
"Om.." Ami bergerak gelisah di atas ranjang milik Nathan, gadis itu menekan kepala Nathan yang terus menyusuri kulit lehernya hingga ke bagian dada yang hanya tinggal menggunakan b*ra. Nathan yang sudah membuat gadis polos di bawahnya berubah menjadi gadis yang bisa mencicipi surga dunia.
"Em, ukuran yang menggemaskan." Lirih Nathan menyentuh kelembutan Ami. Gadis itu sudah meleguh tak terkira, rasa panas tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. Sentuhan tangan Nathan dan bibirnya membuat Ami merasa terbang dan tidak ingin kembali untuk beberapa saat.
Shh
Bibir Ami tak kuasa menahan dessahannya yang membuat Nathan semakin memanjakan di bagian kelembutan yang masih memiliki pucuk yang begitu ranum, bahkan bulatan kecil di atasnya masih sangat kecil dan tak nampak.
"Ah, Om." Ami menekan kepala Nathan lebih dalam, sensasi bibir Nathan membuatnya semakin merasakan tak terkendali dalam dirinya. Lidah Nathan yang bermain di pucuk kelembutannya, dan sesekali pria itu menyesap sesekali menggigit kecil pucuknya yang semakin menegang.
Nathan pun terus melancarkan aksinya, perlahan kecupan bibirnya menuruni belahan dada yang sudah banyak bercak merah, berhenti sebentar diperut rata putih dan mulus, Nathan meninggalkan beberapa jejak disana membuat tubuh Ami melengkung.
Ami merasakan sekujur tubuhnya terasa lemas, tidak pernah merasakan sesuatu yang baginya begitu nikmat tapi menyiksa.
"Ough.." Ami memejamkan matanya dengan bibir terbuka, tangannya menekan-nekan kepala Nathan agar semakin dalam menyentuh milikinya.
"Om, akuh_"
Tubuh Ami melengkung, dengan dada membusung ketika miliknya semakin berkedut dan takterkendali begitupun Nathan yang semakin dalam menusuk kelopak mawar yang begitu ranum untuk dicicipi.
"Om akuh mau pipis, shh" Ami yang sudah tidak tahan mendorong kepala Nathan, tapi pria itu tak bergeming dan tangannya semakin merangsang kedua kelembutan Ami, membuatnya berteriak.
"Akuh_ Arghh.." Tubuh Ami bergetar hebat, wajahnya basah oleh keringat. Napasnya tersengal dengan dada naik turun, membuat kedua kelembutannya begitu indah jika di pandang.
__ADS_1
Nathan mendongak setelah melihat bagaimana gadisnya mendapat pelepasan untuk yang pertama kali, Nathan semakin merasa senang.
"Bagaimana, hm." Mengusap wajah basah Ami, Nathan mengecup bibir itu sekilas. Bibir tipis yang sudah berubah menjadi bengkak akibat keganasannya.
"Tadi itu apa Om, aku pipis." Keluh Ami dengan napas yang masih tersengal, tapi rasanya begitu nikmat hingga dirinya merasa lebih plong ketika sudah meledak sesuatu dalam dirinya.
Nathan hanya tersenyum, istri kecilnya memang benar-benar polos. "No, kamu akan sering merasakannya jika kita saling berhubungan." Ucap Nathan mengusap kepala Ami. Memandangi wajah yang kini sudah menghiasi pikirnya.
Ami nampak berpikir, dan dirinya teringat akan hubungan orang dewasa yang sudah menjadi sepasang suami Istri. "Jadi tadi_" Ami tidak melanjutkan ucapanya, tangannya menutup mulutnya. "Aku sudah tidak perawan." cicitnya dengan wajah yang mulai akan menagis.
"Eh, sstt bukan seperti itu." Nathan buru-buru meralat ucapan istrinya.
"Kamu masih virgin, tadi hanya pemanasan. Kamu jangan salah sangka." Nathan menatap Ami untuk menyakinkan, ternyata selain polos Ami juga masih kritis pengetahuan.
"Ya, dan bila sudah saatnya nanti, kamu akan mengerti."
Nathan harus banyak bersabar, tidak mudah membuat gadis kecil seperti Ami langsung mengerti dan menerima pernikahan dengan pria dewasa sepertinya. Dan Nathan juga memikirkan masa depan Ami yang pasti memiliki cita-cita dan keinginan.
Ami hanya menggaguk, tubuh polosnya sudah berbalut selimut.
"Om mau kemana." Ami melihat Nathan yang beranjak dari ranjang, pria dengan bertelanjang dada memamerka perut kotak-kotaknya dan dada bidang yang membuat Ami panas dingin.
"Mau menidurkan jerk," Tatapan Nathan turun pada bagian bawah perutnya, yang mengembung keras minta dilepaskan.
__ADS_1
"Ish, Om mesum." Ami yang mengikuti tatapan mata Nathan kini menutup matanya dengan selimut, meskipun belum pernah melihat, Ami memikirkan dalam otaknya pasti sangat besar seperti singkong premium.
"Ck, mesum. Tapi kamu suka dimesumin." Nathan pergi ke dalam kamar mandi, dan Ami membuka selimutnya. "Katanya mau nidurin kok malah masuk kamar mandi." Pikirnya yang belum tau maksud menidurkan dalam cara apa.
Ami kembali masuk dalam selimut, kejadian barusan membuatnya ngantuk dan lelah.
.
.
"Mau kemana?" Nathan melihat Ami yang sudah rapih dengan penampilannya tampak penasaran. Sekolah sudah selesai melakukan ujian semester akhir dan mungkin beberapa hari lagi mereka akan menerima raport dan libur panjang. Melihat Ami yang sudah rapi di pagi hari membuat Nathan bertanya-tanya.
Ami duduk didepan Nathan di meja makan. "Mau kerja mumpung libur, kan lumayan uang_"
"Apa kamu begitu berat meninggalkan pekerjaan itu, apa uang yang aku kasih masih kurang." Potong Nathan yang mulai kesal, karena Ami tidak menuruti permintaanya untuk berhenti bekerja.
Ami menunduk, dirinya tidak bisa berdiam diri di rumah dengan tidak melakukan apa-apa. "Aku cuma_"
"Lakukanlah sesukamu, terserah." Setelah melakukan itu Nathan pergi berangkat ke kantor meninggalkan Ami yang menunduk dengan perasaan bingung.
Tidak bekerja dia ingin melakukan apa, Ami bukan tipe remaja yang suka menghamburkan uang dengan bermain. Dan Ami gadis yang pekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Baru tadi malam mereka begitu dekat, bahkan lebih. Tapi pagi ini kembali seperti mengingatkan jarak.
__ADS_1