Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 134 - Pembakaran Tanjung Missique


__ADS_3

Melewati jalan setapak, melewati desa yang terhubung dengan jembatan gantung. Kakek Hyogoro memilih rute tercepat untuk sampai di Kediaman Klan Fuyumi, dua hari telah berlau sejak meninggalkan Hutan Cakrawyuha.


Kakek Hyogoro tidak menyangka mereka bertiga lebih cepat dari yang telah dia diperkirakan untuk sampai di Kediaman Klan Fuyumi. Selama seharian penuh berlari tanpa henti, akhirnya mereka bertiga sampai di sebuah desa yang begitu sepi penduduknya.


Kakek Hyogoro bisa melihat penduduk desa telah pindah permukiman, mengingat sepanjang perjalanan menuju desa begitu banyak perkebunan yang terkena hama serangga. Kakek Hyogoro berasumsi, belalang yang jumlahnya tidak wajar ketika di sepanjang perkebunan yang dekat dengan desa telah membuat perkebunan menjadi gagal panen. Penduduk desa yang mempunyai kerabat di kota atau desa lain, mereka langsung pergi dari desa lama mereka.


Nagato dan Litha juga menyadari hal yang dipikirkan Kakek Hyogoro, tetapi tetap saja Nagato dan Litha masih tidak menyangka akan melihat belalang yang jumlahnya begitu banyak.


Semenjak Litha berkata jujur tentang perasaannya pada Nagato, mereka berdua sedikit menjaga jarak karena keduanya masih malu untuk bersikap seperti biasa.


Nagato masih tidak menyangka jika Litha menyukai dirinya, sifatnya yang tidak mudah paham dengan perasaan seseorang membuat Nagato masih sulit untuk menerimanya. Melihat Litha saja sudah membuatnya kebingungan harus bersikap seperti apa, satu hal yang Nagato sadari saat ini, dia hanya ingin melindungi Litha. Tumbuh dan hidup bersama, Nagato belum pernah melihat Litha menceritakan kebenciannya pada Nagato, sosok perempuan yang selalu tertawa dan menangis pada Nagato begitu mencintai perdamaian.


Nagato menganggap kedamaian di dunia ini hanyalah sebuah kedamaian palsu, melihat Litha yang mempunyai mimpi membuat Nagato ikut tergerak hatinya. Perasaan dendamnya perlahan memudar dan mulai menghilang tetapi kebencian yang menganga dihatinya terlalu besar hingga tidak bisa menghilang sepenuhnya.


Litha tersenyum manis melihat Nagato yang sedang menatap dirinya dari kejauhan, tangannya melambai pada sosok pemuda yang dia cintai itu. Mata Litha selalu mengawasi setiap pergerakan Nagato, kesukaan Nagato dan kebenciannya, semua hal yang diceritakan Nagato padanya, tentu Litha sangat mengetahui semua itu. Nagato adalah sosok pemuda misterius di mata Litha, ketika dia bercerita padanya. Nagato selalu meninggalkan beberapa kata yang membuat Litha penasaran, tatapan matanya yang tajam dan sifatnya yang dingin membuat Litha ingin mencairkannya.


Nagato adalah cinta pertama bagi Litha, pemuda yang selalu terlihat kuat tetapi rapuh di saat yang bersamaan itu membuat Litha tidak bisa membiarkannya sendirian. Sebenarnya Litha menyadari perasaan Asha pada dirinya, hanya saja hati Litha hanya untuk Nagato.


"Litha, hai? Kenapa kamu melamun?" Nagato menggoyangkan tangannya di depan mata Litha.


Litha tersentak kaget karena melamun memikirkan Nagato, "Na-Na-Nagato..." Reflek Litha mendorong tubuh Nagato.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan, istirahatnya sudah cukup." kata Nagato berdiri dengan kedua tangannya yang menyentuh tanah.

__ADS_1


Litha sengaja bersikap manja dihadapan Nagato, tangannya memberi kode pada Nagato untuk membantunya berdiri. Tangan Nagato menyambut tangan Litha dan keduanya saling menatap satu sama lain selama beberapa detik sebelum Kakek Hyogoro mengagetkan mereka berdua.


"Ayo pergi." ajak Kakek Hyogoro pada Nagato dan Litha, tanpa menunggu lebih lama lagi mereka berdua melanjutkan perjalanan.


Nagato dan Litha saling melirik satu sama lain sebelum mereka berdua tertawa kecil. Kakek Hyogoro tersenyum melihat kedua muridnya itu.


***


Sementara itu di daerah yang dekat dengan Pulau Ryushimau, sebuah pulau yang menjadi pintu masuk Benua Ezzo karena berbatasan langsung dengan Terusan Fajar. Sebuah kapal besar dan mewah dengan mesin kapal yang canggih sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Sihir Azbec.


Kapal megah itu mengangkut Bangsawan Bahamut yang bernama Baha Jellikoth. Pria berumur tiga puluh tahun dengan rambut hijau itu didampingi dua anggota Exequtor yang langsung datang dari Kekaisaran Bahamut. Kedua anggota Ezequtor itu bernama Nightscream dan Xerross.


Nightscream adalah pria berbadan kekar dengan tubuhnya yang dipenuhi luka bakar dan memiliki tatapan tajam. Nightscream adalah pengguna Senjata Kuno Tipe Langka : Pedang Kegelapan Malam. Nightscream sudah terbiasa membunuh sehingga menjadi alasan dari Panglima Empat Penjuru Kekaisaran Bahamut mengirim pria tersebut ke Benua Ezzo.


Di samping Nightscream berdiri pria dengan wajah yang cukup tampan dan berambut abu - abu bernama Xerross, sama dengan Nightscream tentu saja Xerross bukanlah orang sembarangan. Xerross adalah Pengguna Air Suci Tipe Kembangan : Kabut.


Dengan ditemukannya jenis Air Suci Tipe Kembangan membuat banyak orang yang ingin memiliki kekuatan tersebut. Orang - orang di negeri jajahan telah memberontak, kebanyakan mereka membentuk kelompok organisasi sendiri untuk bertahan hidup di dunia yang kejam dan bengis ini.


Untuk menyambut kedatangan Bangsawan Bahamut dan Exequtor, Black Madia yang menjadi sosok pemimpin tertinggi Kerajaan Sihir Azbec itu sedang menyuruh tujuh penyihir yang bekerja menjadi bawahannya untuk membumi hangsukan Tanjung Missique.


Tanjung Missique begitu dekat dengan lautan dan Pulau Ryushima. Tanjung Missique menjadi tempat permukiman orang buangan Kerajaan Sihir Azbec. Pemerintahan Black Madia sangat membeda - bedakan kasta, penjual makanan dan yang lainnya harus bekerja menjadi bawahannya. Para pedagang kaya sekalipun juga tidak memiliki pendapatan lebih karena bekerja menjadi bawahan Black Madia.


Makanan dan minuman, semuanya diawasi oleh Black Madia dan Organisasi Disaster. Permukiman Tanjung Missique juga menjadi tempat pelarian pedagang kaya yang jatuh miskin bahkan diantara penduduk yang tinggal di sana ada bekas bangsawan yang dahulu menolak Black Madia menjadi Raja Sihir Azbec yang baru.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju Tanjung Missique terlihat tujuh penyihir yang bekerja di bawah Black Madia. Mereka bertujuh biasa disebut dengan nama Hell Shadow, Black Madia membentuk kelompok Hell Shadow untuk membunuh siapa saja yang memberontak padanya.


Hilangnya kabar dan tidak kembalinya Green Vas membuat Black Madia terus melakukan pergerakan merekrut penyihir berbakat yang mengisi kekosongan kursi Hell Shadow. Beberapa hari kemudian, Black Madia menemukan pengganti Green Vas yang merupakan penyihir perempuan bernama Eyes. Semua anggota Hell Shadow telah sepakat menganggap Green Vas telah mati.


Black Fang yang paling terkejut setelah beberapa hari Green Vas tidak kembali dari wilayah Me, Kekaisaran Kai. Dalam pikirannya masih mengingat wajah Nagato yang menganggap Asha sebagai adiknya.


Sesampainya di permukiman penduduk Tanjung Missique, seluruh anggota Hell Shadow melepaskan sihir mereka dari atas bukit. Ketujuh anggota penyihir Hell Shadow mempunyai kekuatan sihir yang berbeda - beda, salah satu di antara mereka ada yang menggunakan sihir api dan yang satunya menggunakan sihir angin untuk membuat api lebih cepat merambat ke permukiman penduduk.


Penduduk Tanjung Missique terkejut melihat kedatangan Hell Shadow yang berniat membantai mereka. Ribuan orang berlari ke arah pantai dan laut untuk melarikan diri, ratusan orang mati terbakar hidup - hidup karena kobaran api yang melahap segalanya bahkan membakar manusia dengan mudahnya.


Raut wajah tujuh orang yang membantai ratusan orang tidak bersalah sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atau belas kasihan. Seyuman lebar menyeringai di wajah ketujuh anggota Hell Shadow.


Mayat yang terbakar hidup - hidup terpampang jelas di jalanan Tanjung Missique. Mayat - mayat berserakan, dan teriakan tangisan semuannya menggema di Tanjung Missique.


Penduduk yang mati menatap seluruh anggota Hell Shadow penuh kebencian, seluruh korban pembantaian berharap kelak akan ada orang yang membalas perbuat keji Black Madia dan Hell Shadow.


Black Fang tertawa lantang sebelum menyuruh teman - temannya untuk berhenti menggunakan kekuatan sihir mereka.


"Cukup! Tidak ada orang yang bertahan hidup karena serangan ini! Rakyat jelata telah mati semuanya!" teriak Black Fang pada enam temannya yang masih membantai penduduk yang tidak bersalah.


Anggota Hell Shadow yang lain berhenti menyerang permukiman penduduk Tanjung Missique. Api melahap habis rumah penduduk. Malam yang berwarna hitam gelap berubah menjadi terang benderang berwarna jingga karena api yang menghanguskan Tanjung Missique.


Setelah yakin tidak ada orang yang hidup di Tanjung Missique. Seluruh anggota Hell Shadow kembali menemui Black Madia untuk melaporkan hasil kerja mereka.

__ADS_1


Api yang panas juga termasuk alasan anggota Hell Shadow tidak ingin berlama - lama di Tanjung Missique karena udara yang sangat tipis tersebut membuat mereka sesak napas.


Kejadian pembantaian ini akan terhubung dengan Perang Bahamut di masa depan. Organisasi Revolusiner akan berperan dalam penyelamatan Nagato ketika proses eksekusi.


__ADS_2