Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 182 - Berhenti Sementara


__ADS_3

Pertandingan Turnamen Harimau Kai berhenti sementara. Banyak penonton yang menyayangkan kepemimpinan Mujin yang menjadi seorang wasit.


Semua penonton masih terdiam mengingat ketampanan dan kekuatan Nagato yang membuat mereka terbius melihatnya. Tidak berapa seorang gadis bermata sayu berlari ke tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau mengambil topeng rubah putih milik Nagato yang terjatuh di tanah.


Hisui memungut topeng rubah putih milik Nagato dan menyimpannya untuk sementara sebelum dia mengembalikan topeng rubah putih itu kepada Nagato.


"Kakak tampan kenapa sangat marah kalau temannya disakiti? Dia sampai tidak peduli jika wajahnya kelihatan banyak orang." Hisui bergumam pelan kemudian dia kembali duduk di samping Yuki.


"Bunda lihat ini punya kakak tampan," ucap Hisui dengan napas yang terengah-rengah. Matanya yang sayu bertemu dengan mata sayu ibunya.


"Ukiran ini? Tapi apa sebuah kebetulan, lagipula pemuda itu dilindungi kakak. Jangan-jangan..." Yuki menutup mulutnya.


"Kakak Shirayuki dan Kakak Pandu memiliki hubungan yang-" Yuki membatin tetapi perkataannya dalam hati berhenti mengingat Shirayuki yang menjodohkan anak kesayangannya dengan pemuda yang tampan dan dapat diandalkan.


"Jadi dia yang dijodohkan dengan Iris." Yuki menatap anaknya yang terlihat tertarik juga dengan Nagato.


"Hisui jadi kamu suka sama kakak tampan yang tadi itu?" Yuki menatap mata sayu yang polos itu.


Hisui tersenyum manis sambil memutar tubuhnya pelan. Kemudian dia duduk di bangku penonton. Pandangan matanya yang sayu menatap ibunya.


"Hisui suka sama kakak tampan. Ayah! Hisui gak mau tunangan sama laki-laki besar yang ayah kenalin itu!" Tiba-tiba raut wajah Hizen terdengar murka. Tetapi dia mencoba untuk tetap tenang.


"Hisui kamu itu anak ayah. Walau pemuda berandalan tadi itu tampan dan berasal dari Klan Fuyumi tetap saja dia tidak sekasta denganmu!" Hizen membentak pelan perkataan Hisui.


Yuki merasa suaminya akhir-akhir ini terlihat berbeda semenjak kedatangan tamu dari Kekaisaran Rakuza. Tamu istimewa itu adalah Kaisar Orochi yang datang bersama dengan anak laki-lakinya yang berumur 20 tahun bernama Kira.


Kunjungan dua tahun lalu itu membuat Kaisar Hizen menerima pertunangan anak keduanya dengan anak ketiga Kaisar Orochi. Demi menjalin hubungan erat antara Kekaisaran Kai dan Kekaisaran Rakuza, hal seperti itu perlu dilakukan.


Berbeda dengan Pandu yang ditentang ketika hendak menikahi Sarah yang berasal dari Kerajaan Sihir Azbec. Pertunangan Hisui dan Kira tidak ditentang siapapun, semenjak Kaisar Hizen naik takhta bersama tangan kanannya yang bernama Satra. Kekaisaran Kai berubah drastis.


Keluarga Kaisar Hizen terlihat bahagia tetapi sebenarnya keluarga mereka sudah retak. Dari luar terlihat raut wajah kebahagiaan tetapi dalam hati Yuki dan Hisui menangis.


"Hisui lebih suka sama kakak tampan yang tidak munafik. Kakak tampan kalau nggak suka sama Hisui langsung ngomong secara langsung nggak pura-pura kaya laki-laki yang ayah kenalin apalagi teman-temannya Kakak Hiragi itu!" Hisui cemberut dan memalingkan wajahnya tidak melihat ayahnya.


"Kamu itu anak ayah. Apa yang ayah katakan harus kamu turutin. Jangan jadi anak durhaka!" Kaisar Hizen menatap tajam Hisui.


"Sayang! Cukup!" Yuki menatap sengit suaminya.


Hisui tahu banyak anak laki-laki yang tertarik dengannya karena status, jika bukan statusnya maka mereka tergoda dengan bagian luar dirinya. Namun Hisui paling menyadari jika kebanyakan orang ingin mendekatinya karena harta dan kekuatan keturunan yang ada ditubuhnya.

__ADS_1


"Bunda..." Hisui menatap Yuki yang terlihat marah.


"Apa sayang?" Yuki tersenyum lembut pada Hisui.


"Rubah putihnya. Itu punya kakak tampan." Hisui masih bisa tersenyum ditengah-tengah orang tuanya yang sedang berbeda pendapat.


"Ini." Yuki memberikan topeng rubah putih milik Nagato kepada anak perempuannya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Yuki menatap bibir Hisui yang merekah dan tersenyum tipis itu.


Hisui tertawa kecil dan menatap ibunya.


"Bunda nanti malam temanin Hisui main ke tempat Nenek Emi." Hisui menatap ibunya dengan tatapan memohon.


"Iya nanti Bunda temanin. Kamu jangan nakal ya kalau ketemu Nenek Emi sama Bibi Shirayuki." Yuki mengingatkan. Sedangkan Hisui mengangguk pelan menjawab perkataan ibunya.


"Itu aman Bunda," ucap Hisui sebelum dia membatin, "Kakak tampan pasti nanti kaget kalau aku kembaliin topeng rubah putih ini."


Hisui membayangkan Nagato memuji dirinya dan memarahi dirinya. Entah kenapa dia sangat tertarik pada Nagato. Gadis lucu bermata sayu itu hanya ingin diperhatikan Nagato karena dia menganggap pemuda tampan itu sebagai orang yang dia suka sekaligus kakaknya.


Kaisar Hizen hanya diam mendengarkan perkataan istri dan anaknya, pertandingan yang masih berhenti itu membuat Kaisar Hizen menatap tajam Satra yang dijaga dua orang dibelakangnya. Kaisar Hizen tidak mengetahui jika dua orang di belakang Satra adalah anggota Akuyaku yang dibentuk Gore.


Satra menghela napas panjang dan menatap Kaisar Hizen dengan sopan, tetapi dalam hati dia tidak suka dengan Kaisar Hizen yang terlihat berkuasa.


"Dasar boneka! Tinggal nonton dan diam malah ngeluh!" Satra mengumpat dalam hati.


"Maaf Yang Mulia Hizen atas ketidaknyamanannya. Kami sedang berdiskusi terlebih dahulu." Satra milirik Kuro dan Ryuzaki yang sedang berbicara dengan Namida dan Owara.


"Saya akan percepat. Maaf telah membuat Yang Mulai Hizen menunggu." Satra menambahkan.


Kaisar Hizen diam dan mengingat Turnamen Harimau Kai saat dirinya masih muda, kenangan pahit membuat Kaisar Hizen mengerutkan dahinya.


Sementara itu di bangku penonton Klan Kitakaze terlihat Takao sangat syok setelah melihat identitas sebenarnya dari pemuda yang memakai topeng rubah putih. Ketika dirinya bangun dari pingsan, dia disuguhkan dengan kebrutalan Kakugo tetapi tidak berapa lama dia merasa sangat syok karena dia melihat pemuda yang mengalahkannya adalah Nagato.


Renji, Kenji dan Yuri juga sangat terkejut melihat Nagato yang sudah terlihat semakin tampan dan sangat meningkat pesat kekuatannya. Miake tersenyum kecil melihat wajah pendekar muda dari Klan Kitakaze terkejut melihat identitas pemuda yang memakai topeng rubah putih.


"Hika kasihan. Semoga Hika baik-baik aja," ucap Chaika pelan. Dalam keterkejutan empat pendekar muda Klan Kitakaze hanya Chiaki dan Chaika yang tetap bersikap santai.


"Nagato sangat tampan dan hebat! Dia adalah tipe laki-laki idaman." Perkataan Chiaki yang cukup keras membuat Takao batuk pelan.

__ADS_1


"Dulu pemuda tampan itu pernah datang melihatku berlatih." Yuri menanggapi perkataan Chiaki sambil memejamkan matanya.


"Saat itu Nagato hanya pergi main. Jadi Kak Yuri jangan salah paham!" Chiaki mencari alasan. Dia bisa melihat Yuri tersenyum tertarik dengan Nagato.


"Pemuda tampan itu bernama Nagato. Sepertinya aku tidak ada harapan karena dia sangat dekat dengan anak Tuan Putri Shirayuki." Yuri mengeluh dan menatap Chiaki.


"Kalau begitu Kak Yuri sama Chiaki aja hehe." Yuri menggelitik perut Chiaki.


"Dasar Kak Yuri!" Chiaki melepas gelitikan tangan Yuri.


Suara-suara penonton yang mulai ricuh sendiri itu membuat Chiaki merasa kesal. Pertandingan tertunda membuat Chiaki melihat pendekar muda yang belum bertanding.


"Aku harus lolos agar bisa berdiri sejajar dengan Litha!" Chiaki tersenyum tipis.


"Ka-Kakak berjuang ya." Chaika memberi ucapan kepada saudari kembarnya.


"A-Aku sudah kalah. Padahal aku sudah berlatih keras..." Mata Chaika berkaca-kaca. Chiaki mengelus rambut saudari kembarnya itu.


"Bukankah tadi kamu percaya diri dan tidak malu seperti ini, dasar kembar!" Chiaki memencet hidung Chaika dengan lembut.


"Aku juga sudah berlatih agar tidak punya malu seperti kakak tapi itu sulit sekali..." Chaika terlihat malu-malu. Kedua jari telunjuknya saling bertemu.


Chiaki terlihat kesal dengan ucapan saudari kembarnya itu.


"Chaika! Siapa yang tidak punya malu?!" Chiaki menatap tajam Chaika. Kedua tangannya mencubit pipi Chaika pelan.


"Ma-Maaf ... Kak-" Chaika terlihat ketakutan dan menangis pelan.


"Eh? Kakak bercanda, Chaika jangan menangis, dasar pemalu." Chiaki memeluk adiknya.


"Kalian berdua ini berbicara apa dari tadi." Yuri menatap gadis kembar yang duduk disampingnya itu.


"Sepertinya Guru Owara sudah selesai berbicara dengan Sepuluh Tetua Kai. Chiaki hati-hati jika kau bertemu dengan Gurojimaru. Aku rasa dia sama dengan orang yang melukai Hika." Yuri mengingatkan. Pandangan matanya menatap Owara dan Namida yang sedang berbincang.


Renji juga merasa ada yang tidak beres dengan kompetisi tahun ini. Pemuda itu menyilangkan kedua tangannya di dada dan tidak berapa lama dia membatin.


"Nagato. Sepertinya aku harus berteman dengannya. Kakek Reto terlihat sangat menghormatinya, sudah dua kali aku melihat dia menantang Sepuluh Tetua Kai. Seharusnya seorang pendekar tahu jika sumpah dekrit darah berlaku di seluruh klan yang tersebar di Kekaisaran Kai. Peraturan yang tidak boleh menentang perintah Kaisar Kai. Peraturan itu kata Guru Owara tidak berlaku pada Klan Fuyumi dan Klan Kagutsuchi.


"Kedua klan itu mempunyai kebijakan sendiri seperti Perguruan Gunung Menangis. Pernikahan antara Kaisar Hizen dengan anak kedua Ketua Fuyumi membuat Klan Fuyumi ikut dalam sumpah dekrit darah. Aku harus menemukannya. Menemukan pembunuh orang tuaku yang bernama Gore itu!" Renji membatin penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2