
"Kalian semua pecundang menghadapi kakek tua bangka saja tidak becus!" Isamu maju dan menodongkan pedangnya pada Kakek Hyogoro.
"Jangan buat aku kembali mengingat masa laluku!" gumam Kakek Hyogoro, tubuhnya terasa panas dan ingin melampiaskan kemarahan yang dirinya tahan selama puluhan tahun kepada para perampok.
"Lihat dia hanyalah seorang pecundang tua!" Isamu tersenyum sinis memandang Kakek Hyogoro yang menurut dirinya terlihat mengoceh tidak jelas.
Aura biru keluar dari tubuh Kakek Hyogoro dengan tebal menyebar sekelilingnya dan aura biru itu terlihat mencekam.
"Ces ... ces ... ces ... ces."
Mulut Kakek Hyogoro mendesis dan tak lama dirinya maju dengan mata yang melebar menatap tajam Isamu, Kakek Hyogoro berniat menghabisi semua perampok dihadapannya hari ini.
"Sirih."
"Mengalir Seperti Air."
Tebasan pedang Kakek Hyogoro dengan gerakan langkah kaki yang cukup sulit membentuk aliran air yang menebas tubuh para perampok dalam sekejap, ketika para perampok hendak membalas, Kakek Hyogoro melompat, menghindar dan menyerang kembali dengan berkali - kali lipat.
__ADS_1
"T-Tidak ..." mata Isamu melebar melihat seluruh anggotanya tidak bernyawa.
"Nona muda, tinggalkan tempat ini, aku akan memperlihatkan pada penjahat kacangan ini, bagaimana seorang penjahat sebenarnya bekerja!" Kakek Hyogoro menatap tajam Isamu, mendengar perkataan Kakek Hyogoro, gadis yang sudah kembali memakai pakainnya berlari keluar pondok tempat dirinya hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang perempuan jika Kakek Hyogoro tidak datang maka itu akan menjadi mimpi buruk bagi gadis tersebut.
"Ampuni aku ... " Isamu melirik kiri kanannya melihat perampok yang dipenuhi darah dan telah mati.
Kakek Hyogoro tersenyum sinis, tak lama dirinya menebas salah satu tangan Isamu hingga putus.
"Arggghhh!" teriakan Isamu terdengar hingga keluar pondok tempat dirinya bertarung dengan Kakek Hyogoro.
"Aku paling benci melihat manusia yang berpendirian setengah - setengah, jika menjadi iblis maka jadilah seorang iblis sekalian dan jangan pernah perlihatkan wajah sok suci seperti seorang malaikat!" Kakek Hyogoro menendang ulu hati Isamu hingga tubuhnya terpental menabrak kayu yang ada di pondok.
"Kau sudah menjadi penjahat, kejahatanmu itu tidak bisa dimaafkan, jika permasalahan didunia ini bisa diselesaikan dengan saling memaafkan dan mengampuni maka dunia tidak akan menjadi tempat seperti sekarang ini!" Kakek Hyogoro terlihat begitu marah, tak lama dirinya mengingat wajah Litha dan Nagato yang tersenyum hingga akhirnya emosinya mereda karena kedua murid kesayangannya itu.
"Seorang pecundang jangan berlagak seperti seorang pemenang, sesalilah keputusanmu diatas sana!" Kakek Hyogoro menebas tubuh Isamu hingga nyawa pria itu melayang dalam sekalo tebasan karena kehabisan darah.
"Aku harus lebih bersabar jika terjadi sesuatu pada Litha dan Nagato mungkin sifat masa mudaku akan kembali lagi!" gumam Kakek Hyogoro yang mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah itu.
__ADS_1
Sementara itu Litha dan Nagato yang sedang dibawa ke kurungan tahanan, mereka berdua melepaskan diri dengan mudahnya, tanpa basa - basi Litha dan Nagato membuat lima orang perampok pingsan. Kemudian mereka berdua membebaskan para tahanan wanita.
"Kalian berdua?!" Rini terkejut melihat Nagato dan Litha yang datang menyelamatkannya.
"Kakak cepat keluar dari sini!" Litha menuntun para tahanan yang keluar dari kurungan menuju keluar pondok.
Nagato memasukan para perampok kedalam kurungan kemudian menguncinya dari luar, setelah semua tahanan wanita keluar ruangan, dirinya juga menyusul mereka.
Tahanan wanita berterimakasih kepada mereka berdua walau ada beberapa wanita yang hanya terdiam seperti kehilangan semangat hidup. Seorang wanita yang diselamatkan Kakek Hyogoro datang dan menangis karena dirinya telah selamat.
Kakek Hyogoro datang menghampiri mereka dan menyuruh Nagato dan Litha untuk mengantarkan para tahanan wanita ke Desa Ninniku. Setelah pedang mereka dikembalikan Kakek Hyogoro, Nagato dan Litha menuntun para tahanan wanita kembali ke desa.
"Meong - Meong."
Chibi menghampiri Litha dan berlari memutari gadis kecil itu. Nagato tersenyum tipis tetapi entah mengapa dirinya merasa ada yang aneh ketika melihat Kakek Hyogoro.
"Setiap orang pasti mempunyai masa lalu yang ingin dilupakan." batin Nagato sambil berjalan dibelakang para tahanan wanita dan sesekali menoleh melihat raut wajah Kakek Hyogoro yang terlihat menyeramkan.
__ADS_1