
"Ini yang aku tunggu. Ayo bertaruh denganku!" Salah satu pria paruh baya terlihat bersemangat.
"Aku pegang Fuyumi Nagato!"
"Aku yakin Kitakaze Takao yang akan memenangkannya!"
Penonton mulai memberikan pendapat mereka masing-masing. Angin berhembus seiring dengan kedatangan Takao yang berdiri di depan Nagato.
"Aku merasa kesal sendiri melihat rubah putih ini!" Renji membatin menatap tajam Nagato yang sedang berdiri di depannya.
"Ambil jarak!" Mujin langsung berniat memulai pertandingan antara Nagato melawan Takao.
"Pertandingan antara Fuyumi Nagato melawan Kitakaze Takao..." Mujin menarik napas dalam-dalam sebelum berteriak, "Di mulai!"
Serangan pertama dilakukan oleh Takao yang langsung mengayunkan pedangnya mengincar Nagato. Dengan segenap kekuatannya, Takao berniat menyerang Nagato dengan serius sejak awal pertandingan, entah mengapa Takao merasa kesal melihat Nagato.
"Tebasan Angin Utara."
Takao mengayunkan pedangnya lebih cepat dari sebelumnya, langkah kakinya bahkan sangat cepat karena pergerakannya mampu membuat Nagato terus mundur ke belakang.
"Bara Api!"
Nagato melepaskan elemen apinya bersamaan dengan aura tubuhnya yang berwarna emas. Dia kumpulkan aura tubuhnya di kepalan tangan kanannya, kemudian dia pusatkan api-api yang membara secara menyeluruh di tangan kanannya. Setelah itu Nagato mengimbangi tebasan Takao dengan hindarannya.
"Dia!" Takao terkejut melihat Nagato. Batinnya berdecak kesal melihat lawannya tidak menggunakan pedangnya sama sekali, bahkan tebasan pedangnya tidak mampu mengenai Nagato.
Semua mata tertuju pada tangan Nagato yang berwarna jingga keemasan. Tidak berapa lama tangan Nagato berkobar seperti api dan mengarahkan pukulan tangannya ke arah Takao.
Tangan Nagato terlihat seperti memanjang membentuk sebuah pukulan api yang melesat cepat ke arah Takao. Bersamaan dengan pukulan tangannya yang melesat cepat ke arah Takao, dengan gesit Nagato mundur ke belakang untuk mencari celah menyerang kembali.
Takao melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hijau muda. Kemudian dia menebaskan pedangnya yang diisi tenaga dalam ke arah pukulan api yang dilancarkan Nagato.
Dari tebasan pedang Takao keluar angin padat berbentuk sabit yang melesat cepat ke arah pukulan api Nagato. Penonton berdecak kagum ketika benturan terjadi, pukulan api Nagato melesat ke atas dan berkobar.
"Angin memang merepotkan," batin Nagato sambil menatap api yang berkobar di atas sebelum menghilang bagaikan debu yang lenyap tak bersisa.
"Pernapasan Sirih." Nagato menarik napas dalam-dalam. Matanya memejam mencoba menyatu dengan suara riuh penonton. Kemudian dia buang suara tersebut jauh-jauh dari dalam pikirannya.
Nagato mencoba merasakan suara napas Takao yang menjadi lawannya, dirinya merasa melihat sebuah aura berwarna hijau muda yang sedang berlari ke arahnya. Walau matanya terpejam, Nagato bersyukur karena konsentrasi penuh yang dia lakukan semakin berkembang.
Ajaran dari Kakek Hyogoro dia gunakan dan saran dari Bisma yang melatihnya selama setahun juga dia gunakan. Kini Nagato merasa tenggelam di dasar lautan yang gelap dan di sana dia melihat kembali sebuah gerbang hitam.
Hening dan sebuah ketenangan di rasakan Nagato saat ini. Semua orang yang melihat pertarungan di lapangan Arena Lingkaran Harimau hanya menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya.
Terlihat Takao bersusah payah mencoba mendaratkan tebasan pedangnya di tubuh Nagato tetapi tidak ada satupun dari tebasannya yang mengenai Nagato.
Jika Nagato melepas topeng rubah putihnya maka akan terlihat jelas wajah rupawan dan mata yang dingin itu sedang memejam.
Hembusan napas Takao memburu, tidak berapa lama dia terengah-rengah. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Nagato untuk melakukan serangan balasan.
"Hembusan Angin Tak Kasat Mata."
Takao menjaga jarak dari Nagato dan mengolah pernapasan. Tidak berapa lama dadanya mengembung, setelah itu dia hembuskan bola-bola angin dari mulutnya ke arah Nagato.
__ADS_1
Dengan cekatan, Nagato membuat sebuah pelindung yang agak jauh darinya. Ketika angin dan api berbenturan kembali, pelindung api Nagato berkobar lebih membara dari sebelumnya.
"Aku harus mengisi tenagaku!" Takao berdecak kesal karena telah meremehkan Nagato. Kekesalannya pada Nagato membuatnya menjadi lupa diri. Sekarang dia sadar jika kesempatannya untuk lolos ke babak 32 besar cukup kecil.
Tetapi harapan di hati Takao masih menyala, dia berharap bisa sejejar dengan gadis yang dia suka. Matanya memejam mengingat Chiaki yang tidak pernah bersikap ramah padanya. Bahkan gadis kembar itu terlihat sangat membenci dirinya.
"Kalau dipikir sejak kedatangan anak tampan waktu itu..." Takao tiba-tiba mengingat dirinya yang hendak mendorong tubuh Nagato ketika pemuda itu berkunjung ke kediaman Klan Kitakaze tujuh tahun yang lalu.
"Bukan wakutnya untuk merenung. Jika aku kalah maka itu adalah kesalahanku sendiri!" Takao mulai tenang. Sekarang aliran napasnya sangat normal, aura yang keluar dari tubuhnya begitu tenang.
"Aku terlalu sombong! Sebenarnya aku hanya ingin mendapat perhatian Tuan Putri Chiaki! Hanya itu yang kuinginkan!" Takao melepaskan auranya yang besar bersamaan dengan elemen angin miliknya, hembusan angin yang besar membuat Mujin melindungi matanya dengan tangan agar tidak terkena debu.
Aura yang keluar dari tubuh Takao begitu besar, sebesar perasaannya kepada Chiaki yang bertepuk sebelah tangan.
"Menarik..." Nagato kini membuka matanya, konsentrasi buyar karena tidak bisa melihat sebuah aura berwarna hijau muda kembali.
Takao kembali melesatkan puluhan bola-bola api dari mulutnya. Melihat Nagato yang menghindari serangannya, Takao menebaskan pedangnya dari jauh menciptakan sebuah angin padat berbentuk sabit yang melesat cepat ke arah Nagato.
Serangan Takao terus mengenai tanah dan rerumputan yang ada di lapangan. Sedangkan Nagato berlari mendekati Takao untuk mencoba bertarung jarak dekat dengan lawannya itu.
Melihat tiga pertandingan yang dilakukan Nagato tentu kebanyakan orang berpikir jika Nagato ahli dalam bela diri tangan kosong, dan pedang hitam yang memiliki bilah tipis itu hanya sebuah pajangan saja.
Nagato tidak peduli dengan pendapat orang, jujur dia takut terbiasa mengayunkan pedangnya pada manusia dan membunuh orang. Semakin terbiasa membunuh maka akan menjadi kebiasaan, walau mentalnya hancur dan hatinya tenggelam dalam kegelapan yang tak bercahaya. Sebagian hati Nagato masih ada secercah cahaya yang menghangatkan perasaannya.
Nagato sendiri mempunyai seorang ayah dan ibu yang sangat baik hati. Walaupun dia akan menjadi seorang pembunuh berdarah dingin ataupun pendendam, sifat dan kebaikan orang tuanya juga menurun pada Nagato.
Semua penonton melihat tubuh Nagato yang seperti terbakar, sedangkan Takao terus memberikan serangan dari jarak jauh.
"Seperti kata Kakek Bisma. Jika kita bisa mengeluarkan seluruh potensi manusia maka bukan tidak mungkin kita akan menjadi orang yang kuat!" Nagato memanipulasi aura tubuhnya yang berwarna emas menjadi api.
Aura emas Nagato yang berbenturan dengan aura hijau muda Takao dalam sekejap terbakar api. Kobaran api terlihat di udara mengarah cepat ke arah Takao.
Aura emas milik Nagato yang berubah menjadi api melahap aura hijau muda milik Takao.
"Anak ini! Dia bisa memanfaatkan aura lawannya seperti ini! Sebenarnya siapa dia?" Mujin berdecak kagum melihat Nagato yang sangat mahir memanipulasi aura tubuhnya.
"Api merambat ke arahku! Bagaimana bisa?" Takao menekan aura tubuhnya. Tetapi api terus berkobar dan membara melesat ke arahnya.
Wajah Takao berkeringat dingin melihat api yang melesat cepat ke arahnya. Takao ingin menyerah namun harga dirinya terlalu tinggi, jika dia menyerah maka dia tidak mempunyai muka untuk bertemu Chiaki.
"Masa bodoh! Sial!" Takao berteriak sambil berlari ke arah api yang dilancarkan Nagato. Tindakannya membuat semua orang kebingungan, tangan Takao terus mengayunkan pedangnya.
Tidak berapa lama Takao memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran angin. Sekarang dia telah masuk ke dalam jangkauan serangan Nagato. Bahkan dirinya merasa hanya berlari kesana kemari memutari telapak tangan Nagato.
Pusaran angin bercampur api menjadi pemandangan indah bagi penonton. Tidak berapa lama api-api yang berkobar di udara menghilang.
Nagato sudah berdiri di depan Takao. Ternyata Nagato sengaja memancing emosi Takao agar mendekatinya, sekarang Nagato terlihat seperti menghilang karena pemuda itu sudah berada di belakang Takao.
Langkah kaki yang cepat dari Nagato membuat beberapa penonton tidak percaya. Nagato terlihat seolah menghilang dari pandangan.
"Bagaimana bisa-" Takao terkejut melihat Nagato yang sudah ada di belakangnya. Belum sempat dia bereaksi untuk menyerang Nagato dirinya sudah amburk jatuh ke tanah.
Nagato memukul tengkuk leher Takao dengan pisau tangannya. Tindakan Nagato membuat penonton berdecak kagum. Mereka merasa Nagato masih menyembunyikan kekuatannya yang lain.
__ADS_1
Mujin memberi isyarat untuk mengakhiri pertandingan. Pandangan matanya terarah pada Nagato yang sudah berjalan kembali menuju bangku penonton pendekar Klan Fuyumi sebelum dirinya mengumumkan pemenangnya.
"Karena Kitakaze Takao telah pingsan, maka pemenangnya adalah Fuyumi Nagato!" Suara dari Mujin membuat penonton bergemuruh.
Sedangkan penonton perempuan berteriak histeris melihat Nagato yang berjalan dengan dinginnya meninggalkan Mujin yang belum mengumumkan pemenang pertandingan antara Nagato melawan Takao.
"Fuyumi Nagato! Kamu keren!"
"Rubah putih aku padamu!"
"Kya! Fuyumi Nagato keren sekali!"
Tangan Nagato mengepal mendengar suara riuh penonton perempuan yang memanggil namanya.
"Fuyumi Nagato, katamu?" Nagato membatin kesal.
Nagato kembali duduk di samping Litha dan Iris sambil menghela napas panjang.
"Selamat Nagato!" Litha, Hika dan Tika memberi selamat pada Nagato secara bersamaan.
Nagato hanya menatap mereka bertiga sesaat kemudian mengalihkan pandangan matanya menonton pertandingan selanjutnya.
Iris hanya diam tidak menyapa Nagato. Saat ini gadis cantik itu masih mengingat janji Nagato dengan Hisui. Jika Iris mengingat itu, dia merasa cemburu pada adik sepupunya itu.
___
Pena Bulu Merah✓
Insyaallah malam minggu tgl 06-Juni-2020 up sampai chapter 185 biar yang jomblo ditemenin Shirayuki untuk mas-mas semua, nah kalau yang mba-nya Nagato wkwkwk. Ini gak janji loh ya, cuma kuusahakan, soalnya lagi ada proyek baru hehe. Kalau malming gak up sampai 185 ya besoknya lah pas hari minggu.
Jangan lupa baca Love in Jiu War. Promo sekalian. Di LJW lagi nambahin alur cerita soalnya babak di Nagato panjang sedang Ming Fengying alurnya cepat. Penginnya sama-sama ketemu gitu di Benua Jiu biar greget.
Di Kagutsuchi Nagato ada alur cerita baru tuh yang lautan iblis atau laut selatan. Author baru kepikiran kalau pernah ngetik itu. Pokoknya ada kejutan dah pas Nagato dan Nakama-nya pergi meninggalkan Benua Ezzo. Sekarang baru proses ide belum ngetik.
Pernah baca kan tentang Roh Sang Hitam yang nyuruh Nagato nyari keempat pemegang takdir yang lain. Di chapter 37 - Bahu-membahu. Ada bocoran nama karakter teman Nagato yang termasuk dalam keempat orang pemegang takdir yang lain.
Sang Hitam : Kagutsuchi Nagato
Sang Merah : Tsukuyomi Kenshin (Ming Fengying)
Sang Biru : Y_____U
Sang Putih : Kitsune Hiryuu(Before)
Kitsune K___R_(After)
Sang Hijau. : Muramasa Honjo(bukan teman)
Pemanis aja ya numpang lewat, makasih udah membaca.
___
IG : pena_bulu_merah
__ADS_1