
Kembali lagi ke Turnamen Harimau Kai yang dihelat hari ini. Semua penonton berbondong-bondong untuk menyaksikan pertarungan babak 32 besar. Sebelum memulai pertandingan babak 32 besar, Gyuki yang mengambil bagian menjadi wasit memperkenalkan para peserta yang akan bertanding di babak 32 besar.
Suara gemuruh dan tepukan meriah dari penonton terdengar sangat meriah dari sebelumnya ketika tiga nama disebutkan oleh Gyuki. Ketiga nama itu tak lain adalah pendekar muda tak bermahkota yang bernama Himuro Kirigiri, Guren Toshiko dan Ashiya Giyumaru.
Seperti biasa Gyuki terlihat tidak peduli dengan omongan miring penonton kepada dirinya, pria itu menarik napas panjang dan memperkenalkan diri.
"Namaku Akaramizarawa Gyuki. Sudah semestinya kalian telah mengenal siapa diriku. Aku tidak tertarik dengan dunia militer apalagi berhubungan dengan yang namanya politik, aku hanya ingin hidup santai, hanya itu saja. Ngomong-ngomong kekuatanku ... ah, lupakan saja." Gyuki kembali menguap setelah memperkenalkan diri, walau matanya terlihat mengantuk di wajahnya yang terkesan garang, Gyuki memiliki penglihatan yang cukup tajam karena mengetahui beberapa penyusup dari Kekaisaran Rakuza.
"Sebelum memulai babak 32 besar aku ingin menyampaikan sesuatu. Keluarga Akaramizarawa tidak terikat dengan sumpah dekrit darah dan kami adalah keluarga yang telah melindungi Kekaisaran Kai selama ribuan tahun, walau aku terlihat seperti ini tapi aku tidak akan membiarkan kalian merusuh di tanah Kai ini. Sekali berurusan dengan kami maka kalian tahu akibatnya!" Suara Gyuki terdengar seperti pukulan telak bagi Sepuluh Tetua Kai dan Kaisar Hizen.
"Ada apa sebenarnya ini? Aku sudah curiga sejak awal jika ada kegelapan yang berkuasa di Kekaisaran Kai tapi seharusnya tidak seperti ini..." Gyuki membatin sambil mengamati penyusup dari Kekaisaran Kai dan raut wajah Sepuluh Tetua Kai.
"Misi yang dilakukan Paman Goro, tidak maksudku ayahku adalah untuk mengungkap dalang dari orang yang mengumpulkan senjata untuk memicu perang juga belum selesai, sampai saat ini mereka belum kembali dari Tebing Shikaku, Kekaisaran Kinai. Apa rumor tentang Kekaisaran Kinai dikuasai Organisasi Delapan Jari dan Organisasi Laba-Laba Malam itu adalah rumor yang benar apa adanya." Gyuki membatin dalam hatinya. Tidak berapa lama dia mendecakkan lidahnya.
"Cih, akhir-akhir ini aku merasakan firasat buruk. Semoga saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan." Gyuki memanggil nama kedua peserta yang akan bertanding di laga pembuka babak 32 besar Turnamen Harimau Kai.
Tidak banyak yang tahu jika sosok Gyuki memiliki dua kepribadian, nama Gyuki adalah nama samaran saat sosok aslinya bersama Arwah Suci yang sedang tertidur jauh di dalam dirinya.
"Babak 32 besar kita mulai dengan pertandingan pembuka antara Fuyumi Nagato melawan Kakugo!" Gyuki terlihat heran dengan nama Nagato yang mirip dengan nama laki-laki, Gyuki sendiri sejak awal tidak menghadiri Turnamen Harimau Kai, dia tidak terlalu tertarik dan dia tidak peduli.
"Dua nama yang kupanggil, silahkan maju ke depan!" Semua penonton bersorak mengingat dua hari yang lalu kedua nama itu sudah terlibat bentrokan. Namun beberapa orang hanya diam dan menjadikan pertandingan ini sebagai kesempatan untuk membuktikan kekuatan Nagato yang terlalu mirip dengan Pandu.
Di bangku penonton Klan Fuyumi terlihat Nagato yang sedang memegang tangan Hika. Pemuda itu tidak memakai topeng rubah putih setelah wajahnya sempat terlihat, kini Nagato memberanikan diri untuk tidak memakai topeng rubah putih yang selalu dia kenakan ketika memulai perjalanan dari Pulau Samui. Sebenarnya dia sendiri tidak ingin melakukan hal seperti ini, tetapi kemarin malam Iris menantang Nagato untuk tidak memakai topeng.
Beberapa jam sebelum dimulainya babak 32 besar Turnamen Harimau Kai, di Penginapan Matahari Timur terlihat Nagato dan Iris sedang adu mulut. Nagato sedang berada di dalam kamar dan memegang topeng rubah putihnya, kebetulan ruang kamar penginapan Nagato tidak ditutup, Iris yang baru selesai mandi terkejut melihat Nagato yang sedang berbaring memakai topeng rubah putih.
Dengan tubuhnya yang hanya dililit handuk, Iris memberanikan diri masuk ke dalam kamar Nagato dan membangunkan Nagato yang dia kira sedang tertidur.
"Naga bangun!" Iris menggoyangkan badan Nagato tetapi tangan pemuda itu menarik lengan kanan Iris hingga gadis cantik itu terjatuh tepat di atas badan Nagato.
"Ada apa-" Nagato yang sedang memejamkan matanya terkejut ketika membuka matanya, suaranya tertahan dan dia melihat Iris yang sedang memakai handuk. Wajah Nagato merah padam melihat lekuk tubuh Iris.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini? Untung aku tidak melihat karena aku memakai topeng!" Nagato langsung mendorong tubuh Iris dengan lembut, setelah itu dia membalikkan badannya.
Iris sangat malu, dia sadar dirinya terlalu ceroboh. Gadis cantik itu mendengus kesal melihat wajah Nagato yang tertutup topeng rubah putih. Tangan Iris melepas secara paksa topeng rubah putih yang dikenakan Nagato.
"Iris?" Nagato terkejut ketika melihat topeng rubah putihnya dipegang oleh Iris. Pandangan matanya menoleh ke belakang melirik Iris yang memegang topeng rubah putihnya.
"Aku akan memegang topeng rubah putih ini. Jujur padaku! Tadi kamu melihatnya, kan?!" Iris mendesak Nagato. Sedangkan pemuda itu membalikkan tubuhnya dan menatap Iris.
"Aku melihatnya ... ini salahmu! Aku sedang menunggu makan malam dan berniat membaringkan tubuhku terlebih dahulu tetapi kamu datang ke kamarku dan terjadi hal memalukan seperti ini!" Nagato tidak terima melihat Iris yang menyalahkan dirinya, tidak berapa lama dia mendecakkan lidahnya dan berkata, "Apa kamu cemburu ketika bocah manja memakai topeng rubah putihku itu?"
Iris semakin geram dan membalikkan badannya, matanya menatap tajam Nagato.
"Aku akan menyimpan topeng rubah putih ini, aku ingin melihatmu bertarung tanpa penutup wajah..." Iris memerah wajahnya menatap Nagato yang menaikan alisnya dan terlihat kesal.
Nagato berdiri dan memegang pundak Iris. Kemudian pemuda itu mendorong tubuh Iris dengan pelan keluar pintu kamarnya.
"Baiklah, besok aku akan bertanding tanpa memakai penutup wajah. Apa hanya itu permintaanmu?" Iris mengangguk lirih ketika tangan Nagato dengan lembut membelai rambut halusnya.
"Dasar pamrih,"desis Iris sembari mengembungkan pipinya. Bibir tipis dan mungilnya kembali merekah, "Apa permintaanmu?"
Nagato membisikkan sesuatu di telinga Iris.
"Aku ingin mengajakmu pergi ke rumah makan yang menjual makanan pedas itu. Hari ini kita lupa membelinya, dan ingat. Kamu harus memakannya." Nagato tersenyum jahil.
"Apa ini sebuah permintaan? Tapi aku tidak menyukai makanan pedas, bagaimana jika kita pergi ke toko kue?" Iris memberi usul dan menatap wajah Nagato lurus.
"Makanan pedas lebih enak, aku hanya ingin melihatmu memakan makanan kesukaanku. Oh iya, makanan pedas di rumah makan itu mempunyai rumor yang memikat pengunjung. Setiap makanan pedas ada tingkatannya, bagaimana jika kita berdua bertanding?" Nagato kini menatap Iris yang sedang berpikir.
"Bertanding makan?" Iris bertanya, sedangkan Nagato mengangguk pelan sembari tersenyum tipis melihat Iris.
"Baiklah, aku akan menyetujui tantangan dan permintaanmu ini. Tapi dengan satu syarat, jika aku dapat melewati tantangmu, sebagai gantinya..." Iris menjinjit dan berbisik di telinga Nagato. "Sebagai gantinya besok malam kamu harus ikut aku pergi ke toko kue. Mengingat malam ini kamu kembali mengajakku jalan-jalan lagi. Jadi aku harus membalas kebaikanmu itu..." Iris tersenyum manis pada Nagato dan pergi meninggalkan pemuda yang sedang menatap dirinya dengan penuh senyuman.
__ADS_1
"Aku bawa ya." Iris menunjukkan topeng rubah putih kepada Nagato.
"Iya," jawab Nagato singkat, kemudian dia tersenyum dan berkata, "Cepat pakai pakaianmu dulu, Ratu Es." Iris merah padam wajahnya, tangannya menutupi bagian atas tubuhnya, kemudian dia kembali ke kamarnya.
Nagato tersenyum setelah melihat Iris menjauh, dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang begitu senang dan meluap-luap ketika berdua dengan Iris. Namun ketika Nagato dan Iris berkumpul bersama orang lain, keduanya sering berseteru dan sering berbeda pendapat.
Kembali ke waktu sekarang, saat dimana Nagato sedang memegang tangan Hika. Pemuda itu menatap Hika cukup lama.
"Aku akan mengalahkan dia untukmu, Hika!" Nagato melepas pegangan tangannya dan tersenyum tipis kepada Shirayuki dan Emi.
"Nenek Emi dan Bibi Shirayuki tenang saja, aku tidak akan bertindak diluar batas. Aku akan mengingat perkataan Bibi Shirayuki di sore hari itu..." Nagato berjalan melewati Iris, Litha, Hika dan Tika yang sedang melihat dirinya.
"Naga buat pertandingan pembuka ini menjadi menarik." Iris tersenyum tipis ketika melihat Nagato melirikya.
"Ya, itu sudah pasti." Nagato menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Nagato berjalan dengan langkah kakinya yang tenang dan pasti. Semua mata tertuju pada Nagato yang bertanding tanpa penutup wajah. Ketampanannya memukau seluruh orang yang ada di Arena Lingkaran Harimau dan tentunya Nagato memikat penonton perempuan yang terdiri dari gadis kecil sampai gadis yang beranjak dewasa.
Sesampainya di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau, Nagato tersenyum sembari menunggu kedatangan Kakugo. Dalam hatinya dia membatin, "Paman wasit ini..."
Nagato terkejut melihat Gyuki yang memejamkan matanya, suara dengkuran Gyuki yang terdengar tidak terlalu nyaring itu membuat Nagato menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Cih, bagaimana dia bisa mengantuk di tengah kerumunan yang membosankan ini." Nagato mendecakkan lidahnya.
___
**Note : 12~06~2020 – 18~06~2020
22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)
122 Like : Bonus 1 chapter.(4/5**)
__ADS_1