Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 233 — Novelitha Von Azbec Dan Misuzawa Hanabi


__ADS_3

Maaf kemarin salah kirim naskah, aku ketik di memo baru salin terus tempel (Copas) di Mangatoon. Nah kebetulan kemarin ada sedikit masalah aku jadi lupa koreksi, kebetulan aku paginya baca di memo pas Arc Azbec, jadi lupa gtu. Silahkan baca dulu 232 bagi yang belum.


Nama teman Nagato, terus alur ceritanya malah jadi bocor, semoga kalian tetap ngikut sampai Arc Azbec End. Karena setelah Arc Azbec End, aku niatnya bikin novel baru tentang perjalanan Nagato keluar dari Benua Ezzo, Judulnya udah ada dan ide juga ada, cuma belum digarap, akhir-akhir ini lagi kurang mood jujur aja.


___


“Lawanku, Satha...” Litha tersenyum tipis dan berdiri, “Aku akan membalas kekalahan Tika...”


“Fuyumi Litha dan Satha, silahkan maju ke depan!” Gyuki memanggil dua nama peserta selanjutnya.


“Hmmm?” Nagato menatap Litha yang berdiri.


“Aku hanya menebak saja, ternyata beneran...” Litha tertawa lirih dan berjalan menuju tengah lapangan.


Himuro melirik Nagato lama dan tersenyum tipis. Entah apa yang direncanakan oleh Himuro sehingga lebih memilih untuk mendekati Nagato.


Di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau terlihat Gyuki sedang menjelaskan peraturan pertandingan kepada Litha dan Satha.


“Ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku...” Gyuki menatap Satha yang tersenyum menyeringai, sedangkan Litha terlihat sinis sorotan matanya.


Walau gadis muda itu selalu tersenyum, Litha mempunyai masa lalu kelam sama seperti Nagato. Beda dengan Nagato yang terkadang menunjukkan sisi gelapnya, Litha justru menyembunyikannya dan membuang perasaan dendamnya jauh-jauh.


Tapi kali ini Litha terlihat sama seperti Nagato, tatapannya tajam dan menusuk. Hanya saja Satha tidak menyadarinya sehingga pemuda itu meremehkan Litha.


“Baiklah, pertandingan ketiga babak 8 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Litha melawan Satha dimulai!” Gyuki memulai aba-aba pertandingan dan melompat ke belakang.


Satha memperlihatkan senyum meremehkan Litha, ‘Kau adalah gadis yang termasuk dalam incaranku... Tidak akan kulepaskan. Akan kuperlihatkan padamu dengan kekuatanku, Fuyumi Litha.’


Litha mengolah pernapasan dan memejamkan matanya, “Seni Napas Sirih : Bentuk Halus...”


Ketika mata Litha terbuka, tebasan pedangnya langsung menahan serangan kejutan Satha. Mata Litha memancarkan sorot mata kemarahan bercampur kesedihan.


“Lautan Air!”


Saat Satha meremehkannya, Litha memainkan pedangnya dengan cepat. Bisa dilihat serangan Litha jauh diatas Satha sehingga pemuda yang menjadi lawannya itu terpental ke belakang.


Tidak berhenti sampai disitu saja, Litha melancarkan serangan beruntun pada Satha dan tidak berniat berlama-lama di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


Satha mengerutkan dahinya dan terkejut karena kemampuan Litha yang mahir menggunakan pedang.


Sama seperti Himuro yang meminum Air Suci Buatan Tipe Elemen : Api, Satha melepaskan serangan api pada Litha dengan menggunakan pedangnya.


Satha tidak gila dan selalu tersenyum meremehkan walau dia hanya meminum Air Suci Buatan bukan yang aslinya. Beda dengan Himuro yang kehilangan seluruh emosinya selain tertawa, bahkan saat bersedih dan menangis, Himuro justru tertawa. Sehingga Himuro lebih banyak diam.


Namun Litha yang memiliki kekuatan unsur elemen air sejak lahir dengan mudah dapat menahan serangan Satha.


”Aku adalah adik dari Kakak Soren, maksudku Nagato...” Litha mengaliri pedangnya dengan tenaga dalam, “Mana mungkin aku kalah semudah itu!”


Permainan pedang Litha cukup brutal karena melukai perut Satha, bahkan tebasannya dalam dan membuat Satha meringis kesakitan.


“Kau!” Mata Satha melotot menatap tajam Litha, “Rasakan ini!”


Satha memutarkan tubuhnya, setelah itu dia mengayunkan pedangnya pada Litha lebih cepat dan agresif dari tebasan sebelumnya.


Dalam kurun waktu cukup singkat, napas Satha terengah-engah, Litha menatap Satha tajam karena menyadari kekuatan Satha bukanlah sesuatu yang didapat dengan kerja keras latihan, melainkan pemuda itu memilih cara instan untuk menjadi lebih kuat.


“Seni Nafas Sirih : Bentuk Kasar!” Litha melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar beserta tenaga dalamnya, “Tarian Dewi Laut!”


Semua penonton berdecak kagum bahkan terkejut melihat kemampuan Litha. Di bangku penonton terlihat Iris tersenyum tipis, sedangkan Nagato merasa bangga mempunyai adik sepupu seperti Litha.


Banyak kesamaan antara Nagato dan Litha, walau keduanya tidak menyadari bakat sihir dan kemampuan dari keturunan Ras Elf yang mengalir di darah mereka, tetapi Nagato dan Litha sama-sama memiliki tubuh dan kekuatan mata yang spesial.


“Dia! Bagaimana mungkin aku kalah!” Tubuh Satha terpental menabrak pohon yang ada di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.

__ADS_1


“Aku Satha tidak akan kalah! Jika aku kalah, maka margaku bukan Yamata!” Satha hendak kembali berdiri tetapi tangannya yang memegang pedang diinjak oleh Litha.


“Jangan remehkan aku!” Litha tersenyum sinis dan melepaskan aura intimidasi yang cukup mencekam karena dapat membuat Satha berkeringat dingin.


“Tenkai...” Litha melepaskan Tenkai untuk mengintimidasi Satha, “Aku dan Kakak Soren adalah murid dari salah satu Lima Penguasa bernama Bisma. Kau pikir kami sama dengan kalian yang mencari ketenaran...”


Satha berkeringat dingin melihat Litha yang berubah kepribadiannya.


“Aku berlebihan,” batin Litha. Kemudian secara perlahan Litha menekan aura intimidasinya.


Gyuki mengangkat tangannya dan mengumumkan Litha sebagai pemenangnya.


“Pemenangnya Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi!” Tepat setelah Gyuki mengakhiri pertandingan, penonton memberikan tepuk tangan yang meriah kepada Litha.


“Terimakasih Paman Gyuki...” Litha melambaikan tangan pada Gyuki dan kembali ke bangku penonton.


“Tenkai? Butuh waktu lama dan kesabaran jika ingin mempelajari pengembangan dari aura. Tetapi Nagato dan Litha sudah dapat menggunakan Tenkai di usia muda...” Gyuki menggelengkan kepalanya dan tak habis pikir jika Nagato dan Litha telah menunjukkan kekuatan mereka di Arena Lingkaran Harimau yang dapat membuat penonton tercengang.


Satha kembali ke bangku penonton dengan wajah yang merah padam karena marah. Dalam hatinya dia mengumpat kesal mencaci maki Litha.


“Tunggu pembalasanku!” Satha menatap sengit Litha yang sudah duduk di bangku penonton bersama Iris dan Nagato.


“Baiklah, selanjutnya pertandingan penentu menuju semi final. Misuzawa Hanabi dan Tuan Muda Hiragi silahkan maju ke depan!” Gyuki memanggil dua nama peserta terakhir yang bertanding babak 8 besar Turnamen Harimau Kai.


“Semi final diisi oleh tiga perwakilan Klan Fuyumi, kubu timur memang hebat! Mereka adalah pendekar pedang sesungguhnya!”


“Hanabi! Aku padamu!”


“Kecantikan yang menyaingi Fuyumi Iris. Sungguh indah dan menakjubkan!”


“Jika Misuzawa Hanabi yang memenangkan pertandingan ini, maka Fuyumi Nagato hanya menjadi satu-satunya peserta laki-laki yang lolos ke babak semi final...”


“Benar juga, katamu...”


Hanabi dengan tenang berjalan menghampiri Gyuki dan menunggu kedatangan Hiragi.


“Mereka terlalu melebih-lebihkan Klan Fuyumi, lagipula seorang perempuan juga bisa menjadi pendekar pedang yang hebat, bukan hanya laki-laki saja...” Hanabi menggumam sendiri dan memejamkan matanya.


Gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu terlihat sangat anggun di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Di bawah sinar terik matahari, rambut merah muda Hanabi menjadi daya tarik tersendiri bagi gadis muda itu.


Namun Hanabi tidak mempedulikan kekaguman orang-orang kepadanya dan fokus menghafal gerakan latihannya.


Setelah kedatangan Hiragi, suara Gyuki membuat mata Hanabi yang terpejam perlahan membuka.


“Kalian berdua masih ingat peraturannya? Hanabi? Hiragi?” Gyuki bertanya pada kedua peserta yang ada didepannya.


“Aku masih mengingatnya.” Hiragi menatap Hanabi serius, sedangkan Hanabi hanya diam dan menatap Hiragi dengan tatapan kosong.


“Baiklah kalian berdua ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku!” Langsung Hanabi dan Hiragi melompat ke belakang.


“Dengan ini, pertandingan babak 8 besar Turnamen Harimau Kai, antara Misuzawa Hanabi melawan Hiragi, dimulai!” Gyuki melompat ke belakang dan menatap Hiragi dan Hanabi yang bergerak hampir bersamaan.


Pedang Hanabi yang terbentuk dari aura tubuh bertemu dengan pedang Hiragi. Keduanya saling bertukar serangan dengan cepat.


“Pedang Sakura...” Tangan kiri Hanabi memegang pedang sakura yang baru saja terbentuk dari daun-daun sakura.


Penonton terkejut melihat Hanabi memainkan dua pedang yang dapat melukai Hiragi. Bagaimana mereka tidak terkejut, mengingat Hiragi adalah anak dari Kaisar Hizen, namun Hanabi terus menyerang Hiragi dari berbagai arah tanpa ragu sedikitpun.


“Tarian Dua Merah Muda!”


Permainan pedang Hanabi sangat lincah, kecepatannya meningkat tajam dan aura merah muda beserta daun-daun sakura yang selalu berguguran membuat Hanabi sangat anggun di bawah sana.


Hiragi mencoba mengimbangi permainan pedang Hanabi, namun dia tidak menyangka Hanabi mempunyai teknik bertarung yang sulit untuk dia pahami dan mengerti.

__ADS_1


“Api Membakar Daratan!”


Benturan dua pedang Hanabi dan pedang Hiragi membuat keduanya mundur ke belakang, setelah itu mereka berdua kembali bertukar serangan dan berpindah-pindah tempat, tepat selesai menebaskan pedangnya.


“Tarian Api Kembar!”


Hiragi kembali menggunakan teknik pedangnya untuk mengimbangi permainan pedang Hanabi.


Pertukaran serangan kali ini terlihat Hiragi lebih unggul karena terus melakukan serangan beruntun tanpa henti, “Tebasan Api Membara!”


Hiragi kembali menyerang Hanabi dengan permainan pedangnya yang dilapisi api membara.


Hanabi masih dapat menangkis permainan pedang Hiragi dengan susah payah, namun gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu terlihat sedang merencanakan sesuatu.


“Menggelegar Bara Api Di Angkasa!”


“Sakura...”


Hiragi melesatkan serangannya yang dialiri aura dan tenaga dalam, sedangkan Hanabi memanipulasi aura tubuhnya untuk menciptakan ribuan daun sakura yang berguguran.


“Tapak Sembilan Pohon Sakura Berguguran!”


Untuk menahan serangan Hiragi yang melesat cepat ke arahnya, Hanabi memanipulasi daun-daun sakura menjadi tapak tangan yang menyerang Hiragi.


Kedua teknik itu berbenturan, daun-daun sakura berterbangan ke segala arah karena terhempas serangan Hiragi, bahkan sebagian daun-daun sakura tersebut terbakar.


“Kehalusan Sakura Bersemi...”


Hanabi kembali memanipulasi daun-daun sakura yang berterbangan dan membentuknya menjadi kepalan tangan yang melesat cepat ke arah Hiragi.


Bersamaan dengan serangannya yang berbenturan dengan Hiragi kembali, kini Hanabi memainkan satu pedang yang dia genggam erat di tangan kanannya.


“Lautan Sakura Musim Semi!”


Tebasan pedang Hanabi tajam dan cepat, ayunannya tidak dapat Hiragi ikuti. Bahkan Hanabi tanpa ragu-ragu menebas dada Hiragi dengan tebasan pedangnya.


“Hngh!” Hiragi meringis namun dia melihat dadanya tidak terluka, hanya saja daun-daun sakura yang menempel di dadanya membuatnya sakit.


“Sial! Aku tidak mengantisipasi serangannya! Aku tidak bisa kalah disini!” Hiragi baru mengingat teknik pedang yang barusan digunakan Hanabi saat melawan Yuri.


Hanabi memejamkan matanya dan menyarungkan pedangnya secara perlahan, “Kupu-Kupu Sakura Berterbangan...”


Hiragi meringis kesakitan dan tersungkur ke tanah, sedangkan Hanabi menoleh melihat Hiragi untuk memastikan pemuda itu benar-benar menyerah.


“Sial!” Hiragi berusaha bangkit namun tangannya yang memegang pedang ditahan Hanabi dan ditekan gadis itu cukup kuat.


“Cukup!” Gyuki memberi tanda pada Hanabi agar tidak menginjak tangan Hiragi.


“Pemenangnya Misuzawa Hanabi dari Klan Misuzawa!” Tepat setelah Gyuki mengakhiri pertandingan, Hiragi menangis di tanah.


“Tuan Muda Hiragi, jangan bersedih. Jadikan ini sebagai pelajaran...” Gyuki mengelus rambut Hiragi lembut, “Tidak ada yang namanya jalan pintas untuk menjadi seorang pemenang...”


Hiragi menganggukkan kepalanya namun air matanya terus keluar, “Kalah sangat menyakitkan. Aku tidak menyangka kalah akan sesakit ini...”


Gyuki tersenyum mendengarnya, “Air matamu menandakan bahwa kau adalah seorang lelaki sejati. Jadikan ini sebagai motivasi agar kau menjadi orang yang lebih baik lagi...”


“Hmmm...”


Hiragi berjalam terhuyung ketika kembali ke bangku penonton yang ditempati Yuki dan Hisui.


Gyuki tersenyum tipis dan mengumumkan pertandingan babak semi final.


“Untuk mempersingkat acara ini, mari kita sambut dua peserta yang penonton sering panggil dengan sebutan Dua Bidadari Fuyumi...” Gyuki bersuara lantang dan membuat penonton terdiam mendengarkan, “Babak semi final pertama mempertemukan Fuyumi Iris dan Fuyumi Litha...”

__ADS_1


“Untuk Fuyumi Iris dan Fuyumi Litha silahkan maju ke depan...” Gyuki menambahkan. Tangannya bertepuk untuk menyambut kedatangan Iris dan Litha.


__ADS_2