My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Pengantin baru


__ADS_3

"Auuwss.."


Ando yang berbalik dan terkejut lupa jika dirinya membawa panggangan panas, hingga tanpa sadar besi panas itu mengenai tangan Olive yang membawa nampan, hingga nampan itu terjatuh.


Ando ingin meraih tangan Olive yang terkena besi panas itu, tapi tindakannya mendadak berhenti.


"Olive tangan kamu kenapa?" Niko yang tiba-tiba datang langsung meraih tangan Olive dan menghisap jari manis yang tekena panas.


"Kak.." Lirih Olive menatap Niko tak percaya dengan apa yang dilakukan.


Sedangkan Ando hanya diam mematung tidak tahu harus melakukan apa, lagi-lagi dirinya merasa panas melihat pria lain perhatian pada Olive bahkan didepan matanya sendiri.


"Kita, obati kedalam." Niko mengajak Olive meninggalkan tempat memanggang itu, dan Ando hanya bisa menatap dengan perasaan berkecamuk.


"Sial..!!" dengan kesal dia pergi meninggalkan tempat itu.


"Loh kamu kenapa Ol?" Tanya Ami yang berpapasan dengan Olive dan kakaknya.


"Hanya luka kecil, gue mau obatin dia." Jawab Niko berlalu pergi.


"Ada apa sayang." Nathan yang mengambillkan minum untuk istrinya kembali dan melihat Niko membawa Olive masuk kedalam.


"Em, ngak tau." ucap Ami dengan menerima gelas yang Nathan berikan.


Keduanya berjalan ke arah taman yang tidak jauh dari para orang tua yang sedang sibuk, Nathan mengajak istrinya duduk di bangku taman.


"Apa kita akan menginap?" Tanya Ami yang duduk dengan memegang gelas berisikan jus jeruk.


Tangan kanan Nathan berada di punggung Ami, pria itu menoleh. "Kalau kita menginap bunda dan papa tidak akan leluasa mengadon adik untuk kamu."


Bugh


Ami memukul dada Nathan. "Kamu ngaco." Ami terseyum. "Apa mungkin bunda akan hamil dan aku punya adik." Ami merebahkan kepalanya di bahu sang suami, setelah menaruh gelas yang dia pegang di meja kecil depan mereka.


"Kenapa tidak jika Tuhan menghendaki." Nathan mengusap kepala Ami, dan mencium pucuk kepalanya.


Tiba-tiba Ami tertawa, membuat Nathan sedikit menjauhkan kepala Istrinya. "Kamu kenapa?" Tanya Nathan yang mendadak horor. Melihat istrinya tertawa tidak jelas.


"Lucu kali ya, kalau bunda punya Beby, terus aku juga punya Beby." Ucap Ami masih dengan tawanya, pikirnya membayangkan jika mereka berdua mengasuh bayi bersama. "Ngak bisa bayangin anak aku panggil nenek, sedangkan adik aku panggil bunda." Ami tertawa sambil melihat wajah suaminya.


"Memangnya kenapa? bukankah itu menyenangkan." Nathan ikut tersenyum. Dia pikir istrinya kesambet penunggu taman karena tertawa.


"Ya, pasti akan ramai. Apalagi kalau Mama juga punya Beby."


Pletak


"Ngaco kamu." Nathan menyentil kepala sang Istri.


"Ish, sakit By." Ami memberengut karena keningnya mendapat sentilan dari Nathan.


Nathan mengelus dan mengecup kening Ami yang beru saja dia sentil. "Papa tidak akan mengijinkan, lagian melahirkan Aileen Mama mempertaruhkan nyawanya, mana mungkin papa membiarkan Mama melakukannya lagi."


Nathan mengingat cerita Mamanya ketika melahirkan Aileen, saat itu dirinya yang sedang bermain di taman kota ditemani Mamanya yang sedang hamil besar bersama seorang pengasuh, dan di sana dirinya berlarian hingga saat akan jatuh Mamanya reflek berlari, karena hamil dan tidak memperhatikan jika didepanya ada batu, tidak sengaja Mama Indira menyandung batu itu hingga membuat Mama Indira jatuh dan mengalami pendarahan.

__ADS_1


Tidak hanya itu, sebelum ada Nathan Mama Indira juga bercerita pernah mengalami keguguran. Dan sejak kelahiran Aileen, papa Allanaro tidak mengijinkan Mama Indira kembali hamil meskipun Mama Indira menginginkan anak lagi.


"Jadi Mama, juga pernah mengalami keguguran?" Tanya Ami dengan menatap wajah suaminya.


"Hm, dan aku juga bisa merasakan apa yang papa dulu pernah rasakan." Nathan mengecup pucuk kepala sang Istri.


Nathan tahu persis apa yang papanya dulu rasakan, setelah dia sendiri merasakannya. Sungguh rasanya begitu menyayat hati.


"Anak-anak ayo kemari." Seruan dari belakang membuat keduanya menoleh.


"Nathan, Ayana sini. Semua sudah siap.!" panggil Mama Indira dengan melambaikan tangan.


"Ayo." Nathan pun mengajak sang Istri untuk berdiri dengan menggenggam tangannya.


Ami terseyum dan mereka berjalan beriringan untuk berkumpul merayakan pesta keluarga. Keluarga pendatang baru yang akan menambah keramaian.


"Loh, kak Ando mana?" Tanya Ami yang tidak melihat satu orang yang tadi datang.


Olive yang berada disamping Ami juga ikut mengedarkan pandangannya, dan ternayata memang tidak ada.


"Dia ada perlu dengan temannya." Nathan pun menjawab pertanyaan sang Istri, karena Ando sudah mengirim pesan padanya dan meminta maaf karena tidak sempat pamit dan langsung pergi.


"Oh," Ami membulatkan bibirnya, sedangkan Olive nampak hanya diam dengan pikiran berkelana.


.


.


Pukul sebelas malam Nathan dan Ami memutuskan untuk pulang, mereka tidak menginap meskipun bunda Raya menyuruhnya, seperti apa yang di katakan Nathan jika mereka akan mengganggu pengantin baru jika menginap disana.


Ami yang duduk berselonjor kaki di atas ranjang dengan kepala Nathan yang berada di pangkuannya.


"Em, ngantuk sayang." Jawabnya dengan suara serak. Matanya begitu berat untuk dibuka.


"Tapi kamu belum bersih-bersih By." Ucap Ami lagi menatap wajah suaminya dari atas.


Nathan perlahan membuka matanya yang sudah sayu, akibat mengantuk.


Dengan berat hati Nathan bangun, karena jika tidak Istri itu tidak akan diam. "Kamu resek yang." Nathan mencubit hidung kecil Istrinya.


"Iih, kan untuk kebersihan By."


Nathan tidak lagi menjawab, pria itu bergegas masuk ke kamar mandi.


"Heran, perasaan dulu dia suka kebersihan. Tapi sekarang, mendadak malas." Gumam Ami menatap punggung Nathan yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Di lain tempat, tepatnya di rumah kediaman Mustafa dan Raya, kedua sepasang pengantin baru itu, baru saja membersihkan diri.


Ceklek


Mustafa yang baru keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk untuk menutupi aset miliknya, pria matang itu tidak merasa malu ataupun canggung karena mereka sudah sah negara dan agama.


"Pakai baju Mas." Raya membawakan satu stel pakaian untuk sang suami, meskipun sedikit gugup, tapi sebisa mungkin Raya mencoba untuk tetap santai.

__ADS_1


Mustafa pun tersenyum, melihat Raya yang memberikan baju ganti untuk dirinya. "Aku merasakan dilayani lagi setelah belasan tahun tidak merasakannya." Ucap Mustafa menerima pakaian pemberian Raya.


Raya tersenyum, "Mulai sekarang dan seterusnya ad aku yang akan melaynimu Mas."


Musthafa menerima pakaian itu, tapi tak kunjung dia pakai.


"Kenapa tidak di pakai?" Raya menatap Mustafa yang malah terseyum.


"Apa malam ini tidak ada malam panjang pertama kali untuk kita."


Seketika wajah Raya seperti kepiting rebus, Wanita itu merasa gugup dengan jantung berdebar.


"Apa boleh aku melakukannya?" Tanya Mustafa lagi yang menyentuh dagu Raya, agar melihatnya. Karena Raya menuduk, satu hal yang Mustafa tahu, jika istrinya malu pasti wajahnya akan menunduk.


"Apa aku bisa menolak." Ucap Raya tersenyum, membuat Mustafa ikut menyunggingkan senyum.


"Maaf mas, jika aku bukan yang pertama." Ucap Raya lebih dulu membuat Mustafa menatap lekat wajah istrinya yang belum genap sehari.


"Aku pun juga bukan yang pertama untuk mu, kita akan sama-sama menjalani dan melakukanya dengan ikhlas." Jemarinya mengelus pipi Raya.


Mustafa, memapah Raya untuk duduk diranjang, perlahan keduanya mendekatkan kepala hingga bibir mereka bersentuhan untuk pertama kali.


Jantung keduanya terus berdebar, merasakan sesuatu yang baru dan seperti baru pertama menikah dan melakukan malam pertama. Pada kenyataannya mereka memang baru pertama kali menikah dengan orang yang berbeda.


"Engh." Raya meleguh ketika lidah suaminya menerobos masuk menyusuri rongga giginya, Raya tidak menyangka jika gairah dalam dirinya belum padam ketika mendapat sentuhan dari lawan jenis.


Musthafa yang sudah bisa mengendalikan Istrinya, kini tangannya yang menyentuh pipi Raya bergerak turun, mencari benda kenyal yang masih terbungkus rapat.


"Ugh." Lagi-lagi Raya mengeluarkan suara indahnya membuat Mustafa semakin bersemangat untuk menjamah istirnya.


"Masss." Suara berat Raya seperti energi untuk Mustafa.


Perlahan tangannya membuka pakaian yang Raya pakai, dress rumahan yang mengunakan kacing di bagian depan sampai bawah, Mustafa melepas kancing itu satu persatu tanpa melepas tautan bibirnya yang saling bertukar saliva.


Musthafa menatap tubuh Raya yang sudah polos. Tubuh yang selama ini tertutup dengan pakaian longgar yang Raya pakai dan Mustafa seperti mendapat keberuntungan dimana tubuh Raya ternyata begitu indah, rasanya setelah ini Mustafa tidak akan memperbolehkan Raya memakai pakaian seperti biasa.


"Mas, aku malu." Raya yang sadar ditatap tak berkedip menjadi malu dan menutupi aset miliknya menggunakan tangan.


Mustafa tersenyum. "Sangat indah sayang."


"Ahh, Masss."


Raya tak bisa berkata, ketika bibir suaminya mencucup pucuk dadanya seperti bayi kehausan, sungguh Raya begitu merasakan terbang mendapat serangan dari suaminya.


"Ugh, Mass ahh."


Pengantin baru indentik dengan malam pertama, dan keduanya melakaukan penyatuan yang akan menguras tenaga dan keringat di atas ranjang, keduanya menyatu dengan perasaan bahagia.


.


.


Boleh Ndak otor minta tinggalin jejak kalian semua pambaca setia yang Otor sayangi 😇..

__ADS_1


Jangan lupa, L.I.K.E___ K.O.M.E.N kalian tinggalkan, karena bagi otor sangat berarti 😘😘😘😘


__ADS_2