
“Malam ini kamu ingin tidur berdua denganku di kamarmu?”
Nagato tidak menduga Litha terlihat begitu manja dimatanya. Bahkan gadis muda yang telah bersamanya sejak kecil bercerita padanya tentang alasan dirinya meminta Kakek Hyogoro untuk membuatkan kamar terpisah dengan Nagato.
Litha merah merona wajahnya ketika bercerita pada Nagato tentang dirinya yang tidak bisa diam saat tidur. Bahkan saat Nagato dan Litha tidur sekamar dan satu ranjang, tidak jarang Litha tertidur memeluk tubuh Nagato sebagai pengganti gulingnya.
“Benar, malam ini aku ingin tidur berdua denganmu...” Litha justru terlihat mendengus kesal, sementara Nagato tersedak mendengar perkataan Litha.
“Litha, tetapi aku malu tidur berdua denganmu...” Nagato menatap Litha yang duduk di sampingnya. Mereka berdua saat ini berada di kamar Nagato.
“Tidak, hari ini aku ingin tidur berdua denganmu, Nagato.” Litha menatap Nagato dan menyipitkan matanya, “Jika Hanabi atau Iris memintamu, pasti kamu menerima mereka. Atau jika Hisui memintamu pasti kamu akan menurutinya...”
Nagato tertawa geli melihat tingkah Litha yang menggemaskan, “Litha, apa kamu cemburu?”
“Nagato, kamu itu kakak sepupuku. Sebenarnya aku cemburu tetapi aku sadar hubungan kita...” Litha tidak melanjutkan perkataannya, melainkan langsung membuang wajahnya.
Nagato justru penasaran dengan perkataan Litha. Kemudian dia memegang tangan Litha.
“Aku kakak sepupumu. Mendiang ibuku pernah berkata padaku jika aku mempunyai kakak sepupu dan adik sepupu, tetapi jangan bilang...” Nagato menelan ludah sesaat sebelum hidungnya dicubit Litha.
“Ayo temani aku tidur malam ini. Aku takut sendirian.” Litha menarik tangan Nagato secara paksa menuju kamarnya, anehnya Nagato tidak melawan dan justru merasa Litha sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
Sesampainya di kamar, Litha langsung tidur di ranjang dan memberi isyarat pada Nagato agar tidur disampingnya.
“Meong-Meong...” Saat Nagato dan Litha sedang saling menatap satu sama lain, Chibi datang ke atas ranjang dan tidur di tengah-tengah mereka berdua.
Litha dan Nagato tertawa lirih. Tak lama Litha memeluk Chibi dan memejamkan matanya.
“Selamat tidur Chibi, Nagato...”
Nagato menatap Litha lama sebelum dirinya ikut tertidur menemani Litha. Malam berlalu dengan tenang, Nagato dan Litha tertidur lelap bersama dengan Chibi yang ikut tidur seranjang bersama mereka berdua.
Ketika pagi tiba, Nagato membuka matanya dan mendapati Litha sedang memeluk tubuhnya. Kemudian dia sedikit melirik Chibi yang terhimpit ditengah-tengah pelukan Litha.
“Ternyata benar, jadi Litha tidak bisa diam saat tertidur...” Nagato mengingat masa lalunya bersama Litha, “Jadi Litha selama ini pura-pura berani. Padahal dia takut sendirian...”
Tak lama Litha membuka matanya menatap Nagato yang sedang dia peluk, “Selamat Pagi, Nagato...”
“Oh, iya. Hari ini kamu harus mengajak kakak sepupumu, adik sepupumu dan tunanganmu pergi...” Litha langsung beranjak dari ranjang, sedangkan Nagato masih tidak mengerti perkataan Litha.
“Kita berempat akan pergi ke Kuil Kagutsuchi, Nagato...” Litha hendak melepas pakaiannya, dengan cepat Nagato menahan tangan Litha, “Aku, kamu, Iris dan Hisui...”
“Kamu belum bangun sepenuhnya...” Nagato memerah wajahnya dan berjalan meninggalkan kamar Litha.
“Lagipula kamu kakak sepupuku...” Litha menggumam pelan ketika Nagato sudah keluar dari kamarnya, “Andai kami bertiga bersama sejak kecil, mungkin aku akan mengenal Nagato dan kakak sepupuku yang lain. Tidak seperti ini...”
Litha mengusap matanya yang masih mengantuk, kemudian pergi ke kamar Iris untuk membangunkan gadis cantik tersebut.
***
Ketika matahari terbit dan hari semakin siang, Nagato sudah berjalan bersama Hisui, Iris dan Litha menuju Kuil Kagutsuchi.
“Kenapa kamu tidak semangat, bocah manja?” Nagato melirik Hisui yang terlihat tidak ceria seperti biasanya.
Hisui hanya menghela napas tidak menjawab perkataan Nagato. Melihat itu, Nagato sedikit kesal sehingga dia menyentuh rambut Hisui.
“Apa kamu masih menyesal—”
“Tidak, Nagato. Aku rasa Hisui kesal karena tidak bisa menghabiskan waktu seharian denganmu...” Iris memotong perkataan Nagato.
“Tidak Kakak Iris...” Hisui akhirnya angkat bicara, “Hisui hanya merasa tidak pantas berjalan dengan kalian bertiga...”
Iris mencubit pipi Hisui dan menariknya gemas, “Kamu itu adik sepupuku, jangan merasa seperti orang asing, Hisui...”
“Kakak Iris...” Hisui berkaca-kaca menatap Iris dari kedua bola matanya yang sayu.
“Adik sepupu?” Nagato justru membatin dan menatap Litha yang tertawa lirih, “Apa aku kakak sepupunya Litha...” Pikir Nagato.
Sesampainya di Kuil Kagutsuchi, Nagato, Hisui, Iris dan Litha mendapati Gyuki dan Sachie sedang mengobrol bersama Satsuma atau sering disapa akrab Azuma.
“Kakek Azuma! Nenek Sachie! Paman Gyuki!” Hisui langsung menyapa dan menghampiri ketiga orang yang sedang sarapan pagi bersama.
“Sepertinya kita datang disaat yang tidak tepat...” Nagato justru ingin kembali menuruni tangga, tetapi lambaian tangan dari Satsuma dan Hisui membuat Nagato, Iris dan Litha datang menghampiri mereka.
“Sini, makanlah bersama kami...” Satsuma dengan ramah menawarkan kepada Nagato, Hisui, Iris dan Litha agar sarapan pagi bersama.
“Tetapi—”
“Jangan ditolak tawaranku ini. Anggap saja sebagai balas budi karena kalian telah menjadi teman Tuan Putri Hisui...” Satsuma memotong perkataan Nagato. Kemudian dia memberi isyarat pada Nagato dan yang lain agar duduk.
”Fuyumi Nagato, tampaknya kau mempunyai banyak kenalan perempuan.” Gyuki melirik Nagato yang sedang duduk bersama Hisui, Iris dan Litha.
__ADS_1
“Teman-teman pertamaku adalah perempuan...” Nagato justru menjawab sangat lirih. Suaranya tidak terdengar karena dia bingung harus bersikap seperti apa.
Satsuma sudah menaruh empat piring yang berisi nasi dan lauk pauk di depan Nagato, Hisui, Iris dan Litha. Ada perasaan tidak enak karena mereka berempat berniat hanya berkunjung, justru harus ikut sarapan pagi.
Nagato dan yang lain ikut sarapan bersama Satsuma, Gyuki dan Sachie. Selesai sarapan, tiba-tiba Iris dan Litha meminta izin untuk pergi berdua dan membiarkan Hisui untuk berdua bersama Nagato.
“Naga, aku pergi dulu. Jadi jaga adik sepupuku ini. Jangan melakukan hal yang aneh padanya...” Iris menatap Nagato lama sebelum tersenyum kepada Hisui.
“Apa maksudmu?” Nagato justru tidak mengerti maksud Iris.
“Nagato, jaga Hisui ya. Aku sama Iris pergi dulu...” Litha ikut beranjak pergi bersama Iris.
“Kakak Iris, Kakak Litha, Hisui—”
“Hisui, tolong jaga Naga sebentar. Kakak Iris mau pergi dulu,” potong Iris. Kemudian gadis cantik itu pergi menuruni tangga bersama Litha.
“Bagaimana ini?” Hisui membatin malu dalam hatinya walau dia sejujurnya merasa bahagia, “Aku berduaan dengan Kakak Tampan. Apakah ini mimpi yang menjadi kenyataan?” Kedua telapak tangan Hisui memegang pipinya dan tersenyum.
Nagato mengabaikan Hisui dan bersalaman dengan Gyuki yang akan pergi kembali ke Kediaman Keluarga Akaramizarawa bersama Sachie.
“Paman Satsuma, terimakasih banyak,” ucap Nagato sambil menatap Satsuma yang sedang membersihkan jalanan depan Kuil Kagutsuchi.
“Sama-sama, apa kalian berdua akan bermain disini,” jawab Satsuma sembari mendekati Nagato dan Hisui.
“Tidak, aku ingin pergi ke suatu tempat.” Nagato tersenyum menyeringai sambil melirik Hisui.
“Kenapa Kakak Tampan terlihat begitu senang?” Hisui bertanya pada Nagato yang menatap dirinya.
“Temani aku makan di Rumah Makan Hono.” Nagato menjawab sambil menggaruk pipinya.
“Kalau begitu hati-hati, Fuyumi Nagato...” Satsuma melambaikan tangannya pada Nagato dan Hisui yang sudah berjalan menuruni tangga.
“Namaku Kagutsuchi Nagato, lain Fuyumi Nagato...” Nagato menggumam lirih sambil menghela napas panjang
Sebelum makan siang, Nagato dan Hisui berjalan-jalan keliling Ibu Kota Daifuzen. Banyak orang yang menatap Nagato dan Hisui dengan pandangan penasaran, sebagian lain menatap sengit.
Ketika siang hari tiba, Hisui menemani Nagato makan siang di Rumah Makan Hono. Baru pertama kali Hisui melihat sisi lain Nagato yang begitu menyukai makanan pedas.
Untuk mengikuti makanan kesukaan laki-laki yang dia suka, Hisui ikut memesan makanan pedas tahap satu tingkat satu. Ketika melihat Hisui ikut memakan makanan kesukaannya, tak henti-hentinya Nagato memuji Hisui yang mulai menarik perhatiannya.
Ketika hari menjelang sore, Nagato dan Hisui menghabiskan waktu berdua di Danau Sakura. Di bangku taman yang kosong Nagato terkejut dengan tindakan Hisui.
“Kalau matahari mulai terbenam bangunkan aku,” ucap Nagato sambil membaringkan tubuhnya di atas rumput yang ada di taman Danau Sakura.
“Kakak Tampan sangat lucu...” Hisui memangku kepala Nagato untuk bersandar di pangkuan pahanya.
Tangannya mengusap rambut Nagato, semakin lama mengawasi Nagato yang tertidur, tanpa sadar Hisui mengecup kening Nagato.
Gadis bermata sayu itu menoleh ke sisi kiri dan kanannya sebelum mengecup kening Nagato. Senyuman indah menghiasi kembali wajah Hisui.
Melihat Nagato yang tertidur lelap, Hisui mendekatkan wajahnya pada wajah Nagato. Mata sayunya terpejam, kemudian dia mengecup bibir Nagato lama.
“Maaf Kakak Iris, Kakak Litha...” Hisui membatin dan memejamkan matanya untuk membiarkan ciuman pertamanya jatuh pada pemuda yang dia suka.
Angin berhembus di sekitar taman Danau Sakura, Nagato membuka matanya dan mendapati wajah Hisui yang sangat dekat bahkan bersentuhan dengan kulit wajahnya dan mata sayu gadis manis tersebut sedang terpejam.
“Walau dia sering bersikap manja padaku, tapi dia tidak akan melakukan hal itu bukan?” Nagato membatin dan kembali memejamkan matanya. Namun ketika matanya kembali memejam, Nagato merasakan bibirnya masih bersentuhan dengan bibir mungil Hisui. Sensasi yang membuat jantungnya berdebar kencang langsung membuat Nagato sadar jika Hisui mencari kesempatan dengannya saat tertidur, dan semua ini bukanlah mimpi.
“Tunggu...” Mata Nagato membulat sepenuhnya, kedua tangannya menyentuh pipi Hisui dan mendorongnya ke atas sedikit.
“Hisui!” Untuk pertama kalinya Nagato memanggil nama Hisui setelah sekian lama, “Kamu...” Nagato kehabisan kata-kata. Wajahnya merah merona karena wajah Hisui begitu dekat dengannya, bahkan rambut gadis bermata sayu itu menyentuh pipi Nagato.
“Kak-Kakak Tampan!” Hisui panik dan langsung mundur ke belakang, “Maaf, aku merebut ciuman pertama Kakak Tampan...”
Hisui menutup wajahnya yang merah padam seperti tomat. Kemudian gadis bermata sayu itu membalikkan badannya karena tidak ingin Nagato melihatnya.
“Hmmm...” Nagato menggumam pelan karena tenggorokannya terasa penuh.
Nagato menarik napas dalam-dalam sebelum mengajak Hisui kembali ke Penginapan Matahari Timur untuk menemui Yuki yang ada disana.
“Ayo pulang,” ajak Nagato dengan wajah yang tidak menatap Hisui.
“Hmmm...” Hisui menggumam pelan dan berjalan di samping Nagato namun jaraknya sedikit menjauh berbeda dengan sebelumnya.
“Apa kamu tidak merasa keberatan ciuman—”
“Tidak, aku tidak keberatan!” Hisui memotong perkataan Nagato dan berjalan di depan Nagato. Sementara itu Nagato menggaruk kepalanya karena telah membiarkan penjagaannya lemah.
Sesampainya di Penginapan Matahari Timur, Nagato dan Hisui melihat ada keramaian pasukan militer Kekaisaran Kai penginapan.
“Ada apa ini?” Nagato membatin dan merasakan sesuatu terjadi di penginapan, sedangkan Hisui menatap Nagato yang berdiri disampingnya.
__ADS_1
“Ayo masuk, Kakak Tampan,” ajak Hisui sambil menarik tangan Nagato.
Ketika sampai di penginapan khusus Klan Fuyumi, Nagato dan Hisui membuka pintu yang mengarah ke ruang tengah penginapan.
Mata Nagato mendapati Serlin yang sedang memasang wajah murung, kemudian dia melihat satu per satu orang yang ada di ruangan tengah itu.
Namida, Masayu, Owara, Renji, Hana dan Hanabi juga ada di ruangan itu. Kemudian Nagato melihat Oichi yang menangis histeris dipeluk Ichiba.
“Kuina? Azai?” Nagato mencoba mencari Azai dan Kuina namun tidak dapat melihat kedua orang tersebut. Kemudian dia menatap Hawk yang sedang berbicara dengan Shirayuki dan Emi.
“Apa ini Nagato?” Gadis yang memiliki wajah mirip dengan Hanabi menyapa Nagato. Rambutnya berwarna merah muda sepenuhnya berbeda dengan Hanabi yang rambutnya bercampur antara hitam dan merah muda.
Nagato tidak menggubris sapaan gadis itu dan berjalan mendekati Serlin.
“Hai, aku Matsuri...” Gadis itu melambaikan tangan pada Nagato dan bersuara sangat lirih, “Kasihan, bagaimana kami menjelaskan pada anak Guru...”
“Kak Serlin!” Nagato langsung memeluk Serlin. Dia merasa senang melihat Serlin setelah sekian lama. Semua orang langsung menatap ke arah Nagato. Sedangkan Hisui pundaknya di pegang oleh Yuki bersama Tika dan Hika.
Terlihat Serlin tidak berani menatap Nagato. Melihat perubahan yang terjadi pada Serlin membuat Nagato melepaskan pelukannya karena dirinya juga merasa malu. Kemudian matanya beralih menatap Hawk yang berjalan mendekatinya.
“Apa yang terjadi disini? Kenapa suasana terasa suram dan menyedihkan!” Nagato membatin dan menatap Hawk.
“Nagato, maaf...” Hawk menghentikan langkah kakinya.
“Bos Hyogoro, Azai dan Kuina telah...” Hawk tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia tidak tega menjelaskan pada Nagato jika Kakek Hyogoro, Azai dan Kuina telah meninggal.
Semua orang menundukkan kepalanya, tak lama Emi memberitahu Nagato tentang kematian Kakek Hyogoro, Azai dan Kuina.
“Nagato, dengarkan perkataanku. Aku tidak akan mengulanginya.” Semua orang langsung menatap Emi yang sedang berbicara kepada Nagato.
“Hyogoro, Azai, Kuina. Mereka bertiga telah meninggal.” Ketika Emi menyelesaikan perkataannya, Nagato tersenyum tidak percaya.
“Nenek Emi, ini bohong bukan?” Nagato ingin memastikan. Dia mencoba melihat raut wajah semua orang yang ada di ruang tengah penginapan. Wajah mereka semua menunjukkan kesedihan, tangisan histeris Oichi menjadi bukti perkataan Emi adalah benar dan sebuah kenyataan.
“*Apa kalian tahu. Jika kita berempat telah menjadi kakak dari Nagato...”
“Benarkah itu, Kak Uzui?”
“Ya, benar. Kita adalah murid Guru Pandu. Jadi anak Guru Pandu adalah adik kita...”
“Kenapa bisa begitu, Kak Uzui?”
“Karena kita adalah murid Guru dan anak dari Guru adalah adik kandung kita yang harus kita berempat jaga dan kita sayangi..
“Hebat...”
“Pemikiran yang aneh...”
“Jadi aku akan menjadi kakak dari adik lucu yang yang tampan ini hehehe...”
“Kalian menjadi kakakku?”
“Ya.”
“Walaupun kita tidak memiliki ikatan sedarah dan kita tidak mempunyai hubungan keluarga, tetapi selama Nagato ada, dia akan menjadi bukti jika ikatan persaudaraan kita adalah hal yang tidak bisa dihancurkan walau dunia memisahkan kita. Mulai hari ini kita berempat adalah kakak dari Nagato!”
“Ya*!”
Tanpa sadar Nagato mengingat masa lalunya saat Uzui, Azai, Kuina dan Serlin bermain bersamanya saat dia berusia empat tahun.
“Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan air mata...” Nagato berkata lirih dan berjalan keluar ruangan tengah, sebelum keluar dia baru ingat perasaan Litha jika gadis manis itu mengetahui hal ini.
“Tika, dimana Litha?” Nagato bertanya pada Tika yang sedang memegang tangan Hisui.
“Litha pergi ke arah Danau Sakura, Iris mengejarnya. Nagato, aku—” Belum selesai Tika berbicara, Nagato sudah berlari mencari keberadaan Litha.
Saat ini Nagato tidak sanggup melihat air mata Litha, sehingga dia ingin ada disamping Litha saat dalam keadaan seperti ini. Sebuah keadaan dimana hanya Nagato dan Litha yang mengetahui rasa sakit dari sebuah kehilangan.
Perasaan Nagato saat ini begitu sedih, dia tidak ingin percaya namun kesedihan yang tidak terasa asing ini membuat Nagato merasakan sakit di jiwa dan hatinya.
“Bahkan air mataku sudah mengering...” Nagato terus berlari mencari keberadaan Litha yang saat ini ingin dia dekap dengan sangat erat.
Saat ini Nagato hanya ingin ada disamping Litha. Perempuan sebaya yang pertama kali dia kenal, orang yang pertama kali menjadi temannya, perempuan yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri dan keluarganya, perempuan yang selalu bersamanya sejak kecil itu tidak ingin Nagato tinggalkan sendirian.
Nagato tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Litha saat ini. Bahkan di saat seperti ini, Nagato tanpa sadar terus memikirkan Litha.
Di sisi lain Hisui memberontak karena Yuki menahannya, “Bunda lepaskan tangan Hisui!” Gadis bermata sayu itu terus memberontak dan berlari mengejar Nagato.
“Hisui!” Yuki baru pertama kali melihat anak kesayangannya bersikap seperti itu.
“Tika, Tika.” Hika terlihat sedih.
__ADS_1
“Tidak apa, Hika. Tika yakin Iris pasti dapat membuat Litha dan Nagato kembali semangat...” Tika tersenyum kepada Hika.
“Kenapa jadi seperti ini...” Tika membatin dan menatap Oichi yang sedang menangis histeris di ruang tengah penginapan.