
Bibirnya membentuk senyum, Nathan pasti sudah gila hanya melihat makanan dia bisa mengembangkan senyum. Karena bik Asih sudah ijin tidak berkerja selama dua Minggu. Jadi yang membuat makanan itu adalah istri kecilnya.
"Aku merindukanmu." Nathan pun langsung berlari memasuki kamar Ami, di berharap gadis itu berada di kamar.
Brak
Ami menoleh ketika mendengar pintu di buka dengan kasar.
"Ada apa?" Tanya Ami pada seseorang yang berdiri didepan pintu dengan wajah yang sulit diartikan.
"Em, didepan ada kak Zian." Ucap Olive dengan senyum anehnya.
Ami mengerutkan keningnya, "Kak Zian? kenapa bisa kemari?" Ami menatap Olive dengan penuh tanda tanya, ini rumah Olive berarti yang kan Zian cari adalah Olive.
"Dia nyariin kamu." Ucap Olive lirih. "Maaf." Ucapnya sambil memasang wajah memelas.
Ami mengehela napas, padahal Olive tahu dia sudah menikah, tapi masih saja membantu Zian untuk mendekatinya.
Meskipun Ami tidak pernah memiliki pacar, tapi melihat sikap Zian dan perhatian pria itu, membuat Ami merasa jika Zian melakukannya dengan perasaan.
"Ck, awas aja kalau dia nyogok kamu lagi." Kesal Ami melangkahkan keluar kamar. Sedangkan Olive hanya menyengir.
"Habis, kak Zian tahu makanan favorit aku." Cicit Olive membuat Ami mendelik.
.
.
Nathan menatap sendu kamar yang sudah kembali rapi, tapi gadis itu tidak ada didalamnya.
__ADS_1
Dia pikir gadis itu sudah kembali, tapi ternayata tidak ada.
Berjalan masuk Nathan duduk di tepi ranjang Ami, pria itu mengusap wajahnya kasar.
"Belum apa-apa aku sudah begini." Gumam Nathan dengan perasaan yang kemabli bergejolak.
Bukanya tidak ingin mencari Ami dan membawa gadis itu pulang, tapi Nathan hanya ingin memberi waktu untuk keduanya, waktu untuk berfikir dan introspeksi diri. Apakah mereka memiliki perasaan yang sama atau malah sebaliknya.
Nathan juga ingin memantapkan hatinya, apa yang hatinya inginkan.
Melepaskan atau mempertahankan.
.
.
Ami duduk dikursi teras rumah Olive, menjelang malam komplek rumah Olive nampak ramai dengan anak-anak yang bermain dan orang dewasa yang sedang berolahraga tenes meja, termasuk papa Olive.
"Ya, itupun karena aku memaksa sahabat kamu." Kekeh Zian menatap Ami sekilas.
"Ck, kalian sama saja. Olive yang suka di sogok, dan kakak yang suka menyogok." Ucap Ami terkekeh. "Btw ada apa?"
Zian ikut tersenyum, dirinya memang memaksa Olive untuk memberi tahu alamat Ami, dan kebetulan Ami berada di rumah Olive.
"Hanya ingin melihat kamu saja." Zian memang hanya ingin melihat Ami, tidak ada gadis itu di cafe rasanya ada yang kurang, karena ujian sekolah jadi Zian meliburkan karyawannya yang masih pelajar. Dan mereka yang sudah bukan pelajar, mengambil pekerjaan full pagi hingga malam, seperti Dila.
"Oh, aku kira kenapa?" Ami hanya mengangguk, dirinya bisa menangkap arti sari perkataan Zian, tapi Ami tidak ingin menanyakan lebih lanjut, pasti berujung dengan rasa yang tidak enak.
Zian memang baik, dan pasti wanita yang bersamanya akan beruntung. Tapi bukan dirinya yang harus menjadi wanita beruntung itu.
__ADS_1
"Ay, apa malam ini kamu bisa keluar?" Tanya Zian, dengan berharap. "Aku mengirim pesan tapi tidak kamu balas, meskipun sudah di baca."
Ami menoleh, pikirnya kembali di mana dirinya tidak sengaja meninggalkan ponsel itu di rumah Mama mertuanya. "Ponsel ku ketinggalan, mungkin bunda yang membukanya." Kilah Ami dengan pikiran tertuju pada Nathan, pria itu pasti yang sudah membuka ponselnya.
.
.
Setelah membersihkan diri Nathan keluar kamar dan menuju meja makan dimana dirinya kembali merasakan lapar setelah lama berada di kamar Ami.
Mengambil sepiring nasi goreng, Nathan menghidupkan kompor dan menghangatkannya sebentar karena nasi goreng enak jika di makan dalam keadaan masih hangat.
"Baunya aja udah bikin aku lapar." Gumam Nathan yang sudah menaruh nasi goreng itu kembali ke piring yang bersih.
Duduk di kursi, Nathan menghela napas sebelum memakan nasi goreng buatan Ami dengan lahap.
Berharap esok dia kembali merasakan masakan gadis itu.
Perkara nasi goreng Nathan sampai menghabiskannya tak tersisa sedikitpun di piring itu, dirinya benar-benar menghabiskan sampai bersih.
Setelah Zian pulang, Ami menatap tajam Olive yang masih memakan martabak manis yang dibelikan oleh Zian. Karena dengan martabak ini Ami diperbolehkan ikut makan karena Mamanya yang cerewet sangat menyukainya.
"Heee.. demi dua kotak martabak aku rela memberi tahu kak Zian." Ucap Olive tanpa dosa. Membuat Ami bertambah kesal, dirinya ikut duduk disebelah Olive dan ikut menyantap martabak yang dibelikan oleh Zian.
"Sepertinya kalian cocok jika jadi pasangan." Ucap Ami melirik Olive yang langsung menelan kasar makanan yang baru saja dia gigit, membuat Ami mengulum senyum.
"Mana ada kak Zian ganteng, mau sana aku yang kayak bungkusan lepet." Ucap Olive menatap Ami kesal.
"Makanya rajin olahraga dan diet, bukan hanya rajin belajar dan makan." Ledek Ami membuat Olive mencebik.
__ADS_1
Meskipun begitu, entah mengapa otak Ami tertuju pada seseorang.