My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Menghayal


__ADS_3

"Hubby aku minta maaf." Ucap Ami yang sudah menyelesaikan makanya. "Aku minta maaf untuk kejadian di kafe waktu itu, aku tau kau salah dan_dan tidak seharusnya aku mau diperlakukan seperti itu pada kak Zian." Ami menatap Nathan penuh dengan rasa penyesalan.


Nathan masih diam, ingin melihat seberapa besar penyesalan istri kecilnya dengan kesalahan yang dia buat.


"Kejadian begitu cepat, bahkan ketika aku ingin menghindar, kak Zian seperti sengaja melakukan hal itu."


Ya, Ami baru sadar jika kejadian itu begitu dipaksakan oleh Zian, entah apa yang Zian rencanakan, yang jelas Ami merasa dipermainkan.


"Maafkan aku." Ami menundukkan wajahnya, melihat tatapan Nathan yang datar membuatnya semakin merasa bersalah.


"Maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik, aku tidak bisa menjaga perasaanmu."


Tes


Satu tetes air mata Ami jatuh di atas tanganya yang bertautan di atas pangkuan, disusul dengan air mata yang lainya.


"Lihat Aku." Ucap Nathan dengan suara tegas, ketika melihat wanitanya menundukkan wajah.


Ami tidak bergeming, masih menundukkan wajahnya.


"Lihat aku Ayana." Tegas Nathan lagi, membuat Ami perlahan mendongak.


Ami mengusap wajahnya yang basah, menatap Nathan sendu.


Melihat istrinya yang menangis membuat Nathan menarik napasnya dalam.


"Kita pulang." Ucapnya, yang tidak lagi mau membahas masalah waktu itu.


Ami menurut ketika tangannya digenggam Nathan lembut.


.


.


Diaparteman Ami masih membersihkan diri, jam masih menunjukkan lima sore.


Setelah sampai apartemen Nathan masuk keruang kerjanya, karena pekerjaannya dikantor belum selesai dan menyuruh Ando untuk mengirimkan laporannya.


Ami selesai membersihkan diri, tidak melihat Nathan didalam kamar.

__ADS_1


"Apa dia masih marah." Dirinya membuka lemari pakaian besar yang ada di kamar itu, memilih pakaian santai hotpants dan kaos oversize milik Nathan. Sejak tiga hari ini Ami memakai pakaian milik Nathan karena pria itu tidak pulang.


Dengan rambut yang tergerai setengah basah, Ami keluar kamar menuju dapur, diluar sana dirinya juga tidak melihat Nathan.


"Ck, kalau sudah bekerja pasti lupa waktu."


Mengambil dua gelas untuk membuat kopi dan cokelat panas untuknya.


Ami membuka lemari stok cemilan dan ternayata tinggal satu.


"Ternayata kegabutan gue ngabisin makanan." Ucapnya yang tersenyum sendiri. Baru dua hari isi lemari itu penuh dan sekarang sudah habis gara-gara dia galau.


Berjalan menuju ruang kerja Nathan, Ami berniat mengantarkan kopi dan menemani pria itu bekerja.


Tok..Tok..Tok..


"Masuk sayang."


Mendengar suara Nathan Ami terseyum sendiri, jika kata 'sayang' masih ada itu tandanya dia sudah sudah tidak marah, katanya sih.


Ami mendorong pintu yang tidak tertutup rapat.


"Hm, terima kasih." Nathan menatap Ami sekilas dan tersenyum, lalu kembali bekerja.


Ami memanyunkan bibirnya, karena hanya dilirik sebentar, gadis remaja itu sudah seperti anak kecil yang selalu ingin dilirik lama.😂


"Boleh aku menemani disini." Tanya Ami yang masih berdiri di samping Nathan.


"Ya, kalau kamu tidak bosan." Ucap Nathan tanpa melihat Istrinya.


Ami berjalan menuju sofa yang berada di ruangan kerja Nathan. Duduk dengan ditemani secangkir cokelat panas dan cemilan kentang kesukaannya.


Lima menit


Sepuluh menit


Ami sudah bosan hanya duduk dan melihat suaminya fokus bekerja, mau main ponsel dirinya lupa membawa.


Mau mengajak Nathan bicara takut di cuekin dan kena marah.

__ADS_1


"By.." Panggil Ami satu kali, Nathan tidak menjawab, pria itu masih fokus pada pekerjaanya.


Jika dilihat-lihat, ketampanan suaminya berkali-kali lipat lebih tampan jika sedang mode wajah serius seperti itu, Ami sampai tak berkedip dengan tangan yang menyanggah dagunya.


Nathan yang merasa diperhatikan menoleh dan tersenyum melihat Istrinya memandangnya dengan tak berkedip.


Membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja, Nathan berdiri dan menghampiri sang Istri yang masih melamun.


Cup


Nathan menyambar bibir Ami untuk di kecup.


"Melamun hm." Nathan merangkul tubuh istrinya dan mencium pucuk kepala Ami.


"Ish, kamu gangguin orang menghayal aja deh." Wajah Ami kesal tapi bibirnya tersenyum.


Nathan mencebik. "Ngapain menghayal, kalau yang di hayalin ada di sini." Nathan merapatkan duduknya disamping Ami, tangannya masih merangkul bahu Ami.


"Dih, ge-er bener, siapa yang ngehayalin kamu." Elak Ami mendorong pipi Nathan dengan telapak tangannya. Membuat wajah Nathan terdorong ke samping.


"Oke.." Nathan ingin beranjak berdiri, tapi tangannya langsung dicekal membuat Nathan duduk kembali. "Mau kemana?" Rengek Ami yang melihat Nathan ingin pergi.


"Kerjalah, ngapain juga disini." Jawab Nathan dengan wajah pura-pura masa bodo.


Ami memanyunkan bibirnya. "Hubby tidak merindukanku." Ami bergerak untuk duduk di atas pangkuan Nathan. "Apa Hubby senang jika menjauh dariku." Ami menatap lekat wajah Nathan, jemarinya mengelus pipi dan rahang tegas Nathan, bibir bawahnya Ia gigit.


Jakun Nathan naik turun, menatap wajah Ami yang begitu terlihat begitu seksih.


"Shh, jangan menggodaku, kalau kamu tidak ingin aku makan." Tangan Nathan mengelus kedua paha Ami yang terbuka, tatapan matanya menatap dalam bola mata Ami.


"Tapi aku ingin_ Emph.."


Nathan langsung menyambar bibir yang sejak tadi sudah menggodanya, Istri kecilnya benar-benar menggoda kesabaran imannya.


Bibir keduanya saling menyatu, membelit lidah satu sama lain untuk merasai rasa manis yang begitu membuat keduanya semakin menggebu-gebu.


"Aku menginginkan mu.."


"By, ahhh.."

__ADS_1


__ADS_2