My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Dirgahayu republik Indonesia


__ADS_3

Sekar terseyum, mendengar talak dari Nathan, meskipun tidak dipungkiri, jika Sekar juga sempat terpesona dengan pria tampan dan mapan yang sempat menjadi suaminya, meskipun hanya siri.


"Untuk pengobatan Sekar, akan ditanggung perusahaan hingga sembuh, jadi tidak ada alasan kalian untuk menuntut lagi." Bukan Ando yang bicara, melainkan Nathan sendiri dengan mood datar dan dinginnya.


Pria itu menatap tiga orang didepanya dengan bergantian, lalu menatap istrinya dengan senyum, pancaran mata Nathan yang bahagia dan penuh cinta kini terlihat sangat jelas.


Ami ikut tersenyum, "Aku harus ucapkan selamat atau bela sungkawa ya." Ucap Ami dengan wajah polosnya, Nathan terkekeh. Kakinya berjalan mendekat untuk maju.


"Jadi kamu mau memberi selamat untuk suamimu."Tangan Nathan menarik pinggang ramping Ami.


Ando dan Niko, memutar matanya malas, mereka muak melihat kebucinan Nathan.


"Em," Ami nampak berpikir dengan jemari yang dia gigit, membuat Nathan gemas.


Sedangkan Sekar, tersenyum kecut. Tatapan datar dan dingin tadi langsung berubah ketika yang di tatap Istrinya, wanita yang dia cintai.


Sungguh Sekar ingin memiliki pria yang penuh cinta seperti Nathan, tapi kini semua sudah tak berarti, dia hanya bisa menerima pria yang bisa mencintainya dengan tulus, dalam keadaan yang seperti ini.


"Ck, apa kalian tidak malu." Kesal Ando yang sudah geram, melihat sahabat sekaligus bos-nya itu bucin parah.


Nathan meledek Ando dengan senyum devilnya, semakin membuat Ando kesal.


Tak lama papa Allan datang dengan Ditya, kedua pria itu masuk dan melihat keadaan di dalam.


"Bagaimana?" Tanya Allan, yang langsung diangguki oleh Nathan.


"Beres Om, nanti aku share videonya." Ucap Ando, yang langsung membuat kedua mata Nathan membulat sempurna.


"Kau..!!" Nathan menatap tajam Ando, seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Aku hanya menjalankan perintah Nona muda." Ucap Ando yang tersenyum penuh kemenangan.


Nathan langsung menatap Ami, yang menampilkan senyum manis, "Selamat menduda Om."


Nathan semakin membulatkan kedua matanya, Istrinya benar-benar membuatnya kesal bersama temannya.


"Kau akan mendapat hukuman sayang." Nathan langsung mengendong tubuh istrinya, sebelum melewati papanya, Allan sudah mengacungkan kunci didepan Nathan.


"Aaaa, iniBy, turunin aku." Ami malu, diperlakukan Nathan seperti itu.


"Papa tahu kamu butuh ini." Allan memberikan kunci itu. Dan Nathan terseyum lebar.


"Terima kasih Pah." Nathan dengan senang hati menerimanya. "Dan jangan lupa buatkan papa cucu yang banyak." Tambah Allan membuat Nathan terseyum menyeringai, sedang-kan Ami membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


"Beres Pah, Nathan akan buat anak sebanyak yang Nathan mau." Jawaban Nathan ambigu, tapi bagi yang mendengarnya, merasa geli sendiri.


Nathan membawa Ami keluar dari ruangan itu, dan hanya tinggal mereka yang masih disana.


"Saya, rasa masalah kita sudah selesai, dan kalian jangan menuntut sesuatu yang akan merugikan kalian sendiri." Allan menatap pria paruh baya yang diketahui ayahnya Sekar. "Pengobatan Sekar sudah ditanggung, sampai dia sembuh dan untuk kalian berdua, saya akan melunasi hutang yang kalian punya. Itu semua kompensasi untuk kalian, setelah itu hiduplah dengan lebih baik."


Ketiganya menangis, ibu Sekar memeluk suaminya. "Terima kasih tuan, maafkan kami yang tidak bisa menolak permintaan Bayu." Ayah Sekar meminta maaf dengan tulus, begitu juga ibu Sekar.


"Sudahlah, yang jelas masalah ini selesai." Setelah mengatakan itu, Allan pergi.


Kedua orang tua Sekar begitu senang, karena hutang mereka lunas. Lain dengan sekarang yang meratapi hidupnya yang cacat, dan ini juga kesalahannya yang menuruti permintaan pak Bayu.


Dengan langkah tidak sabaran, Nathan langsung membawa Ami menuju ranjang king size, ternyata papanya memberikan hadiah kamar dengan paket bulan madu, dan Nathan menyukainya.


"Aaa.."


Bugh


Ami terlempar di atas ranjang yang dipenuhi dengan mawar merah, lilin aromaterapi mengeluarkan aroma yang menenangkan, sehingga membuat Nathan semakin bergairah.


"By, apa papa tidak salah memesan kamar." Ucap Ami yang menatap sekeliling, tubuhnya terlentang dengan Nathan yang mengungkungnya diatas tubuhnya.


Jemari Nathan mengelus pipi Ami, hingga turun sampai dibibir ranum, Ami menatap wajah Nathan, keduanya saling menatap dengan tatapan penuh cinta, Nathan terseyum dia mendapatkan tatapan penuh cinta itu kembali setelah beberapa hari yang lalu dirinya dibuat gila dan frustasi.


"Apa ini masih sakit." Ami menangkup tangan Nathan yang terdapat perban, perban yang dia pasang tadi pagi.


"Gombal."


"Em, ngomong-ngomong aku suka kamar hadiah dari papa." Ami terseyum lebar.


Dia memang menyukai kamar seperti ini, seperti kamar malam pertama sepasang pengantin.


Nathan yang mendengarnya membuang wajah, hatinya seperti tersentil, tidak susah membaut sang istri bahagia, hanya saja dulu dirinya terlalu naif.


"Kenapa?" Tanya Ami yang menangkup wajah Nathan agar mau menatapnya.


Nathan mengecup telapak tangan Ami yang berada di wajahnya, matanya terpejam, merasakan sentuhan lembut di pipinya.


"Maaf, jika aku dulu tidak bisa membuat malam pertama kita berkesan." Ucap Nathan yang manatap kedua bola mata Ami.


Ami mengerutkan keningnya, nampak mengingat sesuatu.


"Tidak, kita tidak melakukan malam pertama, kita melakukannya disiang hari, dan itupun di kantor." Ucap Ami dengan memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Ucapan Ami sontak membuat Nathan terkekeh, istrinya pintar membuatnya tertawa dan sedih secara bersamaan.


"Ya, dan itupun dengan paksaan."


Cup


Nathan mengecup bibir Ami, memangutnya sebentar dan melepasnya.


"Dan sekarang kita akan melakukan nuansa malam pertama kita." Ucap Nathan lagi dengan menyeringai.


Ami memukul dada Nathan. "Apa kamu tidak bisa lihat jika di luar sana siang hari, dan kita juga bukan pengantin baru lagi." Ami menatap Nathan kesal.


"Ck, berpura-pura saja apa salahnya sih sayang, lagian setiap kali kita jungki-jungkit menurutku tetap sama seperti pertama kali kita melakukannya."


Tanpa sadar Ami menuruti tangan Nathan yang perlahan melepas pakaian yang dia kenakan.


"Hm, menurutmu begitu." Tanya Ami dengan tatapan mata haru.


"Tentu saja, karena aku tidak akan pernah puas menyentuhnya."


"Em, By.." Ami memejamkan mata ketika tangan besar dan hangat menyentuh dua kelembutan miliknya, entah sejak kapan Nathan sudah melepas pakaiannya dan Ami tidak menyadarinya.


Ami mendongakkan merasakan aliran darahnya berdesir dengan kulit yang meremang, sentuhan Nathan membuatnya selalu melayang.


Nathan terus melancarkan aksinya, tubuhnya juga sudah sama dengan Ami, keduanya saling bersentuhan kulit dengan gesekan lembut yang membuat keduanya semakin blingsatan.


"Uhh By, pelan-pelan."


Merasakan ngilu dan juga enak, Ami menahan kepala Nathan yang terus mecicipi bulatan kecil kelembutannya seperti bayi kehausan, Ami merasakan geli, sakit bercampur enak.


"Semoga Nathan junior, akan segera hadir."


sebelum pada intinya, Nathan mengecup dan mengelus perut Ami.


"Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu."


"Ahhhh."


Komen kalian diatas buat author ketawa, hadiah talak di malam 17san๐Ÿคฃ


Kalian emang reader author yang tersayang.


...๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Dirgahayu Republik Indonesia, ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ...

__ADS_1


...๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ17 Agustus 2022.๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ...


...๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ 77 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ...


__ADS_2