Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 189 - Sahabat Enam Masa Muda


__ADS_3

Saat matahari mulai tenggelam dan hendak mendekap rembulan dengan erat, sinar hangat menerpa tubuh lima anak muda yang sedang duduk memakan buah-buahan di depan teras penginapan.


"Syukurlah lukamu tidak terlalu parah Hika. Jika sampai terjadi luka dalam padamu, lihat saja orang sialan itu!" Nagato mengumpat mengingat Kakugo kemudian dia memakan semangka yang dipotong oleh Iris.


"Terimakasih Nagato..." Hika melirik Nagato dan berkata, "Hika senang mendengar Nagato yang mengkhawatirkan Hika." Senyuman di gadis manis kembar itu mengembang.


"Hmmm..." Nagato hanya menggumam pelan karena mulutnya penuh dengan buah semangka.


Litha, Iris, Hika dan Tika tertawa pelan melihat Nagato. Mereka tidak menyangka melihat Nagato yang terlihat seperti anak kecil yang cukup menggemaskan.


"Besok kita ada waktu sehari untuk persiapan, apa kalian besok ada waktu luang?" Nagato bertanya pada empat gadis yang sedang memakan buah apel, anggur dan jeruk.


"Hika besok sepertinya mau tidur seharian hehe." Hika menjawab perkataan Nagato sambil tersenyum canggung, sedangkan tangannya menggaruk rambut halusnya.


"Tika ingin menemani Hika, ya kan, Hika..." Tika tersenyum lembut pada saudari kembarnya itu.


"Aku besok akan bermain bersama Chibi. Kasihan dia di penginapan sendirian..." Litha melirik kucing manisnya yang sedang tertidur di teras penginapan.


"Kucing perempuan ini! Setiap aku melihatnya, dia selalu saja seperti orang yang berleha-leha!" Nagato membatin kesal dan menatap tajam Chibi.


"Kalau aku rahasia. Aku akan memberi tahu Tika, Hika dan Litha tapi aku tidak akan memberitahumu Naga." Iris tersenyum mengeledek Nagato.


"Oh, ya sudah, kalau begitu besok aku akan mengajak bocah manja itu jalan-jalan..." Nagato memejamkan matanya selama beberapa detik kemudian dia berdiri dan hendak beranjak untuk menghangatkan tubuhnya sembari memanjakan tubuhnya di kolam air panas.


"Apa? Besok aku tidak ada acara!" Tika dan Hika menjawab bersamaan.


"Aku besok juga akan mengajak Chibi pergi bersamamu Nagato!" Litha menatap Nagato serius.


"Aku akan menemani Litha. Jangan salah paham ya." Iris mengalihkan pandangannya menatap tanah dan tidak melihat Nagato sedikitpun.


"Aku akan mandi, setelah itu aku akan meminta Tante Oichi untuk mengajari cara membuat ayam bakar ditambah sambal yang pedas." Nagato berjalan meninggalkan keempat gadis yang menatap dirinya, namun Nagato tidak peduli sama sekali. Keempat gadis yang merasa diabaikan Nagato hanya mendengus kesal.


"Hika Hika dia mengabaikan kita..." Tika mendengus kesal melihat Nagato yang berjalan menuju kolam air panas.


"Iya Tika," sahut Hika sambil menghela napas panjang.


"Nagato sangat menyukai makanan pedas, apa kita tidak sebanding dengan makanan kesukaannya..." Litha mendengus kesal dan beranjak pergi untuk mengambil handuk, kemudian Iris mengikuti Litha dari belakang.


"Hika ... sini Tika bantu Hika." Tika memegang tangan Hika dan membawa saudari kembarnya itu kembali ke kamarnya.


Perlahan malam tiba, matahari kini telah mendekap erat sang rembulan. Kedua cahaya saling berbenturan, menatap, menggenggam dan melepas kerinduan.


Cahaya yang terang, bulan menyinari langit malam Ibukota Daifuzen dengan lembutnya, sentuhan tangannya membuat suasana malam di Ibukota Kekaisaran Kai itu sangat hangat.


Di bawah sinar rembulan terlihat seorang perempuan bermata sayu yang memegang erat tangan anak perempuannya. Yuki bersama Hisui datang ke Penginapan Matahari Timur dengan mengendap-endap.


Sesampainya di Penginapan Matahari Timur, dengan cepat Hisui berlari ke tempat penginapan Klan Fuyumi. Gadis bermata sayu itu membuka pintu dan berteriak, "Nenek Emi, Hisui datang!" Tangan Hisui memeluk tubuh seorang perempuan dan mata sayunya memejam.


"Hisui! Kamu bilang aku nenek-nenek?!" Iris menatap tajam Hisui. Gadis berparas cantik itu memakai piyama setelah selesai mandi.


"Kakak Iris..." Hisui tersenyum canggung, karena merasa ketakutan, tangannya reflek memeluk tubuh Iris dengan erat.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Iris kebingungan dan mencoba melepaskan pelukan Hisui. "Hei, kamu kenapa?!" Iris semakin kesal ketika Hisui semakin memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kakak Iris, aku takut," gumam Hisui sambil membenamkan wajahnya ke perut Iris. Gadis bermata sayu itu takut dengan Iris tetapi dirinya justru memeluk Iris.


"Selamat malam Iris..." Yuki menyapa Iris dan menutup pintu penginapan.


"Eh? Tante Yuki..." Iris mencoba melepas pelukan Hisui tetapi cengkeramannya sangat erat.


"Hisui kamu main peluk aja, liat Kakak Iris habis mandi, sudah dandan rapi, sekarang jadi berantakan gara-gara kamu." Yuki mengelus rambut Hisui dengan lembut, tidak berapa lama gadis bermata sayu itu melepas pelukannya.


"Maaf Kakak Iris..." Hisui tidak berani menatap wajah Iris.


"Silahkan masuk Tante Yuki..." Iris mempersilahkan Yuki dan Hisui masuk ke ruang makan di Penginapan Matahari Timur khusus Klan Fuyumi.


Mereka bertiga berjalan melewati lorong penginapan, tidak berapa lama Iris membuka pintu dan terlihat di sana Nagato bersama yang lainnya sedang mempersiapkan makan malam bersama.


"Nagato lebih baik kita buat barbeque." Litha memberi usul tetapi Nagato hanya ingin memakan ayam bakar sehingga dia tidak menggubris perkataan Litha.


"Litha buatkan sambal yang pedas, aku suka sambal buatanmu," ujar Nagato sambil membakar daging ayam di atas pemanggang.


"Dasar Nagato kamu selalu saja tidak mendengar perkataanku, baiklah aku akan membuatkanmu sambal." Litha berdiri dan duduk di samping Ichiba.


"Nagato oles dengan kecap di atas daging ayamnya ... ya seperti itu, jangan terlalu gosong." Oichi sedang mengajari Nagato cara membuat ayam bakar ala Oichi.


"Kakak tampan..." Hisui langsung duduk disamping Nagato. Sedangkan Yuki menghampiri Emi dan Shirayuki.


"Datang langsung lengket," celoteh Iris yang duduk disamping Hisui.


"Matanya sayu sekali, dia seperti adik kecil yang mengantuk." Iris membatin dan memalingkan wajahnya ke samping, tidak berapa lama dia berdiri membantu Litha dan Ichiba yang sedang menyiapkan barbeque.


"Bocah manja, kamu mau coba?" Nagato mengulurkan daging ayam yang berwarna hitam, Hisui hanya mengangguk dan membuka mulutnya, dengan usil Nagato mendekatkan jarinya ke bibir mungil Hisui.


"Huuh, Huuh, panas! Kakak tampan jahat!" Hisui memukul lengan Nagato. Tidak berapa lama Oichi, Tika dan Hika tertawa.


"Kamu mau apa kemari?" Tangan Nagato masih membolak-balik daging ayam di atas pemanggang dan matanya fokus ke daging ayam yang dia tatap itu.


"Aku mau jenguk Kakak Hika." Hisui dengan wajah santainya mengatakan hal yang membuat Hika dan Tika menggelengkan kepalanya.


"Tuan Putri Hisui ingin bertemu kamu Nagato. Dari sini saja sudah kelihatan jelas," ledek Tika sambil melirik Iris yang pura-pura tidak peduli.


"Sudah, sudah, makan malam dulu baru berbicara." Ichiba datang membawa barbeque yang telah matang dan terlihat lezat, bukan itu saja, di atas meja makan telah disiapkan daging sapi dan daging ayam oleh Emi dan Shirayuki.


"Yuki sama Hisui sekalian makan malam disini." Emi menatap anaknya dan cucunya yang sama-sama bermata sayu itu.


"Iya, Bu." Yuki menjawab pelan dan duduk disamping Shirayuki. Kakak beradik itu terlihat sedikit renggang hubungannya semenjak kejadian Yuki yang hendak menjodohkan Iris dengan Hiragi.


"Ini sambal pedas pesananmu Nagato." Litha menaruh piring yang berisi sambal di depan meja makan Nagato.


"Terimakasih Litha." Nagato tersenyum tipis melihat wajah Litha yang manis, rambutnya yang halus itu diikat menambah kesan kecantikannya.


"Selamat makan..." ucap semua orang bersamaan sebelum menyantap makanan yang telah dihidangkan.

__ADS_1


Nagato dengan lahap memakan daging ayam bakar, dia tidak terlalu peduli jika dirinya makan bersama perempuan, bahkan dia satu-satunya laki-laki yang ada di ruang makan di ruang penginapan Klan Fuyumi.


Semua orang memakan dengan lahap, setelah selesai makan malam, Nagato duduk di depan teras untuk melihat rembulan yang sinarnya dengan lembut menghiasi langit malam Ibukota Daifuzen.


Lima gadis yang baru selesai makan malam juga duduk bersama Nagato di depan teras penginapan. Mereka berenam saling berbincang dan bercerita sambil menatap langit malam yang berbintang.


Ketika semuanya sedang berbicara, Nagato menatap Hisui dan berkata, "Bocah manja besok bisa kamu temani aku jalan-jalan keliling kota. Aku penasaran dengan luasnya Ibukota Daifuzen ini."


Litha, Iris, Tika dan Hika langsung menatap tajam Nagato. Sedangkan Hisui terkejut mendengarnya, gadis bermata sayu itu langsung mengangguk kegirangan. Keempat gadis yang melihat Hisui memerah wajahnya karena wajah Hisui terlalu lucu dan menggemaskan.


"Bisa kakak tampan, aku akan temani kakak tampan seharian." Hisui dengan gembira menjawab ajakan Nagato.


"Tika ikut!"


"Hika juga ikut!"


Tika dan Hika mengangkat tangan mereka berdua, tidak berapa lama Litha juga menanngapi perkataan kedua gadis kembar itu, "Aku juga ikut Nagato. Sekalian aku membawa Chibi jalan-jalan."


"Aku besok juga akan ikut karena ada sesuatu yang ingin aku beli," sahut Iris lirih. Jari telunjuknya memainkan rambutnya yang halus dan matanya menatap lantai penginapan.


"Bukannya tadi kalian-" Tika memegang pundak Nagato dan memotong perkataan pemuda itu, "Besok jam tujuh pagi kita berenam berkumpul di depan penginapan ini! Mengerti?!"


Nagato menatap Tika dengan wajah datarnya dan mengangguk pelan.


"Terserah kalian, aku ikut saja. Sejujurnya aku hanya ingin bocah manja ini mengantar aku ke tempat rumah makan yang hanya menyediakan makanan pedas." Nagato menggaruk kepalanya dan menatap wajah Iris, Litha, Tika dan Hika yang tak percaya, kemudian dia berkata, "Makanan pedas yang ada tingkatannya. Aku ingin mencobanya."


"Naga seleramu cukup rendah, lebih enak kue dengan kelembutan yang sangat terasa lembut di lidah." Iris menanggapi perkataan Nagato dengan sengit.


"Kue juga enak, apa kamu ingin kue seperti malam itu?" Nagato tersenyum tipis menatap Iris yang terlihat dingin dan langsung berubah menjadi malu-malu setelah mendengar perkataannya.


"Terserah kamu, aku tidur dulu. Ibuku sudah memanggilku." Iris dengan cepat kembali ke kamarnya, dalam langkah kakinya yang cepat itu dia membatin, "Naga, kamu sungguh menyebalkan!"


"Sepertinya terdengar mencurigakan..." Tika membatin menatap tajam Nagato. Gadis kembar manis itu cukup jeli karena Nagato dan Iris memiliki hubungan yang lebih dalam dari yang mereka kira.


Sementara itu Hisui sudah terlihat sangat akrab dengan Hika dan Litha. Terutama Litha yang sangat baik hati, gadis bermata sayu itu langusng luluh ketika melihat senyuman manis Litha.


Sosok Litha selalu memberi suntikan tersendiri bagi orang-orang disekitarnya, bahkan Hisui terlihat sangat senang berada di dekat Litha.


Nagato kembali ke kamarnya dan meninggalkan keempat gadis yang masih bercerita, berbincang, di depan teras penginapan.


"Sepertinya aku telah membuat Ratu Es itu cemburu." Nagato membatin mengingat Iris yang sedikit terlihat kesal dengan dirinya.


Tak terasa malam terlah berlalu, Yuki dan Hisui yang semalam kembali ke Istana Hizen juga tidur nyenyak setelah makan malam bersama Keluarga Fuyumi. Beberapa jam kemudian, matahari kembali bersinar, Hisui sudah berdandan sangat rapi dan manis. Gadis bermata sayu itu meminta izin kepada Yuki untuk bermain bersama Iris dan yang lainnya selama seharian penuh.


___


**22 komentar : Bonus 1 chapter.


122 Like : Bonus 1 chapter.


Vote seikhlas kalian aja ya, author hanya bisa mengucapkan terimakasih sama kalian semua yang udah ngevote, ada yang baca aja udah bantu mood author tetap baik, apalagi kalau jempol sama bantu ngetik di kolom komentar, mood author tambah bagus. Author lagi kebut Arc Cinta biar cepet rampung.

__ADS_1


#Dua Minggu sekali, Author CU berkisar dari 5-10 chapter. Mudah-mudahan bisa tembus kaya malming lalu sampai 10 chapter. Malming depan ya CU lagi, sekarang author lagi kumpulin aura tubuh dulu biar bisa CU**.


__ADS_2