
"Nagato, lupakan perasaan dendammu itu, ketika kau dewasa kau harus menjadi jendral yang hebat!" Kakek Hyogoro sedang memarahi Nagato karena ketika ditanya olehnya alasan dirinya belajar bela diri, Nagato menjawab dengan santainya.
"Tujuanku hanya satu menjadi kuat hingga aku mampu membunuh Kazan beserta anggotanya!" jawab Nagato dengan tenang dan memasang wajah santainya itu.
"Katakan itu setelah kau mampu mengalahkan kakekmu ini!" Kakek Hyogoro sudah menganggap Nagato dan Litha sebagai cucu mereka sendiri sehingga dirinya begitu menyayangi kedua murid kesayangannya itu, karena itu dirinya tidak ingin melihat Nagato jatuh kedalam kebenciannya namun akhir - akhir ini Nagato selalu menjadi pendiam ketika Litha memarahi pemuda itu.
"Hah? Baiklah tunggu saja, aku akan mengalahkanmu Kakek Hyo!" Nagato tersenyum tipis kemudian dirinya menghilang dalam pandangan Kakek Hyogoro.
"Sirih." Nagato mengolah pernafasan.
Seketika dirinya berada dihadapan Kakek Hyogoro dan hendak memukulnya tetapi Nagato dengan mudahnya ditendang oleh Kakek Hyogoro yang masih jauh lebih kuat dari dirinya.
"Ugh!" mulut Nagato mengeluarkan darah ketika Kakek Hyogoro menendang ulu hatinya.
"Nagato! Maaf kakek tidak bermaksud?!" Kakek Hyogoro akhir - akhir ini selalu lebih merasa cemas dan khawatir kepada Nagato dan Litha.
"Ini belum seberapa!" jawab Nagato pelan.
Nagato mengelap darah dimulutnya dengan tangannya, kemudian dirinya kembali berdiri dan memakai pasang bertarung yang nyaman baginya.
"Jika kau ingin mengalahkan Kazan, kau harus belajar dari Litha, dia sudah mampu menghafal gerakan seni dan jurus yang Kakek ajarkan?!" Kakek Hyogoro melirik Litha yang sedang berlatih jurus pedang mengunakan pedang kayu di halaman rumah Kakek Hyogoro.
"Sial!" Nagato pergi menuju lapisan hutan kedua puluh dua, dirinya merasa kesal karena tidak bisa menghafal satupun gerakan dasar dan jurus pedang maupun pernapasan yang diajarkan Kakek Hyogoro.
"Litha, kau harus memadamkan emosi yang membakar Nagato! Ingat hanya air yang bisa memadamkan api!" Kakek Hyogoro mengelus rambut halus Litha.
__ADS_1
"Iya kek!" Litha tersenyum manis kemudian pergi menyusul Nagato.
"Nagato!" teriak Litha yang berlari dengan cepat menyusulnya. Nagato berhenti kemudian menoleh kebelakang melihat Litha.
"Litha?" tanya Nagato dengan wajah yang serius.
"Ada apa?" Litha berdiri disamping pemuda itu.
"Apa aku tidak ada bakat sama sekali!" Nagato memasang wajah yang serius dan terlihat kesal bercampur marah namun bagi Litha ketampanan Nagato semakin terlihat dengan tatapan yang dingin dimatanya itu.
"Semua orang itu ada kemampuannya yang dikuasai masing - masing, aku pandai menghafal gerakan jurus yang diajarkan kakek dan kamu pandai bertarung tanpa berpikir panjang!" Litha tersenyum kepada Nagato.
"Bertarung tanpa pikir panjang!" gumam Nagato dengan nada sedikit kesal.
"Kita berlatih di air terjun itu!" Litha mengajak Nagato pergi ke Air Terjun Tujuh Mata Berbeda.
Selama enam bulan terakhir Nagato dan Litha membuat rute terobosan menuju lapisan hutan ke dua puluh dua, karena mereka belum mampu melawan Hewan Buas yang sering muncul berkelompok di pagi hari ataupun malam hari.
Setelah sampai di Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda, Litha mengajak Nagato untuk berlatih pernapasan bersama dibawah air terjun yang turun dengan derasnya kebawah.
Nagato dan Litha melakukan kuda - kuda tengah sambil berlatih pernapasan dibawah air terjun, air mengalir mengenai tubuh mereka dengan derasnya dan tubuh mereka terasa tertumpuk puluhan batu yang mengenai tubuh Litha dan Nagato.
Setelah berlatih pernapasan selama enam jam, Nagato dan Litha kembali ke rumah Kakek Hyogoro.
"Litha, siang ini kamu memasak apa?" Nagato memegang rambutnya yang basah dan semakin panjang itu.
__ADS_1
"Aku akan memasak ikan yang Kakek dapatkan di sungai?!" Litha tersenyum tipis kemudian gadis itu melompat menghadang Nagato.
"Dan aku tidak akan membuat sambal untuk ikan yang akan kugoreng itu." Litha tersenyum manis pada Nagato kemudian gadis kecil itu melangkahkan kakinya.
Nagato tidak menjawab perkataan Litha, karena gadis kecil itu selalu mengawasi dan mengatur dirinya akhir - akhir ini.
Ketika hendak menjelang malam, Kakek Hyogoro mengajak mereka pergi ke lapisan ke dua puluh delapan disana terdapat Bukit Angin, karena di tempat itu angin berhembus dengan kencang dan pelan secara bergantian.
"Kalian harus menyatu dengan alam, setelah berlatih agar tubuh kalian menyatu dengan air kalian berdua akan berlatih pernapasan di Bukit Angin agar tubuh kalian menyatu dengan angin!" Kakek Hyogoro menjelaskan latihan malam ini diperjalanan menuju ke hutan lapisan kepada Litha dan Nagato.
"Iya kek!" jawab Litha dan Nagato serentak.
"Apa kalian berdua sudah merasa lelah?" Kakek Hyogoro berhenti dan menatap kedua murid kesayangannya itu.
"Biasa kek!" jawab Litha dan Nagato dengan tegas.
"Bagus ... " kemudian mereka kembali melanjtukan perjalanan menuju Bukit Angin.
Mereka bertiga melewati bebatuan yang terjal untuk mendaki keatas Bukit Angin, jika tidak berhati - hati bisa saja terjatuh karena ceroboh dan nyawa yang menjadi taruhannya.
Sinar rembulan menyinari jalan mereka menuju Bukit Angin dan kunang - kunang malam yang bercahaya juga membuat pemandangan yang memanjakkan mata bahkan di Bukit Angin terdapat ratusan kupu - kupu malam yang berterbangan.
Kupu - kupu malam itu mengeluarkan cahaya yang berwarna - warni dari sayapnya ada yang berwarna merah, kuning, hijau dan yang lainnya sehingga Nagato dan Litha terdiam sejenak untuk menatap pemandangan yang baru bagi mereka berdua.
Kakek Hyogoro tersenyum melihat Litha dan Nagato yang terlihat bahagia ketika dirinya ajak pergi ke Bukit Angin, salah satu alasan dirinya mengajak mereka berdua kesini adalah kunang - kunang cahaya dan kupu - kupu malam yang terdapat di Bukit Angin. Membuat tempat ini menjadi tempat yang sangat cocok untuk menenangkan dan menyejukkan hati.
__ADS_1