
Tangan Kenji gemetar setelah mendengar namanya dipanggil, tidak pernah dia sangka tahun ini lawannya adalah sosok orang yang mengalahkannya di tahun lalu. Sosok Ashiya Giyumaru adalah sebuah tembok dinding yang sulit ditembus oleh Kenji.
Renji, Takao dan Ninjin melihat Kenji yang berkeringat dingin, mereka bertiga menepuk pundak Kenji secara bersamaan.
"Tunjukkan semangat bodohmu itu, Kenji! Jangan takut seperti ini! Kau terlihat seperti bukan temanku yang bernama Kenji!" Takao adalah orang yang pertama berbicara kepada Kenji. Tidak berapa lama Ninjin ikut angkat bicara.
"Jangan biarkan dia menang kali ini, Kenji!" Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Ninjin. Jujur pemuda itu sedang kebingungan untuk memberi semangat kepada Kenji.
Renji melirik kedua temannya yang memegang pundak Kenji. Pemuda itu juga mengerti kekuatan Ashiya yang jauh di atas mereka semua, untuk memulihkan kepercayaan diri temannya itu, Renji berkata, "Ingat tujuanmu mengikuti turnamen ini. Aku dengar kau ingin masuk 16 besar. Walau kita berbeda tujuan, aku bisa melihat tekadmu saat kau mengatakan itu. Tetapi lihat dirimu sekarang ini, kepercayaan dirimu menghilang. Kau harus ingat apa yang kau katakan saat itu, Kenji!"
Renji sengaja memancing emosi Kenji tentang perkataannya saat babak penyisihan Turnamen Harimau Kai. Renji mendengar Kenji yang akan berusaha keras masuk babak 16 besar agar Yuri menerima perasaannya.
"Yuri..." Kenji menggumam pelan. Pandangan matanya terarah pada Yuri yang sedang menatap dirinya.
"Terimakasih kalian semua. Tahun ini, aku tidak akan kalah! Akan kuperlihatkan hasil latihanku selama setahun ini!" Kenji berdiri penuh percaya diri. Kemudian dia beranjak turun ke tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Ketika melewati Yuri yang sedang bersama Chiaki dan Chaika. Langkah kaki Kenji berhenti sesaat, setelah itu dia berkata dengan lirih, "Yuri, setelah ini, aku ingin kamu menerima perasaanku. Tetapi jika aku gagal mengalahkannya, maka lupakan aku yang selalu mengganggumu. Anggap saja aku yang menyukaimu itu tidak pernah ada."
Yuri terdiam mendengar perkataan Kenji yang sedikit menyentuh hatinya, sedangkan Chiaki dan Chaika yang mendengarnya pura-pura bersikap seolah-olah mereka berdua tidak mendengar apapun.
"Anu ... Kakak Chiaki?" Chaika menatap saudari kembarnya dengan malu-malu. Matanya menatap Chiaki sedangkan jari-jari lentiknya dia satukan.
"Eh? Ada apa Chaika?" Chiaki menanggapi perkataan Chaika sembari menggaruk rambutnya.
Yuri menaikan alisnya karena melihat Chiaki dan Chaika yang sedang terlihat kebingungan, dengan cepat gadis itu merangkul leher Chiaki dan Chaika.
"Kalian berdua tadi mendengarnya, bukan?" Yuri bertanya memastikan. Chiaki dan Chaika hanya menjawab dengan gelengan kepala yang lirih. Yuri yang melihat itu mencubit lembut pipi kedua gadis kembar itu, "Jangan bohong. Jawab yang jujur!" Yuri mendesak kedua gadis kembar yang sedang dia rangkul agar mengatakan hal yang jujur.
__ADS_1
"Iya, Kak Yuri, tadi aku mendengarnya." Chiaki melepas rangkulan tangan Yuri dan menatap gadis tersebut.
"Hmmm, bagus, Chiaki sudah jujur. Sekarang tinggal Chaika." Yuri menatap sengit Chiaki setelah itu dia melirik Chaika.
"Eh ... anu ... Kak Yuri..." Chaika berkaca-kaca matanya, melihat itu Yuri langsung mengelus rambut Chaika yang halus.
"Lupakan yang tadi kalian dengar. Ini adalah masalah antara aku dan Kenji. Kalian berdua jangan ikut campur nanti." Yuri berkata dengan tegas dan mengingatkan. Kedua gadis kembar itu hanya mengangguk lirih.
Sementara itu di bangku penonton khusus yang diduduki tiga pendekar muda tak bermahkota, terlihat di sana pemuda berumur 17 tahun dengan rambut berwarna perak sedang tertawa karena namanya dipanggil. Pemuda tersebut bernama Ashiya Giyumaru.
"Menarik, menarik. Tahun lalu aku menang melawannya dan membuat dia tidak berkutik sedikitpun. Tahun ini cukup mengejutkan, padahal saat ini aku berharap bisa melawan pemuda yang bernama Fuyumi Nagato." Ashiya tersenyum lebar dan memegang rambutnya. Rambut berwarna perak itu diremas dengan erat oleh Ashiya.
"Himuro! Kau selalu saja tidak menunjukkan ekspresi apapun! Tahun ini aku yang akan mengalahkanmu! Ini adalah tahun terakhir bagi kita!" Ashiya berdiri dan menatap dingin pemuda berambut merah yang bernama Himuro Kirigiri. "Akan kubuat kau kembali tersenyum seperti dulu! Kau bahkan sekarang tidak lebih dari manusia yang kehilangan perasaannya!" Ashiya berjalan meninggalkan bangku penonton khusus yang ditempati tiga pendekar muda tak bermahkota.
"Orang itu mengatakan padaku, jika aku berhasil menjadi juara dan mengalahkan Himuro, maka temanku itu akan sembuh!" Ashiya membatin penuh emosi. Dia mencoba menenangkan dirinya ketika berjalan di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau mendekati sosok pria yang menjadi wasit.
Gyuki memperhatikan Ashiya yang terlihat tidak tenang, kemudian pandangannya terarah pada Kenji yang terlihat sedang mengatur napasnya.
"Sepertinya dua peserta ini mempunyai masa lalu yang cukup merepotkan. Aku tebak mereka berdua musuh bebuyutan." Gyuki membatin dalam hatinya. Pria itu tidak pernah menghadiri Turnamen Harimau Kai setiap tahunnya, bahkan tahun ini dia terpaksa datang melihat Turnamen Harimau Kai dan menerima bagian menjadi wasit.
Ayah dari Akaramizarawa Gyuki adalah sosok Panglima Goro yang memiliki nama lengkap Akaramizarawa Goro. Sebelum keberangkatan Goro menuju Tebing Shikaku yang berada di suatu tempat di Kekaisaran Kinai, Goro berpesan pada anaknya agar tahun ini dia datang melihat Turnamen Harimau Kai. Identitas Gyuki sendiri sangat rahasia karena sedari kecil, Gyuki hidup bersama orang lain, dan orang tersebut bukan Panglima Goro dan Nenek Sachie.
"Peserta sekarang sangat menarik perhatianku. Bahkan aku sudah mendengar rumor tiga pendekar muda tak bermahkota dan sepuluh pendekar muda jenius." Gyuki membatin dalam hatinya sedangkan tangannya menutupi mulutnya yang tertawa. Tidak berapa lama dia kembali membatin ketika Ashiya dan Kenji menatap dirinya penuh keheranan. "Sungguh menggelikan para sepuluh sesepuh sialan itu! Sudah tua masih saja bersikap seperti seorang anak baru dewasa, dasar para pemakan uang rakyat!" Tatapan Gyuki yang tiba-tiba dingin sangat terasa di kulit Ashiya dan Kenji.
Gyuki tidak mempunyai ambisi yang besar ataupun semangat untuk mewarisi ayahnya sebagai seorang kepala keluarga dari Keluarga Akaramizarawa atau menjadi seorang Panglima Kekaisaran Kai. Tujuan Gyuki hanya satu, memberantas orang yang korupsi dan membersihkan Kekaisaran Kai dari kegelapan Satra dan beberapa orang yang ikut andil didalamnya.
__ADS_1
Gyuki sangat menyadari jika dirinya sudah memiliki bukti yang kuat, namun dia membutuhkan kekuatan yang memumpuni. Untuk menjatuhkan sistem kasta yang berlaku di Provinsi Barat dan beberapa provinsi lainnya, Gyuki membutuhkan kekuatan yang besar. Dan untuk menundukkan Sepuluh Tetua Kai, tentu Gyuki harus melakukannya dengan rencana yang matang.
Setelah Gyuki terdiam cukup lama, tangannya memberi tanda pada Ashiya dan Kenji untuk segera menjaga jarak. Pandangan matanya menatap tajam Ashiya dan Kenji yang sudah berada di garis putih.
"Pertandingan keempat antara Ashiya Giyumaru melawan Kitakaze Kenji, dimulai!" Gyuki bersuara dengan lantang, tepukan riuh dari penonton dan teriakan penonton menggema di seluruh pelosok Arena Lingkaran Harimau.
Serangan pertama dilancarkan oleh Kenji yang menebaskan pedangnya dari jauh menciptakan tebasan angin. Pemuda itu kembali melancarkan serangan beruntun kepada Ashiya.
"Baru bermain dia sudah panas. Hei, hei, aku belum pemanasan!" Ashiya memegang pedangnya dan menebaskan pedangnya untuk menangkis serangan beruntun yang dilesatkan oleh Kenji.
Ashiya mengibaskan pedangnya membuat serangan tebasan angin yang dilesatkan Kenji membelok ke tanah dan membuat ledakan.
Tangan kanan Ashiya memegang erat pedangnya, sedangkan tangan kirinya meremas, membuka dan meremas kembali.
"Jepitan Tanah Dua Penjuru!"
Bersamaan dengan tangan kiri Ashiya yang meremas, membuka dan meremas kembali itu, tanah disekitar Kenji bergoyang. Terlihat jika Kenji dengan susah payah menjaga keseimbangan tubuhnya. Tidak berapa lama tangan kiri Ashiya meremas dengan erat.
"Kalah dan jatuhlah karena jepitan dinding tanahku!" Ashiya membatin penuh kepercayaan diri yang besar.
Sebuah tanah yang membentuk dinding keluar dari tanah di samping kiri dan kanan Kenji. Tidak berapa lama setelah Ashiya meremas tangan kirinya, dua dinding tanah tersebut menghimpit tubuh Kenji.
Suara tabrakan dinding terdengar, debu mulai mengganggu jarak pandang. Ashiya mengerutkan dahinya menunggu tanda-tanda dari Kenji.
"Debu ini selalu keluar setiap aku menggunakan serangan ini!" Ashiya membatin penuh kekesalan.
__ADS_1
Semua penonton menatap ke tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau yang sedang terjadi pertandingan menarik.
Debu mulai menghilang secara perlahan, tidak berapa lama terlihat di bawah sana ada dua dinding tanah yang bertabrakan. Namun dua dinding tanah tersebut belum sepenuhnya menyatu. Suara tabrakan kedua dinding tanah itu berasal dari pedang Kenji yang menahan jepitan dua dinding tanah yang membuatnya dalam posisi yang tidak diuntungkan.