
Napasnya terengah-rengah. Hiragi menggendong tubuh ibunya yang bersimbah darah. Bahkan pemuda itu bisa merasakan tubuh ibunya yang remuk tulang-tulangnya.
“Aku berniat menemui Nenek Emi, tetapi...” Hiragi menangis melihat Sepuluh Tetua Kai yang mengejarnya.
Ketika semua orang mengarahkan senjata hendak membunuhnya, salah satu Sepuluh Tetua Kai yang bernama Kuro membunuh Sepuluh Tetua Kai yang bernama Kyuju.
“Kuro, apa yang kau lakukan?” Ryuzaki menatap Kuro curiga, “Kuro!”
“Tuan Muda Hiragi, bagaimana pendapatmu tentang sosok ayahmu?” Kuro melepas jubahnya dan memperlihatkan simbol matahari yang menjadi kebanggaannya pada tujuh orang yang berkeringat dingin karena melihatnya.
“Ada apa? Kalian ingat dengan simbol ini bukan?!" Chosu berteriak dan melepaskan aura tubuhnya yang berwarna merah.
“Pernapasan Cakra!” Chosu mengolah pernapasan. Kemudian memanipulasi aura tubuhnya menjadi api dan melesatkan sebuah burung elang berbentuk api yang keluar dari pukulannya.
Hiragi tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun dia merasa diselamatkan. Pikirannya saat ini adalah Penginapan Matahari Timur.
Namun di depannya sudah ada dua orang yang memakai tudung datang bersama dengan orang yang dikenal Hiragi. Orang yang dia kenal adalah Kurose.
“Ikut kami. Ada kejadian besar di Penginapan Matahari Timur. Dalam perjalanan aku mendengar pemuda bernama Fuyumi Nagato membunuh Himuro Kirigiri. Keadaan semakin runyam.” Hayabusa menjelaskan dan dijawab anggukan kepala oleh Hiragi.
“Adikku... Hisui masih pergi bermain!” Hiragi panik. Dia sangat menyayangi Hisui dan Yuki. Namun saat ini dia tersadar. Ayahnya yang mengajarinya tentang kehidupan membuatnya ingin membunuhnya.
Darah ibunya menjadi sumpahnya. Di pagi itu, hari itu, hatinya pecah seperti pecahan gelas yang bisa disatukan namun masih ada retakan kebencian dan tak bisa menyatu seperti dulu. Serpihan retak dari hati yang terluka tidak bisa kembali disatukan seperti sedia kala.
“Aku akan membunuh Hizen! Dia harus merasakan kematian ditanganku ini, anaknya sendiri!” Hayabusa melihat Hiragi sudah tenggelam dalam kebencian. Dalam sekejap, sorot mata yang hanya dipenuhi angkuh karena kekuasaan berubah menjadi sorot mata gelap yang haus akan dendam.
“Ohta, kau dan Kurose jaga mereka berdua. Kami akan mengurus Sepuluh Tetua Kai...” Hayabusa memegang kedua pedangnya dan menatap tajam Chosu dengan senyuman, “Tetapi, aku tidak menyangka melihat pengikut guruku masih hidup...”
“Aku juga tidak mengetahui hal itu,” sahut Mujin. Matanya menatap pertarungan Chosu yang membuat tujuh anggota Sepuluh Tetua Kai terdesak.
“Kita langsung bergerak. Lalu cari Hizen dan Satra!” Mujin menambahkan.
__ADS_1
Pagi itu, di depan Istana Hizen terjadi pergelojakan hebat. Prajurit militer Kekaisaran Kai terbunuh oleh seluruh anggota Phyton. Sedangkan Sepuluh Tetua Kai bertarung melawan Chosu yang dibantu Hayabusa, Mujin, Shin dan Take.
***
Kembali dua puluh menit sebelum Yuki terjatuh dari atas lantai lima belas Istana Hizen.
Nagato yang sedang duduk tenang di bangku taman Danau Sakura bergegas kembali menuju Penginapan Matahari Timur berniat menghabiskan waktu untuk berendam hingga sore hari.
Namun di jalanan dekat penginapan, Nagato terkejut melihat mayat Himuro yang mati dengan cara mengenaskan. Disampingnya juga ada Ashiya yang tergeletak bersimbah darah.
“Akhirnya kedua cacat ini mati.” Suara pria terdengar dan terlihat wujudnya. Nagato melebar matanya ketika dirinya berpapasan dengan dua pria yang memakai topeng.
“Dia Fuyumi Nagato.” Pria bernama Gore melepaskan aura tubuhnya dan menggunakan Tenkai untuk mengintimidasi Nagato.
Kaki Nagato terjatuh ke tanah dan wajahnya berkeringat dingin.
“Kalian segera tuduh anak ini. Bukankah itu perintah Satra.” Pria yang berdiri di samping Gore menjentikkan jarinya. Pria itu bernama Brusca.
“Tidak kusangka kalian berdua dapat membunuh kedua jenius itu dengan mudah.” Nezusaki terkekeh tak percaya. Sementara Brusca menunjukkan wajah tidak suka.
“Jenius? Kalian dan dua orang ini hanya percobaan kami.” Brusca berjalan mendekati Nagato dan berjongkok menatap pemuda yang tersungkur di tanah itu, “Jika kau ingin menjadi orang kuat, datanglah padaku. Aku akan menerimamu dengan tangan terbuka, Fuyumi Nagato...”
Brusca tersenyum dan mengelus rambu Nagato sambil mengacak-acaknya.
“Ayo Gore kita pergi dari sini. Kita tunggu pergerakan Reptile bersama orang-orang dari Kekaisaran Rakuza...” Senyuman lebar menghiasi wajah Brusca beserta Gore, “Setelah itu kita akan melakukan uji coba Proyek Beast pada Ibu Kota Daifuzen yang megah ini...”
Kedua tawa Brusca dan Gore terdengar. Tak lama keduanya pergi dengan cepat meninggalkan Nagato yang kembali berdiri menatap tajam Nezusaki dan yang lain.
“Serang dia!” Nezusaki tersenyum sinis melihat Nagato yang kebingungan.
Nagato mengernyitkan dahinya melihat puluhan pendekar menarik senjatanya dan menyerang dirinya.
__ADS_1
“Pernapasan Sirih!”
Nagato mengolah pernapasan dan menatap tajam ayunan pedang yang mengincar leher beserta dadanya.
Satu hal yang tidak diketahui oleh Nezusaki. Saat ini posisinya hanya dimanfaatkan oleh Satra bahkan Gore dan Brusca untuk mengalihkan perhatian pendekar dari kubu timur dan kubu barat beserta Keluarga Akaramizarawa yang berkuasa memberi perintah pada prajurit militer Kekaisaran Kai.
Nezusaki mendapatkan misi dari Satra untuk menuduh Nagato sebagai dalang pembunuhan Ashiya dan Himuro.
Ashiya sehari yang lalu sudah menjadi percobaan Gore. Pemuda itu ingin menyelamatkan Himuro sehingga Gore memberinya Air Suci Buatan Tipe Elemen : Api, namun tubuh Ashiya tidak cocok dengan kekuatan tersebut sehingga pemuda itu menjadi gila.
Gore dan Brusca hanya menjalankan kerjasama dengan Satra untuk membuat keributan di antara kubu timur dan kubu barat.
Satra memanfaatkan Nezusaki dengan ditawari kursi Sepuluh Tetua Kai. Mengingat pemimpin dari Klan Kuromachi itu termasuk orang yang mengetahui sisi gelap Kekaisaran Kai, Satra ingin memusnahkannya tanpa mengotori tangannya.
Saat ini Nezusaki mengerutkan dahinya melihat Nagato tanpa segan dan ragu melukai pendekar yang menyerang dirinya.
Nezusaki tersenyum sinis dan memberi perintah pada pengikutnya, “Kita pancing dia ke penginapan klan dari timur!”
Semua pendekar dari Klan Kuromachi berlari menuju Penginapan Matahari Timur, Nagato terlihat bingung dengan tindakan Nezusaki dan pendekar dari Klan Kuromachi.
“Ashiya, Himuro. Berisitirahat lah dengan tenang.” Nagato menutup mata Ashiya dan Himuro yang mendelik.
Lalu Nagato tanpa pikir panjang mengikuti Nezusaki dengan langkah kakinya yang cepat.
Namun Nagato terlambat karena Nezusaki dan yang lainnya telah sampai di Penginapan Matahari Timur.
Dengan satu tarikan napasnya yang pasti. Nagato mengamati pendekar dari Klan Fuyumi dan klan yang lainnya dari kubu barat sedang berbicara dengan Nezusaki.
“Emi! Muridmu ini membunuh Himuro dan Ashiya! Kau membiarkan pembunuh berkeliaran! Dasar tidak becus!” Nezusaki mengira pendekar dari kubu timur akan mempercayai perkataannya.
Namun tidak ada yang menyadarinya. Baik itu Satra bersama Sepuluh Tetua Kai, Kaisar Hizen atau Kekaisaran Rakuza sekalipun.
__ADS_1
Sosok Chosu telah mengirim surat dari jauh-jauh hari kepada setiap ketua klan kubu timur. Bahkan di depan penginapan terlihat Kata dan Yamashita yang tersenyum menyeringai menatap Nezusaki sebelum kedua pemimpin Klan Agata dan Klan Iwata itu mendaratkan pukulan mereka pada perut Nezusaki.