Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 124 - Dorobo


__ADS_3

Dorobo adalah orang yang paling disegani di Ashikubi. Pada saat kecil Dorobo pernah diajari Kakek Hyogoro cara bertahan hidup. Kebanyakan penduduk wilayah Me ditangkap oleh pengawal bangsawan dan dijadikan budak. Siapapun yang lahir di Me tidak mempunyai masa depan selain bertahan hidup di dunia yang begitu keras dan kejam.


Setiap wilayah Me dipimpin masing - masing penjahat dan Ashikubi dipimpin Dorobe bersama anggota pencurinya. Hari ini Dorobo mengajak Nagato dan Litha belajar cara untuk bertahan hidup dan mempelajari cara menjadi seorang pencuri.


Hal pertama yang keluar dari mulut Nagato dan Litha adalah mereka berdua menolaknya dengan tegas. Dorobo menghela napas panjang melihat Litha yang terlihat seperti tertular kenakalan Nagato.


"Kak Nagato, aku rasa kau tidak pantas menjadi seorang pencuri jadi lebih baik Kakak ajari aku cara teknik berpedang kemarin." Asha memohon pada Nagato sambil memegang kedua kaki Nagato.


Dorobo mengerutkan dahinya karena kemarin dia tidak melihat Asha. Sejumlah pertanyaan muncul di dalam benak Dorobo yang melihat Asha memohon pada Nagato.


"Oi bocah, apa kau tahu dimana sekarang kau berada? Kalau kau mengenal Dorobo Pencuri Ashikubi maka enyahlah dari hadapanku sekarang juga!" Dorobo membentak Asha dan ingin mengusirnya karena merawat Nagato dan Litha saja sudah membuatnya kerepotan apalagi dengan kehadiran anak yang tidak dikenal seperti Asha.


"Aku akan menangkapmu..." balas Asha lirih sambil menatap Dorobo.


"Apa katamu?" Dorobo menatap dingin Asha.


"Aku akan menangkapmu pencuri kampungan!" ejek Asha dan berlindung di punggung Nagato.


Dorobo terpancing emosinya dan hendak memukul Asha tetapi Litha menahannya. Nagato menghela napas panjang karena dia juga sedikit kesal mendengar ocehan yang keluar dari mulut Dorobo dan Asha.


"Lepaskan aku Litha! Bocah ini harus ku kuliti biar dia tahu rasa !" Dorobo meledak emosinya dan terlihat seperti ingin menerkam Asha.


Asha memegang perut Nagato dengan erat karena ketakutan. Litha mendorong tubuh Dorobo menjauh dari Asha.


"Dorobo, sepertinya anak ini berasal dari keluarga kaya. Lebih baik kita korek informasi tentang keluarganya..." ucap Nagato dengan nada yang tenang sengaja menakuti Asha.


"Eh?" Litha terkejut mendengar ucapan Nagato.


"Baiklah, bocah aku sudah menduga wajahmu itu terlihat seperti orang Azbec dan Ellesmere..." Dorobo mendekati Asha pelan - pelan.


"Kurang ajar! Kau menjualku Kak Nagato. Aku akan menjadi pahlawan dan menangkap penjahat seperti kalian berdua!" teriak Asha pada Nagato dan Dorobo.

__ADS_1


Nagato memukul kepala Asha hingga membuatnya menangis. Litha melerai Nagato yang terlihat ingin menghajar pada Asha.


"Berhentu berbicara omong kosong, di dunia ini tidak ada yang namanya pahlawan!" bentak Nagato ketika melihat Asha menangis.


"Berhenti menangis, cengeng!" tambah Nagato.


Dorobo kebingungan karena melihat Nagato dan Asha bertengkar. Tidak berapa lama Dorobo memanggil anak buahnya dan menyuruh mereka untuk membeli arak.


"Nagato jangan kasar pada Asha..." Litha melerai Nagato yang terlihat seperti ingin menerkam Asha.


Hari demi hari berlalu, semakin hari Nagato semakin kesal dengan tingkah Asha yang selalu meneriakan kata pahlawan. Pagi hari mereka bertiga berpetualang menjelajahi Ashikubi dan wilayah Me, menjelang siang mereka bertiga berteduh di atas pohon besar untuk melihat pemandangan dan ketika menjelang sore mereka bertiga pergi berburu.


Nagato dan Asha selalu bertarung untuk melihat sejauh mana perkembangan nereka, dari seratus pertarungan yang mereka lakukan Asha sama sekali tidak pernah menang dari Nagato. Hingga suatu hari ketika Nagato, Litha dan Asha pergi ke pinggiran wilayah Me yang bernama Kakato, di sana mereka bertiga bertemu dengan seorang pria paruh baya yang sedang merawat seekor singa terbang yang terluka.


Nagato menatap seorang pria paruh baya dengan badan yang terlihat kekar dan berambut abu - abu tersebut. Nagato menyuruh Litha dan Asha untuk mengamati pria paruh baya tersebut dari balik pohon.


"Siapa dia? Aku merasakan jika kakek tua itu bukanlah orang sembarangan..." gumam Nagato pelan.


Tidak sampai dua detik Nagato, Litha dan Asha keluar dari balik pohon. Nagato merasakan aura yang mencekam walau dia tidak dapat melihat dan merasakannya.


"Bisma!" teriak Asha menunjuk pria paruh baya yang mengintimidasi dirinya.


"Tidak kusangka kita akan bertemu disini..." tambah Asha sebelum berlari dan memukul Bisma.


Nagato dan Litha terkejut mendengar nama Bisma karena mereka berdua pernah membaca koran yang berisi tentang artikel Lima Penguasa yang bernama Bisma.


Bisma dengan mudah memegang tangan Asha dan membantingnya. Nagato masih tidak percaya melihat Bisma tetapi dia lebih terkejut melihat singa besar yang bersayap.


"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" tanya Nagato pada Asha. Bagaimanpun Nagato belum mengetahui identitas Asha yang sebenarnya.


"Aku mengenalnya beberapa minggu yang lalu Kak Nagato..." jawab Asha dengan bangga kemudian dia menjelaskan pada Nagato ketika Asha kabur dari kediaman Bangsawan Fang yang ada di Azbec, pada saat itu Bisma yang selalu melindungi dirinya. Pertemuan Bisma dan Asha juga tidak terduga karena saat itu Asha melihat Bisma yang sedang membakar ikan dan meminta pertolong padanya.

__ADS_1


Asha menjelaskan pada Nagato jika dia tersesat di hutan dan berpisah dengan Bisma sehingga dia hampir ditangkap prajurit dari Azbec.


"Asha, ada satu hal yang ingin kutanyakan. Mengapa kau kabur dari rumahmu? Bukankah kau seorang bangsawan?" tanya Nagato pada Asha.


"Aku tidak bebas ketika di rumah. Orang tuaku dan kakak kandungku membeli budak dan menyiksa budak - buda yang mereka beli. Aku menentang perbuatan keluargaku tetapi mereka menganggap perkataanku hanya sebagai lelucon..." jelas Asha pada Nagato.


"Azbec adalah negeri yang menyedihkan. Seorang raja yang bekerja sama dengan penjahat tidak pantas menjadi raja. Black Madia dan Magma selalu menggunakan kekuasaan mereka semena - mena." tambah Asah.


"Jadi itu alasanmu ingin menjadi seorang pahlawan?" sahut Litha setelah mendengarkan perkataan Asha.


Nagato diam sesaat setelah mendengar perkataan Asha. Banyak pertanyaan yang ingin Nagato tanyakan pada Asha tetapi dia lebih memilih mengurungkan niatnya.


Nagato ingin bertanya tentang kabar ibu dan ayahnya, walaupun secara fisik Nagato terlihat baik - baik saja tetapi raganya masih berharap jika orang tuanya masih hidup.


"Aku akan menjadi pahlawan dan menangkap keluargaku bersama Magma dan Black Madia." jawab Asha sambil menatap Litha tajam.


"Percuma... kau saja tidak pernah mengalahkanku. Kau seharusnya beruntung karena masih memiliki orang tua. Kabur dari rumah? Kau pikir hidup ini mudah?" sahut Nagato menatap tajam Asha.


"Tidak selamanya memiliki keluarga itu bahagia. Justru karena kita masih keluarga itu adalah takdir yang paling menyakitkan." jawab Asha dan memalingkan wajahnya ke samping tidak melihat Nagato.


Nagato tersenyum tipis mendengar jawaban Asha karena dia hanya ingin mendengar sendiri kata hati Asha yang sebenarnya.


"Jika kau ingin menjadi pahlawan maka aku akan menjadi penjahat." canda Nagato sambil meremas rambut Asha.


"Kak Nagato terlalu mengidolakan Hiryuu! Bagaimanapun Hiryuu adalah penjahat yang berbahaya dan aku akan menangkapnya suatu hari nanti!" Asha mendorong tubuh Nagato ke belakang.


"Apa katamu?! Katakan itu setelah kau mengalahkanku sialan!" bentak Nagato memukul perut Asha.


Asha menangis setelah perutnya dipukul Nagato. Tidak berapa lama Bisma memberi makan singa terbang dengan daging rusa mentah.


"Di Benua Ezoo ada anak - anak yang menarik. Hiryuu, sepertinya aku melihat anak yang mewarisi tekadmu disini." batin Bisma menatap tajam Nagato.

__ADS_1


__ADS_2