
Keluar dari kantor wajah Nathan ditekuk, dengan bibir mengatup rapat. Pria itu seperti anak kecil yang tidak mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
Tapi memang benar adanya.
"Sudah dong Teddy bear, cemberut terus." Ucap Ami dengan mencubit kedua pipi suaminya gemas.
Keduanya sudah berada didalam mobil Nathan menuju pulang ke apartemen.
Nathan tidak menggubris, pria itu masih dengan wajah ditekuknya.
Ami yang melihat merasa geli sendiri, mengingat kenapa suaminya memasang wajah cemberut seperti itu.
"Ck, tidak usah melihatku seperti itu. Kamu puaskan bisa mnegrjai aku." Kesal Nathan dengan hati yang juga ikut dongkol.
"Mana tega aku berbuat seperti itu," Kilah Ami dengan senyum. "Yang namanya tamu mana bisa ditolak." ucap Ami dengan kekehan.
Wajah Nathan semakin ditekuk, bagaimana tidak kesal dan dongkol. Ketika gairahnya sudah di ubun-ubun, tiba-tiba dihempaskan ke dasar jurang yang begitu dalam. Nathan yang ingin menyambangi lembah hangat sang Istri pun harus tertunda karena masa periode Istrinya datang.
Sedangkan Ami yang sudah terlena dengan sentuhan Nathan melupakan jika dirinya sedang datang bulan. Nathan yang sudah tegangan tinggi, terpaksa luluh lantah dengan keadaan yang ada.
"Rasanya tidak enak sayang, terlalu menyiksa." Keluh Nathan dengan wajah memelas.
Ami nampak menunjukkan wajah simpati.
"Ck, wajahmu tidak sama dengan hatimu." Dan benar saja, setelah itu Ami tertawa keras.
"By, kamu lucu sampah." Ami masih tertawa sampai membuat perutnya sakit dan Nathan hanya terseyum, istrinya kembali ceria dan tertawa.
"Dan hanya kamu yang bisa mempermainkan si singkong." Ucap Nathan melirik miliknya yang masih setengah menegang.
"By, kamu semakin menyebalkan." Ami memalingkan wajahnya yang terasa panas. Entah mengapa ucapan frontal Nathan membuat wajahnya bersemu malu.
"Sial." Umpat Nathan ketika melihat wajah istrinya yang menggemaskan, dirinya hanya bisa menahan gejolak yang cepat hadir akhir-akhir ini.
Drt..Drt.. Drt..
Ponsel Ami berdering tanda panggilan masuk.
"Bunda." Ucap Ami pada suaminya.
"Mungkin ada yang penting." Ucap Nathan dengan mengangkat bahunya.
"Halo..bunda.."
"..."
"Sekarang." Tanya Ami dengan menatap suaminya.
"Baik bun." Ami mematikan sambungan teleponnya.
"Bunda menyuruh kita kesana sekarang." Ucap Ami yang mengerti arti tatapan suaminya.
"Kita pulang dulu keaparteman." Ucap Nathan yang di angguki oleh Ami.
.
.
Ando mengetuk- getuk setir kemudi mobil nya, mobil mewah hasil malak atasannya. Pria itu sudah satu jam berada didalam mobil hanya menunggu seseorang yang berada di dalam sebuah gedung sanggar.
"Ck, Kenapa gue jadi mikirin ucapan Nat-Nat." Ucap Ando bicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Pria itu pulang dari kantor mengunjungi gedung sanggar olahraga, entah kenapa dirinya bisa sampai tempat itu, tempat dimana Olive sedang mengikuti sanggar senam.
"Sial." Ando pun kembali menghidupkan mesin mobilnya dari sana, pria itu kacau dengan pikirnya sendiri.
"By, sudah belum." Ami memajukan kepalanya untuk melihat Nathan yang sedang apa, sejak tadi dirinya menunggu Nathan tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
"Ahh, Ayana shh."
Ami menutup mulutnya karena melihat suaminya yang sedang bekerja keras di bawah guyuran air shower, tangan Nathan terus bergerak cepat dengan wajahnya mendongak sesekali menatap kebewah.
"OMG, suami gue hot banget." Gumam Ami yang melihat reaksi Nathan yang sedang berolahraga tangan, pria itu terus menyebut nama sang Istri.
"Arrgh..Ayana.." geraman rendah dengan kepala mendongak ke atas menandakan jika sesuatu yang sangat meledak dalam diri Nathan.
"Ugh, leganya." Gumam Ami yang menelan ludahnya sendiri. Pikiran gadis itu sudah bekerja dengan baik apalagi melihat Nathan seperti itu membuatnya pusing tujuh keliling.
"Duh, punya gue." Ami segera pergi dari depan pintu, gadis itu tidak kuat melihat betapa menggodanya tubuh Nathan, apalagi singkong premium yang sudah lama tidak mencicipinya.
Ceklek
Nathan keluar dari kamar dan menghampiri Ami yang duduk disofa depan tv, posisi Ami memebelakangi Nathan.
Cup
Nathan mencium pipi Istrinya, wajah pria itu sudah segar tidak seperti tadi sore.
"Sudah?" Tanya Ami ambigu.
"Sudah, ayo kita pergi." Nathan terseyum dan mengulurkan tangannya agar Ami menggapainya.
"Sudah lebih fresh." Tanya Ami lagi dengan wajah serius.
Nathan malah tersenyum. "Sudah, malah lebih segar." Jawabanya jujur.
"Em, memangnya kepala siapa yang sakit?" Nathan yang tidak mengerti maksud pertanyaan istrinya melontarkan pertanyaan.
Ami menatap wajah suaminya, lalu tatapannya pindah ke bawah perut Nathan.
"Sudah tidak sakit karena sudah muntah."
Pletak
Nathan membulatkan kedua matanya.
"Byy, kenapa di sentil sih." Mai cemberut dengan tangan mengusap keningnya.
"Mesum kamu Yang." Nathan menggaet leher Ami untuk di peluk mengunakan lengan tangannya membuat Ami meronta minta dilepaskan.
"By, ampun.." Ami merasa lehernya tercekik oleh lengan Nathan.
"Tidak sebelum kamu aku hukum." Ucap Nathan yang langsung menyerang bibir Ami ketika meraka sudah masuk lift dan pintu lift tertutup.
"By, emph." Ami membuka mulutnya ketika Nathan terus mendesak untuk mengeksplor rongga gigi miliknya, ciuman Nathan begitu dalam membuat Ami hampir kehabisan napas.
"Hah, by." Ami memukul dada Nathan ketika napasnya benar-benar habis mengimbangi ciuman ganas yang Nathan lalukan.
Nathan terseyum menyeringai, dengan tangan mengusap bibirnya yang basah sisa ciuman mereka.
"Kamu selalu manis sayang."
Bugh
__ADS_1
"Nyebelin." Ami memajukan bibirnya ditekuk, membuat Nathan tertawa.
"By, kita pakai si pinky saja." Ami menarik lengan Nathan ketika sampai diparkiran, gadis itu menarik tangan Nathan untuk menghampiri motor baru yang belum pernah dirinya pakai sama sekali.
"Tapi sayang nanti kedinginan kita pulang malam, lagian kita nggak bawa jaket." Ucap Nathan yang memang tidak ada persiapan jika ingin menaiki motor, karena jarak rumah bunda Raya lumayan jauh dari apartemen.
"Byy, aku pengen." Ami menunjukan wajah memelas nya agar Nathan mau mengabulkannya.
"Sayang kita tidak membawa jaket."
"Kamu bisa naik lagi mengambilnya, pokoknya aku mau naik dia." Tunjuk Ami pada kendaraan roda dua hadiah dari Nathan.
Nathan menggaruk kepalanya, kesal dan juga malas jika harus naik lagi tapi.
"Yasudah, tunggu disini." Dari pada Istri merajuk lebih baik dirinya mengalah.
Ami terseyum lebar. "Lope you Hubby." Ami berkata kecil sambil cekikikan membuat Nathan mendelik.
Angin sore menjalang Magrib, kedua insan Yanga asik menghirup udara sore begitu senang, terutama Ami.
Gadis itu dengan setia melingkarkan tangannya pada perut Nathan memeluknya dari belakang.
"By, vibesnya kita kayak orang pacaran." Ucap Ami disamping telinga Nathan, Ami berbicara dengan suara keras, agar Nathan bisa mendengarnya.
Nathan tersenyum. "Kamu senang." Tanyanya dengan menoleh hingga helm yang mereka pakai bersentuhan seperti berciuman.
"Em, suka." Ami menggaguk setuju.
"Pegangan sayang," Ucap Nathan yang menambah kecepatan laju motornya, dirinya juga senang dengan momen seperti ini, karena menurutnya lebih romantis.
Nathan tertawa dalam hati dirinya bisa-bisanya seperti ABG labil yang masih pacaran, sungguh menggelikan.
Motor yang Nathan kendarai memasuki halaman rumah bunda Raya, dan bersamaan azan Magrib berkumandang.
"Hah, akhirnya sampai juga." Ami lebih dulu turun dari atas motor.
"Sini." Nathan menyuruh Ami mendekat, dan membantu melepas helm yang Ami pakai.
"Eeemm, so sweet. Sarang Hae yo Hubby."
Ami kembali membuat hati Nathan kembang kempis, enatah mengapa Nathan menjadi salting sendiri. Sialan..
"Loh, kalian naik motor?" Tanya bunda Raya yang membukakan pintu rumah, karena mendengar suara kendaraan berhenti didepan.
"Iya bunda, dan ternyata seru naik motor berduaan kayak orang lagi pacaran." Ami cekikan sambil menyalami bunda Raya.
"Kamu kebiasaan sayang." Nathan menarik tangan Ami ketika gadis itu akan meninggalnya diluar.
"Eh, lupa bawa ayang."
Ami menyengir menampilkan giginya yang rapi.
Bunda Raya hanya geleng kepala sedangkan Nathan terseyum menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah absyur istirnya didepan bunda Raya membuat Nathan malu.
"Ayo masuk, kamu suka bikin orang malu." Bunda Raya menjewer telinga Ami pelan membuat gadis itu tertawa.
Meraka pun masuk dan langsung disuguhkan dengan menu makanan di atas meja yang menggugah selera.
"Bunda, bunda tahu aja kalau anakmu rindu masakan bunda." Mata Ami berbinar dengan wajah dramatis.
Bunda Raya tersenyum. "Khusus menyambut anak-anak bunda." Bunda Raya mengelus rambut Ami.
__ADS_1
Nathan kembali menggaruk kepalanya melihat tingkah Istrinya.
"Layaknya setelah ini kelakuan dia makin parah." Ucapnya dalam hati.