
Janji setelah permintaannya dituruti, Ami harus melakukan apa pun yang Natan mau, dan Nathan menyuruh Ami untuk tidak memakai pakaian selama satu Minggu, saat didalam apartemen, dan perjanjian itu sudah berjalan selama tiga hari, dan selama tiga hari Ami tidak luput dari serangan buas Nathan.
"Sayang, kamu punya rencana apa setelah lulus sekolah." Tanya Nathan yang duduk disamping Ami.
Nathan membawa istrinya pulang keaparteman, karena dirinya tidak ada lagi pekerjaan yang mendesak, dan dia limpahkan kepada Ando sang asisten yang pastinya sudah misuh-misuh karena selalu bekerja sendiri.
Sejak memiliki perjanjian dengan Istrinya, Nathan tidak betah lama-lama di kantor, pria itu selalu ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu sang Istri.
"Belum tahu By." Ami menoleh pada wajah suaminya sebentar, lalu kembali fokus pada televisi.
"Tidak ingin kuliah?" Tanya Nathan sambil mengelus kepala Ami.
Tangan kanan Ami menyuapkan cemilan yang dia bawa untuk menemaninya menonton televisi.
"Apa boleh?" Kini Ami sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Nathan.
"Boleh asal tidak keluar kota, dan luar negeri." Jawab Nathan dengan senyum, "Lagian jika membuatmu hamil, kamu juga belum siap." Nathan melirik dengan bibir yang menahan senyum.
Ami membulatkan kedua matanya, "Memangnya kamu ingin punya anak sekarang?" Ami malah balik bertanya.
Nathan pun kini menatap istrinya serius. "Sangat sayang, kamu tahu sendiri usiaku sudah tidak lagi muda, papa dan Mama juga menginginkan cucu dari kita, karena Aileen belum menikah." Jemarinya mengusap lembut pipi Ami, tatapan mata Nathan begitu dalam.
Dirinya memang sangat menginginkan keturunan, tapi jika keadaan seperti dulu Nathan tidak ingin membuat istrinya tertekan dan berakibat kembali merasakan kehilangan dan bisa jadi Nathan juga kehilangan Istrinya.
"Tapi aku tidak memaksa sayang, jika memang kamu belum bisa untuk hamil lagi." Ucapnya dengan senyum.
Senyuman Nathan yang Ami lihat adalah senyum yang penuh harapan. Harapan yang bisa membuat permintaanya terkabulkan.
Ami mengusap wajah suaminya, tersenyum gadis itu tersenyum. "Jika aku juga ingin punya anak apa kamu mau menemaniku ke dokter?"
Pertanyaan Ami membuat Nathan terdiam seketika.
"Dokter?"
Ami mengaguk. "Jika ingin punya anak, bukanya aku harus berhenti untuk memakai alat kontrasepsi?"
Nathan langsung mengembangkan senyum. "Apa kamu yakin?" Tanya Nathan untuk memastikan.
"He'um, lagian kuliah bisa ambil setelah melahirkan, dan aku ingin mengabulkan permintaan kamu sebelum aku_"
"Sssttt, tidak boleh mendahului garis Tuhan. Kamu tidak akan kemana-mana." Nathan memeluk istrinya, dia tidak rela Ami bicara hal yang tidak-tidak.
Dalam bayangan saja Nathan tidak pernah berpikiran seperti itu, sungguh dirinya takut jika untuk menghadapi hal yang mungkin tidak sanggup untuknya.
__ADS_1
"Ck, kamu nyumpahin aku mati." Ami mendorong dada Nathan.
"Nyumpahin apa sayang?" Nathan yang bingung sedikit terkejut karena tumbuhnya didorong kuat.
"Tidak boleh mendahului garis Tuhan? kamu tidak akan kemana-mana? maksud kamu apa?" Ami menatap Nathan sengit, gadis itu merencanakan agar malam ini tidak ada perang ranjang.
"Sayang bukan maksudku seperti itu, tapi_"
"Alah bilang aja kalau kamu suka jika aku mati dan_"
"Ayana..!!"
Bentak Nathan seketika membuat Ami berhenti bicara.
Tatapan Nathan berubah menjadi tajam, rahang pria itu mengeras.
Nathan berlalu pergi meninggalkan Ami yang diam mematung, setelah dia bentak.
"Kenapa jadi dia yang marah." Gumam Ami melihat pungung Nathan yang menghilang masuk ruang kerja.
Didalam ruang kerjanya Nathan mengusap wajahnya kasar, pria itu menyesali perbuatannya yang sudah membentak Istrinya.
"Kau tidak tahu betapa hancurnya aku mengingat hal yang tidak ingin terjadi." Ucap Nathan dengan lirih, kedua tangannya masih menutupi wajahnya yang merasa bersalah.
Apalagi dirinya pernah membayangkan dimana mobilnya terseret oleh mobil besar yang didalamnya ada Ami yang tertidur, Nathan tidak sanggup jika itu benar-benar terjadi.
Mata Nathan membulat sempurna, Nathan tidak percaya apa yang sedang dilakukan Istrinya.
"Sayang kamu_"
Nathan menelan ludah ketika Ami malah semakin membuka kancing bajunya hingga menunjukkan gunung kembar tanpa penghalang.
Pikir Ami, Nathan marah karena masalah anak, dan Ami yang merasa bersalah sengaja menggoda Nathan dengan tumbuhnya, agar suaminya tidak lagi marah hanya itu cara ampuh yang Ami miliki, meskipun awalnya dia ingin lepas perjanjian malam ini, tapi ternyata justru dirinya yang malah datang sendiri memberikannya.
"Eh, mau apa?" Nathan segera menghampiri Ami yang akan membuka kemeja Nathan yang dia pakai.
Karena semenjak perjanjian itu, Ami lebih suka memakai kemeja sumainya yang kebesaran.
"Kamu tidak mau lagi menyentuhku." Ucap Ami dengan wajah yang sedikit kecewa, karena mendengar ucapan Nathan.
"Tidak." Nathan pun menatap lekat wajah istrinya yang langsung terlihat kecewa.
"Oh." Ami hanya bergumam, dirinya perlahan kembali mengancingkan kancing bajunya satu persatu.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Nathan menahan tangan istrinya yang kembali mengancingkan bajunya.
Ami menatap wajah suaminya, lekat. "Kamu sudah tudak_"
"Ssttt, aku hanya tidak mau kamu mengucapkan perpisahan." Nathan mengusap bibir Ami. "Aku mencintaimu bahkan lebih dari kamu mencintaiku."
Kedua mata mereka bertemu, cinta mereka sama-sama besar, hingga rasa takut untuk kehilangan juga begitu besar.
"Jadi?" Tanya Ami yang membuat Nathan terseyum.
"Apapun untuk istri kecilku." Senyum tampan terbit dibibir Nathan, Ami juga ikut terseyum manis.
"Malam ini aku ingin meminta jatahku di sini."
"Engh, byy." Ami memejamkan matanya ketika tangan besar Nathan kerabat dari perut hingga menyentuh kelembutannya dari dalam, karena kancing bajunya setengah terbuka.
"Maaf sayang, aku tadi sudah membentakmu." Ucap Nathan mengecup kening Ami dengan tangan yang masih aktif.
Ami hanya mengangguk, kakinya sudah terasa lemas karena Nathan menyerang dadanya lebih dulu, pria itu tidak membiarkan Ami menyentuh bibirnya.
Posisi Ami bersadar di pinggiran meja, dengan kedua tangan bertumpu dibelakang tubuhnya.
"Byy, ahh jangan digigit." Kesal Ami karena Nathan menggigit pucuk dadanya.
"Ah, byy jangan kuat-kuat."
Nathan tidak perduli, dia hanya ingin melampiaskan perasaanya yang masih terasa sesak, entah mengapa rasanya begitu menyayat hatinya. Sebesar itukan cintanya pada sang istri?
"Ough..By," Ami memejamkan matanya, dengan tangan meremat rambut Nathan yang berada di bawahnya.
"By, aku ngak kuat engh."
Plup
Nathan mendongak, dia melihat wajah istrinya yang kecewa.
"Tidak dengan bibirku sayang." Nathan terseyum menyeringai, dia tahu jika Istrinya akan mendapat pelepasan, tapi dengan sengaja Nathan tidak membiarkan itu terjadi.
"Byy, kamu jahat..!"
Ami memukul dada Nathan, wajah gadis itu sudah begitu sayu oleh gairah, tapi merasa kesal karena merasa dipermainkan.
"Dia yang akan memuaskan mu."
__ADS_1
Ami membelalakkan matanya, ketika aset masa depan milik suaminya, tiba-tiba melesak memenuhi miliknya.
Ahhhh