
Hari ini Turnamen Harimau Kai akan memasuki babak 16 besar, sekaligus hari ini akan menjadi penentuan delapan nama pemenang yang akan bertanding di babak 8 besar.
Suasana di Arena Lingkaran Harimau masih tetap ramai bahkan lebih ramai. Penonton berbondong-bondong dan saling berbincang menanti digelarnya babak 16 besar Turnamen Harimau Kai.
Terlihat Nagato bersama lima belas peserta yang lainnya duduk di kursi khusus. Ada hal yang berbeda selain itu di babak 16 besar, jumlah pasukan militer yang menjaga Arena Lingkaran Harimau bertambah bahkan jumlahnya lebih banyak. Ini membuktikan babak 16 besar Turnamen Harimau Kai diperketat penjagaannya.
Tak lama kemudian Gyuki berjalan ke tengah lapangan, penonton mulai bersorak karena pertandingan babak 16 besar Turnamen Harimau Kai akan segera dimulai.
“Mohon maaf jika pengamanan di Arena Lingkaran Harimau kami perketat. Semoga saja tidak terjadi hal yang tidak di inginkan dan kompetisi ini tetap berjalan tanpa halangan suatu apapun.” Gyuki berbicara pada semua orang yang hadir di Arena Lingkaran Harimau sebelum memimpin babak 16 besar Turnamen Harimau Kai.
“Baiklah kita langsung panggil saja kedua peserta yang akan bertarung di pertandingan pembuka babak 16 besar Turnamen Harimau Kai...” Lalu Gyuki menatap Sachie yang menganggukkan kepalanya, “Tuan Putri Hisui dan Mangetsu Tatara silahkan maju ke depan...”
Semua orang kembali bersorak, tidak seperti biasanya Hisui yang selalu menghampiri Nagato untuk mencari perhatian, kini gadis bermata sayu itu langsung menuju tengah lapangan karena dia menyadari kekuatan dari lawannya.
Nagato juga menyadari perubahan raut wajah Hisui, dalam hatinya dia sedikit kagum dengan keberanian yang ada di dalam hati Hisui.
“Bagaimanapun dia masih memiliki ikatan darah denganku, apa perasaanku saja yang terlalu mengkhawatirkan bocah manja itu...” Nagato membatin dalam hatinya sembari memegang sarung pedangnya.
Tak lama terlihat Hisui dan Tatara telah berada di tengah lapangan. Kedua peserta di bawah sana sedang mendengarkan perkataan Gyuki.
“Babak 16 besar Turnamen Harimau Kai telah terpilih. Tuan Putri Hisui, lalu Mangetsu Tatara, apakah kalian berdua tidak keberatan dengan keputusan ini?” Pandangan mata Gyuki menatap wajah Hisui yang menegang, namun tidak dengan Tatara yang tetap bersikap santai.
“Aku tidak keberatan,” jawab Tatara cepat.
“Aku juga tidak keberatan,” balas Hisui.
“Peraturan masih sama seperti babak 32 besar. Apa kalian masih mengingatnya?” Gyuki melihat kepala Hisui dan Tatara yang mengangguk, “Kalau begitu mundur ke garis putih dan tunggu aba-aba dariku...”
Hisui dan Tatara langsung melompat ke belakang dan berdiri di atas garis putih yang telah ditentukan. Mata mereka berdua sangat fokus dan tenang.
“Baiklah, dengan ini pertandingan pembuka babak 16 besar Turnamen Harimau Kai antara Tuan Putri Hisui melawan Mangetsu Tatara dimulai!” Setelah itu Gyuki melompat ke belakang dan mengamati pertandingan yang baru saja dimulai.
Hisui memulai serangan pembukanya, “Jurus Pengikat Keindahan Alam...” Dengan lihainya, Hisui memulai serangan pembuka dari jarak jauh.
Tatara sudah mengantisipasi serangan jarak jauh Hisui, ketika melihat perubahan wajah Hisui walau hanya sekilas, Tatara dengan cepat melepaskan aura tubuhnya dan menarik pedangnya.
“Aliran Air.” Lalu Tatara menebas setiap akar-akar yang hendak mengikat tubuhnya. Permainan pedang Tatara memukau penonton yang melihatnya dari atas tribun.
Hisui menggigit bibir bawahnya, kemudian dia mundur selangkah ke belakang dan memulai serangan keduanya, “Jurus Pengikat Keindahan Alam : Tusukan Seribu Akar.”
Tatara menatap akar-akar tajam yang hendak menusuknya dari dalam tanah. Langkah kakinya dengan cekatan menghindari setiap tusukan akar yang dilancarkan oleh Hisui.
“Teknik Pedang Air : Hiu Menerkam.” Tatara memainkan pedangnya dengan lihai dan menebaskan pedangnya yang membentuk mulut hiu yang terbuat dari air itu. Dalam lima kali gerakannya, Tatara berhasil menghalau seluruh serangan tusukan akar milik Hisui.
“Tidak mudah,” desis Hisui. Terlihat wajah Hisui yang berdecak kesal.
__ADS_1
Pertarungan serangan jarak jauh tersaji di tengah lapangan. Tatara sesekali menebasakan pedangnya dari jauh, sedangkan Hisui juga terus melancarkan serangan jarak jauhnya.
Tak lama setelah keduanya bertukar serangan jarak jauh, Hisui menciptakan pohon cemara ilusi, “Pohon Cemara Ilusi Dalam Musim Dingin.” Bibir mungil Hisui merekah.
Salju-salju mulai berjatuhan di udara, kemudian dia melancarkan serangan gabungannya, “Salju Musim Dingin.” Terlihat salju-salju yang turun dari atas pohon cemara ilusi berwarna hijau.
“Jurus Pengikat Keindahan Alam : Cengkeraman Akar.” Tiba-tiba pohon cemara ilusi yang berada di belakang Hisui menghilang, kini pohon cemara itu berpindah tempat di belakang Tatara.
Semua penonton terkejut melihatnya, mereka secara tidak sadar telah langsung terbawa dalam pertarungan Hisui. Akar-akar yang keluar dari bawah pohon cemara ilusi mulai menyerang tubuh Tatara dan hendak mengikat tubuh pemuda tersebut.
Tatara memainkan pedangnya dan menebaskan pedangnya untuk memotong setiap akar yang hendak melilit tubuhnya. Bahkan berkali-kali dia menghancurkan akar-akar dari serangan Hisui, namun akar-akar tersebut akan muncul akar yang lain setiap dia memotongnya.
Tatara mempercepat langkah kakinya dalam bergerak, “Tebasan Air Deras!” Ayunan tebasan pedangnya membentuk aliran air yang memotong akar-akar pohon yang membentuk kepalan tangan.
Kemudian Tatara menebasakan pedangnya dari jauh membentuk tebasan yang berupa percikan air. Tak lama serangannya itu berhasil ditahan oleh Hisui dengan sangat baik.
Daun-daun berterbangan di udara terlihat melindungi tubuh Hisui. Setiap percikan air dari tebasan pedang Tatara berbenturan dengan daun-daun yang melayang di udara.
“Tumbuhan Pelindung!” Hisui mundur dua langkah ke belakang ketika melihat Tatara kembali mengayunkan pedangnya.
Benturan tumbuhan yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah dan merambat menahan tebasan pedang Tatara membuat penonton berdecak kagum.
Tatara tidak peduli dengan salju-salju yang mulai mengenai tubuhnya, tak lama dia berlari ke arah Hisui sambil memotong akar-akar yang masih terus mencoba melilit tubuhnya.
Pergerakan Tatara sangat cepat, sekarang dia sudah semakin dekat dengan Hisui, namun tak lama pemuda itu melihat sekilas senyuman tipis menghiasi wajah Hisui.
Salju-salju yang menempel di kulit tubuhnya membuat Tatara berhenti bergerak, matanya melebar karena butiran-butiran salju tersebut berubah menjadi akar pohon yang kecilbmengikat tangan dan kakinya.
Walau berhasil menyadarinya, namun Tatara sedikit terlambat dalam bereaksi sehingga dia masuk ke dalam jebakan Hisui.
“Jurus Pengikat Keindahan Alam : Cengkeraman Akar." Hisui mundur ke belakang dan menatap tajam Tatara yang sedang tercengkeram tubuhnya karena serangan akar pohon miliknya. Dalam sekejap akar-akar pohon yang kecil mulai membesar.
“Bagaimanapun aku harus menang, jika aku berhasil masuk babak 8 besar maka...” Hisui membatin bahagia dalam hatinya, “Aku dan Kakak Tampan akan berjalan berdua seharian. Hanya membayangkannya saja membuatku tidak sabar,” tambahnya.
Sekarang Hisui melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hijau dan memejamkan matanya. Tak lama tubuhnya melayang di udara karena kedua kakinya berpijak pada akar pohon yang keluar dari dalam tanah.
“Kesuburan Mawar Salju Yang Terluka.”
Ketika tangan Hisui menunjuk Tatara, bunga mawar yang bercampur dengan es merambat ke arah Tatara. Semua penonton baru pertama kali melihat teknik serangan yang digunakan oleh Hisui.
Namun Tatara bukan lawan yang bisa Hisui kalahkan semudah itu. Terlihat jelas di udara aura milik Tatara keluar dalam jumlah yang banyak.
“Hiu Air Haus Darah!” Dua ekor hiu berenang di udara dan menyerang serangan yang dilesatkan oleh Hisui.
Kemudian Tatara memaksakan tubuhnya untuk terlepas dari cengkeraman akar pohon yang melilit tubuhnya. Tak lama terlihat pedang milik Tatara bercahaya berwarna biru.
__ADS_1
“Aku harus mencari celah untuk bergerak agar dapat mengayunkan pedangku ini.” Tatara membatin dalam hatinya sambil terus menggerakkan tubuhnya.
Ketika ada celah untuk bergerak, Tatara tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. “Teknik Pedang Air : Hujan Membasahi Jiwa Ketenangan!” Ayunan pedang Tatara membentuk lintasan air, dengan cepat Tatara memutarkan tubuhnya dan memotong setiap akar-akar yang kembali melilit tubuhnya.
Ketika selesai menghancurkan serangan Hisui. Mata Tatara kini tertuju pada Hisui yang sedang melancarkan serangan padanya. Bahkan kini hiu air miliknya sudah hancur oleh serangan Hisui.
Tatara mengolah pernapasan dan memejamkan matanya. “Teknik Pedang Air : Aliran Sungai Jauh.” Tebasan pedang Tatara mengarah pada serangan Hisui membentuk sebuah aliran air sungai yang bergelombang di udara.
Benturan terjadi dan membuat percikan air di udara, namun tak lama di tengah lapangan terlihat Tatara kembali bergerak mendekati Hisui.
“Teknik Pedang Air : Air Terjun Mencekam.” Kali ini Tatara menebaskan pedangnya mengincar Hisui. Semua penonton terdiam melihatnya.
Hisui tersenyum tipis melihat serangan Tatara dan tak lama gadis bermata sayu itu melompat ke bawah untuk menghindari tebasan pedang air Tatara.
Ketika Hisui mencoba mencari keseimbangannya, mata sayunya melebar melihat Tatara kembali menebasakan pedangnya dari jauh.
Matanya memejam ketika tebasan pedang Tatara yang membentuk lintasan air sudah berada di dekatnya.
Akar-akar langsung keluar dari dalam tanah untuk melindungi Hisui, namun tubuh Hisui terpental jauh ke belakang karena ledakan dari tebasan pedang Tatara yang terbentur pertahanannya.
Melihat kesempatan untuk mengalahkan Hisui yang tubuhnya terkapar di tanah, Tatara dengan cepat melangkahkan kakinya mendekati Hisui dan menancapkan pedangnya di samping leher Hisui.
“Maaf atas kelancangan saya, tetapi menyerahlah Tuan Putri Hisui.” Tatara menatap tajam Hisui yang terlihat masih belum mau menyerah.
“Aku tidak mau!” Hisui menjawab perkataan Tatara sengit. Kemudian gadis bermata sayu itu mendekatkan lehernya pada bilah pedang Tatara.
Melihat itu, Tatara dengan cepat menarik pedangnya. Kemudian menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Hisui mencoba berdiri dan menciptakan pedang yang terbuat dari es dengan aura tubuhnya. Semua penonton bertanya-tanya tentang tindakan Hisui.
Tatara menyadari tekad Hisui sehingga dia menerima pertarungan adu pedang melawan Hisui.
“Bertarunglah yang serius denganku dalam pertarungan ini!” Hisui mengayunkan pedangnya dan mengincar Tatara.
Dengan lihai, Tatara menghindari setiap serangan Hisui. Sesekali dia menebaskan pedangnya dan menangkis tebasan pedang Hisui.
Setelah keduanya bertukar serangan selama lima menitan, Tatara menghancurkan pedang es Hisui dan membuat gadis bermata sayu itu terduduk di tanah.
Hisui terlihat tidak ingin mengakui kekalahannya, sehingga mata sayunya mengeluarkan air mata.
“Cukup!” Gyuki mengangkat tangannya, kemudian dia menghela napas panjang, “Pemenangnya Mangetsu Tatara!”
“Jangan bersedih Tuan Putri Hisui, angkap kepala anda. Semua orang melihat tekad dan perjuangan anda.” Tatara segera menghadap Gyuki untuk memberi hormat setelah memberi kata-kata semangat pada Hisui.
Dengan wajah yang lesu, Hisui kembali ke tempat duduk yang ditempati Yuki. Terlihat Hisui tidak berani bertemu dengan Nagato yang sedari tadi terus memperhatikannya.
__ADS_1
Gyuki tersenyum tipis melihat Hisui, untuk mempercepat waktu, Gyuki langsung mengalihkan ke pertandingan selanjutnya.