My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Papa baru


__ADS_3

"Siapa Bun." Tanya Ami yang melihat pria berumur empat puluhan keluar dari dalam mobil.


"Dia adik pak Teguh, namanya Mas Mustafa." Jawab bunda Raya jujur.


Ami hanya berOh ria.


"Assalamualaikum." Sapa Mustafa yang melihat tiga orang wanita berdiri siteras rumah.


"Walaikumsalam.." jawab mereka serempak.


"Ada apa ya mas, kok tumben sampe sini?" Tanya bunda Raya yang heran, karena sore-sore begini ada tamu yang memang tidak pernah bertamu ke rumahnya.


"Hanya sekedar silaturahmi Ray." Jawab Mustafa dengan senyum menatap Raya.


Ami dan Olive saling lirik.


Ehem


"Bunda kami masuk dulu, mau beresin barang belanjaan, sama mau bikinin minum calon papa." Bisik Ami diterakhir ucapanya.


Bunda Raya membulatkan kedua matanya. "Sstt, jangan aneh-aneh."


Ami hanya tersenyum dengan memberikan jari jempolnya pada pada sang bunda dan berlalu masuk ditemani Olive.


"Silahkan duduk Mas." Bunda Raya menyuruh tamunya untuk duduk dikursi teras.


"Terima kasih."


Tak lama Ami keluar membawa tiga minum dan cemilan.


"Ini siapa?" Tanya Mustafa yang memang baru melihat Ami.


"Kenalin Om, Ayana putri bunda Raya satu-satunya." Jawab Ami dengan senyum manis.


Bunda Raya hanya geleng kepala, melihat tingkah putrinya.


"Oh, pantes cantik ternyata mewarisi kecantikan bundanya." Ucapan Mustafa atau yang akrab dipanggil Mus itu membuat Ami tertawa.


"Duh, Om. lihat si bunda salting." Setelah mengatakan itu, Ami pergi untuk memberikan minum pada pak Husein yang duduk di bawah pohon jambu, dan dibawahnya terdapat kursi santai.

__ADS_1


"Minumnya pak." Ami meletakkan kopi dan cemilan.


"Wah Non, sepertinya non mau punya papa baru." Ledek pak Husein dengan terkekeh.


"Biarin pak, biar bunda ada yang jagain." Ucap Ami menatap dua orang yang sedang berbincang, bundanya nampak tersenyum begitupun dengan tamunya.


Ami tidak akan melarang bundanya jika memang beliau ingin menerima seseorang dalam hidupnya, justru Ami akan merasa senang jika bunda Raya memiliki pendamping apalagi sekarang bunda Raya tinggal sendiri.


Sudah lama Ami juga menyuruh bundanya untuk membuka hati untuk orang baru, tapi waktu itu memang bunda Raya menolak. Dan terbukti jika ada pria yang datang untuk menjalin hubungan bunda Raya menolak mereka secara halus.


Ami masuk kedalam untuk membantu Olive merapikan belanjaan yang tadi dia beli.


"Eh, kita makan malam di sini saja ya, kamu ijin dulu gih sama Mama kamu." Ucap Ami pada Olive.


Ami mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi suaminya, yang katanya pulang telat.


"Udah beres zayangkuhh." Olive menunjukan chatnya pada Ami.


"Oke."


Ami menempelkan ponselnya di telinga, menunggu sambungan teleponnya tersambung.


"Halo sayang.." Sapa suara seseorang di seberang sana.


"Halo By, lagi sibuk ngak." Tanya Ami, dirinya duduk dikursi makan.


"Sebentar lagi aku pulang sayang, ada apa? kebetulan pekerjaan nya sudah selesai." Ucap Nathan yang memang sudah menyelesaikan urusannya, dan besok dirinya harus pergi keluar kota.


"Tidak, kalau begitu aku tunggu di rumah bunda, kita makan malam disini."


Diseberang sana Nathan tersenyum, "Oke, setengah jam lagi aku sampai, jangan lupa."


Ami mengerutkan keningnya. "Jangan lupa apa?"


"Tidak ada, nanti saja aku kasih tahu." Nathan mengulum senyum, dirinya sudah membayangkan sesuatu untuk malam nanti.


"Ish, kebiasaan. gak jelas." Ami langsung menutup ponselnya karena kesal.


"lah, tadi kaya orang gila pinggiran senyum-senyum sendiri, sekarang badmood." Ledek Olive yang melihat wajah bete Ami.

__ADS_1


"Ck, Om mesum nyebelin." Kesal Ami menaruh ponselnya dia atas meja.


Ami melanjutkan masakan yang tadi bunda Raya tinggal, beruntung bunda Raya sudah menyiapkan bahan, dan Ami tinggal melanjutkan.


Olive hanya terkikik geli, terkadang dirinya sempat berpikir, pria sempurna seperti Nathan harus tinggal satu atap dengan sahabat bar-barnya ini.


Ami berkutat dapur, tidak banyak yang dia masak hanya bahan seadanya, dan dia juga memesan beberapa lauk dan lainya lewat aplikasi, takut makanan yang dia masak tidak akan cukup.


"Nat, lu mau balik." Tanya Ando yang melihat Nathan sudah keluar dari ruangannya.


"Ya, gue mau jemput istri gue." Jawab Nathan dengan senyum, wajahnya berseri meskipun hari ini banyak dateline pekerjaan.


"Duh, duh, yang mau minta jatah sebelum ditinggal." Ledek Ando dengan wajah tengil.


"Ck, nikah lu biar tahu enaknya, jangan hanya kawin terus."


"Enakan kawin, gak mikirin pusing kalo ngambek."


Plak


Nathan memukul bahu Ando. "Dosa di banyakin ibadah tu ditambahin. Nikah juga termasuk ibadah." Setelah itu Nathan pergi dengan Ando yang hanya garuk kepala.


Nathan mampir ke sebuah toko bunga di pinggir jalan, karena tadi dia mendengar suara istri kecilnya merajuk.


"Semoga kamu suka." Nathan mencium wangi bunga yang dia beli, dan kembali masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah mertuanya.


"Bagaimana, Ray. apa kamu bersedia." Tanya Mustafa menatap Raya yang masih menunduk.


Musthafa mengutrakan maksud kedatangannya kesana, dan Mustafa menunggu jawaban Raya.


"Tidak perlu di jawab sekarang, kamu bisa memikirkannya dan bicara dengan putri kamu."


Setelah mengatakan itu, Mustafa melihat mobil mewah kembali memasuki perkarangan rumah Raya.


Dan Mustafa nampak terkejut melihat pria yang keluar dari mobil membawa buket bunga.


"Jangan-jangan dia." Batin Mustafa dalam hati.


.

__ADS_1


.


Pliss ini sebenarnya up dari jam 11malam😩


__ADS_2