
Nathan mengendarai mobilnya lagi setelah dirinya menanyakan keberadaan Ami sebelum pamit. Dan Jawabnya cukup membuatnya tersentil. Nathan tidak tahu jika Ami bekerja setelah pulang sekolah dan gadis itu bekerja sebelum menikah dengannya. Semenjak kejadian dirumah sakit satu bulan lalu, Nathan dan Ami mulai berkomunikasi meskipun hanya sebatas bicara tapi setidaknya mereka ada kemajuan.
Nathan yang memang selalu pulang larut malam, dan ketika sampai di apartemen Ami sudah terlelap, meskipun begitu Nathan selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Ami. Bertemu Ami ketika hari Weekand itupun jika mereka sedang ada di luar kamar, karena Ami lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar dan keluar hanya ketika makan saja.
Setelah lima belas menit berkendara Nathan sampai di cafe yang bunda Raya katakan, dimana tempat Ami bekerja. Cafe yang lumayan cukup besar, dan sepertinya Nathan pernah datang kesini tapi dia lupa kapan tepatnya.
Masuk ke dalam cafe, Nathan mengedarkan pandangannya dirinya tidak melihat keberadaan Ami, karena memang cafe sedang ramai, mungkin saja gadis itu sedang sibuk.
Mencari tempat duduk, Nathan memesan minum pada karyawan yang menawarinya, tapi sayangnya bukan Ami.
Lima belas menit menunggu Nathan belum juga melihat Ami seliweran atau melayani pengunjung, dirinya mulai khawatir karena sejak tadi tidak melihat gadis itu.
"Cieee,, yang habis dua-duaan.. ehem." Dila yang melihat Ami dan Zian baru saja masuk cafe menggodanya, apalagi baju Ami sedikit basah karena di luar sedang gerimis.
"Apa sih." Ami tersenyum kikuk, dirinya megusap lenganya yang basah, dan tanpa diduga Zian membantu mengelap dengan handuk kecil yang baru saja dia minta dari pegawai lain. "Nanti kamu sakit." Ucap Zian membuat Ami tersenyum, sedangkan Dila hanya sudah seperti cacing kepanasan melihat keuwuan bos-nya.
Tadi Zian mengajak Ami untuk membantunya mengambil laporan di cafe yang lain, dan ketika dijalan pas pulang tiba-tiba gerimis membuat mereka sedikit basah.
"Terima kasih kak, aku bisa sendiri." Ami meraih handuk yang Zian pegang, dirinya merasa malu dilihat banyak pengunjung, dan Ami menatap kesekiling.
Deg
Jantungnya seperti ingin lepas dari tempatnya, ketika melihat seorang pria yang sedang duduk menatapnya tajam, dan tidak sengaja tatapan mata mereka bertemu.
"Om, Nathan." Gumam Ami, dengan wajah puas. Sejak kapan pria itu duduk disana, dan bagaimana bisa Nathan tahu dia ada di sini. Apalagi tatapan pria itu dingin dan tajam membuat Ami semakin merasa tak karuan.
"Ay, ayo." Zian menyadarkan tatapan mata Ami, "Eh, iya kak." Ami pun mengikuti langkah Zian yang membawanya ke ruangan kerja, karena tadi Ami bersedia membantu Zian untuk mengecek data keuangan Zian dari cafe lain.
'Mati gue.' Ami memejamkan matanya mengingat tatapan tajam Nathan seakan ingin memakannya hidup-hidup.
Nathan yang tadinya cemas dan kahawatir kini berubah menjadi amarah, tidak di sangka dirinya bisa melihat langsung bagaimana gadis itu tersenyum dan dekat dengan seorang cowok, apalagi Ami melemparkan senyuman pada cowok itu. Ketika mendengar suara Dila Nathan langsung menoleh ke sumber suara, dan dirinya mendapati pemandangan yang begitu membuatnya kesal dan marah, jika pernah melihat senyum Ami pada pria lain lewat foto, maka sekarang Nathan bisa melihatnya langsung dan dadanya lebih panas dari pada hanya melihat dari foto. Sungguh dirinya tidak menyangka gadis kecil seperti Ami mampu membuat hatinya tergerak sejak pertama bertemu.
__ADS_1
.
.
Ami nampak tidak tenang ketika mengerjakan apa yang Zian beritahu, matanya menatap lembar angka-angka yang perlu dia jumlah, tapi pikirnya kembali mengingat wajah dan tatapan Nathan tadi padanya. Sungguh wajah itu semakin menggangu pikirnya.
"Kamu mengerti kan ay." Zian yang tidak mendapat jawaban mendongak.
"Ay, Ayana." Zian memanggil Ami sedikit keras, membuat Ami tersentak. "I-iya kak." Jawab Ami gelagapan.
"Kamu melamun? apa ada masalah?" Tanya Zian dengan tatapan menyelidik, karena sejak tadi Ami hanya menatap kertas di depannya tanpa melakukan apapun, dan ketika Zian memanggil Ami tidak merespon.
"Ti-tidak aku baik-baik saja." Ami langsung menggeleng, dan dirinya langsung kembali mengerjakan apa yang harus dia kerjakan.
'Ya Tuhan, entahlah dari pikiranku.' Batin Ami yang masih melihat sekelebat bayangan wajah Nathan di pikiranya, dan itu sungguh mengganggunya.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya Ami bernapas lega, bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, dan sekarang sudah jam waktunya dia pulang.
"Ngidam apa dulu mama Indira punya anak wajahnya nwyeremin gitu." Ami masih terus memikirkan hal-hal yang mengenai Nathan, dan tanpa sadar Ami sudah memikirkan Nathan secara tidak langsung.
Mengayuh sepedanya, Ami nampak menikmati angin sore yang sejuk, apalagi jalanan juga ramai, Melawati taman yang banyak anak-anak bermain.
"Mereka seneng banget bisa main, kalau aku tahu masa kecil itu lebih menyenangkan, maka lebih baik aku tidak akan mau tumbuh dewasa." Ucap Ami sambil tertawa.
Sesampainya di apartemen Ami langsung masuk setelah menekan password dan pintu terbuka, dirinya masuk dengan santai tanpa melihat seseorang yang sedang berdiri di balik pintu.
"Duhai engkau, sang belahan jiwa.." Ami berjalan dengan bersenandung lagu yang lagi nge-hits dikalangan sosial media.
..."Namamu terukir dalam pusara.."...
..."Disetiap langkah, ku'slalu berdoa.."...
__ADS_1
..."Semoga kita bersama.."...
Plok...plok..plok..
Ami berjingkat kaget, mendegar tepuk tangan dari belakang tubuhnya.
"Aji*Ng, kucing, burung puyuh..eh." Karena kaget Ami berbicara kebablasan.
"Om." Suara tercekat melihat Nathan yang berdiri dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana, apalagi tatapan pria itu sama seperti ketikan di cafe tadi.
"Ngeri Om, jangan tatap aku seperti itu " Cicit Ami, sama sekali tidak mendapat respon. Nathan malah semakin maju mendekati.
Ami memejamkan matanya, ketika Nathan mengakat tangannya didepan wajahnya. "Jangan Om." Ucap Ami sambil menunjukan ekspresi takut, seolah takut dipukul.
Pletak
"Auwss, sakit." Ami mengaduh ketika keningnya di jitak. Membuka mata Ami melihat sebuah kertas berada di depan matanya.
"Ini." Ami menatap wajah Nathan yang tanpa ekspresi dan datar, pria itu diam tanpa suara. "Om ini." Ami ingin meraih kertas itu namun tangan Nathan lebih dulu menyingkir.
"Jelaskan." Nathan melepas lipatan kertas dari sekolah, dan disana tertera jika Ami di skorsing selama satu Minggu. Jangan tanya Nathan dapat surat itu dari mana?
"Itu- em."
"Jadi selama dua hari kamu keluar rumah memakai seragam hanya untuk membuat aku percaya jika kamu pergi ke sekolah." Nathan memotong ucapan Ami.
"Buk_"
"Dan, sepertinya bukan hanya bekerja yang kamu lakukan?" Nathan menatap Ami tajam, sedangkan Ami menunggu ucapan Nathan selanjutnya.
"Berapa pria itu membayarmu."
__ADS_1
Deg