
“Kalian berdua tidak akan bisa mengalahkanku!” Ignist melepaskan auranya. Seketika tangan kanannya dipenuh api sebelum lava mulai kembali berjatuhan.
“Mati!” Pukulannya menembus perut Shin dan Mujin. Tidak butuh waktu lama bagi Ignist untuk membunuh keduanya. Tetapi ada satu hal yang membuatnya ingin melanjutkan pembantaian ini karena mengingat senyuman Emi dan lainnya.
Senyuman saat menjelang kematian dari mereka membuat Ignist merasa kalah jika tidak membunuh semua orang yang ada di Ibukota Daifuzen.
Ignist bergerak dengan kecepatan tinggi dan menyerang Iris yang sedang memegang tangan Shirayuki. Namun Hana menahan tangan Ignist dengan selendangnya.
“Kenapa kalian mencari seseorang yang tidak kami ketahui?!” Hana memainkan selendangnya dan menghempaskan tubuh Ignist.
“Aku tidak punya hak untuk menjawab pertanyaanmu itu!” Ignist melihat Hana yang seakan-akan melindungi Iris dan Hanabi sehingga dia bergerak menyerang Hanabi yang sedang tergeletak dengan wajah pucat pasi.
Hantaman tangannya memukul perut Hanabi. Melihat itu, Iris, Nagato, Litha, Hika dan Tika langsung berteriak dan menyerang Ignist.
“Kalian tidak akan mampu melawanku, bocah!” Ignist menghempaskan kelimanya dalam satu kali ayunan tangannya.
Shirayuki berusaha kembali berdiri dan menyelamatkan Hanabi yang diincar kembali oleh Ignist. Sementara itu Hana mengikat tubuh Ignist dengan selendangnya.
“Racun apa yang kau berikan pada anakku?!” Hana berteriak histeris karena Ignist benar-benar tidak segan membunuh anaknya.
“Entahlah. Aku hanya memukulnya. Tetapi racun itu akan membunuhnya sama seperti saat aku menyiksa ribuan orang bermarga Kagutsuchi.” Ignist mengeraskan tubuhnya. Ketika dia merasa selendang milik Hana semakin mengekangnya. Ignist tersenyum sinis dan mengubah wujudnya menjadi Naga Merah.
“Aku akan memanggang kalian semua!” Wujud Naga Merah Ignist terlihat penuh dengan luka. Tusukan pedang Emi dan yang lainnya terpampang jelas di tubuhnya.
Mulutnya membuka dan menyemburkan api ke arah Nagato dan yang lainnya. Api itu membesar untuk sesaat, tak lama perlahan mulai mengecil. Ignist terbang lebih tinggi untuk mengamati keadaan disekitarnya.
“Kalian cepat pergi dari sini!” Hound menatap ke arah Nagato dan yang lainnya. Kedua telapak tangannya penuh dengan luka bakar.
Hound menyerap semburan api dari mulut Ignist yang mengubah wujudnya menjadi Naga Merah. Luka dalam dari kekuatan dahsyat itu benar-benar terasa. Hound bukanlah orang kuat seperti ayah, kakak dan adiknya. Tetapi satu hal sekarang yang ingin dilakukan Hound adalah membawa Nagato pergi dan menyembuhkan penyakit jantung pemuda tersebut demi memenuhi keinginan Uzui.
“Sial! Hampir saja aku mati! Untung saja aku dapat menyerap api ini!” Hound memuntahkan darah sebelum terhuyung. Tentu api dari semburan Ignist berbeda dengan api biasa. Tubuhnya terasa terbakar walau dia sendiri pengguna Air Suci Tipe Elemen : Api.
“Luka dalam ini...” Hound merasakan sekujur tubuhnya terasa hancur. Kemudian dia berteriak karena menahan rasa sakit yang merayapi sekujur tubuhnya.
__ADS_1
“Kau kenapa selalu menyelamatkan kami?!” Nagato bertanya pada Hound yang mengerang kesakitan.
Hound tersenyum, “Tidak alasan khusus. Jangan sia-siakan pengorbananku ini! Cepat pergi!” Hound berteriak. Dia sadar api yang dia serap menyebabkan luka dalam di tubuhnya.
Namun Hound justru tersenyum dan tidak menyesal sedikitpun. Walaupun umurnya mungkin tidak panjang karena tubuhnya tidak mampu menahan api yang dia serap dari Naga Merah, tetapi Hound merasa jika inilah yang terbaik.
Hana dan Shirayuki saling berpandangan sebelum berlari ke arah bagian selatan yang terlihat sepi. Oichi, Iris, Hika, Tika dan Nagato berlari mengikuti Hana dan Shirayuki. Sementara Litha justru menghampiri Hound terlebih dahulu.
“Apakah kau baik-baik saja? Terimakasih telah menyelamatkan kami. Aku akan membantumu...” Litha menatap Hound yang sedang meringis kesakitan.
“Aku baik-baik saja, gadis kecil yang manis.” Hound menyentuh rambut Litha dan tersenyum ramah.
Litha memegang tangan Hound dan menangis. Wajah Hound terkejut melihat gadis muda yang menyembunyikan ketakutannya itu. Terlihat saat ini Litha begitu rapuh.
“Jika aku tidak bisa lari dari kematian... Bisakah aku memohon padamu satu hal. Tolong selamatkan Kakak Soren...” Litha menangis, kemudian langsung menyeka air matanya.
“Soren? Siapa dia?” Hound menaikan alisnya menatap Litha.
“Kau sangat baik hati. Mari kita pergi mengejar mereka." Hound menarik tangan Litha dan mengejar Shirayuki.
Nagato dan Iris menoleh ke belakang dan memperlambat langkah kaki mereka karana melihat Hound dan Litha berpegangan tangan.
Ignist dari atas melihat Shirayuki dan yang lainnya masih hidup. Sehingga dia menyemburkan api pada mereka.
“Masih hidup? Apa dia yang menghentikan seranganku?!” Ignist menyipitkan matanya dan menatap Hound. Kemudian mulutnya membuka membentuk bola lava dalam bentuk yang besar.
Shirayuki menyadari Ignist akan menyerang mereka sehingga dia langsung berteriak pada Nagato dan yang lainnya untuk berpencar.
“Berpencar! Pikirkan cara untuk bertahan hidup!” Shirayuki menarik tangan Oichi, sementara Hana membawa tubuh Hanabi.
Nagato, Iris dan Litha berlari berlawanan arah. Sementara Hound merasakan bahaya dari serangan tersebut. Hound berniat menahannya atau menyerapnya tetapi tubuhnya tidak mungkin dapat menerima semburan lava itu.
“Hika! Tika! Jangan berhenti berlari!” Ichiba berteriak pada kedua anaknya.
__ADS_1
Semburan lava itu meledakkan tanah Ibukota Daifuzen yang menjadi sasaran serangannya. Ignist terbang lebih tinggi dan turun perlahan ke bawah mendekati Black Rhino dan Karakurt.
“Black Rhino! Karakurt! Apa kalian sudah membereskan orang-orang di bawah situ?!” Mulut Ignist membuka dalam wujud Naga Merah-nya.
“Tuan Ignist! Karakurt sedang menyiksa jendral dari negeri yang bernama Kai! Tenang saja kami akan membereskan mereka!” Black Rhino yang menjawab, sementara Karakurt terus melepaskan asap gas belerang.
“Tetapi aku tidak menyangka wanita itu datang kembali kesini! Aku samar-samar merasakan Tenkai yang begitu besar. Kurasa dia akan langsung mengarah ke tempat ini!” Ignist sadar jika aura tubuhnya yang mencekam dan nafsu membunuhnya dapat Ophys rasakan dari kejauhan.
Raido yang sedang menyiksa prajurit militer Kekaisaran Rakuza terkejut mendengar perkataan Ignist.
‘Menarik! Jika dia bertarung melawan Ophys, maka ini akan menjadi kesempatan untuk melumpuhkan salah satu dari empat Panglima Empat Penjuru!’ Raido tertawa lepas. Kemudian dia melihat Nagato, Iris dan Litha melarikan diri ke arah barat.
“Bocah-bocah itu!” Raido tersenyum lebar sebelum menggunakan kekuatan petir miliknya dan bergerak dengan kecepatan tinggi.
Terlihat Ignist kembali mengubah wujudnya menjadi manusia dan berdiri di samping Black Rhino.
“Kota ini menjadi sungai berdarah. Ini pemandangan yang menakjubkan. Apa mereka semua tidak mengetahui keberadaan pendekar silat dari Negeri Jaya?” Ignist bertanya pada Black Rhino yang sedang dalam wujud Badak Hitam.
“Tidak ada yang mengetahuinya. Keluarga Prabu maupun pendekar silat dari Benua Raya dan Negeri Jaya. Bahkan mereka hanya mengetahui Klan Kagutsuchi yang telah musnah di tangan kita. Tugas kita selesai, Tuan Ignist.” Black Rhino tersenyum tipis dan menatap tubuh Ignist yang terluka itu.
“Anda memang yang terkuat. Andai saja Tuan Ignist tidak terbang melewati lautan dalam bentuk Naga selama berhari-hari. Mungkin dalam satu kali amukan, mereka semua akan mati...” Black Rhino menambahkan, sambil tertawa lepas.
“Apa maksudmu?! Apa kau berpikir jika aku ini lemah?!” Ignist menatap dingin Black Rhino.
“Tidak, hanya saja bagaimana dengan kelompok itu?” Black Rhino menyinggung Ophys yang datang dengan Paus Terbang.
Ignist sangat mengetahui jika Paus Terbang, markas dari Ophys adalah tempat tinggal kelompok dari Ratu Iblis itu. Jika Ophys datang dengan dua anggotanya seperti dulu, maka dia dengan senang hati melayani mereka. Tetapi kondisi tubuh Ignist tidak memungkinkan, bahkan ada kemungkinan Ophys membawa lebih dari dua anggotanya.
Ignist hanya berharap Ophys membawa dua anggotanya. Jika lebih, maka itu akan menjadi kerugiannya karena saat ini kekuatannya benar-benar berkurang drastis setelah terbang selama berhari-hari melewati lautan dalam wujud Naga Merah-nya, tentu saja Ignist tidak dalam kondisi terpenuhinya.
“Bunuh sebanyak mungkin! Apa kau takut dengan mereka?!” Ignist menatap dingin Black Rhino yang tertawa setelah mendengar perkataannya.
“Sesuai yang anda perintahkan. Aku akan membunuh sebanyak mungkin dari mereka ini!” Blakc Rhino melepaskan hawa membunuh dalan wujud Badak Hitam.
__ADS_1