
Setelah membebaskan desa yang dikuasai bawahan wali kota Kota Kumori, Nagato kembali melanjutkan perjalanannya.
"Pejabat tetapi cara kerjanya seperti bandit..." gumam Nagato memandang langit terang yang membentang di atas sana.
"Nagato, tadi kamu marah karena mereka mengincarku, bukan?" tanya Litha dengan sengaja dia ingin tahu perasaan Nagato yang sebenarnya.
"Tidak juga." jawab Nagato singkat sambil kembali berjalan melangkahkan kakinya.
Litha terdiam sejenak sebelum menyusul Nagato dan Kakek Hyogoro. Dalam hatinya dia berdecak kesal, karena Nagato bersikap cuek terhadap dirinya.
Dalam perjalanan menuju kediaman Bangsawan Minami, mereka bertiga bertemu dengan gangguan yang tidak terlalu menghambat mereka.
Waktu terus berjalan cepat dan berlalu, Nagato melihat ada sebuah kota yang cukup besar di hadapannya.
"Itu adalah Kota Chikuwa, Kota Chikuwa adalah Ibu Kota Provinsi Selatan." ucap Kakek Hyogoro menjelaskannya pada Nagato dan Litha.
Kota Chikuwa adalah kota yang besar, dan di sana adalah pusat perdagangan Provinsi Selatan. Tetapi selama tujuh belas bulan terkahir, pedagang yang ingin datang ke Kota Chikuwa terhambat, karena mereka harus melewati Kota Kumori terlebih dahulu. Semenjak wali kota yang baru menjabat, Kota Kumori seperti kota ramai yang tertutup untuk orang luar. Dan banyak desas - desus jika di sana adalah markas dari Sekte Pemuja Iblis.
"Litha, suruh Chibi mengantarkan surat ini." ucap Kakek Hyogoro mengeluarkan surat emas dan kain baju sutra yang terlihat begitu lembut.
"Chibi..." ucap Litha memanggil Chibi, tak lama Chibi keluar dari tas punggung dan mendekat pada Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro menyuruh Chibi mencium kain tersebut, tanpa menunggu lebih lama lagi Chibi berlari menuju Kota Chikuwa.
"Kita akan menunggu di dekat gerbang kota." ajak Kakek Hyogoro pada Nagato dan Litha sambil melangkahkan kakinya menuju Kota Chikuwa.
__ADS_1
Di depan gerbang kota, terdapat beberapa pohon besar yang terlihat seperti taman kecil. Nagato duduk dan bersandar pada pohon besar di dekatnya. Litha mengikuti Nagato dan duduk di samping pemuda tersebut. Sedangkan Kakek Hyogoro berdiri melihat tembok kota yang menjulang lumayan tinggi ke atas.
Mereka bertiga menunggu dengan waktu yang lama, tidak terasa sore hari tiba. Matahari sudah ingin terbenam menyalami sang malam.
"Aku paling kesal dengan yang namanya menunggu." gumam Nagato dengan nada yang sebal. Dia berbaring di atas rerumputan yang tumbuh di sekitar pohon yang tadi dia sandari.
Waktu terus berlalu ketika langit sudah semakin gelap, Chibi datang membawa seorang pria yang terlihat berumur tiga puluh lima tahun yang datang bersama penjaganya.
"Selamat datang di Kota Chikuwa, Tuan Pendekar." sapa pria yang berumur tiga puluh lima tahun itu, pria itu bernama Minami Kazuo.
"Maaf... karena saya membuat kalian bertiga menunggu, silahkan ikuti saya." ajak Kazuo pada Nagato, Litha dan Kakek Hyogoro.
Perlahan mereka bertiga memasuki Kota Chikuwa, kota yang sangat ramai walaupun tujuh belas bulan sudah sepi pedagang yang datang dari luar kota.
Mata Nagato dan Litha melebar melihat Kota Chikuwa, mereka berdua memandangi kemegahan bangunan di Ibu Kota Provinsi Selatan tersebut. Nagato tidak menduga melihat kota yang begitu ramai bahkan menurut dirinya, Kota Chikuwa lebih ramai dan megah dari kota - kota yang pernah dia kunjungi seperti Kota Fusha, Kota Mikawa, Kota Helai dan beberapa kota yang lainnya.
"Di dunia ada kota yang lebih besar dari ini, aku ingin tumbuh besar dan berpetualang..." gumam Litha memandang bangunan megah di samping kiri dan kanannya.
Nagato tersenyum melihat Litha yang terlihat begitu bahagia, tidak berapa lama Kazuo mengajak mereka bertiga naik kereta kuda yang sama dengannya.
Pandangan penduduk kota mengarah ketiga orang yang memakai topeng rubah putih. Karena mereka bertiga terlihat begitu mencolok.
"Tuan Pendekar Hyogoro, menurut anda seperti apa situasi Kota Kumori?" tanya Kazuo menatap Kakek Hyogoro tajam.
Kakek Hyogoro mengelus dagunya sambil menghela napas panjangnya, kemudian dia bercerita jika ada yang tidak beres dengan Kota Kumori. Karena dalam perjalanan menuju Kota Chikuwa, dirinya bertemu dengan bawahan wali kota dari Kota Kumori menguasai desa yang masih masuk dalam wilayah Kota Kumori.
__ADS_1
"Dibanding disebut dengan pejabat, mungkin aku lebih pantas menyebutnya perampok atau bandit. Karena seorang wali kota itu harus memikirkan rakyatnya tetapi apa yang dilakukan oleh orang itu? Dia menutup jalur perdagangan dan membuat Kota Kumori tertutup dari luar selama tujuh belas bulan?" jawab Kakek Hyogoro dengan nada penuh kekesalan.
Kazuo terdiam mendengarkan jawaban Kakek Hyogoro, dirinya juga merasa aneh karena mendapat undangan untuk datang ke Kota Kumori. Kazuo mendapat surat undangan tersebut dari wali kota itu sendiri.
"Aku juga merasa ada yang aneh, sehingga aku menyewa pendekar." balas Kazuo sambil memijat keningnya.
Nagato dan Litha mengamati perbincangan Kakek Hyogoro dan Kazuo. Beberapa saat Nagato memejamkan matanya dan memikirkan tentang penduduk desa yang desanya telah dia selamatkan, Nagato takut ketika dirinya telah berada di Kota Chikuwa, prajurit kekaisaran datang kembali merusuh di desa tersebut.
"Dunia adalah tempat yang terlalu bengis untukku?" batin Nagato mengingat perkataan Demet kepadanya. Dia juga akhir - akhir berpikir tentang langkah kehidupan selanjutnya. Nagato ingin lebih kuat dari yang sekarang, sehingga dia selalu bertangan melawan Hewam Buas dan Binatang Iblis di Hutan Cakrawyuha. Tetapi semua itu belum memuaskan dirinya.
Kesempatan pada misi kali ini adalah waktu yang tepat untuk mengukur kekuatannya. Ketika dirinya mendengar rumor jika Sekte Pemuja Iblis bermarkas di Kota Kumori, darah Nagato mendidih karena dia ingin mencoba melawan pemimpin Sekte Pemuja Iblis.
Kerusuhan yang di buat Sekte Pemuja Iblis cukup membuat Nagato geram, karena dia berkali - kali melihat kebengisan kelompok tersebut.
Kereta kuda memasuki kediaman yang sangat luas, mungkin di Kota Chikuwa tempat kediaman Bangsawan Minami adalah yang terluas.
"Lebih besar dari rumah Paman Shugo." gumam Nagato melihat rumah mewah dan megah di hadapannya.
Ketika kereta kuda berhenti, Kazuo mengajak mereka bertiga untuk turun. Kemudian Kazuo menuntun mereka bertiga masuk kedalam rumahnya.
"Nagato, rumah ini sangat besar..." gumam Litha memandang bangunan megah yang tak lain adalah rumah kediaman Bangsawan Minami.
"Ya." jawab Nagato singkat dengan kedua tangannya yang masuk ke dalam saku jubahnya. Dia menatap rumah megah dari balik topengnya.
Kazuo mengajak mereka bertiga masuk ke dalam rumahnya, dia telah menyiapkan kamar khusus untuk mereka bertiga. Bahkan dia juga telah menyuruh pembantunya memasak makanan mewah untuk mereka bertiga makan.
__ADS_1
Perlahan Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato masuk ke dalam rumah Bangsawan Minami.