
Allan beserta rombongan sampai pukul tujuh malam, mereka langsung menuju hotel yang sudah biasa mereka tempati jika berkunjung.
Dan saat sampai di hotel Allan menyuruh bawahannya untuk dua orang untuk menjaga Sekar.
Beruntung sebelum keluar dari kantor Ando menyita ponsel Sekar.
Kedatangan mereka disambut beberapa orang kepercayaan Adhitama, termasuk Ditya yang senang hati membantu masalah yang menimpa orang nomor satu di kota besar.
Ditya dibantu dengan rekannya yang bertugas dikota itu, sehingga Ditya tidak kesulitan untuk menyelidiki kasus yang menimpa pabrik Nathan.
Cctv yang langsung juga di program khusus agar bisa terhubung dengan kantor pusat, sehingga mereka masih memiliki rekaman itu, mekipun cctv dipabrik hangus terbakar.
"Malam pak." Ditya menyapa Allan dengan sopan.
Allan mengaguk. "bagaimana apa semua sudah terbukti jika musibah itu benar adanya sabotase belaka?" Tanya Allan pada Ditya dan beberapa orang yang membantu Ditya dari kepolisian setempat.
"Ini rekaman cctv yang tersimpan." Ditya memutar arah laptopnya pada Allan.
Allan melihat rekaman cctv itu seksama begitu juga dengan Ando dan Niko, kedua pria itu berdiri dibelakang Allan.
Rekaman cctv yang menunjukkan dimana seorang pria yang mereka sangat kenali sedang melakukan sesuatu di bagian listrik, dimana jika salah satu kabel tersebut di pasang tidak tepat maka akan terjadi korsleting dan mengakibatkan kebakaran.
"Jadi orang kepercayaan Nathan yang melakukannya." Gumam Allan yang melihat Vidio itu.
"Dan kejadian wanita yang terjebak di ruangan itu," Ditya kembali memutar layar laptopnya, kali ini menampilkan ruangan yang terdapat seorang wanita yang sedang mendapat telepon, wanita itu berjalan kearah pintu dan menguncinya sendiri.
"Ck, sudah kuduga." Ando berdecak kesal.
Sekar yang berada di ruangan itu mengunci dirinya sendiri, wanita itu hanya menunggu kapan Nathan datangnya untuk menolongnya.
"Dan soal ledakan itu sebenarnya memang kecelakaan, karena itu justru menjadi kesempatan untuk mereka menekan Nathan untuk mempertanggung jawabkan keadaan yang mereka alami." Jelas Ditya yang di angguki Allan.
Ando dan Niko menggeleng tidak percaya dengan rencana licik mereka, bahkan mereka mempertaruhkan banyak nyawa demi mendapatkannya apa yang mereka inginkan.
"Sekarang pelaku sudah di kantor polisi, dan semua bukti sudah diserahkan."
Jika yang lain sibuk dengan urusan yang menyangkut rumah tangganya, lain dengan dua insan yang baru saja merajut kerinduan yang sudah tiga Minggu tidak tersalurkan.
Nathan mendekap tubuh polos istirnya, sejak satu jam lalu pergulatan panas mereka baru selesai, Nathan tidak memberi jeda, dia terus bekerja keras untuk membuat sawahnya kembali subur.
"Terima kasih sayang." Nathan mendekap tubuh polos Ami dari belakang, mengecup bahu yang yang tadi mulus kini sudah banyak bekas warna kepemilikan.
Drt..Drt..Drt..
Ponselnya berdering, panggilan masuk dari nomor papanya.
"Halo Pah.."
__ADS_1
"...."
"Besok pagi?" Tanya Nathan dengan bingung.
"...."
"Iya pah, aku akan ajak Ayana." Nathan melirik Ami yang melakukan pergerakannya kecil, tangan Nathan mengelus bahu wanitanya agar kembali nyaman.
"Baik."
Nathan kembali menaruh ponselnya, dan mendekap tubuh polos itu kembali.
"Maaf sudah membuatmu menangis." Nathan mengecup kepala Ami.
Entah apa yang akan dia dapatkan esok di sana, yang jelas Nathan merasa jika ada hal baik yang menunggu mereka disana. Apalagi papanya menyuruhnya untuk membawa istrinya.
"Ck, kenapa aku malah tidak sabar untuk hari besok." Kesalnya karena tidak bisa memejamkan matanya.
Otaknya dipenuhi dengan banyak macam pikiran yang akan terjadi esok, dan Nathan semakin penasaran.
Nathan kembali meraih ponselnya, dia memesan tiket secara online dan mendapatkan jadwal jam delapan pagi.
Karena tidak bisa tidur Nathan beranjak dari tempat tidur, menyambar boxer untuk dia pakai sebelum keluar Nathan mengecup kening Ami.
Nathan duduk di bar mini dekat dapur yang menghubungkan ke ruang TV, pria itu duduk di sana dengan segelas minuman beralkohol rendah.
Hembusan asap mengepul ke sekitar ketika Nathan menghisap satu putung ro*kok dan menghembuskannya.
Bukan banyak pikiran lantaran memikirkan istri sirinya, yang dia tinggalkan dikantor, atau memikirkan mereka yang belum pernah melakukan hubungan suami-istri.
Nathan tidak pernah memikirkan hal itu, sekalipun dia di hadapkan dengan wanita telan*jang didepanya, kecuali istrinya.
"Ck, bikin orang penasaran." Nathan yang merasa pusing dengan otaknya yang berpikir tak karuan, memilih menghubungi asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Haloo...".
"Lu Dimana?" Tanya Nathan sambil menghisap benda yang berada di sela jarinya.
"Kenapa?" Tanya Ando balik, dengan nada kesal.
"Istri lu udah kembali ke asalnya, jadi lu nggak perlu takut jika dia ganggu malam panjang lu." Ucap Ando dengan nada jengkel dari sebrang sana.
Nathan mengerutkan keningnya, "Maks_"
Tut... Tut..
"Ck, Ando sialan..!" Nathan mengumpat kesal, saat Ando mematikan sambungan teleponnya tiba-tiba.
__ADS_1
Nathan menoleh kebelakang, ketika mendengar suara pintu dibuka, Ami keluar dengan sudah berpakaian, bahkan terlihat rambut wanita itu basah.
"Sayang, kamu mau apa?" Nathan menyesap batang itu sekali lalu mematikannya didalam asbak.
Menghampiri Ami, Nathan mengikuti wanita itu sampai dapur.
Ami membuka kitchenset bagian atas dia mengambil bungkusan yang tentunya Nathan tahu.
"Sayang, kenapa kamu makan mie, itu tidak baik untuk kesehatan." Nathan mengambil bungkusan itu dari tangan Ami.
Ami tidak perduli, gadis itu menyiapkan air di dalam panci untuk direbus.
Nathan yang tidak mendapat respon berusaha untuk sabar, karena mungkin Ami masih marah.
"Ay, lihat aku." Nathan menarik lengan Ami agar wanita itu menatapnya.
"Maafkan aku, besok pagi kita akan keluar kota, papa menunggu kita di sana." Ucap Nathan menatap Ami yang hanya menatapnya datar.
Ami tidak menjawab, gadis itu meraih bungkusan mie di tangan Nathan dan berbalik untuk memasaknya.
Nathan tidak lagi mencegah, untuk saat ini dia akan kembali mendapatkan hati dan kepercayaan Ami lagi.
Setelah hampir sepuluh menit Ami baru selesai memasak mie yang dia buat, setelah pertempuran di atas ranjang sore hingga malam, perutnya merasa lapar, dan dia malas untuk memasak ataupun delivery order. Cukup membuat mie plus telur Ami sudah kenyang.
"Kamu tidak membuatkannya untukku."Nathan hanya melihat Ami membawa satu mangkuk saja, itu berarti dirinya tidak mendapatkan mie juga.
Ami duduk menatap sejenak, lalu dia kembali duduk dengan tenang, bahkan tidak terganggu dengan Nathan yang hanya melihatnya untuk makan.
Nathan meremat tangannya, melihat Ami hanya diam tanpa mau memperdulikannya membuat dadanya bergemuruh sesak.
Nathan beranjak dari duduknya, dia masuk kedalam kamar tanpa bicara lagi dengan Ami.
Ami hanya menatap punggung Nathan cuek. "Kita lihat apa yang akan kamu lakukan." Ami mendengus.
Rasa cintanya melebihi rasa kecewanya dan sakit hatinya, untuk kali ini dia tidak ingin cepat luluh biar anggap saja dia memberi pelajaran untuk Nathan.
Bukannya Ami tidak tahu apa yang terjadi, dia sudah dikirimkan rekaman cctv oleh papa mertuanya, dan papa Allan juga mengirimkan sebuah pesan agar Ami tidak terlalu memikirkan masalah keluarganya.
So, hanya Nathan yang tidak tahu sebenarnya.
.
.
HuuwaaaaaðŸ˜ðŸ˜ masa tiga bab diatas, isinya hanya hujatan untuk author ðŸ˜
Tapi author seneng loh, kalau kalian pada nonggol di komen, MASA author harus bikin HuRU Hara dulu, batu Kalian mau nonggol 🤣
__ADS_1
Makasih loh yaa, udah selalu dukung karya otor, dan kasih semangat...🥰🥰🥰