Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
The Dawn 33 : Lembah Rafinha IV


__ADS_3

“Siapa yang bercanda hah! Aku akan membunuh-”


“Argh! Kashima cepat menjauh dariku!”


Sonjo berteriak keras, seperti orang yang berbicara sendiri. Kashima sendiri kebingungan melihat sikap Sonjo yang berbeda dari biasanya.


‘Walau dia biasanya bersikap seperti orang gila yang berbicara tidak jelas, tetapi sekarang aku merasakan samar-samar aura mengerikan dari dalam dirinya...’ Kashima tanpa sadar menjauh dari Sonjo dan Wang Zhi.


Saat Wang Zhi hendak mengejar Kashima, Sonjo kembali melakukan hal yang mengejutkan. Hanya dalam hitungan detik, tangan kiri Wang Zhi terputus.


“Apa?!” Wang Zhi tersentak kaget sesaat sebelum merintih kesakitan. Pergerakan Sonjo begitu cepat, dan tentu saja saat Sonjo mengalami perubahan yang drastis, untuk pertama kalinya Wang Zhi berkeringat dingin karena bagaimanapun Sonjo mengingatkannya akan pemimpin pasukan revolusioner.


Sonjo menyeringai melihat tangan kiri Wang Zhi putus. Tidak butuh waktu lama bagi Sonjo untuk kembali memenggal kepala Wang Zhi.


Seperti sebelumnya, Wang Zhi kembali bangkit walau terpotong kepalanya. Dengan menggunakan tubuh orang lain, Wang Zhi kali ini benar-benar tidak habis pikir jika Sonjo dapat memenggal kepalanya sebanyak dua kali.


Bersamaan dengan Sonjo yang mulai kehilangan kendali atas diri sendiri karena tubuhnya dikuasai nafsu membunuh Pedang Muramasa, Hiragi dan Brusca bertarung sengit.


Hiragi terus melancarkan tebasan pedang yang tajam, sementara Brusca hanya menahan setiap tebasan pedang Hiragi dengan jari kukunya yang runcing.


“Apakah ini balasanmu setelah menjadi murid kami? !” Brusca menatap tajam Hiragi yang terlihat telah mahir memainkan pedangnya dan menggunakan gerakan yang telah diajarkan oleh para petinggi Sekte Pemuja Iblis.


Hiragi tersenyum tipis dan melancarkan sebuah tebasan yang mendarat tepat dilengan Brusca. Sayatan yang menggores lengan Brusca membuat Hiragi menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku hanya ingin mengetahui seberapa kuat diriku. Jika aku dapat membunuh salah satu dari kalian berempat, bukan tidak mungkin aku dapat membantu saudaraku menuntaskan dendamnya.” Hiragi berkata dengan santai kepada Brusca yang memancarkan raut wajah kemarahan.

__ADS_1


Memang Hiragi memiliki niat terselubung untuk menjadi lebih kuat. Menjual harga dirinya bahkan semua kenangannya, Hiragi menitikkan satu tujuan hidupnya yaitu untuk membunuh ayah kandungnya sendiri.


Bagi Hiragi semua impiannya telah sirna, saat mengetahui adik tercintanya telah tiada bahkan ibunya sendiri telah lumpuh, Hiragi kehilangan kehangatan jiwanya. Terlebih saat mengetahui penyebab kematian adiknya dan lumpuhnya sang ibu karena perbuatan ayah yang menjadi panutannya.


“Aku mengucapkan terimakasih pada kalian yang telah mengajariku bertarung. Aku sangat berterimakasih akan hal itu.” Kata-kata Hiragi membuat mata Brusca melotot tajam.


“Bocah tengik yang banyak bicara!” Brusca menajamkan kuku-kukunya sebelum bergerak cepat menyerang Hiragi.


Serangan yang dilepaskan Brusca mengandung kekuatan yang besar, Hiragi yang menyambut serangan Brusca mundur beberapa langkah ke belakang.


Saat Brusca kembali bergerak cepat kearahnya, Hiragi mengolah pernapasan dan mengamati kelemahan Brusca. Dalam satu kali ayunan pedangnya yang mengandung kekuatan besar, Hiragi dan Brusca kembali bertukar serangan.


“Kemampuan milik Wang Zhi. Pisau aura yang mematikan miliknya juga telah kau pelajari rupanya...” Brusca berkata saat Hiragi melakukan gerakan yang sama persis dengan Wang Zhi. Yang menjadi pembeda hanya senjata mereka karena Hiragi menggunakan pedang, sementara Wang Zhi menggunakan pisau.


Dari setiap ayunan pedang Hiragi, Brusca mengetahui semuanya. Hanya saja setelah melakukan pertukaran serangan lebih dari tujuh puluh serangan, Hiragi melakukan pola langkah yang berbeda dan menebaskan pedangnya yang dipenuhi aura besar pada kepala Brusca.


Hiragi yang gagal memotong kepala Brusca kembali menajamkan matanya dan mengeraskan pertahanannya. Karena bagaimanapun saat dirinya melihat seluruh tubuh Brusca mengeras, maka orang yang menjadi lawannya lebih serius bertarung.


Dalam beberapa langkah, Brusca telah berada didepan Hiragi dan melancarkan pukulan beruntun tanpa henti guna membuat Hiragi bertahan.


“Apakah otakmu itu setumpul pedangmu? Membantu Kagutsuchi Nagato untuk mmebalas dendam? Apa kau tahu orang yang telah membunuh orang tua dari saudaramu itu adalah Kazan?” Brusca menyeringai dan terus melancarkan pukulan beruntun hingga akhirnya Hiragi benar-benar dipaksa ke posisi terdesak.


Hiragi menyambut setiap pukulan beruntun yang dilancarkan Brusca, tetapi setelah berusaha menahan secara terus-menerus akhirnya Hiragi mendapatkan empat pukulan telak ditubuhnya.


“Selain itu orang didunia ini sangat membenci marga Kagutsuchi. Saudaramu itu tidak ada tempat untuk hidup di dunia ini!” Brusca melebarkan aura tubuhnya sebelum melepaskan aura pembunuh yang hebat untuk menekan pergerakan Hiragi.

__ADS_1


“Aku baru mengetahui maksud dari perkataannya kepada adikku. Kehilangan orang tua dan orang-orang yang dia sayangi. Orang seperti kalian tidak mengerti bagaimana rasanya kesepian! Walau dulu aku sempat membencinya, tetapi aku sadar saat itu pandanganku terhadap dunia sangat sempit. Dalam hatiku ini, aku benar-benar menghormatinya!” Hiragi berusaha kembali berdiri setelah pergerakannya ditekan Brusca.


Mendengar perkataan Hiragi, tentu saja Brusca tertawa, “Menghormatinya? Aku menjadi penasaran apa yang menarik dari bocah itu selain memiliki kutukan mematikan!”


Tubuh Hiragi terhempas setelah berdiri. Satu pukulan dari Brusca mendarat telak diperutnya, dan membuat tubuh Hiragi terhempas sebelum akhirnya tersungkur ke tanah.


Hiragi memuntahkan darah segar dari mulutnya setelah menyadari jika pukulan yang dilepaskan Brusca mengandung aura pembunuh, “Benar-benar menjengkelkan. Apa hanya segini kemampuanku?”


Hiragi kembali berdiri setelah melihat Brusca tidak berniat memberikan celah untuknya mengambil napas.


Dalam waktu singkat, Brusca sudah dihadapan Hiragi. Satu pukulan yang dipenuhi aura, lalu disusul pukulan beruntun yang mengandung kekuatan besar. Hiragi mengayunkan pedangnya secepat kilat untuk menghadapi Brusca.


Retakan tanah dan gelombang kejut saat pedang Hiragi yang kian menajam dan kulit tangan Brusca yang kian mengeras membuat tempat pertarungan disekitar mereka hancur.


Perlahan tapi pasti, Hiragi dapat mengimbangi kecepatan pergerakan Brusca. Permainan pedang Hiragi kali ini lebih terasah setelah berulang kali mendaratkan tebasan pada tubuh Brusca.


‘Tunggu...’ Brusca mengangkat alisnya karena melihat sekujur tubuhnya bersimbah darah menerima luka sayatan akibat tebasan pedang tajam yang dilancarkan Hiragi.


‘Bocah sialan ini menggunakan Tenkai?’ Saat Brusca tersentak kaget, Hiragi melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan mengalirkannya pada bilah pedangnya sebelum menebaskan pedangnya memotong kepala Brusca.


Tidak berhenti sampai disitu. Setelah kepala Brusca menggelinding di tanah, Hiragi kembali memotong bagian tubuh Brusca yang lainnya.


“Bukankah ini tidak terasa menyakitkan?!” Hiragi benar-benar memotong setiap bagian tubuh Brusca dengan rapi. Walau seperti itu, Hiragi mendengar suara gelak tawa seorang pria yang telah mati dan tubuhnya digunakan oleh Brusca.


“Kau benar-benar melakukannya! Kali ini aku tidak akan segan lagi! Aku akan menghadapimu dengan seluruh kekuatanku, bocah tengik!” Brusca menyeringai dan melepaskan Tenkai yang lebih besar dari milik Hiragi.

__ADS_1


Saat jarak Hiragi dan Brusca semakin singkat, sesuatu yang mengejutkan terjadi karena Sonjo tergeletak ditanah sementara Nagato berubah wujud karena tengkorak yang mengelilingi tubuh Nagato memancarkan aura hitam pekat yang mematikan.


__ADS_2