
Keesokan harinya, Nagato dan Litha terus bertarung dengan Hewan Buas dan Binatang Iblis yang menghuni tiap lapisan Hutan Cakrawyuha.
Dalam perjalanan menelusuri Hutan Cakrawyuha, mereka berdua bertemu dengan berbagai macam Hewan Buas dan Binatang Iblis bahkan beberapa dari Hewan Buas bisa meniru gerakan bela diri dari mereka berdua, sehingga Nagato dan Litha sepakat untuk tidak berbuat nekat bertarung dengan Hewan Buas tersebut.
Sesampainya di lapisan hutan ke enam puluh, di mana tempat ini terdapat Hutan Gugur, Nagato dan Litha bertemu dengan gerombolan Serigala Bertanduk Merah.
"Nagato, sepertinya hewan buas ini bisa mengeluarkan api dari tanduknya," kata Litha melihat Serigala Bertanduk Merah.
"Jadi dia mempunyai kekuatan elemen yang sama denganku..." sahut Nagato menatap tajam Serigala Bertanduk Merah.
Serigala Bertanduk Merah meraung, dari mulutnya berhembus api mengarah ke udara. Melihat hal itu Nagato merasa kesal dan diremehkan.
"Lihat, dia menantangku." ucap Nagato sambil memegang pedangnya.
Litha tertawa melihat Nagato yang terpancing emosi karena provokasi Serigala Bertanduk Merah.
Nagato maju memainkan permainan pedangnya, Serigala Bertanduk Merah mampu mengimbangi kecepatan Nagato. Benturan pedang api Nagato dan tanduk api milik Serigala Bertanduk Merah berkobar di Hutan Gugur. Mereka berdua saling bertukar serangan selama beberapa menit.
'Serigala ini mampu mengimbangi kecepatanku , tetapi aku belum menggunakan kekuatanku yang sebenarnya..." hati Nagato mengayunkan pedangnya dan berusaha mematahkan tanduk berwarna merah milik Serigala Bertanduk Merah tersebut.
Nagato tersenyum karena sudah lama dia ingin bertarung dengan sekuat tenaganya, melawan musuh yang membuatnya mampu mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dan, dia ingin melihat apakah Seriagal Bertanduk Merah bisa memberikan perasaan senang tersebut.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Hijau." hati Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya.
Serigala Bertanduk Merah tidak melihat Nagato dimanapun, bahkan Litha terkejut melihat kecepatan langkah kaki Nagato. Dia terlihat seolah menghilang dari pandangan Litha dan Serigala Bertanduk Merah.
Tubuh Serigala Bertanduk Merah tersayat terkena tebasan pedang api padat Nagato. Percikan api keluar setiap ayunan dan gerakan yang dilakukan Nagato.
"Bara Api!" Nagato memegang pedangnya secara terbalik, kemudian dia memutarkan pedangnya, hingga menciptakan lingkaran bara api dari bilah pedangnya dan membakar beberapa Serigala Bertanduk Merah.
__ADS_1
Gerombolan Serigala Bertanduk Merah yang lain mengeram, melihat Nagato membakar teman - teman mereka, matanya dipenuhi kebencian, bahkan beberapa dari Serigala Bertanduk Merah lebih memilih untuk menyerang Litha. Karena perempuan itu terlihat lemah di mata mereka.
Litha sedikit kesal ketika melihat banyak gerombolan Serigala Bertanduk Merah, mengelilingi dirinya dan hendak menyerang secara bersamaan.
"Entah mengapa aku merasa kesal..." ucap Litha melihat Serigala Bertanduk Merah yang meraung dihadapannya.
Litha menghela nafas panjang, kemudian dia melangkahkan kakinya dengan langkah yang dipenuhi seni menyerang gerombolan Serigala Bertanduk Merah.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Litha menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya.
"Tarian Peri Air." Litha mengayunkan pedangnya, di barengi dengan langkah kaki yang dipenuhi gerakan seni. Litha terus mengayunkan pedangnya ke arah Serigala Bertanduk Merah yang menahan tebasannya.
Benturan pedang Litha dengan cakar Serigala Bertanduk Merah terdengar keras, apalagi perbedaan elemen dari serangan mereka membuat pertarungan itu menjadi cukup sengit.
Percikan Air dan percikan api terlihat di udara, ketika ketika pedang tebasan air milik Litha dan cakar api milik Serigala Bertanduk Merah saling berbenturan satu sama lain.
"Pusaran Air!" teriak Litha sambil memutarkan tubuhnya dan mengayunkan pedangnya, gerombolan Serigala Bertanduk Merah yang hendak menyerangnya terhempas keatas, terseret oleh teknik pedang jurus pusaran air milik Litha.
Litha memotong tubuh Serigala Bertanduk Merah yang terjatuh kebawah, kemudian dia mengibaskan pedangnya sebelum menyarungkannya kembali.
Di sisi lain, Nagato sedang mengejar Serigala Bertanduk Merah yang hendak melarikan diri. Gerombol Serigala Bertanduk Merah yang tersisa melolong memanggil kawanannya yang lain.
Nagato dan Litha saling mendekat dan waspada, karena mereka berdua merasa banyak Hewan Buas yang mendekat ke lapisan hutan enam puluh.
"Litha..." ucap Nagato ketika punggung mereka berdua bersentuhan.
"Ada apa Nagato." jawab Litha sambil mengawasi keadaan disekitar mereka berdua.
"Hmm... aku hanya ingin memanggil namamu, itu saja." balas Nagato menoleh melihat Litha.
__ADS_1
'Nagato, semakin lama kamu membuatku semakin kesal.' hati Litha dengan sengaja dia menyandarkan kepalanya kepunggung Nagato.
Nagato memejamkan matanya dan merasakan hawa keberadaan disekitarnya, dia mencoba memperkirakan jumlah Hewan Buas yang semakin mendekat ke arah mereka berdua.
"Lebah Racun?" Nagato mengerutkan dahinya, ketika melihat sekumpulan Hewan Buas Lebah Racun terbang ke arah mereka berdua, bahkan Lebah Racun tersebut semakin mendekat dengan mereka berdua.
Nagato menatap dingin Serigala Bertanduk Merah yang menyeringai melihat mereka berdua, perlahan Hewan Buas lain berdatangan mengepung mereka berdua. Nagato menatap dingin seluruh Hewan Buas yang mengepungnya dengan wajah datarnya.
Nagato diam selama beberapa saat, sambil mengatur nafasnya agar tetap stabil dan dia tetap bersikap tenang melihat Hewan Buas yang mengelilinginya, Serigala Bertanduk Merah berada di depannya, di samping kirinya ada gerombolan Buaya Darat, sementara itu di samping kanan mereka berdua, terlihat gerombolan Kera Hitam berukuran tiga kali lipat lebih besar dari ukuran manusia dewasa, dan dibelakang mereka berdua juga ada Lebah Racun yang berterbangan mengelilingi mereka.
Nagato menarik nafas panjang dan berkonsentrasi secara penuh, hingga didalam pikirannya muncul sebuah bentuk jantung dari Hewan Buas yang mengepung dirinya.
"Segel Bara Api : Lepas." hati Nagato mengatur aliran nafasnya keseluruh tubuhnya. Kemudian dia menyarungkan pedangnya.
Bara api besar berkobar disekujur tubuhnya, Nagato mengepalkan kedua tangannya dengan erat, perlahan bara api terlihat padat membakar kedua tangannya.
"Sesekali aku bertarung dengan kosong." ucap Nagato sambil memasang ekspresi wajah datarnya yang terlihat dingin.
Nagato menggunakan langkah cepatnya dan memukul Serigala Bertanduk Merah di depannya, beberapa Serigala Bertanduk Merah terkena telak pukulannya. Kebanyakan dari mereka terbakar bahkan ada yang berlubang di tubuhnya. Ketika Nagato berniat menghabisi Serigala Bertanduk Merah, gerombolan Lebah Racun yang berterbangan di atas menyerang dirinya, satu persatu lebah racun mengeluarkan racun dari sengatnya ke arah Nagato. Tetapa dia menyadari hal itu sehingga Nagato dapat menghindari setiap tetesan air berwarna merah yang keluar dari sengat Lebah Racun.
"Litha, jangan alihkan pandanganmu." seru Nagato karena melihat Litha yang mematung, melihatnya bertarung dengan tangan kosong.
Lamunan Litha terbuyarkan oleh suara Nagato, wajahnya memerah karena melihat Nagato yang terlihat gagah ketika bertarung dengan tangan kosong.
"Mmm..." gumam Litha sambil menepuk pipinya dengan kedua tangannya.
Setelah itu Nagato melepas baju yang dia pakai, karena baju putih miliknya bersimbah darah, noda darah Serigala Bertanduk Merah membuat bajunya menjadi berwarna merah darah. Nagato membunyikan lehernya kemudian dia menatap dingin Buaya Darat yang hendak menyergap tubuhnya.
"Menarik..." Nagato menghindari gigitan Buaya Darat dengan santai bahkan dia tersenyum tipis dengan wajah datarnya itu.
__ADS_1