
Setelah memastikan supir kantor yang di suruh Nathan datang untuk mengantar sang Istri, Nathan juga berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Nathan sengaja menyiapkan supir untuk istri kecilnya, meskipun Ami sempat menolak tapi gadis itu langsung nurut ketika Nathan mengancamnya dengan ingin memperawaninya.
Sungguh Nathan gemas sendiri, jika saja tidak memikirkan masih seorang siswi yang baru naik kelas dua belas pasti Nathan sudah menghabisinya diatas ranjang. Nathan yang sebenarnya tidak masalah jika gadis itu hamil ketika masih sekolah, dan dia juga ingin memiliki bayi yang lucu, entah mengapa membayangkan hal itu saja membuatnya bahagia.
Padahal sebelumnya Nathan tidak pernah memikirkan hal seperti itu, tapi setelah menikahi Ami pikiranya semakin kesana.
"Mimpi apa gue bisa jatuh pada gadis tujuh belas tahun." Gumamnya dengan geleng kepala.
.
.
Di mobil sedan berwarna hitam, Ami sedang duduk di kursi penumpang menunggu Olive keluar rumah. Tadi Ami sudah mengirimkan pesan jika dirinya yang akan datang ke rumahnya untuk menjemput.
"OMG, sahabat aku sultan." Olive yang baru saja keluar dan melihat mobil sedan mewah membulatkan matanya.
Ami yang di dalam mobil membuka kaca. "Buru Ol, masuk." Panggil Ami karena Olive masih saja berdiri diam dengan wajah tak percaya.
Brak
Olive langsung menutup pintu setelah masuk, dia begitu takjub dengan desain didalam mobil. "Wah, ini sih jauh beda rasanya sama mobil papa aku." Ucap Olive dengan tersenyum senang, meneliti interior mobil yang saat ini membawa mereka.
"Iya lah, Istri CEO gitu." Balas Ami dengan pongah, wajahnya dibuat seombong.
"Dih, udah ngaku sekarang istri CEO," Olive mencebik meledek Ami.
"Mau gimana lagi, dia yang mau sama gue." Ami tertawa, dirinya seperti bangga memiliki suami tampan dan tajir melintir seperti Nathan yang awalnya sangat membuatnya muak dan menyebalkan.
Olive hanya memutar kedua bola matanya malas, sekarang sahabatnya itu sudah bisa sombong.
__ADS_1
Tak lama mobil yang mengantar mereka sampai di cafe milik Zian, meraka keluar bersama.
"Bapak tunggu sebentar ya, kami tidak akan lama." Ucap Ami pada supir yang disiapkan suaminya.
"Baik Non."
Ami mengandeng tangan Olive untuk masuk ke cafe, yang baru saja buka. Dan Ami berharap jika Zian sudah ada di sana.
Tak lama setelah mereka masuk, motor besar Zian memasuki parkiran cafe, dia sempat melihat kedua gadis yang dia kenal keluar dari mobil mewah yang masih terparkir di depan cafenya.
"Sebenarnya siapa dia." Gumam Zian lirih, menatap punggung dua gadis yang sudah menghilang di balik pintu.
Zian segera turun dari motor besarnya setelah melepas helm yang dia pakai.
"Bapak kenapa tidak masuk." Tanya Zian mendekati mobil yang tadi Ami naiki dan dia melihat supir duduk didalam nya.
"Oh, engak den. Saya hanya mengantarkan Nona saja." Jawab supir itu dengan ramah. Zian hanya mengaguk dan tersenyum lalu pamit pergi.
Dika melihat jam di tangannya, "Biasanya sebentar lagi." Dila menjawab, "Tumben kamu datang, dari kemarin aku nungguin kamu loh." Dila tersenyum, bukan dia saja yang sepetinya menunggu kedatangan Ami, tapi juga Zian.
"Hee, ada urusan keluarga kak." Ami memamerkan giginya.
Tak lama orang yang mereka cari memasuki cafe. Ami tersenyum melihat kedatangan Zian, dan Olive menatap Zian seperti ada sesuatu yang berbeda.
"Kak, ada yang aku ingin bicarakan." Ucap Ami lebih dulu, ketika Zian sudah sampai didepanya.
Zian menatap Ami intens, tatapnya memang berbeda dan Ami merasakannya.
"Aku juga." Zian lebih dulu berjalan ke ruang pribadinya. Ami yang melihatnya mengakat kedua bahunya tak mengerti.
Sedangkan Olive menghela napas berat, pasti Zian melihat sesuatu sebelum masuk tadi.
__ADS_1
Ami mengetuk pintu sebentar, lalu masuk kedalam sendiri, karena Olive menunggunya diluar.
"Kak aku mau_"
"Siapa kamu sebenarnya?" Zian menatap kedua bola mata Ami tajam, penuh akan rasa ingin tahu.
"M-maksud kakak apa?" Ami yang ditatap Zian seperti itu untuk pertama kali menjadi gugup.
Zian menghela napas, entah mengapa dirinya merasa bodoh tidak tahu siapa Ami yang sebenarnya.
"Katakan, ada perlu apa?" Tanya Zian yang meralat pertanyaannya.
Ami menelan ludahnya kasar, suara Zian begitu tegas. "A-aku ingin berhenti bekerja kak, maaf." Ucap Ami pelan, matanya menatap raut wajah Zian yang tiba-tiba terseyum miring.
"Oke, kamu boleh pergi." Zian tidak melihat Ami, pria itu kembali pada pekerjaannya diatas meja.
Ami pun permisi dan meninggalkan Zian yang sepetinya kecewa dengan dirinya, tapi Ami sendiri tidak tahu apa yang membuat bos sekaligus kakak kelasnya itu kecewa.
"Gimana sudah?" Olive langsung berdiri setelah melihat Ami keluar dari ruangan kak Zian.
"Sudah." Ami terseyum tipis.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Olive lagi seakan ada sesuatu yang terjadi didalam sana.
Ami mengerutkan keningnya, menatap Olive penuh tanda tanya. "Memangnya aku kenapa?" Ami malah balik bertanya.
Olive bernapas lega dan tersenyum. "Syukurlah."
Tak lama suara seseorang dibelakang mereka membuat langkah keduanya berhenti.
"Ayana..!!"
__ADS_1