
"Jadi selama tiga tahun Om tinggal di Swiss?" Ucap Hawa yang duduk dikursi mobil samping kemudi.
Keduanya berada didalam mobil Mario, yang akan mengantarkan Hawa kesekolah.
Sasa pun menaiki taksi yang berada didepan mobil Mario, keduanya akan kembali kesekolah sebelum para supir mencari mereka.
"Ya, aku tinggal di Swiss bersama nenek." Jawab Mario menoleh pada Hawa sekilas.
Kepala Hawa hanya mengangguk, ternyata Om genteng yang dia pikir menghilang tinggal di Swiss.
"Kapan liburan sekolah mu tiba?" Tanya Mario dengan tatapan fokus menyetir.
"Em, masih satu bulan lagi semester akhir." Jawab Hawa setelah menghitung masa libur sekolah.
"Jika liburanmu tiba, aku akan mengajakmu ke Zurich untuk liburan." Ucapan Mario membuat kedua bola mata Hawa membola lebar.
"Zu-Zurich?" Ucap Hawa terbata.
"Ya, aku akan menjemputmu," Mario tersenyum, dirinya gemas dengan ekspresi Hawa yang terkejut.
Mata bulat Hawa mengerjapkan beberapa kali. "Mana bisa aku pergi tanpa ijin papa." Ucap Hawa pelan dengan wajah yang sendu.
Tidak mungkin papanya membiarkan dirinya pergi dengan pria asing apalagi sampai keluar negeri hanya untuk liburan.
__ADS_1
Mereka memang sering liburan keluar negeri, tapi bersama keluarga.
"Aku akan minta ijin, jika anak gadisnya aku bawa." Mario tersenyum lebar, sendang kan Hawa menatap Mario tidak percaya.
"Papaku galak, sama seperti Adam."
Mario mengerutkan keningnya. "Adam? siapa?" Tanya Mario yang memang belum tahu kelaurga Hawa.
"Ck, pria menyebalkan seperti kulkas Seribu pintu." Ketus Hawa dengan wajah sebal, jika mengingat kembarannya.
Mario semakin bingung. "Kulkas seribu pintu?"
Hawa berdecak, kenapa Om genteng ini lemot sekali. "Adam Malik Adhitama adalah kembaran Hawa Malika Adhitama yang hanya selisih lima menit." Ucap Hawa sambil menunjuk lima jarinya pada Mario.
"Adhitama?" Gumam Mario dalam hati, telinganya seperti pernah mendengar marga Adhitama, tapi dimana dirinya lupa.
"Terima kasih, Hawa sudah diantar." Hawa tersenyum manis didepan Mario, gadis itu mengucapkannya dengan tulus Mario bisa melihat dari tatapan matanya.
Mario terseyum, dan tangannya terangkat untuk mengambil paper bag yang ada dijok belakang.
"Ambillah, untuk kamu." Ucap Mario menyodorkan paper bag itu.
Hawa diam, dirinya menatap benda yang disodorkan oleh Mario. "Aku sengaja membeli ini untuk mu, selama tiga tahun aku mengumpulkan untukmu." Ucap Mario lagi dengan menatap wajah cantik Hawa lekat.
__ADS_1
"Ta-tapi Om Hawa_"
"Ssstt, kamu tahu. karena ini agar aku selalu mengingat gadis kecil yang pertama kali mencium pipiku, disaat berterima kasih kerena aku sudah mengambilkan es krim yang tidak bisa dia ambil. Dan tiga tahun lalu aku menemukan gadis yang sama dengan saat disupermarket, dan sekarang aku bertemu dengannya lagi setelah tiga tahun itu." Ucap Mario yang mengingat pertemuan pertama mereka hingga hari ini.
Bibir Hawa terseyum kecil, ternyata seseorang sampai rela mengingat waktu sepuluh tahun hanya untuk mengingat dirinya. Mata Hawa menatap wajah Mario dan tatapannya terpaku pada bola mata Mario yang menatapnya dalam disana Hawa melihat tatapan mata yang begitu tulus.
Tangan Hawa terangkat untuk meraih paper bag yang Mario berikan, "Terima kasih, Awa tidak bisa membalas kebaikan Om." Ucap Hawa dengan menerima barang yang Mario berikan.
Mario terseyum, dan mengusap kepala Hawa lembut. "Tidak perlu membalasnya, cukup berikan hatimu."
"Ap_"
Tok...tok...
Belum sempat Hawa menjawab, kaca mobil sudah diketuk dari luar, siapa lagi jika bukan Sasa pelakunya.
"Tunggu dulu." Mario mencegah Hawa yang akan keluar, dan tangannya mengulurkan sebuah benda.
"Agar aku bisa menghubungimu." Mario memeberikan ponselnya.
Hawa menerima dan mengetikkan nomor ponselnya diponsel Mario.
Mario menatap Hawa yang sudah keluar dari mobilnya, Hawa menoleh kebelakang dimana Mario terlihat melambaikan tangan dari bilik kaca bagian depan.
__ADS_1
Keduanya terseyum, kini Mario bisa melihat gadisnya sudah tumbuh menjadi gadis remaja, wajah menggemaskan tiga tahun lalu kini menjadi wajah manis, meskipun masih terlihat menggemaskan disaat tertentu.
"Percayalah jika hatiku sudah kamu miliki." Gumam Mario dengan jantung yang berdebar, bagaimana bisa dirinya memendam cinta selama sepuluh tahun dari gadis itu yang masih berusia enam tahun. Dan Mario percaya jika cinta tidak memandang usia, kini dirinya menjadi salah satunya.