
"Nagato, jika kau telah sembuh total, kakek akan melatihmu tetapi untuk sekarang kakek ingin melihat kakek melatih Litha dan jika kamu merasa bosan maka lakukan pernafasan halus!" Kakek Hyogoro menasihati Nagato yang ketahuan sedang melakukan push up dengan satu tangan sehingga Kakek Hyogoro memarahi pemuda yang belum sembuh itu karena mengalami patah tulang pada tangan kiri dan kaki kirinya.
"Aku sudah bosan menunggu, sial tangan kiriku berapa lagi sembuhnya?!" batin Nagato yang sedang merasa kesal karena dirinya tidak bisa mengikuti latihan bersama Litha.
Ketika Kakek Hyogoro sedang melatih Litha, Nagato melakukan pernafasan halus dan dasar untuk mengisi waktu luangnya, dan tak terasa dua minggu telah berlalu, tangan kiri Nagato sudah bisa digerakkan walau bagi dirinya masih ada rasa nyeri pada sela - sela tulangnya, namun itu bukan alasan untuknya agar tidak berlatih.
Azai, Kuina dan Serlin terus berlatih mengontrol aura tubuhnya agar bisa mengeluarkan dan memanipulasi aura sesuka mereka, Kuina sudah bisa menggunakan Tenkai walau gadis itu selalu gagal untuk mengontrolnya terus menerus, sedangkan Azai dan Serlin masih mencoba mengontrol agar aura yang keluar dari tubuh mereka tidak keluar secara percuma.
Disisi lain Kakek Hyogoro mengajak Litha dan Nagato untuk pergi ke hutan lapisan sepuluh yang jaraknya cukup jauh dari tengah hutan kediaman Kakek Hyogoro, walau masih termasuk dalam zona aman, lapisan hutan kesepuluh juga cukup berbahaya karena banyak hewan buas dan tumbuhan racun yang ada disana, mereka berdua mengikuti Kakek Hyogoro yang pergi bersama mereka berdua untuk memandu jalan menuju hutan lapisan kesepuluh.
Kakek Hyogoro melangkah memasuki hutan, Litha dan Nagato mengikutinya dari belakang, awalnya baik Litha maupun Nagato bisa mengikuti Kakek Hyogoro tanpa kesulitan namun setelah memasuki lapisan kedua dan ketiga kecepatan langkah Kakek Hyogoro yang tanpa suara itu semakin cepat sampai jarak antara Kakek Hyogoro dengan Litha dan Nagato semakin menjauh.
Melihat Kakek Hyogoro yang semakin jauh dan tak terlihat lagi, Nagato berusaha merasakan hawa keberadaan makhluk hidup di sekelilingnya, sambil mengolah pernafasan namun hawa keberadaan Kakek Hyogoro tidak terasa.
"Nagato, aku lelah!" ucap Litha dengan napas yang terengah - rengah.
"Aku tidak mendengar suara ketika Kakek Hyogoro berlari bahkan dimataku dia terlihat seperti berjalan, bagaimana bisa dia seperti itu?!" balas Nagato yang berhenti didepan Litha sambil mengerutkan dahinya karena mereka berdua tertinggal oleh Kakek Hyogoro.
"Aku tidak boleh membebani Nagato, aku telah memutuskan ini!" batin Litha yang melihat punggung Nagato dari belakang.
Nagato sedikit kesal karena kekuatannya masih belum cukup kuat dan masih lemah tetapi dirinya tidak punya pilihan lain selain berusaha.
"Ayo, Nagato!" Litha kembali mengajak Nagato untuk berlari setelah napasnya kembali normal.
Nagato berlari disamping Litha dan mengikuti ritme kecepatan gadis kecil itu dan menyelaraskannya, satu hal yang membuat Nagato sedikit bingung yaitu petir yang selalu mengelilingi tubuhnya ketika dirinya mengolah pernafasan halus kini tidak keluar dari tubuhnya.
Litha dan Nagato terus memasuki Hutan Cakrawyuha lapisan kelima dan menuju kelapisan keenam, tetapi mereka berdua belum melihat Kakek Hyogoro yang keberadaannya entah dimana.
"Nagato! Didepan sana aku merasa ada seseorang!" teriak Litha disamping Nagato sambil menatap tajam seseorang yang terlihat buram pandangan matanya karena jarak yang dia lihat cukup jauh.
Nagato mengerutkan dahinya karena dirinya tidak bisa melihat yang Litha lihat.
"Bukankah itu ... " Nagato menyipitkan matanya ketika seseorang yang dimaksud Litha adalah seorang yang tidak asing bagi mereka berdua.
Padang Rumput ada di lapisan kesepuluh, Kakek Hyogoro berniat mengajak mereka berdua kesana, sedangkan sekarang Kakek Hyogoro berada dilapisan ketujuh, ketika dirinya menoleh kebelakang, Kakek Hyogoro baru sadar karena Litha dan Nagato sudah tidak ada dibelakang dirinya, kemudian Kakek Hyogoro berhenti sejenak sambil menunggu Litha dan Nagato menyusul kemudian dia berpesan "Kalian berdua, apa tidak bisa bergerak lebih cepat?" Kakek Hyogoro menoleh ke belakang melihat Litha dan Nagato yang kewalahan mengejar dirinya.
"Apa aku selemah ini!" batin Nagato sambil mencoba mengatur napasnya kembali.
"K-Kakek terlalu cepat, bukankah ini terlalu berlebihan!" sahut Litha yang melihat Kakek Hyogoro sedang melihat dirinya dan Nagato yang kewalahan mengejar Kakek Hyogoro.
"Bukankah kalian berdua yang memintaku menjadi guru kalian, ingat tidak ada ilmu yang gratis didunia ini, walaupun gratis kalian harus melewati cobaan untuk belajar ilmu ini!" Kakek Hyogoro tersenyum ketika melangkahkan kakinya kembali dan meninggalkan mereka berdua.
"Jangan meremehkanku!" Nagato kesal akan dirinya yang terlihat lemah kemudian dia berlari mengejar Kakek Hyogoro dengan langkah tergesa - gesa dan napas yang tidak teratur. Litha mencoba mengikuti Nagato dari belakang.
__ADS_1
Ketika Nagato dan Litha hampir sampai di lapisan kesepuluh, mereka beruda berhenti untuk mengatur napas mereka.
"Naga-."
Belum selesai Litha mengucapkan nama Nagato, gadis kecil itu menyadari ada satu cahaya berwarna merah yang melesat dengan cepat ke arah langit yang membentang di langit malam, ketika cahaya yang berwarna merah itu mencapai tempat yang tinggi, terdengar suara ledakan yang begitu keras ditambah dengan cahaya yang terang, setelah cahaya itu mulai menghilang, terlihat sebuah pesan api di langit yang ditujukan untuk Litha dan Nagato.
"Dari Kakek!" ucap Litha yang sedang membaca pesan api tersebut.
"Lapisan kesepuluh? Padang Rumput, kita berdua sudah mengingat jalan pulang?!"
Mata Nagato melebar ketika membaca pesan api yang ditujukan padanya dan Litha, pesan dari Kakek Hyogoro yang menyuruhnya untuk mencari jalan pulang sendiri dan kembali ke tengah hutan tempat mereka tinggal, pesan itu juga mengingatkan bahwa jangan pernah sesekali meremehkan Hutan Cakrawyuha.
Bulan menerangi Hutan Cakrawyuha dengan sinar rembulannya, Litha dan Nagato cukup percaya diri bahwa mereka berdua mengingat jalan pulang kembali ke kediaman Kakek Hyogoro yang berada ditengah Hutan Cakrawyuha.
"Litha, bukankah kita sudah melewati jalan ini!" Nagato menunjuk pohon yang sudah dia lihat dan diberi tanda karena telah dilewati tetapi mereka berdua hanya terus memutar tanpa arah dan tujuan seperti tersesat disebuah labirin yang siap menerkam mereka. Semakin masuk kelapisan yang baru maka akan semakin sulit untuk keluar itulah Hutan Cakrawyuha yang akan menjadi tempat Litha dan Nagato tumbuh.
"Nagato, apa kita tersesat!" sahut Litha karena gadis kecil itu merasa ada yang aneh, kemudian mereka berdua kembali ke padang rumput yang luas tempat mereka bertemu Kakek Hyogoro.
"Sepertinya kita tersesat!" Nagato menutup kedua matanya dengan telapak tangan kanannya, karena dirinya tidak menyangka akan menjadi orang yang tidak tahu arah.
Litha duduk untuk menenangkan diri, ketika mereka berdua sedang memikirkan cara untuk kembali, tiba - tiba ada puluhan Hewan Buas yang sedang memakan hewan yang menghuni lapisan zona aman lewat dihadapan mereka berdua.
"Nagato, bukankah ini termasuk zona aman?!" Litha berdiri kemudian meningkatkan kewaspadaannya karena puluhan Hewan Buas Serigala Hijau sedang lewat dengan santainya dihadapannya.
Kakek Hyogoro yang memberikan ujian kepada mereka berdua juga tidak menyadari akan datang hal seperti ini. Karena menurut dirinya lapisan hutan kesepuluh adalah tempat yang aman dan tidak akan ada Hewan Buas yang datang kelapisan tersebut.
Puluhan Serigala Hijau menatap Litha dan Nagato, kemudian Hewan Buas tersebut mencoba menyerang mereka berdua dengan cara menggigit.
"Serigala ini ... "
Nagato menghindari setiap serangan gigitan puluhan Serigala Hijau sekuat tenaga selain ukurannya tiga kali lebih besar dari tubuhnya, mulut Serigala Hijau bisa mengeluarkan angin padat berbentuk bola.
Nagato memegang tangan Litha dan menariknya untuk berlari sekuat tenaga ketika puluhan serigala mulai mengejarnya, sambil mempercepat langkah kakinya tanpa dia sadari dirinya masuk ke dalam lapisan hutan ke sebelas.
"Pedangku?" Nagato mengingat pedang miliknya dia tinggal dirumah Kakek Hyogoro, situasi sungguh diluar dugaan Nagato dan Litha.
"Nagato, bagaimana ini?" Litha takut karena dirinya juga baru memulai latihan dan tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan situasi seperti ini.
"Tenang Litha, pasti akan ada jalan keluar!" Nagato berpikir sejenak sambil tidak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun ketika puluhan Serigala Hijau semakin mendekatinya.
"Litha, apa kamu bisa membuat api?!" tanya Nagato kepada Litha dengan tenang.
"Bisa, dengan kayu, bukan?" balas Litha sambil menatap Nagato yang menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Ya." jawab Nagato singkat kemudian dirinya mencoba mengalihkan perhatian Serigala Hijau.
Litha mundur beberapa langkah kebelakang untuk mengambil kayu kering, daun - daun kering dan beberapa ranting kering yang telah jatuh ditanah.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka, sementara itu kau harus membuat api!" perintah Nagato pada Litha kemudian dirinya maju mencoba menyerang puluhan Hewan Buas dan memancing mereka untuk mengejarnya.
"Berhasil!" Nagato terus berlari melewati beberapa pepohonan yang banyak terdapat kayu kering dan ranting kering untuk dia ambil dan kumpulkan dalam satu tempat di Padang Rumput.
"Mereka terus mengejarku, seharusnya aku mencari cara yang lebih mudah untuk mengalahkan mereka!" batin Nagato yang terus berlari mengumpulkan beberapa kayu kering, setelah banyak kayu kering yang terkumpul, Nagato melirik Litha yang sedang mencoba membuat api dengan cara menggesekkan antara kayu dengan kayu.
Nagato sadar cara seperti itu membutuhkan banyak energi sehingga bagian dirinya merasa bersalah kepada Litha karena telah menyuruh gadis kecil itu membuat api.
"Aku akan mengulur waktu hingga api itu menyala!" batin Nagato yang sedang berhadapan dengan puluhan Hewan Buas Serigala Hijau.
Nagato menatap dingin serigala didepannya, sambil mencoba mencari celah namun tak dapat menemukan celah tersebut.
Nagato diam selama beberapa saat, sambil mengatur napasnya dirinya tetap bersikap tenang dan melihat serigala hijau yang mengelilinginya kemudian dirinya melirik Litha yang masih terus mencoba menyalakan api.
"Apa aku harus melarikan diri bersama Litha ketika Kakek Hyogoro memberiku ujian ini?" Napasnya mulai tidak teratur memikirkan jumlah Hewan Buas yang dihadapinya, Nagato mengerutkan dahi dan menaikkan alisnya, ekspresinya wajahnya justru terlihat marah, tatapan matanya lebih dingin dari yang biasanya.
Malam semakin berlalu dan Nagato masih berhadapan dengan puluhan Serigala Hijau, melihat Nagato yang terdiam puluhan Serigala Hijau mengeluarkan angin padat dari mulutnya yang melesat dengan cepat ke arah Nagato.
"Sial! Apa aku selemah ini!" Nagato mengumpat dalam hatinya karena tidak berdaya melawan Serigala Hijau dan dirinya hanya terus menghindar dan melarikan diri.
Nagato melirik Litha yang sudah menyalakan api dengan cepat Nagato memukul kepala salah satu Serigala Hijau dengan cukup keras kemudian dia mengambil batang kayu dan berlari ke arah Litha untuk membakar batang kayu tersebut.
"Cepat kamu lari lebih dulu anti aku akan menyusulmu!" Nagato membakar batang kayu kemudian dirinya berlari dengan lamgkah pelan ke arah Serigala Hijau.
"Nagato ... " Litha masih bingung dengan tindakan Nagato.
Nagato berada ditengah - tengah tumpukan kayu yang telah dia kumpulkan, dengan batang kayu yang terbakar yang sedang dirinya pegang, Nagato tersenyum tipis ketika puluhan Serigala Hijau mengelilinginya.
Serigala Hijau yang dipukul Nagato mengeluarkan angin padat kearahnya, Nagato menghindari serangan tersebut kemudian dia melempar batang kayu yang terbakar kearah angin padat tersebut hingga membuat api dengan cepat menyebar dan membakar Serigala Hijau yang sedang berada dibelakang Nagato.
Serigala Hijau yang terbakar membalas serangan salah satu Serigala Hijau yang mengeluarkan angin padat kearahnya hingga mereka berdua bertarung satu sama lain.
Nagato tidak melewatkan kesempatan tersebut, dirinya kemudian mengambil kayu yang sudah terbakar dan melempar kearah tumpukan kayu kering yang sudah dia kumpulkan, dengan cepat api menjalar disekitar Serigala Hijau.
Belum sempat menyadari hal yang barusan terjadi api besar menyebar dan menjalar dengan cepat di Padang Rumput hingga membuat puluhan Serigala Hijau terbakar, Nagato dengan cepat memegang tangan Litha dan membawa gadis kecil itu pergi dari kebakaran yang dibuatnya itu.
Litha mengerutkan dahinya karena menurut gadis kecil itu cara Nagato cukup sadis dan merusak habitat Hutan Cakrawyuha. Ketika api semakin membesar tiba - tiba tumbuhan Kantong Semar mengeluarkan air dengan deras yang mengalir dari kantongnya hingga mampu memadamkan api yang membakar Padang Rumput.
Nagato dan Litha terkejut melihat tumpukan mayat Serigala Hijau yang terbakar terlihat dengan jelas, namun yang membuat mereka lebih terkejut adalah Kantong Semar yang mampu mengeluarkan air yang seperti hujan deras dengan begitu mudahnya.
__ADS_1