
Nagato menyalurkan tenaga dalamnya kemudian mengubah unsur elemen api yang merupakan kekuatan elemen dasar bawaan dari lahir yang merupakan salah satu bukti bahwa dirinya merupakan anak dari Pandu titisan dewa api.
Pedang Nagato berwarna jingga menyala kemudian api membakar pedangnya setelah itu Nagato mengayunkan pedangnya sehingga membuat lintasan tebasan api secara horizantal dan langsung menebas beberapa **** bertanduk api.
Sedangkan disisi lain Litha menyalurkan tenaga dalamnya ke pedang yang dirinya genggam setelah itu Litha memadatkan air yang merupakan unsur elemen bawaan milik Litha, kemudian gadis kecil itu memainkan permainan pedangnya yang terlihat seperti menari dan terlihat indah ketika tebasan Litha mengenai tubuh **** bertanduk api muncul percikan air yang membuat jalur air yang mengalir tarian dari Litha.
"Ngok - Ngok ... Ngok - Ngok."
Puluhan **** bertanduk api mengeluarkan api dari tanduknya kemudian Hewan Buas tersebut menyerang Litha dan Nagato secara bersamaan.
"Sirih." Kakek Hyogoro mengolah pernapasannya dan menatap tajam **** bertanduk api yang hendak menyerang murid kesayangannya itu.
"Pusaran Air."
Dengan senjata kuno ditangannya Kakek Hyogoro menggunakan jurus dari pedang air yang memungkinkan dirinya untuk membuat pusaran air yang berputar melesat keatas ketika dirinya memutarkan tubuhnya.
Puluhan **** bertanduk api terseret pusaran air, teknik yang digunakan Kakek Hyogoro, dengan cekatan Kakek Hyogoro kembali mengayunkan pedangnya sehingga diatas pusaran air teknik miliknya bercampur dengan darah **** bertanduk api yang tubuhnya tertebas pedangnya.
"Ikuti kakek dan jangan sampai tertinggal!" Kakek Hyogoro melangkahkan kakinya menuju lapisan hutan ke dua puluh dua di tempat air terjun yang mengalir disana terlihat ada beberapa Hewan Buas yang sedang bertarung dengan tumbuhan pemakan daging.
__ADS_1
"Kaliam harus waspada dengan tumbuhan yang memakan daging itu walau terlihat tidak bergerak itu hanyalah kamuflase, yang membuatnya terlihat seperti tumbuhan biasa!" Kakek Hyogoro menunjuk tumbuhan pemakan daging yang sedang bertarung dengan kelinci petinju.
"Hutan ini memang tempat yang menyeramkan!" ucap Litha yang melihat puluhan kelinci petinju yang terlihat lucu tetapi sangat mengerikan disaat yang bersamaan dengan pukulan dan lompatam yang di luar nalar, kelinci petinju mampu membunuh manusia biasa dalam sekejap.
Tumbuhan pemakan daging berhasil memakan beberapa ekor kelinci petinju tetapi tumbuhan telah layu ketika puluhan ekor kelinci petinju mencabut nya dari tanah dan memukul bahkan menginjak tumbuhan pemakan daging tersebut hingga tumbuhan berbahaya itu menjadi layu dalam sekejap.
"Inilah Hutan Cakrawyuha, hahaha!" Kakek Hyogoro tertawa kecil dengan memasang wajah serius karena dihadapanya puluhan kelinci petinju sudah melihat keberadaan mereka.
"Bagaimana caranya kakek bertahan hidup di hutan seperti ini?!" Nagato menggelengkan kepalanya melihat kejadian yang baru selalu menimpa dirinya selama beberapa bulan kebelakang ini.
"Litha, kamu bisa ikuti jurus kakek dan kembangkan sesukamu sedangkan kamu Nagato karena unsur elemen kita berbeda kamu harus bisa menciptakan jurus andalanmu sendiri?!" Kakek Hyogoro berdiri dihadapan Litha dan Nagato.
"Iya kek, aku akan mencoba sebisa mungkin mengikuti gerakan jurus kakek!" jawab Litha dengan penuh percaya diri.
"Guru Besar, sepertinya aku melatih anak yang berbakat hanya saja mereka berdua cepat tumbuh dengan bakat yang mengerikan!" batin Kakek Hyogoro yang sedang menatap Litha dan Nagato.
"Entah apa yang menjadi pendorong mereka berlatih sekeras ini, tetapi bagiku ini adalah hal baik karena ajaran Klan Kagutsuchi akan bertahan selama aku mewariskan ilmuku kepada mereka berdua!" batin Kakek Hyogoro yang menatap wajah Litha dan Nagato dengan perasaan yang bahagia.
Kakek Hyogoro menghilang dalam pandangan mereka berdua dan telah berada di tengah - tengah puluhan kelinci petinju, tangan Kakek Hyogoro memegang pedang sedangkan matanya memejam dengan dirinya yang sambil mengolah pernapasan.
__ADS_1
"Pernapasan Pelangi Surgawi."
"Bentuk Merah : Putaran Jarum Air."
Pedang Kakek Hyogoro berwarna merah setelah itu dirinya mengayunkan pedangnya dengan gerakan memutar sambil menangkis pukulan kelinci petinju, lintasan tebasan pedangnya terlihat air berbentuk pada seperti jarum air yang menyerang kelinci petinju disekitarnya.
"Hebat ... " gumam Litha dengan mata melebar takjub melihat permainan pedang Kakek Hyogoro.
"Aku bisa mengikuti gerakan itu, walau aku tidak tahu pernapasan seperti apa yang digunakan kakek!" Nagato tersenyum tipis, dirinya sudah bersiap untuk maju menyerang.
"Eh ... Nagato kamu?!" Litha melirik Nagato disampingnya.
"Dia bisa meniru gerakan itu dalam sekejap, sudah kuduga Nagato memang hebat!" batin Litha yang sedang tersenyum melihat pemuda yang bersamanya terlihat bersemangat.
Nagato berlari menuju puluhan kelinci petinju ketika sudah berada didekat kelinci petinju, dirinya melompat ketengah - tengah kumpulan puluhan kelinci petinju.
Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya melihat Nagato yang memejamkan matanya dan tangannya memegang pedang dengan santainya.
"Sirih." batin Nagato yang sedang mengolah pernapasan.
__ADS_1
"Putaran Jarum Api."
Pedang Nagato terlihat dilapisi api, sama seperti gerakan Kakek Hyogoro, Nagato menyalin gerakan tersebut hingga menciptakan jurus sendiri dengan kreasinya, setelah itu dirinya mengayunkan pedangnya dengan gerakan memutar hanya saja Nagato tidak menahan pukulan kelinci petinju, Nagato menebas pukulan tangan kelinci petinju dengan pedangnya, hingga darah berceceran karena kelinci petinju terkena sayatan pedang Nagato, lintasan tebasan pedangnya terlihat api berbentuk padat seperti jarum api yang berkorbar kemudian terbang menyerang kelinci petinju di sekitar Nagato.