
Brak
Nathan mendobrak pintu gudang yang Olive tunjukkan. Kedua mata Nathan membulat sempurna melihat orang yang berada didalam.
"Sayang.." Nathan mendekati Ami yang duduk terikat dengan mulut tersumpal.
"Emph..emph." Ami begitu senang melihat siapa yang datang menyelamatkan nya.
Nathan membuka ikatan tangan dan kaki Ami, terakhir kain dimulutnya.
"Hubby." Ami langsung memeluk Nathan erat, meskipun pergelangan tangannya terasa sakit, tapi dirinya begitu senang melihat Nathan datang untuk menolongnya.
"Kenapa bisa seper_"
"Sstt."
Ami langsung membekap mulut Nathan dengan tangannya, raut wajahnya seolah sedang menunggu sesuatu.
"Uhh, aku mau sampai ahh."
Nathan membulatkan kedua matanya, mendengar sesuatu yang sudah pasti dia tahu apa yang sedang terjadi.
"Kamu tahu by, sejak tadi aku mendengar suara seperti itu." Bisik Ami didepan wajah Nathan yang masih dia bekap mulutnya. "Merinding." Ami bergeridik sendiri.
Nathan melepas tangan Ami yang berada di mulutnya. "Siapa yang melakukannya?" Tanya Nathan yang malah jadi penasaran.
"Tidak tahu, sana lihat kalau mau tahu." Jawab Ami dengan cuek.
Nathan mengeluarkan ponselnya untuk menguhungi seseorang.
Dan Ami yang mendengarkannya membulatkan kedua matanya.
"By, bagaimana kalau mereka dikeluarkan dari sekolah." Tanya Ami yang merasa kasihan tapi juga penasaran ingin melihat siapa kedua orang yang sedang melakukan hal-hal tidak senonoh disekolah.
"Biarkan saja, itu konsekuensi yang mereka dapatkan." Nathan mengusap wajah Ami dan mencium kepala gadis itu.
"Kenapa kamu ada disini, bukanya kamu diluar kota, dan dari mana kamu tahu aku di sekap?" Cerocos Ami membuat Nathan mengehela napas.
__ADS_1
"Tidak penting." Nathan langsung mengangkat tubuh Istrinya untuk dia gendong, Ami yang sudah jinak melingkarkan kedua tangannya dileher Nathan.
"Pak Nathan."
Ketika keluar ruangan Nathan berpapasan dengan pak kepala sekolah juga satpam berserta guru yang masih stay disekolah, dan beliau terkejut melihat Nathan mengendong salah satu murid sekolahnya.
"Di gudang sebelah pak." Jawab Nathan menujuk dengan dagunya.
"Baik pak," Pak kepsek menoleh pada satpam dan guru perempuan dibelakangnya.
"Pak Joko dan Bu sisil tolong cek gudang sebelah."
Kedua orang itupun patuh. Sedangkan Olive hanya menjadi penonton dan pendengar.
"Maaf, pak Nathan kami tidak tahu jika Istri anda disekap." Ucap pak kepsek dengan merasa bersalah.
"Kalau bukan karena istri saya, mereka juga tidak akan ketahuan melakukan hal yang membuat nama sekolah tercoreng." Nathan menatap dua orang siswa/i yang menunduk malu digiring keluar dari gudang.
"OMG."
Ami dan Olive memebelalakan matanya, melihat siapa dua orang yang sudah berbuat mesum di lingkungan sekolah.
.
.
Nathan menatap lurus kedepan, pria itu masih diam tanpa suara semenjak masuk kedalam mobil.
Sedangkan Ami pikiranya masih terbang melayang mengingat dua orang yang membuatnya syok.
Seorang Nesya yang sok berkuasa dan suka membulinya ternyata melakukan hal yang tidak pantas, apalagi di lingkungan sekolah.
Apakah mereka tidak punya tempat yang lebih aman untuk bermain?
Atau karena napsu mereka sampai melakukan hal senonoh di sekolah?
Ami tidak habis pikir, melihat wajah Nesya yang tertangkap basah membuat Ami juga merasa kasihan, tapi perbuatan Nesya juga harus dipertanggung jawabkan.
__ADS_1
Krukk..krukkk
Disaat keheningan melanda dan pikirannya entah kemana, disitu bunyi cacing-cacing diperut Ami membayarkan pikiranya keduanya.
"Heee.."Ami menyengir menatap Nathan. "Maaf, dari pagi cacingnya belum di kasih makan." Ucapnya pelan. Takut melihat wajah Nathan yang datar.
Tidak ada respon, Nathan hanya diam membuat Ami mengembungkan mulutnya sedih.
Tadi saja wakah pria itu terlihat kahawatir ketika dirinya disekap, tapi sekarang Nathan cuek.
"Apa aku harus disekap terus." Gumamnya dalam hati.
Tak lama Nathan membelokkan mobilnya ke sebuah kafe. kafe nuansa anak muda.
"Turunlah." sepatah kata dari Nathan membuat Ami semakin sedih. Biasanya pria itu akan membukakan pintu untuknya.
Dengan lemas bestie Ami keluar. Dan melihat Nathan yang sudah lebih dulu masuk kedalam.
"Ck, lemes Bestie. dicuekin ayang." Keluhnya berjalan mengikuti Nathan.
Ami memacari Dimana Nathan duduk, tapi matanya tidak melihat pria itu duduk.
"Ehhh." Ami terkejut ketika lenganya ditarik oleh Nathan.
Ami duduk dan Nathan duduk didepannya dengan membuka kotak obat.
"Lain kali jangan ceroboh dan sok jagoan. Tugas kamu hanya sekolah bukan untuk mencari musuh dan menjadi tawanan." Omelnya dengan tangan mengobati pergelangan tangan Ami yang memar.
Ami terseyum, matanya menatap wajah Nathan yang serius mengobati lukanya, meskipun terlihat kesal tapi pria itu begitu peduli padanya.
"Sudah, pesanlah apa yang kamu mau." Nathan mendongak, dan tatapan keduanya saling bertemu.
Ami terseyum, tapi wajah Nathan hanya datar saja.
Cup
Ami mengecup pipi Nathan, dengan senyum manis, lalu menunjukan tangannya yang mengepal, jari telunjuk dan jempolnya menyilang.
__ADS_1
"Sarang Hae yo." Gadis itu tersenyum sangat manis, sampai membuat Nathan memalingkan wajahnya.