku penonton yang ditempati pendekar dari Klan Kitakaze.


___


**Note : 22~06~2020 – 26~06~2020


22 komentar : Bonus 1 chapter.(3/5)


122 Like : Bonus 1 chapter.(3/5)


1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)

__ADS_1


Bonus Chapter Malming : 6/25**.


__ADS_2