
Pertandingan babak penyisihan Turnamen Harimau terus berlalu, pertandingan Masayu dari Perguruan Gunung Menangis sangat menarik perhatian penonton. Gadis berumur empat belas tahun itu sedang bertarung melawan Ryoko dari Perguruan Api Abadi.
Air dan Api saling berbenturan ketika Masayu dan Ryoko saling menebaskan pedang mereka satu sama lain. Elemen milik Masayu lebih unggul, air dapat dengan mudah memadamkan api. Tetapi Ryoko tidak hanya berdiam diri saja, membiarkan semua berlalu dengan kekalahannya. Berkali-kali Ryoko mampu membuat Masayu berpikir dua kali ketika merasa dirinya telah berada di atas angin.
Masayu mengeluarkan aura tubuhnya yang berwarna biru muda, dia mengombinasikan jurus pedangnya dengan pernapasan hujan. Permainan pedang Masayu sangat indah, gerakannya sulit dibaca dan diikuti. Bagaikan tetesan hujan yang membasahi tubuh, Ryoko terdiam melihat permainan pedang Masayu. Setelah senyuman tipis menyungging di wajah manis Masayu baru lah Ryoko tersadar.
"Teknik Pedang Hujan : Tetesan Kepedihan Hati."
Masayu berhasil melesatkan serangan telak pada Ryoko. Penonton berdecak kagum melihat permainan pedang Masayu. Sulit ditebak, setiap langkahnya sangat alami bagaikan seorang gadis yang sedang menari-nari di bawah hujan yang deras.
"Dia lebih muda dariku setahun tetapi permainan pedangnya sangat hebat..." Ryoko mencoba bangkit berdiri. Tetapi lawannya tidak membiarkan dirinya untuk memulihkan tenaganya.
"Kalau kau mencoba bangkit. Maka itu akan menjadi kekalahanmu, menyerah lah!" Masayu menghunuskan pedangnya tepat di samping leher Ryoko.
Keringat dingin membasahi tubuh Ryoko. Bagaimana tidak, gadis berparas manis yang menjadi lawannya terlihat sangat serius mengancamnya.
"Peraturannya jangan sampai membuat lawan terluka sangat parah, tetapi jika aku menusuk salah satu tanganmu. Kemungkinan itu menimbulkan luka yang tidak terlalu parah. Jadi sah-sah saja, benar begitu paman berwajah datar yang menjadi wasit?" Masayu menoleh melirik Mujin yang sedang mengamati mereka.
"Ummm ... sah-sah saja, lagipula luka tusukan di tangan masih bisa diobati." Mujin mengangguk pelan sambil menatap Masayu. Tidak berapa lama dia merasa kesal dengan perkataan Masayu. "Paman berwajah datar yang menjadi wasit? Gadis kecil ini!" Mujin membatin kesal terhadap sikap Masayu.
"Sifatnya sama seperti Namida..." Mujin bergumam pelan melihat Masayu yang masih mengintimidasi Ryoko.
"Jangan remehkan aku!" Ryoko mencoba melepaskan jurus bola api dari mulutnya, tetapi setelah dadanya mengembung dan mulutnya membuka mengeluarkan api, dengan sigap Masayu juga mengeluarkan air dari mulutnya.
"Sudah kubilang, kau tidak punya kesempatan." Masayu menatap tajam Ryoko di bawah.
Penonton mulai membicarakan pertandingan kali ini yang membuat mereka berdecak kagum, banyak penonton yang menyayangkan murid dari Perguruan Api Abadi yang selalu kalah.
"Sudah kuduga, Perguruan Gunung Menangis memiliki murid yang berbakat," ucap salah satu penonton pria berumur tiga puluhan tahun.
"Ini pertama kalinya mereka mengikuti kompetisi ini. Aku dengar Gunung Menangis telah ditemukan..." Pemuda berumur sembilan belas tahun menanggapi perkataan pria yang duduk di sampingnya.
"Aku dengar Sekte Pemuja Iblis yang telah menemukan tempat persembunyian Gunung Menangis. Semenjak pangeran kedua Pandu, tidak maksudku pembunuh keji itu menghilang ... Kekaisaran Kai semakin kacau..." Pria berumur tiga puluhan tahun melihat kiri dan kanannya karena dirinya tidak sengaja mengucapkan nama Pandu.
"Jangan bahas Pandu. Kita akan dijadikan budak jika bangsawan kubu barat mendengarnya," tegur pria paruh baya yang sedang merokok melihat pertandingan antara Masayu dan Ryoko dari atas tribun.
"Tetapi, pangeran kedua Pandu memang pemuda yang pantas menjadi kaisar saat itu. Sekarang Kekaisaran Kai sudah di ambang batas, sebagai rakyat biasa kita hanya perlu menunggu arus akan membawa kita." Pria paruh baya tersebut menambahkan sambil menghisap rokoknya, kemudian dia menghembuskannya membentuk lambang matahari dan api dari asap rokok.
"Ssstt ... bukankah tadi kau yang menyuruh kami tidak membicarakan hal itu." Pria berumur tiga puluhan tahun memberi peringatan pada pria paruh baya yang sedang merokok.
"Hohoho, benar juga katamu. Aku melupakannya, lupakan saja perkataanku." Pria paruh baya tersebut kembali menikmati rokok sambil melihat Ryoko yang mengangkat tangannya.
Masayu melepaskan aura intimidasinya yang berwarna biru muda pada Ryoko. Hanya satu arah tempat aura biru muda milik Masayu berkumpul, aura tersebut terlihat seperti mencekik leher Ryoko.
"Menyerah lah! Sepertinya kau cukup kerasa kepala. Aku harus membuatmu merasakan rasa sakit agar tubuhmu memahami perkataanku." Masayu berniat menhujamkan pedangnya pada tangan Ryoko. Tidak sampai dua detik, Ryoko berteriak dan mengangkat tangannya.
"Aku menyerah! Aku menyerah! Hei, kau dengar tidak?!" Ryoko ketakutan melihat Masayu yang sangat serius hendak menusuk tangannya.
Masayu langsung menyarungkan pedangnya kembali. Semua orang memberi tepuk tangan pada Masayu.
"Mereka mencari banyak murid tetapi tidak ada yang berkualitas sama sekali," batin Masayu menatap Perguruan Api Abadi yang memiliki begitu banyak anggota. Hanya saja kekuatan mereka tidak seberapa, selain kekuasaannya yang besar karena berada di bawah Satra yang menjadi bayang-bayang kegelapan Kekaisaran Kai. Perguruan Api Abadi hanyalah sebuah perkumpulan bela diri yang mencuri ilmu bela diri dari Klan Kagutsuchi.
"Pemenangnya! Masayu dari Perguruan Gunung Menangis!" Mujin menatap Masayu yang berjalan kembali ke bangku penonton.
"Uhuk ... umm ... baiklah, kita lanjut ke pertandingan selanjutnya..." Mujin kembali melihat kertas.
"Chaika? Chiaki? Aku tidak salah baca, bukan?" Mujin bergumam sendiri melihat nama Kitakaze Chiaki yang akan bertanding melawan Kurozawa Yuto.
"Umm ... Kitakaze Chiaki dan Kurozawa Yuto. Dua nama yang kupanggil! Silahkan maju ke depan!" Mujin dengan wajah santainya bersuara lantang.
Chiaki langsung berdiri dan menghampiri Owara untuk mengambil sebuah selendang.
"Chiaki. Selendang kepunyaanmu..." Owara memberikan selendang berwarna hijau muda pada Chiaki.
"Baiklah. Dukung aku guru. Aku akan menunjukkan hasil latihanku." Chiaki tersenyum tipis dan tidak ada keraguan sama sekali di wajahnya.
"Kakak ... berjuanglah..." Suara Chaika terdengar begitu pelan.
"Ya." Chiaki tersenyum pada Chaika sambil berjalan menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.
"Heh? Bukan aku lagi yang dipanggil, kalau begini perempuan tomboy akan merendahkanku..." Kenji mengeluh dan sama sekali tidak menunjukkan semangat.
Sebuah pukulan mengenai kepala Kenji. Dengan sinisnya Yuri menatap tajam Kenji.
"Siapa yang kau panggil tomboy?!" Yuri terlihat seperti mengintimidasi Kenji.
"Dua Minggu yang lalu, kamu mengintip tubuhku saat aku mandi di kolam air panas. Kau bernafsu padaku-" Kenji menutup mulut Yuri dengan tangannya.
"Aku mengerti. Aku mengerti. Jangan katakan itu di depan tuan putri Chiaki dan tuan putri Chaika!" Kenji membuat Yuri kehabisan napas.
"Kau menutup mulutku terlalu kasar!" Yuri memukul perut Kenji hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Perempuan tomboy, maaf, maksudku Yuri. Aku serius, aku tertarik padamu. Tapi kau selalu menganggap perkataanku ini sebagai lelucon!" Kenji memegang tangan Yuri dan menariknya.
"Hah? Aku tidak akan pernah menerimamu. Kau tidak mungkin masuk 16 besar, Kenji. Lagipula kita berdua selalu bertengkar, aku hanya menganggapmu sebagai teman semata!" Kenji melepaskan tangan Yuri yang terasa begitu dingin di kulit telapak tangannya.
__ADS_1
"Hanya teman? Hah ... aku ditolak berkali-kali olehmu, Yuri. Aku ... aku." Kenji berbicara sendiri, tidak berapa lama suara Takao membuatnya merasa kesal.
"Berhenti mengejar perempuan, bodoh!" Kenji menatap tajam Takao yang mengejeknya.
"Takao! Kau juga mengejar tuan putri Chiaki sampai sekarang. Tapi kau tidak ada tempat di hatinya, kau lebih bodoh dariku!" Perkataan balasan beruntun dari Kenji membuat Takao sangat malu.
"Apa katamu?!" Takao berdiri dan menatap tajam Kenji.
"Kau bodoh, apa harus ku ulangi lagi? Kau itu bodoh, bodoh, bodoh." Kenji sengaja mengejek Takao untuk melampiaskan kekesalannya.
Keduanya saling membenturkan kepala mereka. Mata mereka menatap tajam satu sama lain.
"Bodoh sekali, mereka terlalu meremehkan turnamen ini," batin Renji saat melihat tingkah teman seperguruannya yang sedang mengejar perempuan yang mereka cintai. Menurut Renji tindakan Kenji dan Takao adalah hal yang bodoh dan tidak berguna sama sekali.
"Chiaki! Semangat! Ibu ada di sini!" Haru melambaikan tangannya dari arah tribun bangsawan. Sedangkan Shugo hanya melambaikan tangannya pada Chiaki.
Shugo dan Haru dijaga ketat puluhan pendekar pedang dari Klan Kitakaze.
Sementara itu di bangku penonton tempat Klan Kurozawa. Pemuda berumur lima belas tahun yang bernama Kurozawa Yuto tersenyum kegirangan.
"Yeah! Akhirnya tiba giliranku! Kalau melawan gadis kecil itu tentu aku akan menang dengan mudah!" Yuto tersenyum kegirangan. Sedangkan dua pendekar muda dari Klan Kurozawa yang pernah bertemu dengan Nagato hanya diam. Mereka berdua hanya tertarik untuk bertarung dengan orang yang kuat saja.
Yuto berlari dengan cepat menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau. Sesampainya di tengah lapangan, Chiaki sudah sampai terlebih dahulu menunggunya.
"Gadis kecil, aku sarankan kau menyerah sebelum tubuhmu yang mulus itu terluka." Yuto dengan sinisnya menatap Chiaki dan meremehkannya.
"Paman wasit. Apa dia masih muda? Tadi dia memanggilku gadis kecil. Jangan-jangan umurnya sudah tiga puluhan tahun lebih. Pantas saja dia tidak ingin melukaiku, hahaha." Chiaki justru memberikan jawaban yang membuat Yuto menahan emosinya.
"Punya nyali juga kau gadis kecil!" Yuto menggertakkan giginya.
"Baiklah. Kalian berdua ambil jarak!" Mujin langsung menyuruh kedua peserta berdiri di jarak yang telah ditentukan.
"Pertandingan antara Kitakaze Chaika melawan Kurozawa Yuto! Di mulai-" Mujin belum selesai berteriak, suara penonton berteriak dengan keras membuat suara Mujin tidak terdengar.
"Kitakaze Chiaki! Kitakaze Chiaki!" Suara penonton yang berasal dari Provinsi Utara menggema di Arena Lingkaran Harimau.
"Maaf. Maaf. Sepertinya aku salah mengucapkan nama..." Mujin menggaruk kepalanya pelan sambil tertawa canggung.
"Pertandingan antara Kitakaze Chiaki melawan Kurozawa Yuto! Di mulai!" Tepat setelah aba-aba dari Mujin di mulai. Sebuah aura hitam pekat keluar dari tubuh Yuto.
"Gadis kecil!" Dengan memasang wajah menakutkan, Yuto terlihat seperti ingin menubruk tubuh Chiaki.
"Menakutkan." Chiaki bergumam pelan dan menelan ludahnya.
"Gadis kecil!" Yuto berteriak ketika melihat Chiaki membalas serangannya. Aura hitam pekat miliknya semakin membesar untuk menekan aura hijau muda milik Chiaki.
"Sudah kuduga, laki-laki selalu kasar. Sangat berbeda dengan Nagato yang dingin tapi baik." Chiaki berbicara sendiri sambil menjaga jarak dari Yuto.
"Apa yang kau bicarakan?" Yuto kebingungan melihat musuhnya terlihat tidak serius melawannya.
"Apa? Jadi kau penasaran dengan yang kubicarakan? Kasihan sekali, pasti kau sangat kesepian?" Chiaki kembali mengejek Yuto.
Melihat Chiaki yang terus-menerus mengejeknya, Yuto bergerak cepat melesatkan serangan pukulan yang dilapisi aura hitam pekat ke arah Chiaki.
Selendang berwarna hijau muda membuat sebuah pelindung tepat di depan Chiaki. Pukulan tangan Yuto berbenturan dengan selendang Chiaki.
"Sutra Hijau Ketenangan Muda."
Chiaki tersenyum lebar melihat raut wajah Yuto yang terkejut. Selang lima detik kemudian, pukulan beruntun dari Yuto membuat Chiaki mundur beberapa langkah ke belakang.
"Tinju Pekat Kegelapan."
Yuto berteriak dengan keras sambil terus memberikan serangan yang membuat Chiaki terdesak.
Pukulan beruntun yang dilesatkan Yuto membuat penonton berdecak kagum. Tidak ada ampun untuk Chiaki yang telah mengejeknya, itulah yang kini Yuto rasakan.
"Hitam Pekat Satu."
Yuto melepaskan pukulannya yang mampu membuat selendang Chiaki bergoyang. Tidak berapa lama dia kembali melesatkan pukulannya yang lebih besar.
"Hitam Pekat Dua."
Serangan bertubi-tubi dari Yuto membuat Chiaki dalam posisi yang tidak menguntungkan. Tekad dan keinginan saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa dirinya telah berkembang, tentu dia harus bertarung dengan segenap kekuatannya, itulah kata hati Chiaki. Dengan sekuat tenaganya, Chiaki mengeluarkan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan mengarahkannya pada Yuto.
"Hitam Pekat Tiga."
Yuto beteriak sambil mengarahkan pukulannya yang berwarna hitam pekat pada Chiaki. Tepat setelah terjadi benturan antara pukulan tangan Yuto dan selendang pelindung milik Chiaki. Debu-debu mulai menutupi lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Yuto mundur beberapa langkah ke belakang untuk memulihkan tenaganya, setelah memberikan serangan bertubi-tubi pada Chiaki tentu saja Yuto harus mengatur napasnya yang terengah-rengah.
"Sepertinya gadis kecil itu sudah terkapar bersama debu-debu di sana." Yuto menatap debu-debu yang mengelilingi tempat dia bertarung dengan Chiaki.
Mujin memejamkan matanya dan tetap bersikap tenang, berselang dua menit kemudian, debu-debu yang menutupi setengah lapangan Arena Lingkaran Harimau mulai menghilang secara perlahan.
"Sudah kuduga, aku ... akan ... menang ... dengan ... mudah." Mulut Yuto menganga melihat Chiaki masih berdiri dan seluruh tubuhnya ditutupi selendang.
__ADS_1
"Jangan kasar pada seorang gadis. Pantas saja kau tidak populer di kalangan perempuan." Chiaki membuka selendangnya yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku menang dengan mudah?" Chiaki berbicara mengejek Yuto. Kemudian dia memainkan selendangnya untuk menciptakan pusaran angin besar.
"Jangan meremehkan seorang perempuan!" Chiaki berteriak penuh kemarahan.
"Dekapan Angin Utara."
Selendang Chiaki menciptakan sebuah pusaran angin besar yang menyeret Mujin dan Yuto yang berada di lapangan Arena Lingkaran Harimau.
"Tidak mungkin..." Yuto terkejut melihat teknik selendang milik Chiaki. Tubuhnya terseret angin besar bersama dengan Mujin.
Semua penonton berdecak kagum melihat teknik selendang milik Chiaki. Namun beberapa dari mereka tertawa yang melihat Chiaki juga menggunakan teknik selendangnya kepada Mujin.
"Aku tidak berhenti tertawa. Wasitnya adalah anggota Sepuluh Tetua Kai tetapi gadis muda itu sama sekali tidak peduli!" Salah seorang pria paruh baya yang sedang meminum arak tertawa terbahak-bahak melihat Mujin terseret angin besar milik Chiaki.
"Benar. Sangat menarik sekali," sahut penonton yang lain.
Mujin memasang wajah santainya ketika tubuhnya terseret pusaran angin besar milik teknik selendang Chiaki. Ketika pusaran angin besar berhenti, tubuh Yuto tergeletak di tanah. Di sisi lain, Mujin berdiri tegak sambil mengelus dagunya.
"Uhuk ... umm ... sepertinya Kurozawa Yuto tidak bisa berdiri kembali." Suara Mujin membuat penonton yang bergemuruh terdiam.
"Pemenang pertandingan kali ini adalah Kitakaze Chiaki!" Tepuk tangan penonton untuk Chiaki menggema di seluruh pelosok Arena Lingkaran Harimau.
"Maaf. Aku tidak sengaja, paman wasit." Chiaki meminta maaf pada Mujin sambil tersenyum manis.
"Tidak usah dipikirkan. Lagipula berkat pusaran anginmu, keringat yang menempel di tubuhku jadi hilang." Mujin tidak mempedulikan tentang hal yang dilakukan Chiaki.
"Eh? Paman yang aneh..." Chiaki bergumam pelan sambil menatap Mujin kebingungan. Setelah itu dia kembali ke bangku penonton menghampiri pendekar dari Klan Kitakaze.
"Selamat kak." Chaika memeluk tubuh Chiaki tepat ketika gadis yang enerjik itu sampai di bangku penonton tempat Klan Kitakaze duduk.
"Terimakasih kembaranku..." Chiaki membalas pelukan Chaika sekejap, setelah itu dia mendorong tubuh Chaika pelan-pelan.
"Badanku berkeringat, jangan terlalu lama memelukku." Chiaki tersenyum canggung menatap Chaika.
"A-Aku ... maafkan aku." Mata Chaika berkaca-kaca terlihat seperti ingin menangis.
"Eh? Aku bercanda, sini kakak peluk." Chiaki memeluk Chaika yang menangis.
"Kakak ... sudah lepaskan aku." Chaika mencoba untuk tetap tenang, banyaknya orang di sekitar membuat Chaika kembali merasa malu. Perasaan yang sudah lama dia lupakan, kini mulai kembali merayapi tubuhnya.
"Chiaki. Kamu sangat keren." Yuri menepuk pundak Chiaki.
"Keren? Dia terlihat anggun, bukan keren. Dasar tomboy." Kenji menanggapi perkataan Yuri.
"Kenji, apa kamu sengaja membuatku marah? Kamu ingin memancing emosiku, bukan?" Yuri mengabaikan Kenji yang mendekatinya.
"Kasihan." Takao menepuk pundak Kenji dan mengeledeknya.
"Inilah kebodohanku. Aku hanya ingin Yuri menaruh perhatiannya padaku, walau aku bertingkah konyol. Setidaknya aku dekat dengan Yuri..." Kenji bergumam pelan sambil duduk di samping Owara.
"Kenji..." Takao bergumam pelan melihat Kenji yang terlihat sedih.
"Sepertinya perkataanku melukai perasaan Kenji." Takao menyadari perkataannya. Kemudian dia memberi ucapan selamat pada Chiaki.
"Selamat tuan putri Chiaki atas kemenangannya." Takao tersenyum lembut pada Chiaki.
"Kak Yuri. Aku masih belum bisa mengatur aura tubuhku yang kusalurkan pada selendang ini." Chiaki mengabaikan Takao dan berbincang dengan Yuri.
"Mau kakak ajarkan sesuatu padamu?" Yuri tersenyum pada Chiaki sambil memegang selendang yang dikenakan Chiaki. Kemudian Chiaki, Chaika dan Yuri duduk bersama di bangku penonton.
"Kwak ... kwak ... kwak." Kenji sengaja mengeledek Takao yang diabaikan ketiga gadis muda tersebut.
"Ah ... semangatku menghilang..." Takao duduk di samping Kenji dan meratapi nasibnya.
"Cih, bodoh sekali!" Umpat Renji melihat tingkah kedua temannya yang mengejar pujaan hati mereka.
___
Pena Bulu Merah✓
Di manapun kalian berada, dalam suasana hari yang masih suci ini, semoga kita semua diberi kesehatan, kesabaran dan dijauhkan dari Covid-19.
Wabah penyakit yang melanda bumi Pertiwi semoga cepat berlalu. Agar kita semua bisa beraktivitas seperti biasanya, betul gak?
Tetap stay di rumah aja. Cegah penyebaran Covid-19.
Jangan lupa ketik komentar karakter kesayangan kalian yang paling kalian sukai di sepanjang cerita Kagutsuchi Nagato.
Siapa tau saya selaku author Kagutsuchi Nagato bisa mendapatkan ide dari nama karakter kesayangan kalian.
Terimakasih yang sudah vote, like dan komen. Dukungan dalam bentuk apapun itu membuat author semakin bersemangat dalam menulis ulang dua novel yang catatannya ada di memo hp Samsung(rusak hp nya wkwkwk). Kagutsuchi Nagato dan Love in Jiu War sekarang lagi di ketik ulang, tapi enjoy aja sih. Tetap semangatoon aja ngetiknya.
#TetapSmileAja#OtwArcRevengeKagutsuchi Nagato
__ADS_1