Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 149 - Kepedihan Yang Masih Tersisa


__ADS_3

Iris menangis setelah membaca surat yang ditulis Asha. Sebagai seorang perempuan, Iris bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan Nagato dan Litha. Perasaan bersalah mulai merayapi perasaan Iris. Mengingat dirinya yang selalu bersama Nagato semenjak Nagato datang ke Pulau Samui. Iris merasa bersalah pada Litha karena dia sama sekali tidak menyadari perasaan Litha pada Nagato.


Dua hari setelah mendengar kabar kematian Asha yang sangat mengejutkannya, Nagato terus melatih fisiknya agar ketahanan tubuhnya meningkat. Dua hari telah berlalu, tetapi bagi Nagato dua hari yang lalu adalah mimpi buruknya karena mendengar kematian Asha.


Sementara itu setelah mendengar kabar kematian Asha. Sampai saat ini Litha masih mengurung diri di dalam kamarnya, dia hanya ditemani Iris yang terus mencoba menghiburnya. Sehari yang lalu, Dorobo, Celes dan Kuas kembali ke Markas Pencuri Ashikubi yang berada di wilayah Me. Bahkan keluarga Kaisar Hizen juga kembali ke Ibu Kota Daifuzen. Kemarahan Kaisar Hizen pada Emi begitu menggebu, Emi dengan senang hati membatalkan perjodohan Iris dan Hiragi setelah melihat pemuda yang dititipkan pada Shirayuki terlihat seperti Pandu dan sangat menjanjikan.


Merasa ditolak dan dipermainkan perasaannya, Hiragi berniat membalas dan melampiaskan kemarahannya pada Nagato. Apalagi setelah mengetahui cerita dari Hisui tentang Iris dan Nagato yang terlihat begitu dekat, Hiragi semakin marah karena Hisui terus - menerus membela Nagato. Adik kesayangannya bahkan berkata jika dia rela menjadi yang kedua setelah Iris. Mendengar itu tentu saja Kaisar Hizen dan Yuki tersedak melihat gadis kesayangan mereka berkata seperti itu.


Hisui di dalam kereta senyam - senyum sendiri mengingat Nagato yang terlihat begitu tampan di matanya layaknya seorang pangeran yang datang dari negeri yang jauh. Namun ada perasaan di hatinya yang menganggap Nagato sebagai kakaknya, dan perasaan itu yang membuatnya semakin ingin bertemu dengan Nagato kembali.


Perasaan hampa dan sedih masih menghantui Nagato. Dalam pikirannya masih teringat jelas bagaimana Litha yang tertusuk pisau di perutnya, agar bisa memenuhi permintaan terakhir dari Asha yang menyuruhnya untuk menjaga Litha, hal itu membuat Nagato terpaku untuk menjadi lebih kuat. Semua orang bisa melihat Nagato sebagai pemuda jenius, tetapi mereka tidak melihat bagaimana Nagato mencapai tingkat itu dengan kerja kerasnya.


Nagato mencoba memotong batu besar yang terlihat kokoh, untuk menjadi seorang pendekar pedang seperti kebanyakan pendekar di Benua Ezzo. Nagato terus melatih keterampilan berpedangnya, dia mencoba berbagai gaya pedang hingga akhirnya dia bisa menciptakan gaya permainannya sendiri.


Di hutan yang bersalju, Nagato berdiri di tengah - tengah rumput bersalju. Matanya hanya fokus mengarah pada batu berwarna putih yang terlihat kokok dan dipenuhi salju.


Kuda - kudanya begitu lembut, hampir terlihat jika Nagato tidak sedang melakukan kuda - kuda. Kekuatan untuk mengecoh lawan juga meruapakan unsur yang penting dalam sebuah pertarungan, Nagato memustakan seluruh tenaga dalamnya pada kakinya, sedangkan kedua kakinya terlihat memakai kuda - kuda santai yang terlihat begitu lembut, sehingga jika Nagato bertarung melawan musuh maka musuhnya tidak akan menyadari dirinya yang telah mengambil ancang - ancang.


"Lautan Api!"


Nagato berteriak kerasa dalam hatinya dan menebaskan pedangnya yang dilapisi api ke arah batu. Tebasannya mampu memotong batu putih yang terlihat kokoh menjadi dua bagian, sedangkan di tengah - tengah batu tersebut terdapat kobaran api yang membara.


Kau selalu berlatih dengan giat, Kak Nagato. Coba kau redamkan sedikit emosimu itu, pasti Kak Nagato akan terlihat lebih keren.


Nagato mengerutkan dahinya, dia tidak sadar suara Asha menggema di telinganya dan itu hanyalah khayalan alam bawah sadarnya.


"Berisik! Aku ingin kuat bukan untuk terlihat keren! Jangan menggangguku!" teriak Nagato kembali menebaskan pedangnya memotong batu yang lainnya.


Suara tawa Asha tiba - tiba terdengar di telinga Nagato. Merasa dirinya ditertawakan Asha yang selalu mengganggunya, perlahan dia menyalurkan auranya pada bilah pedangnya.


"Lintasan Jingga!"


Nagato memotong tiga batu sekaligus dalam sekali tebasan pedangnya, setelah itu dia mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya kembali.

__ADS_1


"Bagaimana Asha?" Nagato tersenyum menoleh ke belakang.


Kak Nagato. Kau selalu ingin tumbuh lebih kuat dari dirimu yang kemarin, apa kau ingin menjadi seorang pahlawan dan melupakan dendammu? Kau harus sedikit menikmati hidup yang singkat ini.


Suara Asha lagi - lagi kembali menggema di khayalan Nagato dan itu membuatnya menoleh mencari sumber suara tersebut.


"Aku tidak ingin menjadi seorang pah ... la ... wan..." suara Nagato tertahan karena tidak mendapati Asha dimanapun. Kenyataan dan sebuah ilusi membuat dirinya masih tidak menerima dengan kematian Asha.


Nagato dengan wajah yang murung kembali ke Asrama Salju Rembulan untuk mempersiapkan diri pergi ke Ibu Kota Daifuzen. Setiap langkahnya terdengar hentakkan langkah kaki yang sendu.


Nagato menggigit bibir bawahnya, wajahnya sedikit memerah mengingat dirinya sedang berbicara dengan Asha.


"Aku tak pantas menjadi seorang kakak!" batin Nagato menjerit mengingat dirinya yang selalu membentak Asha dan memukulnya.


Dalam kesedihannya yang mendalam, Nagato sadar jika dirinya tidak bisa selamanya seperti ini. Kakinya yang tertatih terus berjalan melewati jalan setapak, tidak berapa lama dia sampai di Asrama Salju Rembulan.


Semua tatapan pendekar perempuan yang sedang mengadakan pertemuan dengan Emi menatap Nagato yang berwajah murung. Nagato menundukkan kepalanya melihat tanah bersalju yang dia injak. Tatapan pendekar perempuan yang terus melihatnya dengan tajam, membuat Nagato sedikit merasa sendirian.


Ketika matanya hendak memejam, Nagato melihat kaki yang mulus dan putih memakai sendal yang memiliki hiasan bunga mawar membuat langkah kakinya berhenti. Kepalanya mencoba melihat lurus, dan dia mendapati sosok gadis cantik berambit hitam panjang sepunggungnya yang sedang tersenyum lembut padanya.


"Naga. Kamu punya sesuatu yang harus kamu melindungi, aku akan mendukungmu," Iris menepuk pundak Nagato dan tersenyum pada Nagato sebelum pergi. Senyuman Iris membuat Nagato menyadari jika dirinya harus mengingat permintaan terakhir Asha.


Nagato menoleh ke belakang melihat Iris yang masuk ke dalam Rumah Bunga Salju. Perasaan lega karena melihat Iris yang selalu menyemangatinya, membuat Nagato ingin membalas kebaikan dan kehangatan yang telah diberikan Iris padanya.


Kakinya kembali melangkah memasuki Asrama Salju Rembulan. Sesampainya di Asrama Salju Rembulan. Nagato disambut dengan senyuman Litha, Hika dan Tika.


Nagato tersenyum tipis melihat Litha yang sudah kembali ceria, kemudian dia masuk ke dalam Asrama Salju Rembulan dan duduk di dekat perapian bersama Litha, Hika dan Tika.


"Asha menginginkanku untuk menjagamu, Litha..." batin Nagato melihat Litha yang sedang bercerita bersama Hika. Lamunannya dibuyarkan oleh suara Tika.


"Nagato, besok kita akan berangkat ke Daifuzen. Kau akan menjadi perwakilan dari Klan Fuyumi bersama Litha," ucap Tika mengingatkan.


Nagato tersenyum tipis sebelum menjawab ucapan Tika.

__ADS_1


"Bukankah Klan Fuyumi hanya terlihat pendekar perempuan? Lantas bagaimana aku bisa menjadi bagian dari kalian?" Nagato bertanya pada Tika setelah mendengar ucapan Tika. "Kalau Litha yang menjadi wakil bersama kalian, aku tidak heran. Tapi aku adalah laki - laki, apa tidak akan ada rumor aneh yang tersebar nanti?" tambah Nagato kembali bertanya pada Tika.


"Ketua Emi yang menulis surat formulirnya. Nagato dia menulis namamu dan Litha sebagai cucumu. Seharusnya kalian berdua sangat beruntung, tapi kita tidak boleh lengah di turnamen tahun ini." Tika menatap tajam Nagato. Matanya menoleh menatap perapian.


"Tiga pendekar muda tak bermahkota dan sepuluh pendekar muda jenius. Kita akan bertemu mereka semua di Turnamen Harimau Kai." sahut Hika sambil matanya menatap api di perapian.


Litha hanya diam dan menatap Nagato yang tersenyum tipis mendengar ucapan Hika dan Tika.


Nagato berdiri dan kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan apa saja yang akan dia bawa ke Ibu Kota Daifuzen.


____


30 komentar : Bonus 1 chapter.


200 Like : Bonus 1 chapter.


1000 vote : Bonus 2 chapter.


#Buruan Like dan Komentar ada bonus chapternya. Di jamin seru di babak Arc Cinta sebelum Nagato ancang" ke Arc Revenge. Haha dapat bocoranπŸ˜‚


Note : Author hitung dari periode mingguan ini ya sahabatπŸ€— 30 komen bonus 1 chapter loh. Setiap periode mingguan selesai, nanti author crazy up kalau target di atas tercapai. Akan banyak kejutan di Arc CINTA😘.


Jangan lupa mampir ke karya temenku ya sahabat bulu merah.


β€’Tiga Cinta Putih : Dikelilingi Pemuda Tampan karya Kak Bae SooAh.


Jangan lupa tinggalin like kalian dan


komentar biar kami sesama author makin semangat dalam berkarya.


____


IG : Pena_Bulu_Merah

__ADS_1


WA : πŸ˜‰


__ADS_2