Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 277 — Pembantaian Sepihak III


__ADS_3

Pertempuran di Ibukota Daifuzen berubah drastis menjadi pembantaian sepihak. Vendom, Black Dan Karakurt selalu menanyakan hal yang sama pada pendekar Kekaisaran Kai, prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kinai. Mereka bertiga hanya menanyakan hal yang tidak diketahui keberadaannya seperti seseorang bermarga prabu dan keturunan Kagutsuchi.


Pertarungan antara Matsuri dan beberapa Ketua Klan seperti Namida dan Mio melawan Karakurt tidak bertahan lama. Setelah Karakurt menyerap gas belerang dan memperlihatkan kekejian Black Rhino yang telah membunuh ratusan orang dalam sekejap.


Tubuh Black Rhino terlihat begitu keras. Tidak butuh waktu lama bagi Black Rhino untuk mengalahkan Matsuri, Namida dan Mio. Berbeda dengan penyiksaan yang dia lakukan sebelumnya, kali ini Black Rhino mengambil pedang milik salah satu pendekar yang telah mati dan akan menggunakannya pada pendekar yang telah dia kalahkan.


“Karakurt! Urus bagianmu! Aku akan mengurus mereka terlebih-lebih dahulu!” Black Rhino menoleh ke belakang dan menatap tajam Karakurt.


“Baiklah, baiklah. Lagipula kita tidak perlu membuang tenaga terlalu banyak. Mereka semua yang ada disini telah melalui pertarungan yang melelahkan. Kita hanya perlu pelan-pelan membunuh mereka. Mungkin sekitar dua hari tempat ini akan menjadi lautan mayat...” Karakurt tersenyum lebar dan menatap ke arah petinggi Spider.


“Hentikan perkataan bodohmu itu!” Black Rhino menggertakkan giginya melihat Karakurt yang tersenyum tanpa alasan yang jelas.


Setelah melihat Karakurt bergerak dengan kecepatan tinggi menuju tempat para petinggi Spider berada, Black Rhino langsung memulai aksinya kembali.


“Hei kau...” Black Rhino tersenyum sinis dan menodongkan pedangnya pada salah satu pendekar perempuan Air Terjun Kebenaran, “Apa kau tahu pesilat dari Negeri Jaya dan Benua Raya?”


Pendekar perempuan itu menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak tahu, orang bermarga Prabu ataupun pesilat dari Negeri Jaya dan Benua Raya.


Black Rhino menusuk perut pendekar perempuan tersebut. Lalu memberikan pertanyaan yang sama pada pendekar yang lainnya. Bahkan Matsuri, Namida dan Mio juga diberikan pertanyaan yang sama oleh Black Rhino.


“Ibu!” Suara teriakan Masayu menggema. Dengan cepat Masayu berlari dan melepaskan serangan pada Black Rhino, namun tebasan pedangnya justru tidak mampu memotong kepala Black Rhino.


“Ibu?” Black Rhino justru tertawa dan mencekik leher Masayu, kemudian memutar tubuhnya melempar Masayu ke arah bongkahan bata, “Sungguh tragis...”


Black Rhino melempar pedang dengan kecepatan tinggi ke arah Masayu. Seketika pedang itu melesat dan menusuk perut Masayu, menembus kulit gadis muda tersebut.


Beberapa pendekar muda yang sedang menjauh dari bagian selatan dan pendekar lainnya terpancing dengan tindakan Black Rhino. Efek dari Pil Pemulih Aura mulai terasa. Satu demi satu pendekar dari Kekaisaran Kai bertarung hanya dengan mengandalkan semangat mereka.

__ADS_1


Black Rhino sengaja tidak membunuh mereka semua langsung karena ingin membiarkan orang yang dia tusuk dengan pedang mengalami pendarahan hingga menjelang kematian.


Sementara itu Karakurt sudah mulai melumpuhkan ribuan prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai. Malam yang panjang dari pembantaian sepihak membuat keputusasaan menghampiri seluruh orang yang ada di Ibukota Daifuzen.


Di sisi lain Raido justru menikmati pertarungannya dengan Hound. Melihat Hound yang memiliki kekuatan Air Suci Tipe Elemen : Api, membuat Raido tertarik mengajak Hound untuk bergabung dengannya.


Raido tidak membunuh Hound karena dirinya sendiri juga tidak terlalu peduli dengan keturunan Prabu maupun Kagutsuchi.


“Jadi benar anak dari Kazan menguasai salah satu negeri di benua ini?” Raido menatap Hound yang sedang merokok dengan tubuh bersimbah darah.


“Lima Penguasa, para penjahat ataupun militer dari pemegang hak istimewa di Aliansi Bangsa-Bangsa sama saja. Melakukan pembantaian dan menjajah dengan alasan perdamaian. Saat dunia di kuasai oleh para orang-orang seperti itu, maka yang ada hanya kekacauan...” Hound bersender pada bongkahan bangunan yang hancur, “Mungkin saja kau dan Magma di Azbec akan menjadi terkena imbas dari kekacauan itu. Karma pasti berlaku, bahkan aku sendiri juga akan mendapatkan balasan dari perbuatanku selama ini.”


Raido tertawa karena mendengar perkataan Hound. Kemudian dia berbalik menatap Nagato yang sedang berlari.


“Lihat baik-baik dari situ! Aku akan membunuh anak itu!” Raido membuka telapak tangannya. Sebuah petir yang membulat mengelilingi telapak tangan kanannya. Sebelum Hound bereaksi, Raido langsung mengarahkan serangannya itu pada perut Hound.


“Anak itu sudah banyak menderita! Aku tidak akan membiarkan kau menyentuhnya, Raido!” Hound melepaskan kekuatan Air Suci miliknya hingga tubuhnya dilapisi api yang membara.


“Apa kau meremehkanku?” Hound mengarahkan jari telunjuknya menciptakan peluru-peluru api yang menyerang Raido.


“Hound, apa kau tahu El Misti dan beberapa penjahat yang menetap di Pulau Alfabet?” Raido berhenti bergerak dan melepaskan aura intimidasi yang membuat Hound juga berhenti bergerak.


“Kau mengetahui aku anggota Hero. Apa ada seseorang yang memberitahumu?” Hound mengernyitkan dahinya menatap Raido. Identitasnya menjadi Pahlawan Bintang Tiga sangat rahasia. Orang yang mengetahuinya hanyalah Black Si Pahlawan Api dan beberapa Pahlawan Bintang Lima di Organisasi Hero.


“Tidak, aku hanya menebak saja. Dahulu saat aku menjadi kelinci percobaan manusia keparat dari Bahamut, aku melihat Blast dan laki-laki yang mirip sepertimu.” Raido termasuk dari ribuan korban kekejaman dunia. Dia telah menjadi kelinci percobaan sejak berumur lima tahun. Sudah berkali-kali dia melihat orang mati hingga semua itu mengubah mental dan kepribadiannya.


Raido bergabung untuk menjadi bawahan Ignist karena ingin mendapatkan hak istimewa untuk menjadi salah satu Tribe. Raido mengira Hound adalah orang yang pernah dia temui saat melihat Hound dan teman laki-lakinya di masa lalu.

__ADS_1


“Air Suci ini adalah pemberian Blast-San...” Hound membuka telapak tangannya dan mengeluarkan api yang membara di tangannya.


Hound tersenyum kecut, sementara Raido tersenyum tipis. Keduanya tidak memiliki alasan untuk bertarung. Tak lama Raido menekan seluruh auranya sebelum pergi meninggalkan Hound.


“Aku akan tetap membunuh siapapun yang menjadi incaran kami, Hound. Kau sendiri kenapa melindungi anak itu? Apakah dia adikmu?” Raido menoleh ke belakang menatap Hound.


“Aku hanya ingin memenuhi permintaan seseorang yang telah lama mati. Kau tidak akan mengenal dia. Orang bernama Uzui meminta tolong padaku untuk mengawasi anak itu...” Hound merokok dengan santai. Walau bersikap tenang, tetapi sorot matanya terpancar kesedihan, “Lagipula aku adalah penyebab kematian orang tuanya. Aku yang membuat dia menderita. Sungguh ironis, tetapi di dalam pembuluh darahku mengalir darah manusia yang keji itu...”


“Cerita yang menyedihkan—” Raido tidak melanjutkan perkataannya karena merasa hawa membunuh dari tiga orang. Kemudian dia menoleh melihat tiga orang yang bersimbah darah menatap tajam dirinya.


“Fuyumi Nagato adalah anak dari Pandu? Kalau begini kau tidak akan bisa menyentuhnya. Lewati dulu mayatku, manusia petir!” Hayabusa tersenyum menyeringai sebelum bergerak menyerang Raido.


“Kalian berdua lindungi Fuyumi Nagato! Dia satu-satunya orang yang tersisa yang memiliki darah penguasa negeri ini! Jika dia mati...” Hayabusa melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar, “Maka tidak akan masa depan bagi Kekaisaran Kai dan Benua Ezzo! Dunia telah menantinya! Fajar pasti akan kembali bersinar!”


Raido terdiam dan membiarkan Hayabusa memotong kepala, tangan bahkan badannya. Tidak ada darah yang keluar. Tubuh Raido kembali utuh ketika petir-petir kecil kembali mengelilingi tubuhnya.


Raido mengingat perkataan Hayabusa. Dia pernah mendengar perkataan ini di suatu tempat. Tempat yang tak lain adalah Negeri Jaya. Baginya ini hanyalah kebetulan, tetapi setiap negeri yang mempunyai ikatan darah dengan marga Prabu mengatakan hal yang sama.


“Kagutsuchi adalah keturunan yang harus dimusnahkan. Di luar benua ini, nama Kagutsuchi adalah hal yang tabu. Dahulu orang bernama Kagutsuchi Mugen mempunyai anggota yang sekarang menjadi Lima Penguasa. Dia meneror dunia dengan kekuatan...” Raido tertawa karena tidak menyangka Hayabusa mengatakan hal yang sama dengan salah satu pendekar silat dari Negeri Jaya.


“Bisma, Kazan, Yoru, Tarot, King. Lima monster itu bahkan menjadi anggotanya. Sampai kapanpun orang yang memiliki marga yang sama dengan Mugen tidak akan pernah diterima di dunia ini!” Raido menatap tajam Hayabusa yang terkejut melihat tubuhnya tidak terpotong.


Shin dan Mujin juga terkejut melihat kemampuan Raido. Jelas-jelas mereka melihat Hayabusa memotong kepala Raido tetapi kepala itu tidak terlepas ataupun mengeluarkan darah.


“Tidak mungkin!” Shin bergidik ngeri melihat kekuatan Raido tetapi dia harus tetap bergerak menahan Ignist yang mencoba membunuh Emi dan yang lainnya.


“Jadi ini alasannya kenapa dua pecundang itu membiarkan orang asing menghabisi Klan Kagutsuchi!” Mujin mengutuk Satra dan Hizen.

__ADS_1


Kekuatan Raido masih jauh di atas mereka semua, tetapi Hayabusa tidak gentar sedikitpun berdiri di depan Raido.


“Langkahi dulu mayatku!” Hayabusa mengibaskan kedua pedangnya dan tersenyum menyeringai.


__ADS_2