My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~Kata mutiara sang Mama


__ADS_3

Seorang gadis sedang duduk di halte dengan kaki yang diayun-ayunkan. Tangan kanannya sambil memegangi susu kotak rasa pisang kesukaanya untuk diminum.


Rambut yang dikucir dua seperti kuda, dengan masih menggunakan seragam sekolah putih biru. Hawa nampak clingak clinguk menunggu supir yang menjemputnya.


Biasanya Hawa akan dikawal oleh Adam, atau lebih tepatnya Hawa yang ngintilin Adam. Tapi karena Adam ada pertandingan basket antar sekolah, Hawa memilih untuk pulang lebih dulu.


Kini Hawa kecil yang cantik dan manis sudah menjadi gadis yang baru tumbuh, hawa yang sekarang sudah duduk di bangku kelas tujuh, dan gadis itu tetap mewarisi kecantikannya sejak kecil hingga sekarang, maka tidak heran jika Hawa sudah menjadi primadona disekolahnya yang baru beberapa bulan dia masuki.


Pluk


Lemparan kotak susu yang sudah kosong tepat masuk kedalam tong sampah. Hawa mengehela napas.


"Susu sudah habis, perut sudah pusing, kepala sudah lapar." Gumamnya sambil mengelus perutnya yang lapar.


Sudah hampir tiga puluh menit gadis itu duduk di halte menunggu jemputan, tapi supir Mamanya tak kunjung datang.


"Apa pak Husein sembelit lagi." Gumamnya lagi yang mengingat beberapa hari lalu supir Mamanya itu telat menjemput lantaran karena mendadak sembelit.


Brum...Brum... Brum...

__ADS_1


Hawa menutup kedua telinganya ketika mendengar suara deru mesin yang membuat telinganya pengang dan berisik.


"Buru naik!" Titah pemuda yang memakai celana abu-abu dengan hodie berwana Hitam, menggunakan helm full face yang bagian kacanya terbuka karena melihat gadis yang dia kenal duduk di halte sendirian.


Mata Hawa memincing, menatap pemuda yang sudah membuat telinganya seperti dihuni banyak semut.


"Apa kamu sengaja mau pamer motor besarmu." Ketus Hawa menatap pemuda yang masih duduk diatas motor besarnya.


"Lika tidak suka bunyi suaranya." Ucapanya lagi dengan tangan yang bersedakep.


Kemarin saja pemuda itu masih mengunakan motor metik yang bunyinya tidak berisik seperti sekarang, dan lihatnya penampilan pemuda itu membuat Hawa kesal.


"Ck, banyak cakap bocil." Decak pemuda itu kesal.


Brum


"Eh, tunggu." Hawa langsung berdiri dan mendekati pemuda itu. "Dimana pak Husein?" Tanyanya dengan wajah jutek.


Kesal karena Mamanya lagi-lagi menyuruh pemuda itu untuk menjemputnya.

__ADS_1


"Ada urusan, gue suruh anter lu kerumah baca." Jawabnya tak kalah ketus.


Hawa mengehela napas. "Buruan Lika, gue masih ada urusan." Pemuda itu tidak sabaran dengan sifat Hawa yang lelet.


Lika atau Malika adalah panggilannya untuk orang-orang yang mengenalnya atau ketika diluar. Sedangkan didalam keluarga Hawa tetaplah sebagai Awa kecil yang manis dan menggemaskan. Hanya keluarganya saja yang memanggilnya Awa.


Dengan berat melangkah akhirnya Hawa pun menurut.


Tumbuhnya yang kecil, memang sedikit susah untuk bisa naik ke atas motor besar itu, tangannya berpegangan pada bahu permudah itu, agar dirinya tidak jatuh saat naik, otak kecilnya mulai berpikir, saat sudah duduk, Hawa langsung menaruh tas gendongnya dibagian tengah.


"Sayang ingat kalau dibonceng cowok, kamu harus jaga jarak, karena cowok itu banyak modus, contohnya mengerem motor mendadak."


Kata mutiara sang Mama langsung terngiang dikepalanya.


"Pengangan gue mau ngebut."


Bibir Hawa mencebik, sambil komat-kamit kesal bukan baca mantra.


Brumm

__ADS_1


"Aaaaa, kak Mike!!"


Sedangkan pemuda itu hanya terseyum dibalik helm yang dia pakai.


__ADS_2