My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Extra part~ Buaya menyamar jadi bunglon


__ADS_3

Nathan duduk disofa dengan Adam yang terlelap dipangkuannya, tertutup selimut.


Pagi ini Nathan memang sengaja untuk tidak pergi kekantor.


"By.." Ami berdiri didepan Nathan yang sedang menunduk pria tampan hot Daddy itu sedang memakai topi berwarna mocca dan kaus lengan panjang berwarna putih.


Nathan mendongak melihat Ami yang sudah rapi dengan penampilannya.


"Adam tidur?" Tanya Ami yang melihat putranya sudah terlelap, setelah mandi.


Ami meraih putranya untuk Ia baringkan di box bayi bersama Hawa yang juga terlelap.


"Sudah dibawa semua berkasnya?" Tanya Nathan yang ikut berdiri disamping Ami, saat menaruh Adam di box bayi.


"Sudah, tapi aku gugup By." Ucap Ami jujur.


Hari ini Nathan akan mengantar Istrinya untuk mengunjungi kampus yang Ami pilih. Dan menyerahkan berkas yang kurang.


"Kenapa?" Nathan menatap istrinya penuh cinta, tangannya mengelus pipi Ami yang mulus.


"Em, hanya gugup. Mungkin tidak ada teman yang aku kenal."


Sahabatnya sudah pergi ke Surabaya, dan Ami tidak memiliki sahabat ataupun teman dekat lainnya.

__ADS_1


"Sudahlah, nanti kamu juga akan dapat teman baru. Asalkan jangan teman pria." Tegas Nathan diakhir kalimat.


Ami mencebik, "Sebelum mereka berkenalan, pawang ku sudah maju duluan." Ucap Ami meledek.


Nathan terseyum kecil. "Aku percaya kamu." Kecupan dipucuk kepala, mengakhiri percakapan mereka.


Nathan dan Ami menitipkan twins pada pengasuh dan Mama indira yang kebetulan ada dirumah. Keduanya berangkat ke kampus yang jaraknya hanya empat puluh lima menit kurang lebih dari rumah mertuanya, jika dari apartemen jauh lebih dekat.


"By, apa kita tidak pulang keaparteman?" Tanya Ami yang sudah duduk di kursi mobil dan sedang memakai sealbeadnya.


Nathan melakukan hal yang sama. "Kenapa? kamu kangen apartemen kita. Kalau begitu pulang nanti kita mampir." Jawab Nathan sambil mengedipkan matanya.


Ami memincingkan mata, melirik Nathan sinis. "Jangan melihatku seperti itu sayang." Nathan terseyum kecil.


"Dih, udah punya buntut juga masih aja mesum." Gumam Ami yang hanya mendapat gelengan kepala dari Nathan.


"Tidak pengaruh sayang, mesum sama punya buntut." Jawab Nathan sambil fokus menyetir.


Ami hanya menatap Nathan jengah, mengajak keaparteman sama saja masuk kandang singa yang sedang lapar.


"By, nanti kamu jangan ikut turun, diam di mobil saja.," Ucap Ami ketika mobil Nathan baru saja memasuki gerbang kampus.


Nathan mengernyitkan keningnya bingung. "Memangnya aku supir, suruh didalam mobil. Supir aja bisa ngopi diluar."

__ADS_1


Ami membulatkan kedua matanya, kenapa suaminya sekarang bisa cerewet dan menjawab. "Apa kamu ingin membuat seisi kampus heboh." Ucap Ami dengan wajah kesal.


Apa suaminya itu tidak sadar jika wajah dan penampilan Nathan begitu membuatnya ketar ketir.


"Memangnya aku bawa bom."


Sungguh Ami ingin mengacak-acak wajah suaminya yang menyebalkan. "Huh,, sabar Mii, sabar." Ami mengelus dadanya sendiri dan menarik napas lalu membuangnya perlahan.


"Sudah sana turun, katanya aku disuruh menunggu di mobil." Ucap Nathan yang sudah memarkirkan mobilnya, dijejeran mobil para pengurus dan dosen.


Ami yang menyadari menjadi bingung. "By, kamu tidak salah parkir, disini parkiran khusus dosen." Ucap Ami sambil melepas safety belt yang dia pakai.


"Tidak, lagian hanya disini yang kosong." Jawab Nathan santai.


"Sayang."


Ami menoleh saat Nathan memanggil. "Hati-hati." Nathan memajukan wajahnya dan menarik kepala Ami sedikit agar mendekat, Nathan mendaratkan kecupan dibibir dan berakhir dikening.


"Ingat By, tunggu dimobil." Tegas Ami yang hanya diangguki oleh Nathan.


"Siap Mama sayang!" Nathan menaruh tangannya dipelipis, memberi hormat dengan senyum tampannya. Ami malah terseyum geli.


"Bye.." Melambaikan tangan Ami masuk lebih dulu, ketika sudah tak terlihat Nathan keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Enak saja mau sendiri, ngak tau apa banyak buaya yang menyamar jadi bunglon." Ehh


Nathan yang tidak ingin Istrinya didekati pria lain, mengikuti Ami dari belakang, papa twisn memang posesif dan pencemburu.


__ADS_2