
"Adam!" Ami memekik ketika putranya itu hampir saja terjatuh dari ranjang, beruntung dirinya cepat menangkap tubuh Adam agar tidak jatuh kelantai.
"Ya, ampun untung saja nak." Ami mendepak Adam dengan erat. Usia Adam dan Hawa sudah memasuki bulan keempat, dan kedua bayi itu sangat aktif terutama Adam, berguling-guling karena bisa tengkurap dan berbalik hingga sampai dipinggir ranjang saat ingin berbalik, beruntung bayi aktif itu tidak jatuh karena Ami cepat menangkapnya.
"Ada apa Sayang." Nathan baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Ami yang masih duduk dilantai samping ranjang, istrinya itu memeluk putranya yang malah tertawa menampilkan gusinya saat melihat Nathan.
"Adam hampir saja jatuh By, tadi aku tinggal keluar dia masih tidur." Tutur Ami dengan jantung yang masih berdebar. "Beruntung aku masih bisa menangkapnya." Terakhir suaranya begitu parau, Ami menahan tangisnya.
Nathan mendekati keduanya. "Sudah, yang penting Adam tidak apa-apa." Nathan mengusap punggung istrinya, dan kepala Adam dengan lembut. "Sini jagoan papa, sama papa dulu." Nathan meraih tubuh putranya, matanya menatap wajah Ami yang sudah berkaca-kaca.
"Kemarilah." Nathan menyuruh Ami mendekat, posisi Nathan duduk dipinggiran ranjang.
Ami langsung memeluk tubuh suaminya, dan mencium wajah Adam yang berada dipangkuan Nathan.
Nathan sendiri hanya memeluk dan mencium kepala Ami dengan sayang. Dirinya tahu jika istrinya sedang merasa takut jika terjadi sesuatu sama putranya.
"Kita antar Mama kekampus, Adam mau." Ucap Nathan pada putranya, dan mendapat tawa khas bayi mengemaskan itu, yang membuat Ami dan Nathan terseyum.
"Oke, kita ajak Hawa juga, sayang kamu sudah siap." Tanya Nathan pada istrinya yang sudah tersenyum.
__ADS_1
"Tapi kenapa bawa anak-anak By, bukanya kamu langsung ke kantor." Ucap Ami yang merasa keberatan.
"Tidak apa, masih ada waktu dua jam untuk metting dengan klien."
Ami hanya mengaguk, dirinya berdiri, bergegas menagmbil perlengkapan yang dia bawa.
"Bawa pengasuh twins By, nanti kamu kerepotan." Ucap Ami sambil meraih tasnya.
"Bawa saja mbak, Tia." Jawab Nathan sambil keluar kamar untuk menemui putrinya yang bermain di bawah dengan pengasuhnya.
Ami mengekori dari belakang, melihat punggung Nathan yang tegap dengan Adam di gendongannya.
"Ay, Mama mau ajak Hawa ke butik ya, boleh." Tanya Indira yang memang sedang mengendong cucu perempuannya.
"Memangnya Hawa tidak merepotkan Mama?" Tanya Ami yang mendekati putrinya dan mencium Hawa gemas, membuat bayi cantik itu tertawa.
"Tidak, Hawa tidak rewel, makanya Mama mau ajak dia, teman-teman Mama suka dengan putrimu yang cantik dan menggemaskan ini, ya sayang." Indira mengajak Hawa bicara.
"Nathan mau mengantar Ay kuliah Mah, sekalian bawa Adam jalan-jalan."
__ADS_1
"Kalau begitu setelah kamu antar istrimu, antar saja Adam ke butik, Papa juga kebutik jadi biarkan mereka sama Oma dan Opa ya sayang, hari ini kalian main sama Oma dan Opa jaga butik ya." Ucapan Indira tentu saja membuat Ami tertawa.
"Nanti Mama capek, Apalagi papa." Ucap Ami dengan tidak enak.
"Tidak apa-apa lagian ada pengasuh twins, tidak akan membuat Mama capek." Putus Indira tidak bisa diganggu gugat.
"Ya sudah, nanti Nathan antar Adam ke butik."
Indira tentu saja senang, karena mendapat ijin dari kedua orang tua cucunya, meskipun begitu, Indira selalu meminta ijin lebih dulu, jika ingin membawa twins kemanapun.
"Yey...kita main sayang." Hawa yang digendong Indira tertawa senang, dan Adam malah bertepuk tangan, membuat mereka orang dewasa tertawa senang, dan gembira.
.
.
Bosen ngak sih baca Extra part nya???
Author mau lanjutin season dua Hawa disini boleh 😩
__ADS_1