
Ami menatap sendu tumbuhnya yang baru saja diserang Nathan. Pria itu pintar sekali modus dengan akal licik mesum yang bersarang di otaknya.
Nathan terseyum, dan menutup kembali baju Istrinya dengan rapi kembali.
"Pahala jika menyenangkan suami." Ucap Nathan yang mencium pipi Istrinya.
Ami masih menampilkan wajah masam, cemilan kentang yang di pegang sampai jatuh berserakan di karpet bulu yang mereka duduki.
"Jangan cemberut terus, sejak kemarin wajah kamu tidak enak di pandang." Nathan berdiri dan duduk di sofa atas. "Kemarilah ada yang ingin bicarakan." Nathan menyuruh Ami untuk duduk disebelahnya.
Ami menurut, gadis itu masih menutup mulut.
Nathan mengusap kepala istri kecilnya, menatap wajah putih mulus meskipun tanpa makeup. "Katakan apa yang membuat wajahmu mu itu cemberut?" Tanya Nathan dengan senyum, perlahan kepala Ami Ia sadarkan di dadanya, dengan menatap layar televisi yang menyala.
"Tidak ada." Jawab Ami singkat.
Nathan menghela napas, dirinya tidak bisa memahami wanita hanya karena melihat sifat yang suka berubah-ubah, Nathan bukan pria yang terlalu peka.
"Hilda hanya rekan kerja, dia memegang proyek yang sedang aku tangani sendiri dengan Hilda yang bekerja sebagai arsitek sekaligus kontraktor yang mengolah semua." Ucap Nathan dengan jujur. Entah perkataanya bisa membuat Istrinya tidak lagi mengacuhkannya atau tidak, Nathan rasa setelah pertemuan mereka waktu itu Ami mulai berubah sikap dan bicaranya.
Ami hanya diam, diam-diam dirinya mengulum senyum, entah mengapa hatinya merasa senang mendengar perkataan Nathan.
"Jadi untuk sekarang mungkin kami akan sering bertemu, untuk membahas proyek yang sedang Hilda tangani, dan maaf sudah membuatmu cemburu."
Ami langsung mendongak mendengar ucapan Nathan yang terakhir. "Yang terakhir diralat, aku tidak cemburu." Kesal Ami dengan cemberut, "Kalaupun aku cemburu bukan model wanita ular sawah kaya dia." Ketusnya dengan nada kesal. Gadis itu seperti sedang meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
"Lalu apa kalau bukan cemburu?" Goda Nathan dengan mencolek hidung Ami.
"Ish, aku hanya kesal jika ada wanita yang gatal tidak tahu diri, mendekati suami orang." Ami menatap Nathan tajam. "Lihat saja jika hubby kepergok sedang." Tangan Ami membentuk kerucut dan menyatukannya seperti ciuman. "Aku akan pergi ketempat yang tidak bisa kamu temuk_"
"Ssttt...tidak akan." Nathan memeluk kepala istrinya untuk bersandar didada. "Tidak akan ada seperti itu, dan kamu tidak boleh pergi." Nathan berkata lirih, entah mengapa hatinya seperti diremas mendengar ucapan Ami barusan. "Jangan pernah berpikir jika aku akan menggoda wanita diluar sana, karena aku hanya bisa tergoda dengan gadis nakal dan bar-bar seperti kamu."
Bukannya terharu, Ami malah tertawa keras, dia tidak tahu jika Nathan benar-benar takut jika dia tinggalkan.
"Bhahaha... Bilangnya aku tidak bisa hidup tanpa kamu, tapi nyatanya masih bisa hidup, bahkan bisa mendapat wanita lebih cepat." Ucap Ami tanpa melihat tatapan mata Nathan yang sudah berbeda
Ami dan Nathan memang berbeda, jika Nathan mulai menggunakan hati dan perasaanya yang terdalam, maka Ami hanya gadis remaja yang mengikuti kata hatinya agar bisa bahagia sekarang. Dia belum bisa memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, Ami hanya mengikuti kata hatinya.
"Kalau pun aku pergi, aku yakin kamu tidak akan merasa kehilangan, apalagi bersedih." Ami tersenyum menatap wajah Nathan yang menatapnya lekat dengan pancaran mata yang Ami sendiri tidak tahu.
"Iya kan." Ucap Ami lirih.
Nathan pun langsung pergi keruang kerjanya, dan menutup pintu dengan keras.
"Dia kenapa?" Ami mengusap kepalanya yang sedikit terasa perih karena helaian rambutnya yang tercabut paksa
Ami kembali duduk dengan benar, dengan ditemani acara tv yang menyajikan FTV malam hari. Gadis itu juga tidak peka dengan perasaan suaminya yang mungkin saja, merasa terluka dengan ucapanya.
Nathan duduk dikursi kerjanya, dengan berkas pekerjaan yang sengaja dia minta pada Ando, ingin membuang jauh-jauh apa yang sudah istrinya ucapkan, hatinya terlalu perih mendengar ucapan gadis itu.
"Ck, dia hanya gadis remaja yang belum bisa memahami perasaanya, apalagi perasaan orang lain." kesal Nathan, karena otaknya masih terus teringat ucapan gadis itu. "Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak akan melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan."
__ADS_1
Nathan masih saja terus berkutat dengan pekerjaannya, dirinya menyibukkan diri dengan pekerjaan. Hingga tiga jam Nathan berkutat dan menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya untuk seharian besok. Tapi pria yang sedang galau itu menghajarnya malam ini.
"Fyuhhh.." Nathan membuang napas kasar, dan meregangkan ototnya yang terasa kaku.
Pukul satu dini hari dirinya baru saja keluar dan berjalan untuk kembali ke kamarnya.
Melewati ruang tv Nathan masih melihat jika tvnya masih menyala.
"Ck, pergi tapi membiarkan tv nya hidup."
Kesalnya dengan menghampiri sofa untuk mencari remote.
Deg
Nathan melihat Ami yang terlelap di sofa, gadis itu memeluk ponselnya yang masih menyala dengan diruang chat.
Suami kejam
"Maaf.."
Hanya satu kata, tapi membuat Nathan tersenyum. Pesan yang Ami ketik belum terkirim, mungkin gadis itu ketiduran menunggunya.
"Jika seperti ini, siapa yang salah menaruh hati di sini." Gumamnya dengan menggendong tubuh Ami untuk dipindahkan di kamar. "Walaupun kamu pergi ke ujung dunia, aku pasti bisa menemukanmu."
.
__ADS_1
.
Noteš ini up dari jam sebelas malam tapi gak kelar sampe sekarangš¤§