Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 151 - Desa Kuri


__ADS_3

Setelah Emi melihat anggota pendekar dari Klan Fuyumi termasuk Nagato dan Litha sampai di pelabuhan Kota Daruma, perlahan es yang membentang panjang membentuk sebuah jalan hancur lenyap tak bersisa bercampur dengan air laut.


Sepanjang perjalanan melewati jalan Kota Daruma yang ramai akan penduduk dari luar kota, mereka semua begitu menghormati sosok Emi. Tidak ada walikota untuk Kota Daruma. Semua kepentingan pemerintahan Kota Daruma bergabung dengan Klan Fuyumi.


Nagato sudah memakai topeng rubah putihnya, ukiran dan bentuk yang hanya digunakan seseorang dari Klan Kagutsuchi membuat Emi semakin penasaran dengan identitas pemuda yang berjalan di samping cucunya.


Iris melirik Nagato dan tersenyum manis ke arahnya, melihat itu mata Nagato melebar dan menatap Iris tajam dari balik topeng rubah putihnya.


"Jangan tersenyum seperti itu, karena itu sangat menggangguku." mendengar perkataan Nagato yang sinis, reflek tangan Iris mencubit pemuda yang sedang memakai topeng rubah putih untuk menutupi ketampanan wajahnya.


Iris merasa sebal sendiri karena telah mencoba peduli pada Nagato. Sementara itu Emi menyuruh yang lainnya beristirahat sejenak di Kediaman Bunga Es Musim Dingin yang merupakan kediaman megah milik Klan Fuyumi. Emi ingin mengajak yang lainnya sarapan pagi sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota Mikazuchi yang merupakat Ibu Kota Provinsi Barat dan yang paling dekat dengan Ibu Kota Daifuzen.


Iris berjalan dihadapan Nagato. Terlihat rambut hitam panjang lurus sepunggung gadis cantik itu di mata Nagato. Perlahan Nagato melangkahkan kakinya memasuki Kediaman Bunga Es Musim Dingin. Terlihat butiran salju turun dengan sendirinya ketika Nagato berada di dekat Shirayuki dan Iris.


Aura tubuhnya yang membungkus dan dia sendiri mempunyai elemen api, semua itu membuat Nagato tidak kedinginan, tidak berapa lama Emi menjelaskan pada mereka rute teraman dan tercepat untuk mencapai Ibu Kota Daifuzen.


Nagato melepas topeng rubah putih yang dia kenakan ketika berada di ruangan, kemudian dengan seksama dia mendengarkan menjelaskan penjelasan Emi.


Provinsi Barat adalah tempat yang akan mereka tuju sekarang, sebuah provinsi yang berbeda dengan Provinsi Utara akan menjadi pengalaman pertama bagi Nagato untuk melihat dengan jelas kondisi Kekaisaran Kai.


Sebelum melanjutkan perjalanan, Emi menyuruh semua orang yang akan ikut dengannya pergi ke Turnamen Harimau Kai untuk makan terlebih dahulu. Mengingat mereka semua belum sarapan pagi, dan Emi ingin pendekar muda perwakilan dari Klan Fuyumi agar tetap terjaga kesehatannya.


Nagato hanya memakan secukupnya, dia tidak seperti biasa yang sangat menyukai makanan pedas. Tangannya hanya mengambil dua roti untuk mengganjal perutnya, tetapi paksaan dari gadis berparas cantik membuatnya luluh. Tangan Iris yang memegang sumpit sengaja menyuapi Nagato. Dengan terpaksa Nagato membuka mulutnya menerima suapan Iris.


Melihat itu yang paling terkejut adalah Emi. Baru pertama kali dia melihat cucunya bersikap seperti itu, Iris adalah cucu kesayangannya. Sebenarnya Emi belum menjelaskan pada Shirayuki dan Yuki jika mereka berdua bukanlah saudara kandung. Yuki adalah anak perempuan dari teman Emi yang telah meninggal, sejak bayi Yuki dirawat Emi sampai dia besar sebelum menikah dengan Kaisar Hizen.


Selesai makan Nagato memakai topeng rubah putihnya dan berjalan keluar ruangan Kediaman Bunga Es Musim Dingin. Nagato dengan santai duduk di sebuah bangku untuk menikmati suasana, dalam benaknya Nagato bertanya pada dirinya tentang sebuah makna kebebasan. Asha meninggal sebelum dia mengenal sebuah kebebasan, dan itu membuat Nagato ingin menemukan jawaban tentang kebebasan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Emi keluar bersama Shirayuki, Ichiba dan Oichi. Sementara itu terlihat Iris, Litha, Hika dan Tika baru keluar dari Kediaman Bunga Es Musim Dingin.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, untuk menjaga fisik dan stamina mereka agar terjaga, Emi sengaja melakukan perjalanan tanpa menunggangi kuda. Emi ingin melatih fisik lima pendekar muda yang mewakili Klan Fuyumi di Turnamen Harimau Kai.


Nagato sangat beruntung bisa menjadi bagian dari sebuah klan yang begitu disegani di Kekaisaran Kai. Sebuah klan yang menjadi impian para lelaki untuk mencari jodoh di sana, Klan Fuyumi mempunyai ribuan anggotanya yang berparas cantik dan manis.


Kediaman utama Klan Fuyumi yang berada di Pulau Maru pernah sekali dimasuki oleh seorang pria bernama Hiryuu. Pada saat itu Emi mempersilahkan Hiryuu masuk ke dalam Pulau Maru untuk melihat sebuah tulisan kuno yang terukir di sebuah batu seperti kristal berwarna biru muda, sebuah batu yang sama seperti di Perguruan Pegunungan Menangis untuk menyampaikan sebuah pesan ke masa depan.


Baik itu Emi ataupun Namida tidak mengetahui dengan jelas tentang leluhur mereka yang ada kaitannya dengan Klan Kagutsuchi. Sebuah cerita masa lalu yang akan mewariskan tekad pada generasi mendatang, di seluruh belahan dunia masih ada empat pewaris selain Klan Kagutsuchi.


Tidak terasa tiga hari telah berlalu semenjak Nagato meninggalkan Pulau Samui. Dalam tiga hari itu, Nagato dan yang lainnya hanya bermalam dan beristirahat di hutan atau tempat yang teduh. Nagato dan Litha tidak terlalu banyak mengeluh karena sudah terbiasa, hari ini Emi berniat ingin bermalam di sebuah desa yang dekat dengan Provinsi Barat dan bisa dibilang desa tersebut merupakan pembatas perbatasan Provinsi Barat dan Provinsi Utara.


Rute teraman dan tercepat yang Emi rencanakan ternyata membuat mereka bisa sampai di tempat tujuan lebih cepat, tanpa halangan suatu apapun. Dalam perjalanan ketika beristirahat sesekali Nagato bertanya pada Shirayuki tentang cara memanipulasi aura dan merubah aura. Bagaimanapun Nagato bisa dibilang mahir bagi anak seusianya, tetapi semua itu masih jauh dari kata mahir bagi dirinya yang telah melihat kekuatan anggota Organisasi Disaster dan Bisma.


Shirayuki dengan senang hati menjelaskan semua itu pada Nagato. Tentang memanipulasi aura dan merubah aura, bahkan Shirayuki juga menjelaskan hal yang lebih pada Nagato. Perempuan beranak satu yang mempunyai julukan putri salju dan merupakan idaman para kaum lelaki itu menjelaskan pada Nagato tentang perkembangan aura, baik itu memperkuat aura, memperlebar aura, dan memusatkan aura. Sementara itu Emi merasa jika Nagato adalah keturunan dari Kagutsuchi Sura. Melihatnya saja, Emi sudah bisa menebaknya tetapi dia tidak ingin langsung mengambil kesimpulan.


Nagato kagum melihat Shirayuki yang terlihat seperti terbang tidak menginjak tanah, bahkan anak perempuannya juga sama sepertinya. Mata Nagato menunjukkan kekagumannya pada Iris yang sama seperti Shirayuki. Perlahan dia sengaja memperlambat langkahnya untuk melihat Iris yang berlari.


Merasa dirinya terus ditatap dari belakang, Iris sengaja menghembuskan napasnya dari mulutnya ke arah Nagato. Bibirnya yang tipis dan mungil tersenyum melihat Nagato yang mempercepat langkah kakinya, tidak berapa lama Nagato sudah berada di sampingnya dan menoleh ke arah dirinya dengan tatapan tajam dari balik topeng rubah putih.


"Apa kau memanggilku?" Nagato dengan polosnya bertanya pada Iris. Kesalahpaham terjadi karena Nagato melihat tangan Iris yang berada di mulutnya ketika gadis itu menghembuskan napasnya yang dingin.


"Naga. Aku dari tadi merasa kamu selalu menatapku dari belakang." Iris menjawab dengan sedikit sinis sambil menoleh melihat wajah Nagato yang tertutupi topeng rubah putih.


"Aku hanya kagum melihatmu. Apa aku mengganggumu?" jawab Nagato sambil sedikit merasa bersalah karena menatap Iris dari tadi. Nagato paling mengetahui bagaimana rasanya ditatap terus menerus sampai membuat dirinya merasa risih dengan tatapan orang.


"Aku juga kagum kok sama kamu. Aku merasa risih kalau orang - orang menatapku dengan tajam, tapi..." suara Iris tertahan dan dalam sekejap wajahnya merah padam, terlihat jika Iris tidak sadar ketika berada di dekat Nagato, dirinya selalu saja terbuka pada Nagato bahkan perasaan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi?" Nagato menaikan alisnya penasaran dari balik topeng rubah putih yang ia kenakan, sedangkan Iris yang mendengar suara Nagato menjadi tersipu malu.


"Aku tidak risih ... ketika kamu .. yang menatapku ..." suara Iris yang malu - malu membuat Nagato sadar jika dirinya juga telah menanyakan hal yang tidak ingin Iris katakan.


Tidak berapa lama keduanya hanya saling diam dan berhenti berbicara ketika sampai di depan pintu masuk sebuah desa perbatasan Provinsi Barat dan Provinsi Utara. Iris menoleh melihat Nagato dan mendekati pemuda itu.


"Ini namanya Desa Kuri..." suara Iris membuyarkan lamunan Nagato yang masih merasa malu berbicara pada Iris.


"Iris..." Nagato memanggil nama gadis yang berdiri disampingnya, Nagato memerah wajahnya karena merasa malu untuk bertanya, untung saja dia memakai topeng rubah putih, sehingga hanya matanya yang dingin saja yang terlihat.


"Ada apa Naga?" Iris menjinjit dan menatap Nagato dari dekat, terlihat jelas bibirnya yang tipis di mata Nagato.


"Aku hanya ingin meminta maaf, malam itu aku membiarkanmu mengecup bibir-" kata - kata Nagato terhenti karena dia sadar jika dirinya akan bertanya hal yang memalukan, tetapi akhir - akhir ini dia selalu mengingat bagaimana ciuman pertamanya hilang ketika dia bersama Iris.


"Aku seharusnya yang meminta maaf, tapi aku tidak menyesal kok, Naga. Justru karena kamulah-" suara Iris tertahan dan wajahnya merah padam karena mengingat ciuman pertamanya, Iris berusaha melupakannya tetapi dia tidak menyangka Nagato masih mengingatnya walau pemuda itu bersikap biasa saja.


Nagato dan Iris sama - sama memalingkan wajah ke samping, Nagato dan Iris tidak sadar jika mereka masih sangat polos. Tetapi mereka berdua sadar dengan perasaan hati masing - masing.


"Nagato! Iris! Kalian berdua terlalu lama!" teriakan Litha membuyarkan rasa malu Nagato dan Iris yang masih berada di pintu masuk Desa Kuri.


Nagato melihat Litha dan yang lainnya telah masuk desa, sedangkan yang tersisa hanya dirinya yang sedang bersama Iris disampingnya.


Nagato menghela napas panjang, terdengar suara hembusan napasnya dari balik topeng rubah putihnya. Iris menunduk malu menatap bebatuan kecil di tanah, sedangkan tangan kanannya memegang pita kupu - kupu bersayup biru yang menghiasi rambut halusnya.


"Iris. Lupakan perkataanku tadi." Nagato berjalan pelan dan menggigit bibir bawahnya karena merasa sangat malu, tetapi ada perasaan senang di hatinya.


Iris hanya diam dan mengikuti Nagato yang berjalan didepannya, Iris sendiri tidak menyangka akan begitu terbuka pada Nagato dan sebaliknya Nagato juga terbuka pada Iris. Walau Nagato belum menceritakan masa lalu dan identitasnya pada Iris.

__ADS_1


__ADS_2