Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 55 - Keinginan Kalian


__ADS_3

Sehari telah berlalu dan Hawk berniat kembali ke Ibu Kota Kekaisaran Kai.


"Nagato, apa kau masih tidak percaya bahwa aku ini adalah murid dari Guru Pandu!" Hawk mengerutkan dahinya ketika Nagato tidak percaya bahwa dirinya adalah murid dari Pandu.


"Ayahku tidak pernah memiliki murid membosankan sepertimu, paman!" Nagato tersenyum sinis kemudian menyerang Hawk yang sedang mengajaknya latihan bertarung.


Nagato melesatkan pukulan dan tendangan secara acak kepada Hawk tetapi tidak ada satupun yang mengenai tubuh Hawk.


"Apa sekarang kau telah percaya?" Hawk menghilang dan muncul seperti angin mempermainkan Nagato.


Nagato berhenti kemudian dirinya kembali duduk bersama Litha yang sedang menonton.


"Apa kau takut?" Hawk sengaja memancing emosi Nagato.


"Aku bukan anak kecil!" jawab Nagato dengan nada kesal.


"Bagiku kau hanyalah anak kecil Nagato!" Hawk tertawa mengeledek Nagato.


"Bagiku kau adalah seorang paman yang tidak mempunyai teman, jadi kau sengaja menggangguku, bukan?!" Nagato tersenyum sinis setelah duduk disamping Litha sambil melihat reaksi raut wajah Hawk.


"Anak nakal!" Hawk menghilang dengan cepat dan berada didepan Nagato.


Litha yang melihat tingkah Nagato hanya tersenyum dan tertawa kecil karena tidak menyangka Nagato mempunyai sifat yang seperti itu.

__ADS_1


Nagato tersenyum karena melihat langkah yang digunakan Hawk dan dirinya berniat menyalin langkah itu menjadi miliknya menggunakan kekuatannya ketika Kakek Hyogoro sudah mulai mengajarinya membuka aura tubuhnya.


"Nagato, ketiga temanmu ini akan aku bawa ke ibu kota untuk kujadikan sebagai prajurit kekaisaran." Hawk duduk disamping Nagato dan merangkul anak dari gurunya itu.


"Itu bukan urusanku, mereka juga mempunyai keinginan sendiri, jadi jangan bertanya padaku!" Nagato terlihat tidak peduli dengan Hawk.


Azai, Kuina dan Serlin muncul dihadapan mereka bertiga dan menatap Nagato, raut wajah mereka terlihat seperti ingin membicarakan sesuatu yang penting.


"Nagato, apa kau akan baik - baik saja, jika kami pergi dan meninggalkanmu sendirian!" Kuina terlihat cemas dengan mata yang berkaca - kaca, gadis itu menatap Nagato.


"Aku baik - baik saja, lagipula disini ada Litha dan Kakek Hyo, aku tidak akan sendirian dan kesepian!" jawab Nagato sambil menatap Kuina.


"Kalian harus ikuti kata hati kalian sendiri dan keinginan kalian, jangan jadikan aku sebagai alasan dan penghambat impian kalian bertiga!" Nagato tersenyum kepada mereka bertiga yang telah bersama dirinya sejak kecil dan melindunginya.


"Terimakasih telah menemaniku sampai saat ini, terimakasih telah melindungiku sampai saat ini, terimakasih telah mengkhawatirkanku sampai saat ini dan terimakasih telah menjaga keinginan ayahku sampai saat ini!" Nagato menambahkan.


Tak lama Kakek Hyogoro keluar dari hutan membawa beberapa ikan yang dirinya pancing dan menyuruh Kuina dan Serlin untuk memasaknya sebelum pergi meninggalkan Hutan Cakrawyuha.


Kuina dan Serlin mengikuti perintah Kakek Hyogoro untuk memasak puluhan ikan yang ditangkap Kakek Hyogoro. Kemudian kedua gadis itu beranjak melangkahkan kakinya ke dapur.


"Azai, jika kau telah menjadi jendral jangan lupa untuk segera menemuiku!" Kakek Hyogoro menepuk pundak Azai.


"Semua murid yang dilatih Pandu adalah pendekar yang jenius, aku yakin kalian akan menjadi seorang jendral yang hebat kelak!" Kakek Hyogoro tertawa tetapi suara tawanya terdengar sedih, Kakek Hyogoro mengingat anak dan istrinya yang telah tiada bahkan seluruh teman dan gurunya juga telah tiada namun Kakek Hyogoro memutuskan untuk terus melanjutkan hidup, seberat dan sesulit apapun itu.

__ADS_1


Nagato mengajak Litha untuk membantu Kuina dan Serlin.


Mereka berdua membantu Kuina yang sedang membersihkan sisik ikan, setelah bersih mereka membersihkan jeroan ikan dengan air.


Dua jam telah berlalu dan makanan yang dimasak Kuina dan Serlin sudah siap untuk disajikan, Serlin membuat pepes ikan sedangkan Kuina menggoreng ikan dengan cara biasa untuk dimakan Nagato karena telah berjanji tidak memakan makanan pedas selama tiga bulan.


Mereka berdoa bersama sebelum makan, makanan yang sederhana dengan tambahan nasi dan air putih terasa begitu nikmat bagi mereka ketika menyantap hidangan tersebut. Tak lama setelah selesai makan, Azai, Kuina dan Serlin mempersiapkan diri untuk perjalanan ke Ibu Kota.


Sebelum pergi Kuina dan Serlin memeluk Litha dan Nagato.


"Kak Kuina, Kak Serlin, jaga diri kalian baik - baik!" Litha memeluk tubuh kedua gadis itu dengan erat.


Nagato yang merasa gerah karena berada ditengah - tengah pelukan mereka hanya bisa menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.


"Litha, kamu jaga Nagato ya, ingat jika Nagato berlebihan memakan makanan pedas maka kamu harus memarahinya!" Kuina menatap Litha sambil mengelus rambut halus gadis kecil itu.


"Iya kak, tenang saja hehe!" Litha tertawa kecil dan tersenyum pada Kuina. Serlin yang melihat hal itu menangis.


"Kak Serlin, kenapa?!" Nagato menatap Serlin yang terlihat aneh.


"Bukannya kau terkadang bersikap aneh ketika melihat anak yang menggemaskan seperti Litha!" Kuina menatap Serlin.


Serlin hanya menggelengkan kepalanya kemudian mencoba untuk berdiri.

__ADS_1


"Tidak aku hanya merasa tersentuh!" jawab Serlin singkat.


Tak lama mereka berpamitan dengan Kakek Hyogoro sebelum meninggalkan Hutan Cakrawyuha. Azai, Kuina dan Serlin melambaikan tangan ketika mulai menjauh dari Nagato dan Litha.


__ADS_2