Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 180 - Rencana Tersembunyi Satra


__ADS_3

"Naga. Menurutmu apakah Tika bisa menang melawan orang itu?" Iris bertanya pada Nagato dengan suara yang lirih.


"Kurozawa Kuroji. Menurutku Tika tidak akan menang mudah, tetapi pertarungan ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Aku yakin Tika yang akan menang." Perkataan Nagato membuat Iris, Litha dan Hika tenang.


"Lagipula kipas milik Tika adalah Senjata Kuno. Itu cukup menarik perhatianku." Nagato menambahkan.


Di lapangan Arena Lingkaran Harimau terlihat Mujin sedang menunggu kedatangan kedua peserta.


Setelah kedua peserta berada di tengah lapangan, Mujin menyuruh keduanya untuk menjaga jarak.


"Dengan ini, pertandingan antara Fuyumi Tika dari Klan Fuyumi melawan Kurozawa Kuroji dari Klan Kurozawa dimulai!" Mujin yang menjadi wasit dan memimpin jalannya pertandingan memberi aba-aba pada dua peserta yang akan bertarung. Setelah aba-aba dari Mujin terdengar, aura hitam pekat langsung keluar dari tubuh Kuroji.


"Cewek manis, lebih baik kipasmu itu kamu gunakan untuk mengipasi tubuhku ini." Kuroji sengaja mengintimidasi Tika.


"Laki-laki yang tidak sopan selalu terlihat menjijikkan." Tika membalas perkataan Kuroji dengan sinis.


Wajah Kuroji mengkerut, dia merapatkan giginya dan berlari ke arah Tika. Kedua tangannya yang memegang pedang menjadi perhatian, karena di pertandingan sebelumnya Kuroji selalu sangat agresif ketika menyerang, maka sudah dipastikan jika Kuroji akan membuat Tika kesulitan.


Kuroji memulai serangan terlebih dahulu, dia menebaskan kedua pedangnya dari jauh menciptakan dua sabit berwarna hitam yang melesat cepat ke arah Tika. Serangan keduanya dia lancarkan kembali dengan menebaskan pedangnya dari jauh menciptakan pusaran angin hitam yang mengarah lurus ke arah Tika.


Penonton kembali dibuat berdecak kagum, namun sebagian juga merasa khawatir dengan Tika yang ada di bawah sana.


Tika menciptakan pelindung air dengan kipasnya, kemudian dia kembali mengibaskan kipasnya untuk membuat pelindung yang lebih kokoh. Pusaran angin hitam berhasil dia tahan, tetapi Tika merasakan jika Kuroji mendekat sehingga gadis itu membekukan pelindung airnya menjadi es.


Kuroji dengan cukup brutal memotong es yang menghalanginya, dia melihat Tika cukup cekatan. Melihat gadis manis yang berjuang sekuat tenaga membuat Kuroji merasakan gairah muda yang luar biasa.


Kuroji melancarkan serangan kembali sambil mendekati Tika secara perlahan. Tebasan pedangnya selalu dapat dihalau oleh Tika yang terus menjauh dari Kuroji. Serangan tebasan Kuroji tidak ada yang mengenai Tika.


"Dia sangat agresif." Tika membatin melihat permainan pedang Kuroji yang sangat lincah. Berkali-kali Tika mengibaskan kipasnya dari jauh tetapi serangannya tidak mampu memberikan luka mendalam bagi Kuroji.


Tika menghela napas panjang, sebenarnya dia tidak ingin mengambil resiko terlalu jauh tetapi Kuroji bukanlah lawan yang mudah untuk dia kalahkan.


Tika mengolah pernapasan dan mengaliri kipas kesayangannya dengan tenaga dalam. Dia sengaja diam berdiri selama beberapa detik untuk menunggu pergerakan lawannya, ketika melihat Kuroji berlari dengan cepat ke arahnya.


Kuroji semakin dekat dengannya, Tika tersenyum karena lawannya itu telah masuk ke dalam jangkauan serangannya.


"Teknik Kipas Air Kedua : Aliran Air Musim Dingin."


Tika terus memainkan kipasnya ketika Kuroji masuk ke dalam jangkauan serangannya. Tika tersenyum ketika melihat raut wajah Kuroji yang berubah, dia memanipulasi serangannya menjadi ombak air yang dingin.


Kuroji mengaliri kedua pedang kesayangannya dengan tenaga dalamnya dan menebas ombak dingin yang melesat cepat ke arahnya.


Ombak air yang dingin dari serangan kipas Tika terbelah menjadi dua. Semua penonton berdecak kagum dengan Tika yang kembali melancarkan serangan keduanya. Ombak susulan dari belakang tidak dapat dihalau Kuroji.


Tepat setelah tubuh Kuroji terkena dan terseret ombak, Tika membekukan air dari kipasnya untuk membungkam lawannya itu. Berbeda dengan Iris yang dapat dengan sesuka hati membekukan dan mencairkan, Tika harus menggunakan kekuatan kipasnya jika dia ingin membekukan sesuatu.


"Tadi kamu ingin aku kipasi, bukan?" Tika tersenyum jahat sambil mengipasi tubuh Kuroji yang membeku. Perlahan badan Kuroji mulai membeku dari kaki hingga lehernya.


Kuroji berdecak kesal, tatapannya menatap Tika penuh kebencian. Dia terlihat seperti ingin menerkam tubuh Tika dan **********.


Merasakan ancaman bahaya dari lawannya, Tika kembali menggunakan kekuatan dari kipasnya.

__ADS_1


"Teknik Kipas Air Kedua : Aliran Air Musim Dingin."


Semua orang terkejut melihat Tika yang kembali memainkan kipasnya menciptakan ombak yang menyeret tubuh Kuroji. Sebelum lawannya itu menyerang balik, Tika memukul ulu hati Kuroji dengan tenaga dalamnya.


Mujin mengangkat tangannya ketika melihat tubuh Kuroji ambruk ke tanah, pemuda itu pingsan. Tidak berapa lama beberpaa tenaga medis membawa tubuh Kuroji dengan tandu.


"Kuroji tidak sadarkan diri dan pemenangnya adalah Fuyumi Tika dari Klan Fuyumi!" Mujin memberi tepuk tangan sesaat untuk Tika.


Mujin tersenyum ketika melihat Tika meninggalkan lapangan Arena Lingkaran Harimau. Dengan cepat Mujin langsung beralih ke pertandingan selanjutnya.


"Selanjutnya, Fuyumi Hika dari Klan Fuyumi dan Kakugo dari Perguruan Api Abadi silahkan maju ke depan!" Langkah Tika berhenti, dia khawatir dengan saudari kembarnya. Dengan cepat dia mempercepat langkah kakinya untuk kembali ke bangku penonton dari Klan Fuyumi.


"Hika, Hika! Kamu-" Jari telunjuk Hika menyentuh bibir Tika.


"Hika akan baik-baik saja." Hika tersenyum lembut ke arah Tika.


"Hika sayang, jika kau yakin maka bertarunglah dengan segenap kekuatanmu. Seorang wanita harus mempunyai harga diri dan prinsip sendiri!" Ichiba mengecup kening Hika.


"Kenapa aku begitu khawatir dengan Hika? Lawan Hika adalah anak itu! Dia telah mengalahkan Ninjin, sial!" Nagato menatap tajam Hika.


"Hika. Bertarunglah seperti biasa." Iris tersenyum tipis kepada Hika.


"Hika akan berjuang. Hika akan menyusul kalian berempat ke babak selanjutnya!" Hika tersenyum lembut seperti biasa. Tidak berapa lama dia memegang erat busurnya.


Hika berjalan menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau. Lawannya kali ini akan sulit untuk dia kalahkan, tetapi latihannya selama ini harus dia buktikan kepada keluarganya dari Klan Fuyimi yang sedang menonton di bangku penonton.


Sesampainya di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau terlihat wajah gembira Kakugo yang tersenyum lebar mengintimidasinya.


"Apa rencana Satra? Aku tidak akan mengikuti perintahnya, gadis yang baik hati ini tidak boleh sampai disakiti oleh bocah tengik beringas ini!" Mujin masih menatap Satra cukup lama. Tidak berapa keringat dingin mengucur di wajahnya karena melihat tatapan Satra yang mengancamnya.


"Uhuk ... uhuk." Mujin terbatuk pelan dan mengatur napasnya.


"Baiklah, kalian berdua ambil jarak terlebih dahulu." Mujin menyuruh Hika dan Kakugo mengambil jarak.


"Pertandingan antara Fuyumi Hika dari Klan Fuyumi melawan Kakugo dari Perguruan Api Abadi dimulai!" Dengan sangat agresif Kakugo langsung menyerang Hika tepat setelah Mujin memberi aba-aba memulai pertandingan.


Hika melepaskan panah auranya ke arah Kakugo tetapi tebasan pedang besar Kakugo mampu membuat ledakan dan menghancurkan anak panah aura milik Hika.


Dalam sekejap Hika berada dalam posisi terdesak, gadis manis yang mempunyai wajah imut itu mengaliri tenaga dalamnya pada busurnya. Hika kembali melepaskan panah auranya.


Serangannya tidak ada yang mampu mengenai tubuh Kakugo. Senyuman terus menyeringai di wajah pemuda yang tubuhnya penuh dengan luka itu. Setelah melihat itu, Hika menjadi merinding melihat Kakugo.


Hika berusaha untuk tetap tenang, perlahan dia menyalurkan aura tubuhnya pada tangannya dan menarik kembali panah aura ke arah Kakugo.


Puluhan panah aura berwarna merah muda terus melesat cepat ke arah Kakugo. Tidak ada satupun yang mengenainya, tidak ada satupun yang tidak dapat diledakkan dari pedangnya, Kakugo tersenyum menyeringai melihat mangsanya terus berusaha melawannya.


"Satu Dalam Merah Muda."


Hika memusatkan aura tubuhnya pada tangannya, setelah itu dia salurkan auranya pada busur panahnya. Hanya satu anak panah aura yang keluar dari busurnya dan melesat cepat ke arah Kakugo.


"Darah!" Kakugo menebaskan pedangnya dari jauh untuk menahan serangan ratusan anak panah Hika yang memecah itu.

__ADS_1


Hika kembali menciptakan sebuah panah dari aura tubuhnya. Dia terus menjaga jarak dari Kakugo karena pertarungan jarak jauh adalah kemampuan utamanya.


"Harimau Merah Muda."


Hika melepaskan anak panahnya ke arah Kakugo. Anak panah tersebut sangat tipis dan hampir tidak terlihat.


Kakugo tertawa mengejek melihat anak panah Hika. Setelah anak panah tersebut sudah dekat dengannya, Kakugo berniat memotongnya tetapi panah tersebut berubah menjadi seekor harimau berwarna merah muda yang terbentuk dari aura tubuh.


Kakugo terkejut tetapi senyuman lebar terus menyeringai di wajahnya. Mulut harimau berwarna merah muda yang terbentuk dari aura tubuh Hika mencakar dan menggigit tubuh Kakugo.


Pemuda itu berguling di tanah selama beberapa detik, Hika kembali menyerang Kakugo dari jauh.


"Seribu Burung Menari Di Atas Awan."


Hika kembali melepaskan panah auranya, tetapi kali ini dia mengarahkannya ke atas langit. Satu anak panah terlihat sampai di udara teratas dari jangkauannya, ketika turun ke bawah, anak panah itu menjadi seribu burung walet berwarna merah muda yang mengarah ke arah Kakugo.


Paruh burung walet merah muda yang terbentuk dari aura tubuh Hika sangat lancip. Kakugo menangkis setiap serangan yang mengarah padanya.


"Menarik. Menarik." Kakugo tersenyum lebar ketika tubuhnya terkena panah aura dari Hika.


Beberapa menit kemudian hujan panah berhenti, penonton berdecak kagum melihat kemampuan Hika.


Kakugo sekarang berlari dengan sekuat tenaganya ke arah Hika. Semua penonton yang menyukai pertarungan perwakilan dari Klan Fuyumi itu mulai menjadi khawatir.


Gerakan Kakugo sangat cepat, tangannya mengincar leher Hika. Semua pendekar dari kubu timur menatap tajam Sepuluh Tetua Kai.


Hika berhasil menghindari tebasan pedang tetapi perutnya terkena telak tendangan kaki Kakugo.


Iris, Litha dan Tika semakin khawatir melihat Hika yang memuntahkan darah segar dari mulutnya. Serangan kedua dari Kakugo kembali melesat ke perut Hika. Tendangan kali ini membuat Hika terlempar jauh ke belakang.


Semua penonton menanyakan keputusan wasit yang terlihat tidak peduli. Mereka semua melihat Kakugo mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah menebas tanah yang ada di samping Hika.


Ledakan terjadi, tubuh Hika terlempar ke samping. Tangannya melepas busurnya, dia kembali memuntahkan darah. Serangan itu berlangsung lagi selama dua kali, tubuh Hika terlempar kesana kemari.


"Darah. Darah." Kakugo tersenyum lebar melihat wajah Hika yang manis bercak darah dari muntahan mulut bibir mungil gadis manis itu.


Kakugo kembali menebaskan pedangnya ke tanah membuat tanah disekitarnya hancur karena ledakan. Tubuh Hika terlempar ke kesana kemari kembali. Gadis manis itu mencoba berdiri, semua orang melihat tekad Hika tetapi ini adalah babak penyisihan bukan babak 32 besar. Penonton yang tidak mengetahui maksud tersembunyi Satra hanya bisa mencaci maki Mujin yang hanya diam melihat pertarungan berat sebelah itu.


Empat orang yang tergabung dalam kelompok Akuyaku yang dibentuk Gore terusn mengamati jalannya pertandingan.


Sementara itu penyusup-penyusuh dari Kekaisaran Rakuza juga masih fokus mengamati jalannya pertandingan.


Hika mencoba berdiri, kesadarannya mulai menghilang. Semua penonton mencaci maki Mujin ketika melihat Kakugo hendak menebaskan pedangnya ke arah leher Hika.


"Darah. Matilah!" Kakugo tersenyum melihat Hika yang mulai kehilangan kesadaran. Pendekar dari kubu timur sudah bereaksi hendak menghentikan pertandingan. Seluruh pendekar dari Klan Fuyumi sudah selangkah lebih dulu bergerak.


Ketika tebasan pedang Kakugo hampir mengenai tubuh Hika. Semua pendekar melebar matanya karena terlambat bereaksi, mereka mengingat Mujin seharusnya menghentikan pertandingan.


Hika bisa melihat senyuman lebar Kakugo yang hendak menebaskan pedang padanya.


"Apakah aku akan mati disini?" Hika membatin pelan.

__ADS_1


__ADS_2