
Alis Nagato mengernyit dan raait wajahnya berubah, “Jangan bergerak! Orang-orang yang datang bersama Hayabusa sepertinya terlibat pertarungan dengan petinggi pasukan dari Kekaisaran Rakuza!”
Iris juga merasakan nafsu membunuh yang besar. Lebih besar dari mereka semua yang akan melesat bergerak melawan Manusia Hewan Buas.
“Amukan Topan!”
Serangan dari Hayabusa mementalkan tiga anggota Phyton. Mereka bertiga adalah Lewis, Blue dan Light.
“Seranganmu terlalu berlebihan Hayabusa!”
Mujin menghampiri Hayabusa yang menhancurkan rumah penduduk yang memang telah hancur karena ulah Manusia Hewan Buas.
“Kita serangan Hewan Buas dan serahkan orang-orang dari Rakuza pada mantan wasit itu...” Masayu menunjuk Mujin dan bergerak menjauh, memutari Hayabusa dan yang lain untuk mendekati Manusia Hewan Buas.
“Apa kau ada rencana, Fuyumi Nagato?” Tatara bertanya pada Nagato yang berlari disampingnya.
“Tidak ada. Hanya saja aku akan menahan orang ini!” Nagato memanipulasi aura tubuhnya menjadi api dan menahan serangan salah satu anggota Phyton yang bernama Baxia.
“Fuyumi Nagato!”
“Nagato!”
Yuri dan Masayu panik. Namun Nagato mendorong tubuh Baxia sambil menoleh melihat kedua gadis muda tersebut.
.
“Aku akan menahannya. Cepat pergi!” Nagato menatap Baxia yang mempunyai struktur tubuh yang keras sama seperti Lewis. Merasakan tebasannya tidak melukai badan Baxia membuat Nagato mengingat sosok Green Vas.
“Tusukan Tombak Lautan!”
Salah satu anggota Phyton bernama Sea hendak menyerang Nagato dari samping namun Iris membekukan air padat yang membentuk tombak besar itu.
“Naga, aku akan melawan orang ini.” Iris melepaskan hawa dingin yang cukup besar pada Sea. Matanya menatap tajam perempuan berambut biru itu.
“Hati-hati...” Nagato melesat ke depan menyerang Baxia yang melepaskan aura intimidasi padanya.
“Fuyumi Nagato!” Baxia terlihat seperti ingin menerkam tubuh Nagato.
“Lintasan Jingga!”
Ayunan pedang Nagato cepat dan berisi namun kulit tubuh Baxia keras. Tangannya menangkap pergelangan tangan Nagato sebelum menguncinya.
“Sial!” Nagato mengumpat dan melebar matanya ketika tubuhnya berada di atas.
“Baxia Down!”
__ADS_1
Nagato melepaskan aura tubuhnya dan melawan balik cengkeraman tangan Baxia yang teramat kuat itu.
“Bara Api!”
Tangan kiri Nagato memukul wajah Baxia dengan tangan yang dilapisi api. Tubuh Baxia mundur ke belakang sedangkan Nagato terpental ke bawah dan merapatkan giginya karena menahan sakit.
“Hampir saja.” Nagato membatin karena hampir saja tengkuk lehernya patah karena bantingan Baxia.
Dengan sekuat tenaga, Nagato kembali berdiri dan menahan serangan beruntun yang dilancarkan Baxia.
Ayunan pedang Nagato cepat. Setiap gerakannya semakin lama semakin cepat. Langkah kakinya yang lincah dapat menjadi senjata andalannya untuk menghindari hujan pukulan yang dilancarkan Baxia.
Pukulan yang dilapisi aura tubuh itu menhancurkan jalanan. Serangannya terus melesat ke arah Nagato. Serangan beruntun dari Baxia membuat Nagato tidak mempunyai ruang untuk menghindar bahkan melakukan serangan balik.
Nagato merapatkan giginya, pedangnya bercahaya dan dilapisi api yang membara, dia hanya dapat menangkis dan menahan satu, dua, pukulan yang dia lancarkan Baxia kepada dirinya, ‘Aku pernah berhadapan dengan orang yang memiliki kemampuan mengeraskan tubuh. Apa pedangku tidak dapat melukainya...’
Baxia melihat ekspresi berbeda dari wajah Nagato. Bukan putus asa melainkan kekesalan yang luar biasa. Amarah dan ledakan kemarahan karena merasa dirinya masih lemah membuat Baxia melepaskan pukulannya yang bercahaya ke arah Nagato.
“Black Baxia Punch!”
Pukulan yang bercahaya berwarna hitam legam itu membentur bilah pedang Nagato. Keduanya saling menatap tajam ketika tubuh mereka menahan getaran serangan.
Nagato membalas serangan Baxia dengan tebasan pedangnya yang dialiri tenaga dalamnya. Setelah bersusah payah, akhirnya Nagato dapat melancarkan serangan beruntun pada Baxia.
Setelah bertukar serangan cukup lama dengan Baxia, akhirnya Nagato terkena pukulan telak tepat diperutnya. Tubuhnya terpental bersamaan dengan darah segar yang keluar dari mulutnya.
Ternyata bukan hanya Nagato saja yang terpental menabrak dinding bangunan yang masih berdiri. Tepat setelah tubuh Nagato menabrak dinding, Iris melesat ke arahnya dan jatuh ke dalam pelukannya.
”Lihat dirimu ini...” Nagato memegang perut Iris dan mendorong tubuh Iris ke depan.
“Sepertinya mereka memiliki Tenkai yang lebih kuat dari kita, Naga. Kita harus melewati batas kemampuan kita agar dapat mengalahkan mereka!” Iris melepaskan hawa dingin dan membentuk pohon cemara ilusi sama seperti teknik milik Hisui.
‘Hisui, kekuatanmu menyelamatkanku...’ Iris mencoba membekukan tubuh Sea namun lawannya itu dapat menghancurkan setiap cengkeraman akar-akar es yang membekukan tubuhnya.
“Seribu Pedang Es!”
Iris mengarahkan serangannya pada Sea yang berlari ke arahnya. Mata Iris memperhatikan setiap pergerakan Sea yang dapat menghindari serangannya.
“Pedang Es...” Bibir mungilnya merekah. Sementara tangan kanannya mengayunkan pedang es yang terbentuk dari tenaga dalamnya.
“Tidak buruk juga. Tetapi kau masih terlalu lemah, Fuyumi Iris!” Sea terus menahan tebasan pedang Iris dengan kedua tangannya.
Iris merapatkan giginya karena melihat Sea dapat menangkis tebasan pedangnya dengan mudah. Setiap ayunan pedangnya tidak mampu melukai tubuh Sea. Seperti ada cairan yang teramat licin melapisi tubuh Sea.
“Daun Salju Berguguran!”
__ADS_1
Iris sengaja mengalihkan pandangan Sea untuk sesaat sebelum melancarkan serangan beruntun pada Sea.
“Tarian Peri Salju!”
“Tusukan Salju Rembulan!”
“Mawar Duri Merajam!”
Serangan beruntun dari Iris membuat Sea mengernyitkan dahinya. Perutnya tergores karena tebasan pedang Iris. Tak lama serangan beruntun yang terus-menerus dilancarkan Iris membuat tubuhnya dipenuhi luka-luka tusukan.
“Beraninya kau melukai kulit mulusku!” Sekarang Sea dipenuhi amarah dan matanya menatap tajam Iris yang terlihat merencanakan sesuatu.
“Jangan terpancing Sea!” Baxia berteriak kepada Sea karena kekuatan aura teman perempuannya itu lebih lemah dari Iris jika melepas kekuatan Tenkai. Namun Sea sudah tenggelam dalam kemarahan sehingga Iris memanfaatkan kemarahan lawannya tersebut.
“Membeku dan matilah!” Terlihat wajah cantik Iris tersenyum sadis ketika hawa dingin keluar dari tubuhnya membekukan tubuh Sea.
“Musnah Dalam Satu Beku!”
Tubuh Sea menjadi bongkahan es. Perempuan yang menjadi anggota Phyton itu mati dalam sekejap, sedangkan Iris terlihat kelelahan.
“Beraninya kau membunuh Sea! Dasar bocah sialan!” Baxia hendak menyerang Iris yang telah lengah karena kelelahan. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Nagato untuk membunuhnya.
“Ruang Hampa!” Nagato melesat cepat dan mengayunkan pedangnya, “Lawanmu itu aku!”
Dalam sekali tebasannya. Nagato membunuh Baxia dengan tebasan tepat dilehernya. Mata Nagato melihat saat-saat kepala Baxia tergeletak ke tanah.
“Tindakanku ini tak lebih dari sekedar pembunuh...” Nagato tersenyum kecut. Kemudian mengulurkan tangannya pada Iris.
“Mereka terus berdatangan...” Iris menerima uluran tangan Nagato dan menatap anggota Phyton yang tersisa bertarung sengit melawan Hayabusa dan yang lainnya.
Bantuan dari ratusan pasukan militer Kekaisaran Rakuza membuat Hayabusa, Mujin, Shin, Take dan Ohta kesulitan untuk menghabisi anggota Phyton.
“Iris, pulihkan tenagamu. Aku akan membantu Hayabusa. Dia telah menyelamatkan kita berdua. Anggap saja aku ingin membalas budi...” Nagato tersenyum menatap wajah Iris yang terlihat yang menatapnya keheranan.
“Lakukan sesukamu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Iris mengatur napasnya dan menghampiri Litha karena gadis manis itu memberi isyarat pada dirinya agar mendekat.
“Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Kuning!”
Nagato berlari dengan cepat untuk membantu Hayabusa. Setidaknya dia dapat membunuh lima bahkan sepuluh prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
Ayunan pedang Nagato terus membebas tanpa henti. Cipratan darah dan suara teriakan orang yang dia bunuh sebelum meninggal membuatnya ingin menghentikan pertempuran ini.
Namun dia sadar. Hanya orang kuat yang dapat menghentikan pertempuran ini.
“Jika aku membunuh ular berkepala delapan itu, apa semuanya akan berakhir?”
__ADS_1