
Pergulatan mereka berlanjut setelah keluar dari kamar mandi, Nathan tidak berhenti mencetak benih kecebong Nathan junior agar segera berkembang. Tapi itu hanya angan-angan saja, karena nyatanya Nathan sendiri yang mencegah agar istrinya tidak hamil lebih dulu.
Pagi hari, sinar matahari belum menampakan sinarnya, Nathan sudah lebih dulu membuka kedua matanya.
Pemandangan pagi yang begitu indah setiap dirinya membuka mata, yaitu melihat wajah Istrinya yang masih terlelap damai.
"Kenapa kamu begitu menggemaskan." Nathan mengusap-usap pipi Ami dengan ibu jarinya. Dirinya teringat percintaan mereka tadi malam yang berlanjut di atas ranjang dan berakhir Nathan memandikan sang Istri yang kelelahan.
Cup
Nathan mengecup kening Istrinya, dan beranjak dari tempat tidur untuk membuatkan istrinya sarapan.
Membuka pintu kamar, Nathan kembali menoleh kebelakang dan melihat Ami yang masih terlelap.
Bibirnya kembali melengkungkan senyum, istri kecilnya semalam begitu liar dan membuatnya tidak ingin berhenti jika saja Ami tidak kelelahan.
Menghidupkan kompor listrik Nathan akan membuatkan istrinya omelet dan segelas susu coklat kesukaan sang Istri.
"Omelet spesial untuk istri nakal." Gumam Nathan sambil terseyum.
Pukul setengah tujuh Nathan menyelesaikan masakannya, dirinya membawa nampan berisikan sarapan untuk mereka berdua ke kamar.
"Ck, dia itu memang kebo." Nathan geleng kepala, menaruh nampan di meja kecil, Nathan mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang, sambil menunggu sang Istri bangun. Karena dirinya tidak tega untuk membangunkannya.
Tak berapa lama Ami mengerjapkan kedua matanya, tubuhnya terasa remuk sampai dirinya enggan untuk bergerak, rasanya tulangannya seperti ingin lepas dari tubuhnya. Ck lebai.
"Ah, kenapa rasanya seperti ini." Ucapnya dengan tubuh yang masih terasa lemas dan sakit semua.
Hidungnya mencium bau aroma masakan yang menggoda perutnya untuk segera diisi, Ami melirik meja kecil yang dekat dengan sofa, dan melihat Nathan yang berdiri memunggunginya sedang melakukan panggilan telepon.
Ami beranjak dari tempat tidur dan mendekati suaminya yang masih berbicara.
"Satu Minggu, saya meminta ijin satu Minggu." Ucap Nathan dengan seseorang di seberang sana.
Grep
Ami memeluk Nathan dari belakang, menyandarkan wajahnya dipunggung tegap suaminya.
"Iya pak, terima kasih. Atas bantuannya." Nathan terseyum, tangannya mengelus lengan Ami yang melingkar di perutnya.
"Ya, selamat pagi." Nathan menutup panggilnya.
"Kamu sudah bangun." Nathan membalikkan tubuhnya dan memeluk sang Istri.
"Em, karena guling yang aku peluk sudah tidak ada." Ucap Ami manja. Gadis itu bergelayut di pelukan Nathan seperti kucing yang sedang ingin dimanja.
Nathan mengecup kepala Ami. "Makan dulu pasti kamu lapar." Nathan menuntun istirnya untuk duduk di sofa.
"Em, hubby membuatnya sendiri." Ami menatap omelette yang ada di atas meja, dan bergantian menatap wajah Nathan.
"Memangnya siapa lagi, jika bukan suami tampan mu ini." Ucap Nathan jumawa.
__ADS_1
Ami memanyunkan bibirnya. "Hm, tampan dan mapan, diatas ranjang." Bisik Ami di kalimat terakhirnya dengan cekikikan.
"Dasar, Istri nakal." Nathan menarik hidung Ami.
"Ish, By. sakit." Ami mengusap hidungnya yang di ditarik Nathan.
"Makanlah, sebelum kamu yang aku makan lagi." Ucapan Nathan membuat Ami mendelik, membuat Nathan teekekeh.
"Setelah ini, bersiaplah kita kan pergi ke luar kota." Nathan kembali bicara.
Ami yang masih mengunyah makanan segera dia telan. "Maksud Hubby apa?" Tanyanya dengan bingung, karena kemarin suaminya tidak memberi respon tentang ucapanya.
"Karena kamu semalam sudah melayaniku dengan maksimal, maka sebagai hadiah kita akan pergi keluar kota bersama." Nathan terseyum dan mengelus pucuk kepala Ami.
Senyum Ami langsung mengambang. "Beneran By." Tangannya menyentuh lengan Nathan.
"Ya, dan segera habiskan makannya."
Ami dengan semangat menghabiskan makanan yang suaminya buat.
Bahagia tentu saja, karena dirinya akan berlibur selama satu Minggu, dan bebas dari pelajaran sekolah.
"Terima kasih By." Ami terseyum manis.
.
.
.
Pesan dari Ami membuat Olive cemberut.
"Satu Minggu, yang benar saja." Keluhnya yang merasa tidak semangat sekolah. Sahabatnya satu-satunya ijin sampai satu Minggu.
Berita dikeluarkan empat siswa dari sekolah pun sudah menyebar, tapi semua murid tidak ada yang tahu masalah apa yang menimpa mereka termasuk Nesya dan ketua osis mereka.
Loli yang sudah tidak memiliki sahabat pun, hanya sendiri. Beruntung dirinya tidak terlibat masalah dengan Nesya yang mengakibatkan dikeluarkannya Nesya dari sekolah.
Bugh
Loli yang berjalan melamun menabrak bahu seseorang.
"Ish, kamu gak lihat apa kalau ada aku segede gini." Ucap Olive yang kesal menatap Loli.
Bukanya marah Loli malah tertawa. "Makanya jangan punya badan gede yang menutupi jalan." Balas Loli enteng.
Olive mendelik. "Eh, kamu gak punya temankan. makanya berkeliaran sendiri." Ledek Olive sinis.
Loli menghela napas. "Loe taukan apa yang terjadi dengan Nesya." Tanya Loli memicingkan matanya.
Olive hanya menaikkan kedua bahunya. "Mana ku tau, kamu kan dayangnya."
__ADS_1
Loli mencebik. "Ayo ke kantin, aku tlaktir." Loli merangkul lengan Olive.
Olive yang bingung menatap Loli aneh. "Tenang, anggap aja sebagai permintaan maaf gue." Ucap Loli dengan tulus.
Dirinya sadar jika selama ini dirinya banyak salah. Dan mulai sekarang Loli akan berubah menjadi lebih baik.
Olive terseyum senang. "Oke, kita teman."
Keduanya tertawa menuju kantin.
.
.
"By, kenapa aku tidak boleh membawa pakaian." Tanya Ami dengan bingung. Dirinya yang akan mengemas pakaian dilarang oleh Nathan.
"Untuk apa membawa pakaian, jika kamu lebih indah jika tidak memakai apapun."
Plak
Ami memukul lengan Nathan yang baru saja memeluknya dari belakang.
"Kamu mu aku masuk angin, karena tidak pakai baju." Kesal Ami yang kembali menutup pintu lemari pakaian didepanya.
"Tidak akan, karena aku akan menghangatkan tubuhmu ini." Nathan mengecup bahu istrinya.
"Kenapa kamu jadi begini sih." Heran Ami yang melihat Nathan semakin mesum setiap hari.
"Karena ini." Tenaganya menyentuh milik Ami dibawah sana. "Semua yang ada di tubuhmu, membuatku candu."
Ami memejamkan matanya.
.
.
"Maaf nona, hari ini pak Nathan tidak masuk." Ucap resepsionis pada wanita Cantik dan modis didepanya.
Maudy berdecak kesal. "Apa kamu mencoba untuk membohongi saya." Maudy menatap resepsionis itu tajam. "Katakan jika aku Maudy Mahendra ingin bertemu dengan Nathan." Tegas Maudy dengan sombong.
Resepsionis itu hanya menatap datar Maudy. "Maaf nona, jika anda ingin membuat keributan di sini, lebih baik anda pergi. Sebelum saya panggil security." Tegas resepsionis itu yang sudah kesal menghadapi Maudy yang angkuh.
"Kamu berani sama saya." Maudy balik menatap tajam. "Asal kamu tahu, saya adalah calon istri bos kamu, dan ingat kamu akan menjadi orang pertama yang akan aku pecat setelah menjadi nyonya Adhitama." Geram Maudy menatap resepsionis itu tajam penuh amarah.
Perdebatan mereka banyak pasang mata yang melihat.
"Pak security..!" panggil resepsionis wanita itu.
"Iya mbak." security menghampiri.
"Usir wanita gila ini pak, jangan sampai dia masuk kembali ke kantor ini." Titah resepsionis dengan menujuk Maudy.
__ADS_1
"Kau..!!"
"Lepas, jangan sentuh saya..!!" Maudy berteriak seperti wanita gila. "Sialan, kalian semua..!!"