
Beberapa hari setelah hari itu, Nagato dan Litha kini sedang bermeditasi di atas Bukit Angin. Kakek Hyogoro mengajari kedua muridnya itu untuk membuka aura di dalam tubuh mereka.
Baik Nagato maupun Litha mengikuti arahan Kakek Hyogoro. Mereka berdua duduk dengan posisi yang nyaman menurut mereka, dengan punggung lurus dan tidak tegang.
Setelah beberapa saat Nagato mencoba untuk fokus pada setiap bagian tubuhnya. Dan, menghilangkan segala pikiran beban kehidupan yang membuatnya tidak bisa berkonsentrasi secara penuh.
Kemudian Nagato mengatur aliran nafasnya agar tetapi stabil, dan membayangkan oksigen yang ia hirup masuk ke paru - parunya dan mengalir menjadi aliran darahnya. Dengan udara yang bersih di Hutan Cakrawyuha, Nagato membayangkan jika setiap udara yang ia hirup memberi kekuatan pada setiap bagian tubuhnya.
Nagato dan Litha melakukan itu secara berulang - ulang, karena untuk menjadi pendekar semuanya butuh waktu dan proses.
Suatu hari Kakek Hyogoro memberi saran kepada mereka berdua, agar mengulang hal itu secara terus menerus setelah pulang berlatih.
Latihan mereka berdua untuk membuka aura tubuh di mulai. Mereka bekerja keras, untuk menemukan setiap lubang aura yang tertutup di tubuh mereka dengan cara bermeditasi. Nagato dan Litha, juga berlatih keras untuk menambah fisik dan mental mereka.
Hari berganti dan berganti, musim datang dan pergi, dan kini musim salju datang lebih awal di Hutan Cakrawyuha.
Pagi berlatih fisik seperti melatih tendangan, pukulan, bantingan dan beberapa kuncian. Ketika siang tiba, Nagato berlatih mengangkat batu besar untuk memperkuat ototnya agar otot tubuhnya terbentuk. Bahkan sesekali Nagato berlari kecil dari tengah hutan ke lapisan hutan ke dua puluh dua, agar nafasnya tidak mudah bocor dan meningkatkan staminanya dalam bertarung.
Malamnya Nagato dan Litha berlatih bersama Kakek Hyogoro, sedangkan ketika tengah malam tiba, Nagato dan Litha kembali bermeditasi untuk membuka aura tubuh mereka.
Tak terasa 2 tahun telah berlalu dan kini Nagato dan Litha telah berumur 10 tahun.
Nagato semakin terlihat ketampanannya, tetapi kebiasannya yang menyukai makanan pedas tidak berubah. Sedangkan Litha semakin cantik dan manis karena gadis kecil ini sudah mulai mendandani diri sendiri.
Dulu mereka berdua tidur satu kamar, tetapi setelah beberapa kali saling menatap satu sama lain, dan keduanya juga mulai sama - sama malu, sehingga saat itu Litha meminta Kakek Hyogoro membuatkan kamar yang baru untuknya.
Litha yang sedang menikmati embun pagi tidak mendapati Nagato di depan rumah. Sesekali Litha menyentuh rambutnya, karena sudah begitu lama Nagato tidak pernah membelai rambut halusnya itu.
"Chibi, apa Nagato sudah tidak menyukaiku?" ucap Litha pada kucing manisnya itu. Chibi memakan ikan mentah yang diberi Litha dan memperhatikan raut wajah Litha yang sedih.
__ADS_1
"Meong - Meong."
Setelah melihat Chibu menghabisi ikan mentahnya, Litha menghela nafas panjang, kemudian dia mengambil pedangnya dan pergi mencari Nagato.
"Sepertinya Nagato sedang bertarung melawan Raja Hewan Buas." hati Litha melangkahkan kakinya mencari keberadaan Nagato.
Chibi mengejar Litha dari belakang. Litha memasuki hutan dan mencari keberadaan Nagato yang selalu menghilang akhir - akhir ini.
Litha mempercepat langkah kakinya," Nagato, kamu dimana?" Litha bertanya - tanya dalam hati kecilnya, karena sosok pemuda yang selalu muncul dibenaknya itu akhir - akhir ini selalu menghilang.
Setelah melewati lapisan hutan kelima puluh, Litha mendapati Nagato yang berlumuran darah karena menghabisi hewan buas dan binatang iblis. Mata Litha melebar menatap Nagato yang berdiri diatas tumpukan mayat hewan buas dan binatang iblis tersebut.
Nagato menatap langit yang terang, dan menikmati angin yang menerpa tubuhnya dengan butiran - butiran salju yang menempel diwajahhya.
Nagato bisa menghangatkan tubuhnya dengan kekuatan apinya, tetapi tetap saja dia masih merasa kedinginan.
Litha menggenggam tumpukan salju dan melemparnya kearah Nagato yang sedang melamun.
Litha mengembungkan pipinya,"Nagato... akhir - akhir ini, kamu lebih suka bertarung dengan hewan - hewan ini, daripada berlatih bersamaku." ujar Litha menatap Nagato lurus.
Nagato turun dari tumpukan mayat hewan buas dan menghampiri Litha.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya.
Nagato menatap ratusan mayat hewan buas dan binatang iblis dengan tajam.
"Lautan Api." gumam Nagato sambil mengayunkan pedangnya membakar tumpukan mayat dihadapannya.
Litha menepuk punggung Nagato kemudian dia menarik tangan pemuda itu.
__ADS_1
"Nagato..." ucap Litha pelan.
"Ada apa?" jawab Nagato sedikit cuek terhadap Litha.
"Temani aku berlatih..." balas Litha dengan nada yang sedikit manja.
"Hmm... ikut aku." ajak Nagato sambil menggandeng tangan Litha.
"Kamu mau kemana?" tanya Litha ketika Nagato menarik tangannya masuk kedalam lapisan hutan ke empat puluh lima.
Di sana terlihat tanah tandus yang kekeringan, padahal dilapisan hutan lima puluh, Nagato dan Litha merasakan ribuan butir salju yang turun dilapisan tersebut. Tetapi cuaca dan iklim yang tidak karuan di Hutan Cakrawyuha sudah terbiasa bagi Nagato dan Litha.
"Aku ingin mengalahkan seluruh monster yang menghuni hutan ini." ucap Nagato menatap tanah tandus dihadapannya.
"Baiklah, apakah aku boleh ikut berlatih denganmu?" tanya Litha melirik Nagato disampingnya.
"Boleh," jawab Nagato singkat.
Litha sedikit kesal dengan Nagato yang selalu berlatih, bahkan dia tidak pernah tertarik dengan hal yang lainnya lagi.
Nagato memejamkan matanya dan berkonsentrasi secara penuh, untuk mengantisipasi serangan dari Raja Hewan Buas yang menghuni tanah tandus.
"Datang." ucap Nagato sambil memejamkan matanya perlahan.
Litha tertegun melihat Nagato yang berkonsentrasi secara penuh, merasakan haus darah yang mendekat kearah mereka berdua.
Seekor Raja Hewan Buas Kalajengking Merah muncul dihadapan Nagato dan Litha.
Nagato memegang pedangnya yang masih tersarung rapi dipinggangnya.
__ADS_1
"Litha, hewan ini cukup berbahaya, jadi berhati - hatilah." ucap Nagato memperingatkan Litha.
"Ya, aku tau." jawab Litha berusaha untuk tidak panik dan fokus pada Raja Hewan Buas Kalajengking Merah dihadapannya.