
Berganti hari dan waktu, keadaan yang sudah mendewasakan Ami sejak dini. Kini gadis itu sudah bisa menerima keadaanya yang sudah berubah.
Dalam materi Ami kini memang memiliki semuanya, dan dirinya kini menjadi nyonya Adhitama yang sebenarnya. Sebenarnya di mata murid-murid sekolah, dan didepan publik, karena tiga hari yang lalu Nathan sudah mengumumkan pernikahannya dikhalayak publik dengan media elektronik dan televisi secara konferensi pers.
Bagi Ami dirinya yang sekarang tidak bisa leluasa seperti dulu, apalagi semua orang di khalayak ramai sudah melihat wajahnya sebagai istri dari Nathan Adhitama, dan oleh karena itu Ami tidak bisa seenaknya melakukan hal yang bisa merusak citra suaminya.
Hidup miskin saja sudah berat, dan sekarang hidupnya lebih berat karena bersanding dengan pablik figure seorang pengusaha sukses. Padahal dulu dirinya tidak berani bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga kaya raya yang terpandang, tapi kini justru hidupnya berkaitan dengan kehormatan yang dijunjung tinggi.
"Sore non." Satpam lobby kantor menyapa Ami yang baru saja tiba di kantor Nathan. Gadis itu masih memakai seragam sekolahnya.
"Sore pak." Ami terseyum.
Sejak hari pengumuman dia adalah Istri Nathan Adhitama, Ami si sambut hangat oleh karyawan kantor suaminya.
Ami sampai dilantai sembilan dirinya melihat Sinta sekertaris suaminya yang sedang duduk fokus bekerja.
"Mbak Mas Nathan ada?" Tanya Ami lebih dulu, mekipun sebagai nyonya tapi Ami selalu bertanya ketika akan mengunjungi Nathan.
"Eh, mbak Ayana. Ada pak Nathan di dalam." Sinta yang memang sudah akrab dengan Ami sejak pertama kali gadis itu datang dibawa oleh bosnya.
"Makasih mbak." Ami terseyum.
"Sama-sama." Sinta juga membalas senyum Ami, meskipun usianya lebih tua tapi Sinta menghormati Ami sebagai istri dari atasnya, dan Ami sendiri hanya mau di panggil mbak atau namanya saja.
Ami mendorong pintu besar didepanya, dan dirinya melihat suaminya bersama Ando yang sedang membicarakan sesuatu.
"Lu jangan main-main sama ABG Ndo, bisa-bisa lu yang kena karmanya." Ucap Nathan yang memang belum menyadari adanya Ami disana.
__ADS_1
"Ck, gue gak akan ikuti jejak lu Nat, karena gue bukan tipe pria pedofil kayak lu." balas Ando dengan santai.
"Gue hanya mengingatkan selebihnya terserah lu, karena gue yakin pasti suatu saat lu akan mengejar ABG yang lu anggap cabe-cabean." Ucap Nathan lagi sambil mengecek berkas yang diberikan Ando.
"Yaelah lu udah kaya peramal aja, lagian gue hanya ngicip doang, gak bakalan gue perawani anak orang yang masih sekolah, tapi kalau icip-icip buah semangkanya sih Why not, toh dia fine-fine aja." Jawab Ando dengan tersenyum bangga.
"Gila lu, lu lebih pedofil dari pada gue." Nathan melempar berkas yang dia koreksi kepada Ando, dan saat itu Nathan melihat istrinya berdiri diam di depan pintu.
"Sayang kamu datang." Ucap Nathan yang sedikit terkejut, karena Ami tidak memberi kabar jika akan datang ke kantornya.
Ando pun menoleh ke belakang dengan senyum masam.
"Em, aku sengaja mau memberi Hubby kejutan, tapi malah aku yang terkejut." Ami melirik Ando yang duduk sedikit gusar.
Nathan juga melirik asisten dan sahabatnya itu. "Oh, aku juga terkejut." Jawab Nathan dengan wajah tanpa dosa melihat temannya seperti tertangkap basah.
"Kemarilah." Nathan merentangkan tangannya satu untuk menyuruh Ami mendekat.
"By, kak Ando jahat." Ucap Ami dengan kesal.
"Ssstt, jangan membahas orang lain dulu." Nathan langsung menarik tangan Ami dan duduk dipangkuannya.
"Tapi By, dia sudah_"
"Biarkan saja, temanmu juga sudah bisa membedakan mana yang baik, dan buruk. kamu hanya perlu mengingatkannya saja." Ucap Nathan dengan tangan membelai pipi mulus istrinya. "Ada apa kamu kemari, apa merindukanku." Tanya Nathan dengan menyunggingkan bibirnya.
Ami mencebik. "Hem, kangen ini." Ami mengecup bibir Nathan.
__ADS_1
"Nakal." Nathan mencubit p*ting Ami dari balik baju yang dia pakai.
"Auuws..By." Mata Ami membulat karena ulah Nathan.
"Habis gemas sayang, hanya ini yang bisa aku nikmati." Ucap Nathan dengan nada rendahnya.
Pasalnya ini sudah hampir dua bulan Nathan tidak menyentuh Istrinya, sejak kejadian yang membuat Ami masuk rumah sakit.
"Em, tinggal dua minggu lagi." Ucap Ami terseyum menggoda, membuat Nathan semakin frustasi.
"Ck, lama." Nathan langsung mengendong Ami untuk beranjak dari kursinya. "By, mau kemana." Ami melingkarkan tangannya dileher Nathan.
"Tempat yang enak untuk rebahan." Ucap Nathan yang sudah masuk kedalam kamar pribadinya.
Bugh
"By, aku bukan karung beras." Ami kesal karena tumbuhnya dilempar atas ranjang dengan kasar.
"Siapa bilang kamu karung beras,hm." Nathan melepas jas dan kemeja yang dia kenakan. "Tapi karung untuk menampung singkong premium." Nathan terseyum menyeringai.
"By, kamu mesum." Ami tertawa melihat Nathan yang seperti seorang gigolo.
"Tapi kamu menyukainya."
Nathan langsung menyambar bibir tipis Ami yang menjadi bulanannya, bibir yang tidak pernah merasa puas untuk menyesapnya.
"By, Aahh.
__ADS_1