Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 204 - Hisui vs Muromachi Midorimachi


__ADS_3

Kedua peserta sedang dalam perjalanan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Suara gemuruh penonton membuat kedua peserta masih tidak bergeming dengan tujuan utama mereka.


Gyuki menaikan alisnya menatap Hisui. Baru kali ini dia melihat peserta yang berjalan gembira dan pikirannya melayang entah kemana. Pikiran yang tidak fokus pada sebuah pertandingan, namun fokus pada sesuatu yang lainnya. Gyuki merasa Hisui sedang tidak terlalu fokus pada pertandingan Turnamen Harimau Kai dan menganggap ajang kompetisi pertarungan ini sebagai sebuah permainan.


"Tuan Putri dari Kaisar Kai memang hebat," batin Gyuki sambil menghela napas panjang. Tetapi pria itu berharap Hisui memiliki kekuatan yang sama dengan garis keturunannya. Garis keturunan ibunya yaitu Fuyumi Yuki.


Pandangan matanya melirik pemuda berambut hijau yang terlihat antusias tetapi entah kenapa raut wajah pemuda itu sedikit ragu. Gyuki bisa mengerti mengapa Midorimachi memasang raut wajah seperti itu, mengingat lawannya adalah anak dari Kaisar Hizen dan itu membuat kepercayaan diri pemuda berambut hijau itu menciut.


Midorimachi terlihat sangat antusias karena berhasil lolos ke babak 32 besar Turnamen Harimau Kai tetapi lawannya sekarang adalah Hisui. Rasa antusias dalam dirinya mulai menghilang, dia merasa tidak boleh menyakiti sosok Tuan Putri yang merupakan anak dari Kaisar Hizen.


Sebelum bertanding, Gyuki menatap tatapan mata Hisui dan Midorimachi. Pria itu ingin melihat tekad masing-masing kedua peserta tersebut, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah menatap kedua mata peserta dengan waktu yang cukup lama.


"Pertandingan babak 32 besar Turnamen Harimau Kai dipilih secara acak oleh orang yang bernama Satra. Orang itu bisa kalian lihat sedang duduk di sana." Gyuki dengan gaya bicaranya yang santai menunjuk Satra. Sedangkan Hisui dan Midorimachi tidak percaya Gyuki akan berkata seperti itu.


"Apa kalian berdua tidak keberatan dengan keputusan ini?" Gyuki bertanya pada Hisui dan Midorimachi.


Hisui menggelengkan kepalanya sambil menatap Gyuki, sedangkan Midorimachi berpikir sejenak sebelum dia mengeluarkan isi hatinya yang mengganjal.


"Sebenarnya aku keberatan dan aku ingin mengundurkan diri ... aku merasa tidak bisa melukai Tuan Putri Hisui. Sebenarnya aku sangat senang masuk ke babak 32 besar, bahkan aku tidak percaya tetapi aku tidak bisa melawan-" Hisui geram mendengar Midorimachi yang berbicara sangat penuh dengan keraguan itu.


"Aku benci laki-laki seperti kamu! Tinggal anggap aku sebagai anak biasa, masalah selesai! Kenapa kalian selalu saja menganggap aku sebagai seorang Tuan Putri?" Hisui terlihat emosi. Matanya yang sayu melebar.


Gyuki menghela napas panjang dan menenangkan kedua peserta yang ada di hadapannya itu.


"Tuan Putri Hisui jika Midorimachi menginginkan untuk memundurkan diri maka itu sudah menjadi keputusannya."Gyuki melirik Hisui sesaat, setelah itu dia menatap tajam Midorimachi.


"Tetapi-"


"Midorimachi, apa kau yakin ingin mengundurkan diri. Kesempatan tidak akan datang dua kali, dan penyesalan selalu datang belakangan. Kau bilang ingin mengundurkan diri. Kau mengatakan itu dengan cukup percaya diri, jika kulihat baik-baik mungkin kau memang tidak akan bisa melukai Tuan Putri Hisui mengingat kemampuanmu belum tentu lebih baik dari Tuan Putri Hisui." Gyuki memotong perkataan Hisui dan sengaja memprovokasi Midorimachi.


"Jika itu keputusanmu sudah bulat maka aku akan mengumumkan Tuan Putri-"


"Tunggu sebentar!" Midorimachi memotong perkataan Gyuki. Pemuda itu mengepalkan tangannya dengan erat. "Jika dipikir Tuan Putri Hisui dapat mengalahkan Gurojimaru yang kekuatannya jauh di atasku. Ini bisa menjadi kesempatanku untuk membuktikan kekuatan Tuan Putri Hisui yang dapat mengalahkan Gurojimaru," batin Midorimachi sembari mengumpulkan kepercayaan dirinya yang menguap secara perlahan itu.


Midorimachi tersenyum tipis dan dia membulatkan tekadnya untuk bertarung melawan Hisui. Pemuda itu berkata dengan penuh percaya diri. "Aku tidak akan mengundurkan diri!" Senyuman menyeringai di wajah Midorimachi.


"Aku tidak akan segan-segan melawanmu!" Hisui mundur menjaga jarak tanpa tersenyum sedikitpun. Dalam hatinya dia membatin mengingat Nagato. "Hanya Kakak Tampan yang memperlakukanku seperti anak biasa. Andai saja aku sejak kecil berteman dengan Kakak Tampan, pasti hari-hari yang aku lewati akan terasa menyenangkan."


Setelah Hisui dan Midorimachi berdiri di jarak yang telah ditentukan, Gyuki menarik napas dalam-dalam dan bersuara lantang untuk memulai aba-aba pertandingan.


"Pertandingan keenam babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Tuan Putri Hisui melawan Muromachi Midorimachi dimulai!" Gyuki melompat ke belakang dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.


Hisui tersenyum tipis, tangannya meremas dan langsung memulai serangan pembuka. Gadis bermata sayu itu menjentikkan jarinya sembari bergumam pelan, "Jurus Pengikat Keindahan Alam." Hisui dengan lihainya memulai serangan jarak jauh.


Midorimachi telah mengantisipasi serangan pembuka Hisui, tetapi tetap saja tanah yang tiba-tiba bergoyang dan akar-akar yang keluar dari dalam tanah membuatnya terlambat bereaksi. Perlahan kedua kakinya terjerat akar pohon, selang beberapa detik kemudian akar-akar tersebut merambat ke seluruh tubuhnya.


"Jurus Pengikat Keindahan Alam : Cengkeraman Akar."


Di balik sifatnya yang riang dan wajahnya yang terkesan lucu dan imut, teknik yang digunakan Hisui justru terlihat cukup sadis. Tubuh Midorimachi terlilit akar-akar yang mengikat seluruh tubuhnya, bahkan terlihat jelas jika tubuh Midorimachi seperti diremas oleh akar tersebut.


Midorimachi melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hijau dan memusatkannya ke seluruh tubuhnya. Dengan sekuat tenaga Midorimachi berteriak sembari mencoba melepaskan tubuhnya dari cengkeraman akar-akar yang mengekangnya.


"Aku harus memusatkan seluruh aura di kedua tangan dan kakiku. Ternyata akar-akar ini mengikatku lebih kuat dari yang kukira!" Midorimachi menatap tajam Hisui. Tangan dan kakinya dilapisi aura tubuh berwarna hijau. Kali ini dia terlihat seperti orang yang memberontak dan berhasil menghancurkan akar-akar yang mengekangnya.

__ADS_1


Pertama akar yang mengikat tangannya hancur, kemudian akar yang mengikat kakinya juga hancur, setelah itu Midorimachi memukul semua akar yang bergerak dan mengikat tubuhnya.


Hisui tersenyum sesaat karena dia akhirnya dapat bertarung dengan dekuat tenaganya. Bibir mungilnya merekah dan dia bergumam lirih, "Jurus Pengikat Keindahan Alam : Tusukan Seribu Akar."


Bahkan setelah Midorimachi berhasil menghancurkan akar-akar yang mengekang tubuhnya masih saja muncul akar yang lain. Tanah yang dia pijak mulai muncul akar yang lancip dan terlihat tajam, dengan cekatan Midorimachi bergerak ke arah Hisui.


Kepalan tangan kanan Midorimachi bercahaya berwarna hijau terang, tidak berapa lama senyuman lebar menyeringai di wajah Midorimachi.


"Ledakan Hijau Menggelegar!"


Pukulan aura Midorimachi melesat cepat ke arah Hisui. Sebuah kepalan tangan yang terbentuk dari aura tubuh sudah berada tepat di depan Hisui.


"Tumbuhan Pelindung!"


Daun-daun mulai berputar di tubuh Hisui, sedangkan tanaman membentuk sebuah dinding untuk menahan pukulan tangan aura Midorimachi. Benturan terjadi ketika pukulan tangan aura Midorimachi menghantam tanaman yang membentuk dinding pelindung Hisui.


"Serangan ini!" Hisui terkejut karena pukulan tangan aura Midorimachi meledak, tubuh Hisui terpental jauh ke belakang. Gadis bermata sayu itu langsung memutarkan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak.


Penonton berdecak kagum melihat pertandingan babak 32 besar yang tersaji di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Hisui terlihat sangat anggun ketika gadis bermata sayu terus berusaha, keringat yang membasahi wajahnya membuat Hisui menjadi lebih mempesona.


Midorimachi tersenyum tipis karena Hisui berhasil lolos dari serangan kejutannya. Pemuda itu membatin dalam hatinya memuji Hisui. "Sebagai seorang Tuan Putri ternyata dia memiliki kemampuan bela diri yang hebat. Aku kagum padanya, tetapi Tuan Putri Hisui memiliki sifat yang berbeda dengan kakaknya."


Midorimachi memusatkan aura tubuhnya di telapak kakinya sehingga akar-akar yang tajam tidak menembus kulit telapak kakinya. Pemuda itu kembali melancarkan serangan pukulan beruntun ketika berlari ke arah Hisui.


"Aku harus bisa menghindari pukulan tangannya!" Hisui dengan matanya yang sayu namun terlihat serius itu mencoba membaca arah gerakan pukulan tangan Midorimachi. Semua orang terdiam ketika melihat wajah Hisui terkena pukulan tangan Midorimachi.


"Aduh, aku memukul wajahnya! Bagaimana ini, wajah cantik Tuan Putri Hisui akan terluka!" Midorimachi berkeringat dingin kebingungan.


"Kupikir mataku sudah melihatnya dengan jelas. Apa ada yang salah dengan mataku ini?" Hisui membatin dalam hatinya. Kemudian dia membalas serangan Midorimachi dengan pukulan tangannya.


Kini keduanya beradu pukulan, Midorimachi mencoba untuk menenangkan dirinya karena Hisui terlihat masih baik-baik saja setelah terkena pukulan tangannya.


Tangan Midorimachi kembali bercahaya berwarna hijau, kemudian dia arahkan pukulan tangannya pada dada Hisui.


"Kali ini aku bisa menangkisnya." Hisui dengan gerakan tangan yang lembut namun berisi berhasil menangkis pukulan tangan Midorimachi. Setelah itu dia melakukan gerakan sikutan kanan mengincar wajah Midorimachi.


"Tuan Putri Hisui!" Midorimachi cukup terkejut melihat Hisui yang menangkis pukulan tangannya bahkan sekarang gadis bermata sayu itu melancarkan serangan sikutan kanan pada wajahnya.


Hisui tersenyum tipis ketika sikutan tangan kanannya berhasil mengenai wajah Midorimachi. Perlahan gadis bermata sayu itu kembali melancarkan tendangan kakinya.


Midorimachi terhuyung dan menggelengkan kepalanya berkali-kali, setelah itu dia menghindari tendangan kaki Hisui. Matanya melihat jelas tendangan kaki kanan Hisui namun tidak dengan kaki kiri Hisui yang sudah siap melepaskan tendangan dengan pisau kakinya.


"Sial! Aku terlalu lambat!" Midorimachi berkeringat dingin ketika melihat pisau kaki kiri tendangan dari Hisui tepat berada di wajahnya. Kepala Midorimachi terkena tendangan Hisui dan pemuda itu tergeletak di tanah.


Hisui melancarkan serangan penutup dengan gerakan remasan tangannya, sedangkan bibirnya yang mungil merekah. "Jurus Pengikat Keindahan Alam."


Midorimachi tidak menyangka kekuatan Hisui masih jauh diatasnya. Tubuhnya kembali terikat akar-akar yang merambat ke seluruh tubuhnya, dari ujung kakinya hingaa lehernya, akar-akar tersebut terus mengekang dirinya.


Hisui terlihat sedang berpikir. Gadis bermata sayu itu merasa kebingungan. "Apa aku harus menyuruhnya menyerah? Sepertinya aku terlalu berlebihan bertarung melawannya? Bunda pernah bilang jika aku memiliki kemampuan yang persis seperti Kakak Iris. Kenapa tumbuhan selalu melindungi tubuh Hisui?" Gadis bermata sayu itu kebingungan ketika mengingat pukulan tangan Midorimachi yang mengenai pipinya, tetapi daun-daun yang berhamburan di tengah lapangan menyatu dan melindungi pipinya.


Hisui menatap Midorimachi yang terlihat berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkeraman akar serangannya.


"Jurus Pengikat Keindahan Alam : Akar Tertawa."

__ADS_1


Hisui tersenyum jahil sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya, kali ini akar-akar yang mengikat tubuh Midorimachi mulai menggelitik tubuh pemuda tersebut.


"Eh?" Midorimachi menggeliat merasa geli, tidak berapa lama dia tidak mampu menahan tawa. Penonton kebingungan melihat Midorimachi tertawa terbahak-bahak di tengah lapangan.


Napas Midorimachi terengah-rengah, dia sudah tidak tahan lagi menahan gelitikan akar yang mengikat tubuhnya. "Sialan! Aku bisa mengompol di celana jika terus seperti ini. Umurku sudah 15 tahun, aku sudah bukan anak kecil lagi." Midorimachi bimbang.


Hisui masih terus melancarkan serangan gelitikan dari akar-akar yang mengikat tubuh Midorimachi. Selang beberapa detik kemudian, wajah Midorimachi merah padam.


"Aku menyerah!" Midorimachi melengking suaranya. Perasaannya sekarang sangat malu, tidak berapa lama tubuhnya terjatuh ke tanah dalam posisi duduk. Matanya menatap akar-akar yang kembali masuk ke dalam tanah.


Gyuki tidak percaya melihat celana Midorimachi basah kuyup, pria itu langsung mengakhiri pertandingan dan mengumumkan Hisui sebagai pemenangnya.


"Dikarenakan Muromachi Midorimachi menyerah maka pemenangnya adalah Tuan Putri Hisui!" Gyuki berjalan mendekati Midorimachi.


"Kau telah sadar, bukan?" Gyuki melirik celana Midorimachi yang basah. "Tuan Putri Hisui memiliki kekuatan yang jauh di atasmu bahkan sekarang kau kalah dengan cara yang memalukan."


Midorimachi menutup kakinya rapat-rapat dan berusaha berdiri. "Aku harus berlatih lebih giat lagi. Mungkin sebuah kebetulan saja aku masuk ke babak 32 besar Turnamen Harimau Kai." Wajah Midorimachi tidak nampak lesu, justru dia terlihat lega dan malu di saat yang bersamaan.


Gyuki menatap awan-awan yang ada di atas sana. "Tidak ada yang namanya kebetulan. Kau masuk babak 32 besar Turnamen Harimau Kai berkat usahamu sendiri. Jadi banggalah dengan dirimu sendiri jangan berkecil hati." Gyuki tersenyum tipis sesaat sebelum berjalan mendekati Hisui.


Gyuki menatap Hisui yang terlihat kebingungan, kemudian dia bertanya pada gadis bermata sayu tersebut. "Ada apa Tuan Putri Hisui?"


Hisui menunjuk tanah bekas Midorimachi terikat akar-akar dari teknik serangannya. "Kenapa tanah disitu basah?" Gyuki tertawa lirih, sementara itu penonton kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan antara Gyuki, Hisui dan Midorimachi.


"Itu adalah bekas pertarungan antara Fuyumi Tika melawan Hamu Myoko dari pertandingan sebelumnya." Gyuki merasa geli sendiri melihat Hisui yang tidak mengetahui jika itu adalah ulahnya yang menggelitik tubuh Midorimachi dengan teknik serangan akarnya. Serangan itu bahkan membuat Midorimachi mengompol di celana.


"Kakak Kembar Tika memang hebat, sudahlah, sekarang aku mau Kakak Tampan puji aku." Hisui dengan langkah kaki yang riang dan gembira berlari menuju bangku penonton yang ditempati Klan Fuyumi.


Gyuki melirik Midorimachi yang memberi hormat padanya dan berjalan menuju ruang ganti yang ada di Arena Lingkaran Harimau.


"Menarik sekali, mereka semua generasi muda yang berbakat." Gyuki membatin dalam hatinya sambil menatap langit.


"Tuan Putri Hisui terlihat tidak memiliki kebencian di hatinya. Darah Yamata mengalir di dalam darah Tuan Putri Hisui, namun sifat iri dan dengki tidak terlihat sama sekali di dalam dirinya. Sifatnya sangat polos dengan keluguan dan kelembutan hatinya. Mungkin sifat ibunya menurun padanya, kuharap kakaknya juga begitu." Gyuki dengan tatapan yang tajam menatap Hiragi. Pria itu berharap Hiragi tidak memiliki sifat iri dan dengki yang begitu besar seperti Kaisar Hizen.


"Kita beralih ke pertandingan selanjutnya. Tuan Muda Hiragi dan Kurozawa Mirazawa silahkan maju ke depan." Tepat setelah Gyuki mengumumkan pertandingan selanjutnya, penonton kembali bergemuruh dan kebisingan mulai mewarnai seluruh sudut Arena Lingkaran Harimau.


___


**Note : 22~06~2020 – 26~06~2020


22 komentar : Bonus 1 chapter.(0/5)


122 Like : Bonus 1 chapter.(0/5)


1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)


Mau Crazy Up? Lihat tulisan di atas ya. Btw, 22 komentar bonus 1 Chapter. Udah beberapa Minggu ke belakang 22 komentar gak pernah kesampaian, mudah-mudahan Minggu ini kesampaian. Ayo komen dong ramein.


Curhat dikit hehe.


Author lagi bingung mikir kata" terakhir Kakek Hyogoro sebelum meninggal, sebagai orang yang menciptakan karakter, jujur aja gak tega bunuh karakter yang kita ciptakan sendiri apalagi harus liat Nagato sama Litha kehilangan seseorang kembali. Belum Azai sama Kuina juga udah jatuh dari tebing. Tapi jalan ceritanya memang begitu, sempet mikir mau ubah tapi kedepannya malah blong gak ada ide gitu. Wkwkwk cukup sekian curhatnya.


LoSHT Gak Rewel**

__ADS_1


__ADS_2