
Mobil Nathan sampai di basement apartemen, dirinya langsung keluar dengan tergesa.
Memasuki lift Nathan memejamkan mata, tumbuhnya bersandar di dinding.
Hari ini adalah hari yang begitu berat baginya, kehilangan Oma untuk selama-lamanya dan melakukannya kesalahan yang berujung fatal.
Ting
Pintu lift terbuka Nathan segera keluar dan menekan kode password pintu apartemen nya.
"Ay..!!" Nathan berteriak untuk memanggil gadis itu, tujuan pertama Nathan adalah kamar milik Ami.
"Ayana..!!"
Brak
Nathan membuka pintu dengan kasar, dirinya masuk dan mencari Ami di kamar mandi tapi nihil.
kembali keluar Nathan, menyusuri ruangan yang mungkin sedang Ami singgahi, tapi setelah mencari hasilnya tetap sama, tidak ada.
Nathan mengusap wajahnya kasar, bersandar di sofa, kepalanya tiba-tiba sakit.
"Kemana kamu Ay." Lirihnya dengan mata yang terasa panas.
Sudah jam sepuluh malam dan gadis itu tidak, ada apalagi sebentar lagi akan turun hujan membuat Nathan tidak bisa memikirkan sesuatu.
.
.
Hujan deras mwngguyur ibu kota malam ini, Ami duduk di ruang tamu rumah sahabatnya yaitu Olive.
Beruntung sebelum hujan Ami sudah sampai di rumah Olive dan setelah itu barulah hujan turun dengan derasnya.
Olive datang dengan membawa teh hangat, gadis itu juga terkejut melihat Ami datang kerumahnya dimalam seperti ini. "Diminum dulu Mi."
"Makasih Ol." Ucap Ami tersenyum.
Olive hanya mengangguk memeperhatikan wajah Ami.
Tidak ingin membuat Ami merasa tidak nyaman Olive memilih diam, "Kamu boleh bercerita jika ingin bercerita. Kita sahabat yang saling membantu jika ada kesusahan." Ucap Olive menatap Ami tersenyum. Meskipun Ami belum bicara, tapi Olive bisa melihat dari wajah Ami yang sedang memiliki masalah.
__ADS_1
"Maaf Ol, apa aku bisa menginap di sini." Tanya Ami dengan pelan, dirinya yang sebenarnya merasa tidak enak karena harus merepotkan sahabatnya itu.
Olive tersenyum, dan mengangguk. "Boleh, asal kamu nyaman."
Amilin tersenyum senang, "Terima kasih."
Setelah itu Olive mengajak Ami untuk ke kamarnya, sebelumnya Ami sudah bilang kepada kedua orang tuanya jika Ami akan menginap di rumahnya. Olive beralasan jika mereka ingin belajar bersama.
Ami keluar dari kamar mandi dengan menggunakn baju tidur milik Olive yang lumayan kebesaran di tubuhnya yang kecil.
"Hahah..maaf ya Mi, bajunya kebesaran." Olive tertawa melihat Ami yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, tubuh kamu ternayata suka menghabiskan bahan pakaian." Jawab Ami sambil merentangkan kedua tangannya, dan otomatis baju kebesaran itu seperti orang-orangan sawah di pakai Ami.
"Sembarangan kamu, gini-gini aku juga nanti juga langsing." Balas Olive ketus. Membuat Ami tertawa ngakak.
Ami duduk di atas tempat tidur Olive dengan kaki menyilang, sedangkan Olive membereskan meja belajarnya.
"Ol, aku mau bicara sesuatu." Ucap Ami menatap Olive sendu, mungkin sekarang saatnya dia bercerita kepada sahabatnya. Karena Ami tidak mungkin memendam perasaannya sendiri, Ami juga butuh orang untuk mendengarkan keluh kesahnya.
Olive langsung menghampiri Ami dan duduk di depan gadis itu, sama-sama menyilakan kedua kakinya.
"Aku sudah menikah."
Olive masih diam, menunggu ucapan Ami selanjutnya.
"Nathan, Nathan Adhitama adalah suamiku."
Jederr
Bersamaan itu suara petir menggelegar keras. Olive sampai kaget dengan menutup mulutnya.
"Seriusan, Mi jangan ngada-ngada." Ucap Olive yang tidak percaya.
"Ya, dan karena itu sekarang aku berada di sini." Ucap Ami menatap Olive lekat.
Olive menatap kedua mata Ami, tidak ada kebohongan disana, hanya ada kesedihan yang bisa olive lihat.
Ami merebahkan diri, dan menatap langit kamar Olive yang bernuansa putih. "Aku tidak tahu harus bagiamana, pernikahan kami bermula dari permainan dan di dasari oleh surat perjanjian."
Olive ikut merebahkan dirinya si samping Ami, diam dan hanya ingin menjadi pendengar setia untuk sahabatnya, dirinya memang belum menikah dan tidak tahu apa-apa soal pernikahan, setidaknya Olive bisa menjadi sahabat yang membuat Ami nyaman untuk bercerita.
__ADS_1
Ami sedikit menceritakan pernikahannya yang sudah lebih dari dua bulan, dan bagaimana dia menjalani semuanya, dimana dirinya yang harus menandatangani surat perjanjian selama satu tahun pernikahan, dan isi didalamnya, sama sekali tidak membuat Ami merasa nyaman. Karena Nathan justru malah seperti mengekang dan mengurungnya di dalam sangkar emas, beberapa bulan terakhir.
Mungkin jika wanita lain akan bahagia jika bisa menikah dengan Nathan Adhitama, mereka akan merasakan diratukan dengan kekayaan pria itu. Tapi bagi Ami menikah dengan pria seperti Nathan justru membuat hidupnya menderita.
"Sebaiknya kamu pikirkan, mungkin akan banyak orang yang terluka jika kamu berpisah." Ucap Olive apa adanya. "Tapi membiarkan diri sendiri terluka itu lebih sakit dari mereka yang hanya terluka hanya sesaat."
.
.
"Duh Mi, kamu bikin aku ketawa terus." Olive sampai memegangi perutnya yang sudah terasa kram. Pagi-pagi sudah melihat Ami dengan pakaian seragam sekolah miliknya yang kebesaran, karena Ami tidak memiliki pakaian sekolah. Jadilah memakai milik Olive.
"Mau bagiamana lagi, dari apa aku telanjang lebih baik pakai ini." Ami ikut tersenyum. Biarlah hari ini dirinya menjadi bahan bullian para temanya, karena pakaian yang dia kenakan. Asalkan ujiannya hari kedua lancar.
"Oke, kita berangkat." Ami merangkul bahu Olive keduanya tertawa ketika keluar dari kamar.
Mama Olive sudah menyiapkan sarapan untuk dua anak gadis, dan Mama Olive sudah pergi ke pasar untuk berjualan baju, sedang-kan Papa Olive akan menyusul setelah mengantarkan Olive kesekolah. Olive memang anak tunggal, dan perkejaan orang tuanya adalah berdagang pakaian di ruko pasar milik sendiri karena Mama Olive membuka toko pakaian grosir yang lumayan ramai di pasaran.
Dua puluh menit mobil papa olive sampai disekolah, dua gadis itu keluar dan tidak lupa mencium tangan serta mengucap terimakasih.
Masuk ke sekolah benar yang Ami pikirkan jika dia menjadi pusat perhatian teman-temanya satu sekolah dan menjadi bahan gibah.
"Yaelah, udah kurus pakainya segede karung. pantasnya sih Olive yang pakai." Setelah mengatakan itu mereka tertawa.
Ami hanya menatap mereka sinis tanpa mau meladeni. "Tuh kan, jadi gibahan." Cicit Olive.
"Ck, yang pake gue ini kenapa mereka yang repot." Ucap Ami yang memilih tidak peduli.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju ke kelas. Tapi langkah keduanya berhenti sebelum sampai di kelas karena terkejut melihat pria tinggi yang berdiri didepan mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
"Ck, ngapain sih dia disini." Ami menatap Nathan kesal. Pagi-pagi sudah membuat mood nya buruk, setelah semalam sudah lebih baik, dan sekarang kembali badmood lagi.
Karena tidak ingin meladeni Nathan, Ami menarik tangan Olive untuk berbelok arah, yang awalnya akan lebih dekat, kini mereka berdua memutar arah lebih jauh.
"Mi, kenapa menghindar, bukannya lebih baik diselesaikan." Tutur Olive lirih.
"Ck, lu gak tau bentar lagi masuk, lu mau telat dan gak ikut ujian." Balas Ami ketus. Olive hanya menggeleng.
Ami hanya belum siap jika harus bertengkar dan membuat otaknya tidak bisa berpikir mengisi soal pelajaran. Mungkin nanti jika sudah selesai, Ami akan bicara.
Dan sekarang menghindar adalah yang terbaik.
__ADS_1