My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Menagih imbalan


__ADS_3

"Kamu nakal sayang, kasihan Ando." Ucap Nathan yang sedang mengemudikan mobilnya, mereka mutuskan pulang setelah tiga orang pergi lebih dulu, Ami berpamitan pada bunda Raya.


Meskipun bunda Raya menyuruh mereka menginap, tapi Ami tidak membawa seragam sekolah begitupun Nathan mereka tidak membawa persiapan dan memilih untuk pulang keaparteman.


"Kamu lebih membela sekertaris kadal buaya itu dari pada sahabat aku." Ami memincingkan manatap suaminya.


"Ya tapi dia juga punya perasaan sayang, apa kamu tidak lihat wajah dia tadi menahan amarah." Nathan menoleh ke istrinya sebentar dan kembali fokus ke jalan. "Aku hanya takut jika Ando sudah tidak bisa mengontrol emosinya, pria itu akan berbuat nekat. Apalagi sepertinya dia menyukai Olive." Tutur Nathan yang mengingat masa sekolah mereka dulu.


Dimana Ando yang berkelahi dengan pria yang mencoba untuk merebut kekasihnya, dan Ando tidak segan-segan untuk mengajar habis pria itu sampai babak belur dan masuk UGD.


"Itu tidak mungkin By," Ucap Ami, tapi dirinya juga tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh sumainya, dan Ami takut jika itu benar-benar terjadi maka pasti kakak tirinya akan babak belur.


"Ya, semoga saja."


Sampainya diaparteman Nathan duduk dengan laptop dipangkuannya, sedangkan Ami masih didalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi.


Keluar dari kamar mandi Ami melihat pungung suaminya yang duduk di sofa, Ami berjalan mendekatinya.


"Sedang apa By." Duduk disamping suaminya Ami melihat layar datar suaminya yang menampilkan grafik yang Ami tidak mengerti.


"Hanya mengecek pekerjaan saja." Ucap Nathan langsung menutup laptopnya.


"Em, sana gih bersih-bersih." Ucap Ami yang ingin beranjak, tapi tangannya dicekal oleh Nathan.


"Apa?" Tanya Ami yang menatap wajah suaminya.


"Kamu melupakan sesuatu?" Ucap Nathan dengan mata memincing.


Ami mengerutkan keningnya nampak berpikir dan mengingatnya.


Lupa? melupakan apa? pikirnya yang tidak menemukan jawaban.


"Apa? aku tidak tahu." Jawab Ami dengan bingung.


Nathan mengehela napas. "Sudah aku bantu, lalu apa imbalannya." Nathan menaik turunkan alisnya dengan wajah mesum.


Ami yang paham dengan mimik wajah suaminya tersenyum masam, sepertinya malam ini dirinya tidak akan bisa lolos.


"Mau apa hm." Ami pun langsung duduk di pangkuan Nathan, gadis itu mengusap rahang tegas Nathan menggunakan jari telunjuknya.


Nathan menangkap jemari Istrinya dan mengecupnya. "Mau makan kamu sampai puas." Senyum menyeringai nampak di wajah Nathan.

__ADS_1


Ami menelan ludahnya kasar. "Em, sa-sampai puas." Tanyanya dengan wajah tak percaya.


"Hm, sampai puas." Bibir Nathan mulai menyusuri bahu Ami yang terbuka, gadis itu hanya mengenakan tangtop bertali kecil dan celana hotpants.


"Satu ronde."


"Tidak berasa."


"Dua ronde."


Nathan menggeleng. "Pengennya nambah."


Glek


Ami benar-benar tidak bisa berpikir, kecupan basah Nathan menyusuri leher sampai daun telinga.


"By,, engh." Ami memejamkan mata, Nathan memang tahu daerah sensitif istrinya.


"Tiga ronde, untuk malam ini dan dua ronde untuk besok pagi.


Ami langsung membuatkan matanya, apa suaminya itu gila, sekarang saja sudah hampir jam dua belas malam, dan durasi percintaan mereka tidak pernah sebentar.


Bibirnya ingin bicara namun langsung di sambar oleh bibir tebal Nathan. Keduanya berciuman dengan saling menuntut apalagi Ami membuka akses agar Nathan leluasa untuk mengeksplor rongga mulutnya.


"By, ahh." Ami mendongak ketika Nathan mulai menyusuri lehernya, menyesap memberi tanda merah di sana, leher jenjang putih mulus Ami menjadi sasaran bibir Nathan.


Kedua sepasang suami Istri itu memadu kasih, menyalurkan gelora hasrat yang nikmat tiada tara.


.


.


.


Niko membawa Olive keaparteman miliknya, karena tidak tahu alamat rumah Olive. Niko juga menguhungi nomor Ami tapi tidak ada jawaban.


"Ck, pasti rasanya sakit banget." Niko memeberikan salep anti infeksi pada luka memar dipelipis Olive, pria itu dengan telaten mengurus Olive.


"katanya lu dulu gendut, kurus aja pipi lu bikin gemas apalagi kalau gendut." Gumam Niko pada dirinya sendiri, dengan bibir yang tertarik membentuk senyum.


Niko memang sedikit bertanya tentang Olive pada Ami, dan Ami pun menceritakan bagaimana Olive dulu hingga sampai sekarang. Tapi Ami tetap pada batasannya tidak menceritakan hal pribadi Olive, meskipun dia tahu semua.

__ADS_1


"Sepertinya lu benci banget sama pria tadi." Ucap Niko yang menatap wajah Olive yang masih terlelap karena pingsan.


Niko pun beranjak dari duduknya, dia meninggalkan Olive dikamarnya.


Ando sendiri tidak tahu harus kemana, pria itu masuk ke bar yang sering dia datangi hanya untuk bersenang-senang. Tidak untuk mencicipi lembah lembab yang para wanita miliki, karena sampai sekarang miliknya akan loyo jika akan bertempur dan menyambangi lembah lembab surga dunia.


"Berikan lagi." Ando menyodorkan gelas sloki yang dia pengan, Ando sudah hampir menghabiskan sepuluh sloki, padahal pria itu tidak pernah minum lebih dari lima sloki.


"Anda sudah meminum banyak tuan." Ucap betander yang memang tahu siapa Ando. Pelanggan VVIP bar mereka. Berikan saja aku butuh itu." Ando menatap tajam pria betander yang berani melarangnya.


Pria itu memberikan apa yang Ando, minta hingga Ando merasakan kepalanya begitu berat pandanganya sudah berkunang-kunang.


"Liv, gue butuh maaf dari Lo." Ando yang sudah mabuk berat bergumam dengan suara lirih. "Gue tersiksa Liv, gue minta maaf."


Ando merasakan dadanya sesak, hatinya terasa nyeri, apalagi kepalanya kembali membayangkan wajah kecewanya Olive pada saat itu.


Dirinya menyesal dan merasa bersalah tentu saja, apalagi melihat ada pria lain yang memperhatikan Olive membuat Ando tidak suka dan merasa cemburu.


"Gue minta maaf."


.


.


Pagi hari sepasang suami istri masih bergelung dalam selimut, keduanya saling berpelukan dengan keadaan yang masih polos. Kegiatan panas mereka tadi malam benar-benar menguras tenaga, bagaimana tidak jika Nathan benar-benar memakan Ami sampai tiga ronde tanpa jeda.


Hanya sepuluh menit Nathan memwberikan Ami untuk bisa menghela napas, setelah itu singkong premium Nathan kembali beraksi.


Jam menunjukan pukul setengah enam pagi, alarm yang Ami pasang pun berbunyi.


Bukan Ami yang membuka mata lebih dulu, tapi Nathan.


Mematikan alarm di ponsel sang istri Nathan kembali pada posisinya, menopang tangan kiri di kepalanya, dan tangan kanan mengelus wajah istrinya yang masih terlelap.


"Kamu pasti lelah sayang." Ucap Nathan yang merasa tidak tega jika membangunkan istrinya.


Bangun dari ranjang, Nathan menyambar celana boxer miliknya lalu memaikanya.


Nathan keluar dari kamar dan menuju ke dapur, sebelum itu dirinya menyempatkan diri untuk mencium kening dan bibir Istrinya, sebagai mood booster dirinya bangun tidur.


Nathan sendiri tidak menyangka jika hidupnya akan berwarna seperti ini, kehadiran Ami memang memberi perubahan bagi hidupnya. Kini Nathan benar-benar tidak bisa berpaling dari sang istri.

__ADS_1


__ADS_2